Minggu, 07 April 2013

Review album terbaru BRING ME THE HORIZON : SEMPITERNAL

Artwork untuk cover depan album "SEMPITERNAL"

Kali ini saya akan mencoba ­untuk me-review album terbaru dari band metal asal Inggris BRING ME THE HORIZON. Band yang dimotori oleh Oliver Sykes dan kawan-kawan ini akhirnya merilis album studio keempat mereka pada 1 April 2013. Penantian fans setia mereka selama hampir 3 tahun akhirnya terbayar dengan dirilisnya sebuah album berjudul “SEMPITERNAL”.

Album apik ini dibuka dengan sebuah lagu berjudul “Can You Feel My Heart” yang merupakan lagu pembuka dengan nuansa trance dan vokal clean Oliver Sykes yang dipadukan dengan vokal scream bernada. Dilanjutkan dengan “The House Of Wolves”, sebuah lagu berdistorsi dengan nuansa ritem hardcore pada gitar dan drum yang cukup menonjol. Lagu berikutnya adalah “Empire (Let Them Sing)” yang diawali dengan scream halus Oliver dan dilanjuti dengan ritem gitar dan drum yang groovy dan dihiasi dengan choir yang berkumandang. Selanjutnya adalah “Sleepwalking” lagu yang diawali dengan synthesizer trance dan vokal clean Oliver Sykes, seperti pada “Can You Feel My Heart”. Pada track kelima ada “Go To Hell, For Heaven’s Sake” merupakan lagu yang berdistorsi cukup keras. Track selanjutnya adalah “Shadow Moses” yang merupakan single pertama di album ini. Lagu tersebut dibuka dengan sesi sing along, ritem drum MIDI yang fade in, dan dilanjutkan dengan ritem gitar drop yang dominan. Berikutnya, “And The Snakes Start To Sing”. Lagu yang diawali dengan alunan piano dan dilanjutkan dengan vokal clean Oliver Sykes dan chord gitar yang straight dengan distorsi tipis. Lalu ada “Anti-Vist” sebuah lagu yang sangat asyik untuk headbang dengan dentuman drum groovy dan ritem gitar yang menganggukkan kepala. 2 lagu terakhir adalah “Crooked Young” dan “Hospital For Souls”. Hampir semua reff pada track pada album ini diisi oleh vokal clean sang vokalis kelahiran tahun 1986 itu.

Singkatnya, lagu-lagu terbaik dari album “Sempiternal” versi saya adalah “Anti-Vist” dan “The House Of Wolves” yang masih membawa nuansa deathcore pada band bentukan tahun 2004 ini yang melekat pada awal karir mereka.

Jika dibandingkan dengan album sebelumnya “There Is A Hell Believe Me I've Seen It, There Is A Heaven Let's Keep It A Secret” yang dirilis pada 2010, dari segi tema musikal terdengar berbeda dengan “Sempiternal”. Pada “There Is A Hell Believe Me I've Seen It, There Is A Heaven Let's Keep It A Secret”, musik mereka terdengar sedikit lebih keras dan nuansa deathcore-nya masih terdengar di beberapa lagu, walaupun scream Oliver Sykes mulai menghalus dan blast beat sang drummer Matt Nicholls mulai luntur, “There Is A Hell Believe Me I've Seen It, There Is A Heaven Let's Keep It A Secret” masih merupakan album yang tergolong ‘keras’. Album terbaru dari band kota Sheffield, Yorkshire ini jika dibandingkan dengan album mereka "Suicide Season" yang dirilis pada 2008, memang terdengar perbedaan dari segi musikal, album "Sempiternal" lebih easy listening. Sedangkan dari segi vokal, pada album "Suicide Season" masih terdengar kegaharan vokal power fry screaming Oliver Sykes masih terasa di album kedua band yang kini dipegang oleh Epitaph Records ini. “Sempiternal” jika dibandingkan dengan album perdana mereka “Count Your Blessings” sangat jauh berbeda. Unsur extreme metal dan nuansa deathcore pada “Count Your Blessings” sangat kental melekat pada band album rilisan 2006 tersebut. Blast beat sang drummer, ritem dan melodi gitar deathcore Curtis Ward, dan vokal scream Oliver Sykes yang masih menggelegar membuat album dengan single “Pray For Plagues” ini menjadi album paling noisy yang pernah dirilis oleh BRING ME THE HORIZON. Pada “Sempiternal”, Oliver Sykes and the gank lebih memaksimalkan unsure-unsur musik trance dan hip-hop serta vokal clean Oliver Sykes yang semakin lama semakin membaik. Menurut saya, penulisan lagu di album ini banyak terinspirasi oleh band-band post-hardcore seperti ASKING ALEXANDRIA, ALESANA, I SEE STARS, dan lain-lain. Pada intinya, kadar 'keberisikan' pada album “Count Your Blessings” 100%, "Suicide Season" 80%, “There Is A Hell Believe Me I've Seen It, There Is A Heaven Let's Keep It A Secret” 60%, dan “Sempiternal” hanya 20%. Mungkin untuk anda yang pecinta musik keras yang radio sound dan easy listening, “Sempiternal” sangat cocok untuk anda nikmati.

Dari segi lirikal, terus terang saya mendownload album ini secara gratisan :D. Jadi saya belum lihat lirik-lirik dari album ini :p.

