Replace NURSUNG13

Monday, November 3, 2014

Slipknot - .5: The Gray Chapter (Album Review)


Slipknot
.5: The Gray Chapter
Roadrunner Records
2014


Setelah 'puasa' tidak merilis album selama enam tahun, akhirnya Slipknot 'berbuka puasa' pada tahun ini. Album berjudul ".5: The Gray Chapter" ini merupakan album pertama Slipknot tanpa mendiang sang basis Paul Gray dan sang drummer Joey Jordison yang dipecat pada akhir 2013 lalu. Band asal Des Moines, Iowa tersebut kembali menggandeng Roadrunner Records yang telah menjadi label rekaman untuk Slipknot sejak debut albumnya pada 1999. Dirilisnya album ini juga menjadi titik permulaan era baru Slipknot dimana bergabungnya dua personil baru (Alessandro Venturella pada bass dan Jay Weinberg pada drum) menimbulkan atmosfer yang baru pula bagi Slipknot. Jim Root sang gitaris merangkap sebagai basis dalam sebagian besar lagu di album ini. Venturella hanya mengisi bass pada sebagian sisanya, dengan alasan yang kurang jelas.

Enam belas buah lagu dalam album ini dipersembahkan kepada maggot yang telah 'kehausan' selama enam tahun dan Slipknot benar-benar berhasil melenyapkan dahaga mereka. Pada keempat album sebelumnya Slipknot mencampurkan beberapa sampling yang terdengar psychotic untuk track pembuka, kali ini Slipknot memberikan "XIX" yang merupakan sebuah mars yang menyeramkan, gelap, dan dengan lirik serta progresi chord yang menyulut semangat "So walk with me, walk with me, don't let this fucking world tear you apart." benar-benar berhasil membangkitkan gairah pendengar dengan klimaks. Namun sayangnya pada track kedua, justru membuat pembukaan album ini tidak 'nampol' karena permulaan lagu ini yang merupakan alunan petikan gitar, menurunkan gairah pendengar yang sudah berhasil dibangkitkan oleh klimaksnya "XIX". Akan lebih baik jika track kedua diisi dengan lagu yang menerjang seketika seperti "(sic)" yang sungguh memicu adrenalin yang merupakan track kedua dari album perdana mereka yang dirilis pada 1999. Namun lepas dari itu, "Sarcastrophe" mendatangkan sesuatu yang unik dan baru bagi Slipknot yaitu Jay Weinberg sang drummer baru yang menggunakan octoban yang dipukul secara mistis untuk melengkapi alunan gitar menyeramkan yang dipetik oleh Jim Root pada permulaan album ini. Pukulan blast beat serta picking gitar dengan nada yang epic serta kalimat "Burn up in your atmosphere!" yang diteriakkan oleh Corey Taylor berhasil memicu adrenalin pendengar yang sempat surut pada permulaan lagu ini. Pada bagian refrain, pasukan gang vocals Slipknot yang terdiri dari Corey Taylor, Clown, dan Chris Fehn beraksi dengan ber-sing along meneriakkan kalimat ekspresif nan puitis "We are killed gods!" yang berarti "Kami adalah dewa-dewa yang terbunuh!".

Pada lagu-lagu yang diciptakan Slipknot sebelumnya, kebanyakan berorientasi pada nu metal, groove metal, thrash, atau hardcore. Namun pada "AOV" Slipknot mencoba memberanikan diri untuk berekspolasi dengan menuangkan elemen metalcore yang terdengar dari riff gitar dan beat drum yang memulai lagu ini dengan terjangan langsung. Chorus pada lagu ini sungguh melodic, memperdengarkan alunan vokal clean Corey Taylor yang merdu dan dibalut dengan choir dan progresi chord yang melodius pula. Namun hal tersebut sama sekali tidak mengurangi kegarangan Corey Taylor yang kembali rap-screaming dengan pengucapan kata-kata yang sangat cepat namun dengan geraman yang menyeramkan. Hal tersebut menjadi ciri khasnya sejak album perdana Slipknot, seperti pada lagu "Spit It Out". Pada bagian akhir lagu ini, kembali terdengar ciri khas Slipknot yaitu pukulan-pukulan pada tong besi yang dilakukan oleh para perkusionis yaitu Clown dan Chris Fehn, menghasilkan beat yang perkusif.  "AOV" adalah kepanjangan dari approaching original violence, yang merupakan lagu dengan lirik sarkastik yang bercerita tentang seseorang yang telah kehilangan passion dan komitmennya terhadap sebuah kelompok. Kalimat-kalimat seperti "We bury what we fear the most, approaching original violence is the silence, where you hide it? cause I don't recognize you anymore" dan "We carry what we can't control, approaching original violence, in the silence, there's a nihilist who doesn't care and never did" membentuk asumsi yang merujuk kepada Joey Jordison sebagai objek dari lirik tersebut. Seperti yang kita ketahui, Joey Jordison dipecat pada akhir 2013 dan Slipknot hingga kini belum memberikan pernyatan tentang penyebab dipecatnya sang drummer yang telah bergabung di Slipknot selama 18 tahun itu. Mungkin "AOV" menjadi sebuah medium untuk menceritakan konflik tersebut secara simbolik.

"The Devil In I" adalah judul lagu pada track keempat yang merupakan single kedua yang dirilis Slipknot untuk album .5: The Gray Chapter sekaligus merupakan lagu pertama dalam album tersebut yang video klipnya telah dirilis. Riff gitar groovy diiringi beat drum dan perkusi yang Slipknotical, mengawali lagu tersebut. Lalu dilanjutkan dengan vokal clean Corey Taylor yang merdu dan disambung dengan scream pada reffrain, membuat lagu ini menjadi sebuah lagu yang cadas dan melodius pada saat yang bersamaan. Tidak heran jika lagu ini sangat berpotensi untuk membuat para pendengar tertarik untuk menghafalkan liriknya yang non-ekplisit untuk ber-sing along. Lalu para pendengar diberi kesempatan bernafas pada "Killpop", sebuah lagu semi-ballad yang dimulai dengan ritem dan beat yang kalem, namun secara bertahap 'naik' dan berakhir dengan permainan drum yang 'ngebut' dan teknikal dan disertai vokal scream Corey Taylor yang meneriakkan "Die and fucking love me!" secara berulang-ulang. Dari segi lirik, "Killpop