Pada cover depan, album ini hanya bergambar ornamen kuno yang terlihat abstrak tanpa ada tulisan “BRING ME THE HORIZON” atau “SEMPITERNAL”.
Itulah opini saya tentang album terbaru dari BRING ME THE HORIZON “SEMPITERNAL”. Apabila anda tidak setuju dengan pendapat saya tentang album ini, saya minta maaf karena setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda, dan seperti kata Soleh Solihun, “Kesempurnaan hanya milik Gusti Allah SWT”. Usahakan membeli CD album ini yang orisinil atau download secara resmi melalui iTunes dan jangan meniru saya mendownload album secara gratisan. Hehehehe…
  

Sabtu, 06 April 2013

Back Fest 2013 : Bekasi Festival Indie Moment 2013

Flyer resmi "Back Fest 2013 : Bekasi Festival Indie Moment"

Guyuran hujan yang cukup deras menemani perjalanan saya waktu itu. Perjalanan menuju sebuah gedung bernama KNPI di daerah Cibinong. Saat itu saya bersama band deathcore bernama Blessed Of Curse, salah satu dari 3 band yang saya jalani waktu itu. Saat itu tujuan kami adalah menggetarkan Gedung KNPI dengan 2 lagu yang akan kami bawakan. Sedangkan tujuan saya adalah : menggetarkan Gedung KNPI dengan 2 lagu yang akan saya mainkan, makan, cepat-cepat pulang ke rumah, dan berangkat ke Bekasi Square untuk menyaksikan Burgerkill, Seringai, Rajasinga, The S.I.G.I.T, dan sekumpulan band-band cadas lainnya. Ya, acara bertajuk “Back Fest 2013” tersebut jatuh pada tanggal 17 Maret 2013 dan bertepatan dengan hari dimana saya harus manggung dengan Blessed Of Curse di Cibinong. Namun syukur Alhamdulillah, Tuhan berbaik hati kepada saya. Blessed Of Curse mendapat giliran main jam 15.30 yang tertera pada rundown acara tersebut.

Tepat pukul 15.00 saya dan teman-teman menapakkan kaki kami di parkiran Gedung KNPI. Dengan kaos basah yang mulai mongering, kami masuk ke dalam gedung tersebut dan ternyata sedang ada pemadaman listrik. Acara belum dimulai. Saya sempat putus asa karena kemungkinan Blessed Of Curse akan main lebih akhir, namun Tuhan lagi-lagi berbaik hati kepada saya. Tepat pukul 15.45 nama “Blessed Of Curse!” diteriakkan oleh sang MC. Tanpa basa-basi saya segera memasang double pedal dan menggoyah panggung dengan lagu pertama, kami meng-cover sebuah lagu dari Revenge The Fate berjudul Ambisi. Dilanjutkan dengan lagu ciptaan Blessed Of Curse berjudul Resah Jiwa. “Jeeeet..” kurang lebih seperti itu lagu Resah Jiwa berakhir dan saya pun bergegas turun dari panggung. Setelah membereskan double pedal, saya dan Anggi sang basis pamit kepada teman-teman yang lain dan panitia acara tersebut. Mengingat bunyi perut kami yang keroncongan, kami memutuskan untuk memakan sepiring ketoprak di parkiran Gedung KNPI sebelum berangkat. Setelah kenyang, Anggi mengeluarkan motor dari barisan parkir dan membonceng saya. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, tapi kami lewati dengan berbagai topik pembicaraan.

Jam menunjukkan pukul 17.35 saat saya menapakkan kaki dirumah. Saya hanya menaruh tas double pedal dan dalam 5 menit saya kembali menerjang aspal dengan angkot. Perjalanan dari rumah saya ke Bekasi Square memakan waktu satu jam dengan satu kali pergantian angkot. Istilahnya saya mempertaruhkan nyawa demi menyaksikan konser ini. Karena kesempatan menonton konser dengan pengisi acara seperti band-band cadas tersebut di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah merupakan sebuah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan. Sebelumnya saya sudah 2 kali menyaksikan Burgerkill. Yang pertama pada saat pensi SMAN 54 Jakarta di Hall Basket Gelora Bung Karno dan yang kedua pada saat acara Hai Day di Parkir Timur Senayan. Kedua tempat tersebut sama-sama berada di Senayan yang merupakan daerah yang tergolong jauh dari rumah saya.

Ketika angkot saya melewati pom bensin yang terletak disebelah Bekasi Square, terlihat sorotan lampu dari atap mall tersebut. Sebuah acara yang menggunakan lampu sorot merupakan acara yang tergolong meriah. Maka saya beruntung dapat sampai di Bekasi Square tepat pada waktunya. Saat itu pukul 18.55 ketika saya memasuki pintu timur Bekasi Square. Saya sedikit bergegas karena saya tidak mau ketinggalan aksi dari Rajasinga. Karena mereka mengatakan akan main sehabis maghrib melalui akun Twitter nya @grindcoresinga. Rajasinga adalah salah satu alasan mengapa saya pergi ke acara tersebut. Maka saya setidaknya ingin menyaksikan mereka walaupun hanya satu lagu terakhir. Ketika saya hendak menaiki eskalator, saya berpapasan dengan dua orang teman saya yang merupakan vokalis dan gitaris dari band hardcore saya yang bernama Hatred. Memang sebuah kebetulan yang menyenangkan. Acara Back Fest diadakan di rooftop atau atap dari mall Bekasi Square. Maka kami menaiki eskalator beberapa kali hingga kami sampai di lantai teratas dari mall tersebut. Kami tidak tahu tepatnya jalan menuju kea tap tersebut, namun syukur ada beberapa metalhead berbaju logo-logo berakar dari band-band death metal lokal. Jadi kami mengikuti mereka ke arah parkiran dan disebelah kanan parkiran ada sebuah tanjakkan menuju atap tersebut.  Semakin kami menanjak mengikuti jalan tersebut, semakin ramai orang-orang dengan penampilan underground. Keramaian dan samar-samar suara band yang sedang di atas panggung benar-benar membakar semangat kami waktu itu. Akhir dari tanjakkan tersebut adalah sebuah tenda bertuliskan “Ticket Box”. Saya merogoh kantong dan mengeluarkan 35 ribu rupiah untuk membeli tiket acara bertajuk “Bekasi Festival Indie Moment 2013” tersebut.

Sesampai kami di gate, tiket kami disobek oleh penjaga gate tersebut. Rupanya band yang sedang tampil adalah Besok Bubar. Sebuah band yang terdengar asing bagi saya, namun ternyata mereka memiliki massa yang cukup ramai. Tanpa ragu kami langsung melewati pit dan menuju ke barisan paling depan yang berada di belakang barikade. Lagu-lagu seperti “Besok Mati” dan “Pahlawan Bertopeng” menjadi songlist mereka saat itu. Besok Bubar mengakhiri penampilan mereka dan seorang laki-laki yang tidak asing bagi saya naik keatas panggung dengan microphone di tangan kanannya. Ya, dia adalah MC sejuta umat yang bernama Allay Error didampingi oleh Olla dari Funteenlicious. Saya cukup kecewa karena saya tidak sempat menyaksikan Rajasinga. Rasa kecewa itu hilang ketika Allay dan Olla sang MC berteriak “Rajasinga!” dengan lantang. 

Tuhan berbaik hati kepada saya karena ternyata Rajasinga main setelah Besok Bubar. Lagu Rajagnaruk yang di-remix diputar oleh sang operator mixer dari belakang panggung. Trio grindrock tersebut naik ke panggung secara bergantian. Ketika personil sudah lengkap dan lagu remix Rajagnaruk berakhir, lagu “99% THC 1% Skill” menjadi lagu pembuka untuk penampilan Rajasinga pada malam itu. Kebahagiaan yang saya rasakan saya salurkan dengan sedikit aksi headbang. Dilanjutkan oleh lagu “Kokang Batang” dan yang ketiga “Dilarang Berbisa” yang benar-benar memicu adrenalin saya pada malam itu. Lagu-lagu selanjutnya adalah “Good Shit 4 Good Friend”, “Rajagnaruk”, “Anak Haram Ibukota”, dan “Angkasa Murka”. Dengan perasaan puas, berakhirlah penampilan dari Rajasinga.

Allay dan Olla kembali naik ke atas panggung untuk berkicau sementara Seringai sedang mempersiapkan alat-alat ‘perang’ mereka. Setelah beres, “Seringai!” teriak Allay dan Olla. Satu persatu personil band beraliran High Octane Rock tersebut naik ke atas panggung.  Arian 13 sang vokalis berjalan ke bagian paling depan panggung dan berkata “Dilarang Di Bandung!” sebuah lagu pembuka penampilan mereka malam itu. Kebetulan saya tidak terlalu hafal lagu-lagu Seringai, jadi saya hanya menikmati penampilan mereka dengan menangguk-anggukkan kepala. Akal bulus saya muncul ketika saya ingat bahwa saya menyimpan beberapa lirik lagu-lagu Seringai di ponsel saya. Syukurlah akhirnya saya bisa ber-sing along ria bersama Arian 13, Ricky Siahaan, Sammy Bramantyo, dan Edy Khemod. Lagu-lagu seperti “Citra Natural”, “Fett Sang Pemburu”, “Tragedi”, “Program Party Seringai”, dan “Serigala Militia” menjadi lanjutan lagu pembuka “Dilarang Di Bandung”. Dan pada lagu terakhir Arian 13 men-direct crowd dengan 2 kata yang diulang-ulang “Individu, Individu Merdeka”. Seakan seluruh orang yang berada di rooftop Bekasi Square menyanyikan kalimat tersebut , termasuk saya. Ya, lagu “Mengadili Persepsi” menjadi lagu penutup untuk penampilan Seringai di Back Fest 2013.

Band selanjutnya adalah The S.I.G.I.T. Namun seperti biasa, sebelumnya di awali dengan kicauan-kicauan maut dari sang MC Allay dan Olla. Setelah semuanya siap mereka kembali meneriakkan nama band yang akan tampil “The S.I.G.I.T.!”. Ini adalah kali kedua saya menyaksikan quartet hard rock asal kota Bandung tersebut. Yang pertama pada saat acara Hai Day. Namun saat itu saya masih benar-benar tidak pernah mendengar satu lagu pun dari The S.I.G.I.T. Syukurnya, pada saat Back Fest saya sudah mulai mendengarkan lagu-lagu mereka walaupun hanya “Black Amplifier” dan “Only Love Can Break Your Heart”. Ya setidaknya pada saat kedua lagu tersebut dimainkan saya bisa sing along sedikit-sedikit lah. Seperti pada saat saya menyaksikan mereka di Hai Day, mereka mengakhiri penampilannya dengan sebuah lagu dimana coda (coda adalah akhiran dari sebuah lagu) dari lagu tersebut diulang-ulang hingga beberapa kali. Merupakan sebuah penampilan yang sangat baik dari The S.I.G.I.T.

Lagi-lagi duo MC tersebut kembali berkicau seraya The S.I.G.I.T. membereskan alat mereka dan Burgerkill bersiap untuk menyiapkan alat ‘tempur’ mereka. “Burgerkill mainnya masih agak lama. Yang mau beli minum atau rokok silahkan mumpung Burgerkill masih menyiapkan alat-alatnya.” Kata sang MC Allay Error. Mendengar ucapannya, Saya tidak mau headbang dan sing along bersama Burgerkill dengan kaki dan kondisi fisik yang lelah karena menyaksikan band-band sebelumnya. Maka dari itu saya memanfaatkan waktu senggang tesebut untuk duduk di bawah barikade dan meluruskan kaki bersama para metalhead di samping kanan dan kiri saya.

Lampu-lampu di sekitar panggung mendadak berubah menjadi warna merah semua. Saya membangunkan tubuh dan berdiri karena saya tahu bahwa tidak lama lagi band bentukan tahun 1995 tersebut akan memecahkan gendang telinga saya dan para penonton lainnya. Tepat di samping kanan panggung, ada seorang lelaki yang penampilannya tidak asing bagi saya. Ya, dia adalah Eben sang gitaris Burgerkill sedang asyik menghisap batang rokoknya. Sebuah kebetulan, ketika saya memperhatikan dia, dia pun melihat saya dan memberikan saya sebuah salam ‘2 jari metal’. Tanpa sungkan saya membalas salam metalnya lengkap dengan senyuman. Mungkin dia mengenali wajah saya ketika 2 konser Burgerkill yang saya tonton, saya selalu berada di paling depan. Ditambah lagi, ketika Eben manggung di PRJ bersama Ring Of Fire, saya sempat menghampirinya dan meminta foto bersama. Ring Of Fire adalah band sampingan Eben bersama Fadly sang vokalis grup band Padi. Perlahan, terdengar suara intro awal sebuah lagu  yang tidak terlalu asing di telinga saya. Saya sepertinya pernah mendengar intro tersebut, namun Burgerkill tidak pernah memutar intro tersebut di 2 konser yang saya tonton sebelumnya. Seraya intro tersebut berkumandang, satu persatu personil naik ke atas panggung dimulai dengan Abah Andris sang penabuh drum. Dan disusul dengan Eben, Agung, dan Ramdan. Setelah menyapa crowd, tanpa basa-basi mereka langsung memainkan lagu pertama mereka.” Heal The Pain!” kalimat itulah yang saya teriakkan ketika Burgerkill memainkan lagu pembuka mereka. Alangkah bahagianya hati saya pertama kali melihat Burgerkill membawakan “Heal The Pain” secara live! Memang Tuhan berniat membahagiakan saya pada tanggal 17 Maret 2013 itu. Lalu Vicky sang vokalis naik ke atas panggung dan  langsung menyambar microphoneThese hard days got me thinking to pass this never ending pain! Heal the pain! Take the pain away!”  kurang lebih seperti itulah penggalan lirik awal dari lagu “Heal The Pain” yang dinyanyikan Vicky, saya, dan ribuan penonton lainnya. Dengan berakhirnya lagu tersebut, saya pun menundukkan kepala dan menghela nafas dengan senyuman. Lagu kedua adalah “Laknat”. Lagu yang memang tidak terlalu familiar di telinga saya. Maka saya hanya menikmati musiknya tanpa sing along sambil mengistirahatkan tubuh. Selanjutnya adalah “Under The Scars” dan saya pun kembali dibuat menggila oleh 5 personil band asal Bandung tersebut. Dengan selesainya lagu “Under The Scars”, saya berniat untuk kembali menghela nafas. Tapi apa daya? Burgerkill kembali membawakan lagu favorit saya untuk yang pertama kalinya saya saksikan : “We Will Bleed!” Ya! Lagu yang menjadi judul film dokumenter band tersebut dikumandangkan dengan kemasan sound yang apik. “We are! We are from slum! Breed in blasphemy! We will bleed!” seperti itulah penggalan lirik “We Will Bleed” yang saya nyanyikan bersama Vicky sang vokalis dan ribuan metalhead Bekasi. Lagu-lagu selanjutnya saya nikmati dengan sing along dan sedikit headbang seperti “Shadow Of Sorrow”, “For Victory”, dan “House Of Greed”. Sebelum lagu terakhir dari Burgerkill, terdapat beberapa anak remaja berkaos merah naik ke atas panggung bersama kedua MC. Lalu, diputar sebuah video tentang tawuran antar sekolah yang memakan banyak korban. Saat video itu berakhir, sekumpulan anak-anak remaja tersebut saling bersalaman dan berpelukan. Lalu kedua MC tersebut mengucapkan terimakasih kepada kami para penonton, pamit undur diri, dan berteriak “Burgerkill!”. Ritem gitar “Atur Aku” dimainkan oleh Agung. Ya, “Atur Aku” menjadi lagu penutup penampilan Burgerkill dan acara Back Fest 2013. Saya pun kembali dibuat berteriak-teriak oleh mereka. Dan di akhir lagu, panitia acara Back Fest 2013 menyalakan kembang api yang berwarna-warni. Benar-benar acara yang sangat meriah dan bermodal besar. Setelah saya dibuat kagum oleh mereka, Burgerkill menyudahi penampilannya dan saya bersama teman-teman pergi meninggalkan pit acara tersebut. Masih terdengar suara kembang api dan lagu “Only The Strong” yang diputar oleh sang operator di belakang panggung.

Saya pamit kepada Bagus dan Agatha, mereka menjauh dan saya menaiki angkot bernomor 02. Saya melihat layar ponsel dan disitu tertera “23.33 PM”. Penggalan-penggalan lirik Burgerkill dan Rajasinga masih terngiang-ngiang di pikiran saya saat itu. Memang sebuah malam yang tak bisa saya lupakan. Namun semua perlahan berakhir termakan suara sepinya jalanan dan menjauhnya angkot dari Bekasi menuju Ciangsana.

SxE




Entah mengapa, di Minggu pagi ini saya ingin membuat sebuah tulisan tentang Straight Edge. Sebuah pergerakan atau bisa disebut juga gaya hidup sehat dengan tidak merokok, tidak menggunakan narkoba, tidak meminum minuman beralkohol, dan tidak melakukan free sex. Sebelumnya, saya akan mengutip sejarah terbentuknya pergerakan tersebut dari Wikipedia :

“Straight Edge adalah sebuah lagu dari band Minor Threat yang bisa diartikan sebagai “gerakan yang lurus”. Lagu ini hanya berdurasi 46 detik dan terdiri dari 2 bait lirik.
Lirik utamanya adalah bagaimana band ini menghadapi berbagai penyalahgunaan narkoba dan lirik pada bait kedua adalah bahwa bagaimana mereka tidak memaksakan menggunakan narkoba.
Pegerekan straight edge yang telah diikuti oleh beberapa orang sebenarnya tidak disangka oleh vokalis Minor Threat, Ian MacKaye. Ia menyatakan bahwa dia tidak bertujuan untuk membuatnya menjadi sebuah gerakan.
Simbol tiga X (xXx) digunakan sebagai simbol dari gerakan ini yang berasal dari hasil karya seni dari drummer Minor Threat yaitu Jeff Nelson yang mengganti tiga bintang dalam bendera Washington DC kampung halamannya menjadi tiga huruf X. Istilah ini kadang-kadang dipendekkan dengan mencantumkan X dengan kependekan istilah dari straight edge menjadi “SxE”. Dengan analogi, hardcore punk kadang-kadang dipendekkan menjadi “HxC”.”

Sebenarnya, saya pun tidak begitu mengerti apa arti sebenarnya dari kata straight edge dan bagaimana gerakan tersebut dapat muncul. Tapi menurut pengertian saya, straight edge adalah sebuah gaya hidup sehat dimana filosofi dari gaya hidup tersebut adalah bagaimana agar kita dapat tetap hidup sehat di lingkungan yang ‘kurang sehat’. Dalam arti lain, kita harus menjaga diri kita agar tetap sehat dengan tidak merokok, tidak meminum minuman beralkohol, tidak menggunakan narkoba, dan tidak melakukan seks bebas walaupun kita hidup dan bergaul di lingkungan yang akrab dengan hal-hal tersebut.

Bagi saya, makna straight edge itu luas. Bukan hanya tidak merokok, tidak meminum minuman beralkohol, tidak menggunakan narkoba, dan tidak melakukan seks bebas, melainkan kita juga harus menjaga hubungan baik antar sesama manusia di suatu pergaulan dengan menghormati keputusan teman-teman kita di lingkungan tersebut. Straight edge itu adalah sebuah pilihan. Sama dengan mereka yang memilih untuk merusak kesehatannya dengan rokok, alkohol, narkotika, free sex, dan lain-lain. Straight edge adalah sebuah gaya hidup yang bersifat personal dan tidak memaksakan. Intinya adalah jika kita dapat menjaga kesehatan kita dengan baik, dan dapat mengajak teman-teman kita untuk menjadi orang yang menjaga kesehatannya dengan baik pula, itu adalah poin plus untuk diri kita. Namun, jika teman-teman kita tersebut menolak untuk sehat dan kita memaksa mereka untuk sehat, itu adalah poin minus untuk diri kita. Maka dari itu, seperti yang saya bilang tadi, straight edge itu sifatnya personal.

Saya adalah seorang straight edge, namun saya tidak merasa cukup puas dengan ‘peraturan-peraturan’ yang menjadi syarat untuk menjadi seorang straight edge. Bukan hanya menjaga kesehatan jasmani, menjaga kesehatan rohani dan menjaga hubungan sosial yang baik dengan teman-teman disekitar lingkungan kita juga dibutuhkan untuk seorang straight edge sejati.

Kalimat “Straight Edge” kini mulai marak di kalangan remaja di Indonesia. Ada sebuah brand clothing remaja yang mengusung tema straight edge untuk beberapa produknya. Dan menurut saya ini merupakan keputusan yang baik oleh brand clothing tersebut. Berkat mereka kalimat “Straight Edge” sudah dikenal oleh generasi muda di Indonesia. Namun yang membuat saya prihatin, kalimat tersebut saat ini hanya menjadi sebuah tren fashion semata. Saya melihat banyak remaja yang merokok atau meminum minuman beralkohol dengan mengenakan kaos/jaket bertuliskan “Straight Edge”.

Ya mudah-mudahan perjuangan para pencetus pergerakan straight edge pada awal era terbentuknya gaya hidup tersebut dapat dimanfaatkan oleh generasi muda di Indonesia dan dunia untuk menjaga kesehatan mereka demi berlangsungnya masa depan mereka yang cerah dan membanggakan.
Amiiiiiiiiin….

Hai Day 2012

Flyer resmi "Hai Day Celebrating Youth 27-28 Oktober 2012"




Rupanya beberapa jam yang lalu Senayan diguyur hujan. Terbukti saat saya mengantri untuk membeli tiket masuk, tanah yang saya injak terasa lembab dan udaranya cukup sejuk. Ticket box tersebut berhadapan dengan kurang lebih 200 orang yang didominasi oleh pelajar dan saya berada di paling belakang diantara mereka. Jam casio g shock saya mengatakan bahwa saat itu pukul 17.30. Saya mengantri untuk tiket seharga 15 ribu sambil di iringi oleh penampilan dari Pee Wee Gaskins yang bercampur dengan lagu reggae yang diputar di dalam ticket box. Dengan perlahan-lahan saya dan "pasukan pengantri tiket" yang berada di belakang saya maju senti per senti hingga kami berhenti total saat sudah 5 meter di depan ticket box. Keringat dan oksigen yang menipis karena berjubel, mengalahkan udara sejuk yang saya nikmati saat baru sampai. Di kanan dan kiri saya terlihat remaja seumuran saya yang sedang asyik menikmati sebatang rokok. Dan setelah saya lihat ke belakang dan sekitarnya, hanya saya yang tidak merokok dan para wanita yang sedang di nodai paru-paru mereka oleh asap rokok sang pacar. Tidak jarang juga wanita seumuran saya yang menghisap rokok bersama para perokok wanita di sampingnya. Kesabaran para "pasukan pengantri tiket" mulai terbakar perlahan dan beberapa di antara mereka mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
'Ticket box nya tutup ya bang?' tanya seorang berkemeja merah.
'Gak tau deh, bisa jadi.' jawab saya sambil mendongakkan kepala untuk melihat ticket box. 
Dan ternyata benar, ticket box keparat itu tutup. Perjuangan saya selama 30 menit berdiri terasa sia-sia. 
'Iya bener bang tutup tuh. Kenapa ya?' tanya saya sambil menengguk sebotol air mineral.
'Kayaknya sih di dalem udah penuh. Takut rusuh kali kalo pada kedalem semua.'  jawab dia dengan sok tahu.
 Beberapa menit kemudian, ada seseorang berjaket biru datang dari arah gate menuju antrian,menemui temannya dan berkata 'Gua barusan tanya panitia, katanya ticket box gak akan dibuka karena di dalem udah penuh banget.'
Damn! ternyata perkataan si kemeja merah benar! 
Mendengar perkataan si panitia yang disampaikan, "pasukan pengantri tiket" mulai berteriakan.
'woy buka, anjing!' 'itu yang di dalem lagi boker ya?' kira-kira kata-kata sejenis itulah yang dilontarkan oleh para "pasukan pengantri tiket". Saya hanya bisa diam, berharap kebijakan dari panitia untuk membuka ticket box, dan menghabiskan sebotol air mineral yang saya beli seharga 5 ribu (ya, untuk event-event kaliber besar seperti Hai Day para pedagang asongan menaikkan harga minuman, rokok, permen hingga hampir 100%). Tinggal sedikit lagi kesabaran kami terbakar, namun akhirnya panitia membuka ticket box tersebut. Saat itulah saya benar-benar berjuang mempertahankan antrian saya. Karena orang-orang yang mengantri dibelakang saya berusaha untuk menyelak antrian dengan sikap kampungan mereka. Oh, tidak semudah itu, saya rela membodi mereka agar saya tetap berada pada antrian. 
10 menit kemudian saya berhadapan dengan sang penjual tiket dan saya memberikan 15 ribu rupiah kepadanya. Mereka pun memberikan saya sebuah majalah Hai sebagai tiket masuk. Untuk keluar dari "antrian neraka" tersebut pun memerlukan banyak keringat untuk dikuras. Dengan susah payah, akhirnya saya berhasil menghirup udara segar sejenak sambil memanjakan mata dengan melihat kaos-kaos metal yang dijual di luar gate.

Tepat jam 18.20, saya berhasil masuk ke dalam area Parkir Timur dengan tenang. Saya langsung tertarik untuk memotret 3 dinding grafiti yang di depannya terdapat 3 buah mobil Honda Brio baru yang dipamerkan (Honda Brio adalah sponsor utama acara Hai Day 2012).
Sudah puas mendapatkan beberapa foto di area grafiti, saya melancong ke arah Mini Jakcloth dengan membawa seekor kamera di tangan kiri saya. Ketika sedang melihat isi beberapa booth, seseorang memanggil nama saya. 'Nuris, sini deh.' Seorang pria bernama Eric yang merupakan teman SMP yang barusan memanggil saya. Ketika saya tersenyum dan hendak menjabat tangannya, dia pun menjabat tangan saya sambil menarik saya kearah taman tempat para pengunjung beristirahat. 'Lo bisa main metal kan?' tanya Eric dalam perjalanan menuju taman yang berada di belakang Mini Jakcloth. 'Uh, bi-bisa.' jawab saya dengan setengah bingung. Lalu sesampainya di taman tersebut, saya melihat 2 orang cewek dan 4 orang cowok termasuk saya dan Eric. Eric memperkenalkan saya dengan Filo, salah satu teman Eric yang sedang mencari seorang drummer untuk band metalcore-nya. Filo berkata bahwa dia sudah meng-add akun Facebook saya, tetapi saya sedikit lupa. Lalu, sambil mengobrol dengan Filo saya melihat Eric sedang menyalakan sebatang rokok dan saat saya melihat sekeliling, disitu juga terdapat satu teman SMP saya bernama Tangguh yang juga sedang merokok. Yes, they used to be non smokers when they were in Junior High School, tetapi saya tidak heran mengapa mereka sekarang menjadi perokok. Banyak teman SMA saya yang berkata bahwa mereka bukan perokok saat masih SMP, namun saat masuk SMA, mereka tergoda oleh pergaulan bebas yang ditawarkan pada masa-masa SMA. Dan saya sangat bersyukur bahwa (entah mengapa) ketika saya ingin mencoba merokok ataupun minum minuman beralkohol, saya seperti memiliki protektor di dalam hati saya yang selalu membisikkan saya untuk menghindarinya (gaya lu ris :p). Ok, back to the topic.
Tidak beberapa lama, terdengar suara MC di main stage yang memanggil nama Killing Me Inside, dan Eric segera pamit kepada saya, Filo,dan Tangguh untuk menyaksikan penampilan Killing Me Inside. Lalu saya melanjutkan perbincangan dengan Filo dan Tangguh selama beberapa saat hingga saya harus pamit kepada mereka untuk melaksanakan solat maghrib dan berniat untuk kembali ke taman tersebut. 
Saya bertanya-tanya kepada sejumlah security untuk mengetahui lokasi musholla, dan mereka mengatakan bahwa musholla terletak jauh di bagian belakang parkir timur. Tak apalah, sekalian memanjakan mata dengan sejumlah fasilitas yang disediakan oleh Hai Day termasuk area Crooz Ride With Pride, yaitu sebuah skatepark mini yang digunakan untuk kompetisi skateboard yang dilaksanakan pada siang harinya. Saat itu terlihat beberapa skater yang meluncur lihai dengan trik-trik mereka yang membuat saya terkagum sejenak. Tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 18.45, itu berati saya harus buru-buru menuju musholla agar tidak kehabisan waktu solat maghrib saya. Saat saya sampai di musholla, saya merasa prihatin melihat kondisi musholla yang kotor dan sepi, seakan-akan hanya dikunjungi oleh segelintir dari ribuan remaja yang datang ke acara itu. Tapi saya hanya bisa menggelengkan kepala, mengambil wudhu, dan solat.  

Setelah solat, saya berniat untuk kembali ke taman dan bertemu ketiga teman saya itu. Tapi, apa daya? Killing Me Inside lebih menarik perhatian saya, dan saya masuk ke area main stage dan berada di samping kanan di bagian tengah. Saya tidak familiar dengan lagu mereka, tetapi saya tetap merasa terhibur. Hingga mereka mencapai daftar lagu ke 6 yang berjudul "Biarlah". Tentu saja saya familiar dengan lagu ini, karena lagu Killing Me Inside yang video klip nya muncul di tv nasional hanya lagu ini. Dan yang saya pertanyakan adalah 'kenapa harus lagu "Biarlah" yang hanya "diledakkan" ke publik? apakah lagu "The Tormented" tidak cukup berkualitas untuk "diledakkan" ke publik?' Jawaban cukup sederhana, ini karena musik mainstream di dunia (bukan hanya di Indonesia) yang sedang hancur lebur dan mengalami krisis kualitas. Dan lagi-lagi saya melantur. hehehe Ok, back to the topic.
Pada lagu sebelumnya, hanya para fans Killing Me Inside dan segelintir orang awam yang melakukan sing along, tapi saat lagu "Biarlah" dimainkan, hampir semua orang yang di area Main Stage melakukan sing along. Bahkan saya pun terhipnotis oleh ritem groovy yang ditampilkan mereka dalam lagu "Biarlah". Jam saya berkata bahwa saat itu menunjukkan pukul 19.20 dan lagu "The Tormented" menjadi lagu penutup untuk penampilan Killing Me Inside di Hai Day 2012. Di akhir lagu "The Tormented", Onad mengucapkan terimakasih kepada penonton dan menyebutkan satu per satu anggota band-nya lalu mereka satu per satu melakukan solo instrumen. 

 "Jeeeet" berakhirlah penampilan Killing Me Inside. Beberapa fans Killing Me Inside keluar dari area Main Stage dan saya memanfaatkan momen ini untuk maju lebih ke depan. Setelah beberapa langkah, saya dikalahkan oleh para wanita fans Maliq & D'Essentials yang ingin berada depan barikade. Saya mengalah dengan senang hati, karena tujuan utama saya datang ke Hai Dai adalah untuk menyaksikan penampilan Burgerkill. Dan saya tau bahwa Burgerkill main setelah Sheila On 7. Kali ini crowd di dominasi oleh para remaja wanita yang sedang menanti kehadiran para personil Maliq & D'Essentials. Dan setelah beberapa iklan di putar di LED Screen yang juga berfungsi sebagai backdrop, Salah satu MC muncul dari belakang panggung. Dia memakai kacamata dengan frame tebal, topi, kaos, celana pendek, dan sepatu Vans. Ya, dia adalah Adit yang merupakan seorang mahasiswa jebolan universitas yang bernama "MTV Insomnia". Adit adalah seorang VJ yang selalu didampingi oleh sidekick-nya VJ Surya. Namun entah masalah apa, dia hanya muncul sendiri. Dan dia memanggil rekannya Ghofur, yang sedang berada di area drifting Honda Brio. Ghofur mencoba kelincahan Honda Brio, lalu Adit bertanya keunggulan Honda Brio kepada Ghofur. Ya, ini adalah bagian dari kewajiban MC untuk sang sponsor utama Honda Brio yang pasti men-support acara tersebut dengan dana maksimal. Lalu tak berapa lama, Ghofur naik ke atas stage dan mereka membacakan list sponsor dari acara tersebut, lengkap beserta list pengisi acara. Terlihat salah satu crew bolak-balik membawa perkusi dan timbalis ke atas panggung. Dan sambil menunggu persiapan alat-alat untuk Maliq & D'Essentials, MC pun berceloteh dengan bumbu komedi untuk menghibur penonton. Sekitar 30 menit kedua MC tersebut melawak, dan nama Maliq & D'Essentials pun dipersembahkan kepada penonton, lalu satu per satu personil muncul dari belakang panggung dan menyapa crowd. Saat 10 personil Maliq & D'Essentials (2 Lead Vokal, 2 Backing Vokal, 1 Perkusionis,1 Drummer, 1 Gitaris, 1 Bassis, 1 Saxophone, dan 1 Keyboardis) sudah berkumpul di atas panggung, suara teriakkan penonton wanita mendominasi area Main Stage. Ya, sambutan yang luar biasa untuk Maliq & D'Essentials. Lagu pertama yang berjudul “Penasaran” dimainkan dengan ritem funk dan sentuhan disko. Lalu mereka cukup familiar untuk telinga saya. Mungkin karena lagu-lagu dari Maliq & D'Essentials merupakan pelanggan tetap untuk daftar lagu yang diputar di radio-radio. Mereka memperkaya penampilan dengan koreografi pada bagian-bagian lagu tertentu yang membuat para penonton wanita menggila secara tiba-tiba. Setelah memainkan 2 lagu, sang vokalis memberi sambutan untuk penonton dan mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara acara. Lanjut lagu ketiga, lagu ini sangat familiar bagi saya. Karena sepertinya lagu inilah yang membuat Maliq & D'Essentials dikenal masyarakat. Ya, lagu ini berjudul “Dia”. Pada lagu keempat, lagu berirama disko dimainkan oleh mereka, lengkap dengan koreografinya. Dan lagi-lagi, para penonton wanita menggila dengan berjingkrak-jingkrak mengikuti ritem disko sang drummer. Saya pun tak kuasa menahan kepala saya untuk mengangguk-angguk mengikuti irama tersebut. Beberapa lagu yang saya gak tau judulnya dimainkan oleh Maliq & D'Essentials, hingga sampai pada suatu lagu yang mengingatkan saya kepada Ben Kasyafani yang sedang mengendarai motor dalam video klipnya. Lagu ini kalo tidak salah berjudul “Pilihanku”. Hampir semua yang berada di kawasan Main Stage melakukan sing along pada saat reff. Setelah “Pilihanku”, Maliq & D'Essentials pamit kepada penonton dan memainkan lagu terakhir mereka. Lagi-lagi saya gak tau judulnya. Dan Maliq & D'Essentials pun turun dari stage.

Adit dan Ghofur kembali mengambil alih perhatian penonton yang beberapa dari mereka mulai meninggalkan area Main Stage. Kesempatan ini kembali saya gunakan untuk maju lebih ke depan, agar pada saat Burgerkill ugal-ugalan di atas panggung, saya udah siap di barisan paling depan. Adit dan Ghofur kembali menyebutkan nama-nama sponsor yang mendukung Hai Day serta lineup band yang sudah dan akan tampil. Sambil menunggu Sheila On 7 mempersiapkan alat tempur mereka, sang duo MC menghibur penonton dengan lelucon-lelucon yang mengocok perut. Lalu beberapa saat kemudian, kuis yang dipersembahkan oleh Nescafe dimulai. Adit dan Ghofur mencari penonton yang memiliki handphone paling jadul. Lalu ditemukanlah seorang laki-laki pelajar yang menggunakan handphone Nokia 3310. Dan sebagai hadiahnya, Adit dan Ghofur memberikan sebuah tas karton bertuliskan Nescafe yang saya gak tau apa isinya. Lalu akhirnya para crew telah selesai mempersiapkan senjata untuk Sheila On 7. Adit dan Ghofur memanggil nama mereka dengan berbarengan “Sheila On 7!”. Satu per satu personil Sheila On 7 naik ke atas panggung, dan sama seperti band-band sebelumnya, mereka menyapa crowd. Lalu para penonton wanita kembali menggila saat Duta sang vokalis muncul dari belakang panggung, dan menyapa mereka. Huh, enak sekali jadi artis ya? Sudahlah, kembali ke topik. Tanpa basa-basi Eros memainkan ritem gitar lagu “Sahabat Sejati”. Sheila On 7 adalah salah satu band favorit saya saat berumur 3 tahun. Jadi gak heran kalo saya ikutan nyanyi, itung-itung mengenang masa kecil lah. Lagu pertama selesai dan hanya jeda beberapa detik, Eros langsung memainkan “Seberapa Pantas”. Lagi-lagi saya sing along. Apalagi pada saat reff yang ritemnya nge-beat. Pada saat lagu kedua selesai ditunaikan, Duta memberi sambutan seperti vokalis-vokalis dari band yang tampil sebelumnya. Lagu ketiga kalo gak salah berjudul “Hujan Turun”. Saya gak tau lagu ini karena kata Duta ini adalah lagu dari album mereka yang dirilis pada tahun 2011. 2011? Saya udah gak ngikutin Sheila On 7 lagi. Wajarlah kalo saya hanya diam,bengong, dan mencoba menikmati lagu tersebut. Damn! Lagi-lagi lagu keempat berasal dari album baru. Saya kembali diam dan bengong. Hingga sampai pada lagu terakhir, yang merupakan OST dari film “30 Hari Mencari Cinta”. Lagu ini sangat meledak pada jaman saya SD (sekitar tahun 2004), dan lagu ini berjudul “Melompat Lebih Tinggi”. Lagu ini berhasil memicu adrenalin saya dan penonton lainnya untuk berjingkrak dan sing along. Lalu pada saat bagian interlude gitar, Eros berlutut dan menaruh gitarnya di belakang kepalanya. Tidak mau kalah, Duta pun melakukan stage diving atau melompat ke arah penonton. Cara mereka untuk menyelesaikan penampilan terlihat cukup unik, yaitu meninggalkan panggung secara bergantian. Dimulai dari Duta,Eros,Adam, dan terakhir Brian melakukan solo drum sejenak, lalu meninggalkan stage.

Berakhirlah penampilan Sheila On 7 dengan tepuk tangan bertubi-tubi yang diberikan penonton. Saya merasa bahagia karena saya pikir setelah Sheila On 7, yang akan tampil adalah Burgerkill. Karena saat duo MC kembali berceloteh, terlihat para crew men-set up drum milik Andris sang drummer Burgerkill. Lalu apa daya? Setelah kurang lebih 30 menit Adit dan Ghofur melawak, nama yang dipanggil adalah “The S.I.G.I.T”. Kali ini saya berada di barisan kedua dari depan barikade. Tampilan mereka sangatlah Rock n’ Roll dengan rambut gondrong, celana ketat, dan jaket kulit. Jujur saya belom pernah sama sekali mendengar lagu The S.I.G.I.T, jadi saya pun tidak terlalu bersemangat untuk menonton mereka. Saya hanya diam dan mencoba menyisakan energi untuk Burgerkill. Namun, orang-orang disekeliling saya terlihat seperti kerasukan setan saat menikmati lagu The S.I.G.I.T. Ada pula remaja pria setengah mabuk yang mendongakkan kepalanya dengan mata setengah terbuka dan menyanyikan potongan-potongan lagu The S.I.G.I.T. Tetapi saya salut dengan The S.I.G.I.T, karena walaupun musik mereka yang cukup sederhana, namun dengan power dan karisma masing-masing personil, The S.I.G.I.T mampu menyihir penonton untuk menggila selama 8 lagu. “Jeeeet” berakhirlah penampilan dari The S.I.G.I.T.

Beberapa penggemar The S.I.G.I.T yang berada di depan barikade satu per satu meninggalkan area main stage, dan merupakan sebuah kesempatan saya untuk berada di paling depan. Lagi-lagi duo MC tersebut kembali naik ke atas panggung dan melawak. Dan saat itu secara tidak sengaka saya melihat ke belakang untuk mengecek seberapa banyak penonton yang akan moshing pada saat Burgerkill menghajar panggung. Saya terkejut dengan ribuan orang-orang berkaos hitam yang mengambil alih crowd. Sempat terpikir oleh saya untuk ikutan moshing, tetapi mengingat banyaknya orang dan tragedi AACC, niat tersebut saya urungkan. Lalu saya melihat kaos saya yang juga berwarna hitam dan bertuliskan “Dead Vertical”. Ya, saya adalah bagian dari segerombol pasukan berkaos hitam tersebut. Satu per satu crew Burgerkill menyiapkan alat-alat para personil. Saat semuanya sudah siap, Adit dan Ghofur menyebutkan daftar pengisi acara untuk besok , pamit kepada crowd , dan mereka berteriak “Burgerkill!”. Abah muncul dari backstage menuju drumnya sambil menyapa crowd dengan salam metal dua jarinya. Begitupun dengan Ramdan, Eben dan Agung. Tak berapa lama, Agung memainkan ritem lagu “Atur Aku” dan Vicky sang vokalis muncul dari backstage dan menyapa crowd. Crowd mendadak menggila saat Andris memainkan beat oldschool punk pada intro lagu “Atur Aku”. Saya pun memanfaatkan momen tersebut untuk ber-headbang ria. “Satu langkah, kedepan dan tetap lurus. Panggil aku keras kepala dan bodoh.” Seperti itulah saya berteriak untuk sing along bersama para metalhead di samping kanan dan kiri saya. Setelah “Atur Aku”, Vicky sang vokalis berteriak “Under The fuckin’ Scars!” dan Agung kembali membakar penonton dengan ritem gitar “Under The Scars”. Saya dan ribuan penonton lainnya pun menggila dan headbang mengikuti dentuman sang drummer dan tak lupa untuk sing along. Beberapa lagu selanjutnya saya nikmati dengan cara yang hampir sama, yaitu headbang, sing along, dan istirahat sejenak. Beberapa lagu tersebut adalah “Penjara Batin”, “Shadow of Sorrow”, “House of Greed”, dan sisanya saya sedikit lupa. Yang saya ingat adalah lagu terakhir berjudul “Only The Strong” dipersembahkan oleh Burgerkill untuk saya dan ribuan metalhead lainnya. Dengan berakhirnya lagu tersebut maka berakhir pula acara Hai Day pada hari itu, dan dilanjutkan esok harinya dengan pengisi acara Seringai, Deadsquad, dll.
Dengan leher yang sakit karena headbang saya keluar dari area main stage dengan berjalan santai dan jam menunjukkan pukul 23.43 WIB. Sesampai saya disebuah gerobak penjual minuman, saya membeli sebotol air mineral dengan pita suara yang sudah hampir habis karena sing along beberapa waktu yang lalu. Memang sebuah malam yang sangat menyenangkan. Sempat terpikir oleh saya untuk kembali datang esok hari untuk menyaksikan Seringai dan Deadsquad. Namun, dengan kondisi tubuh saya saat itu tidak mengizinkan saya untuk kembali menyakiti leher dan menyiksa pita suara saya.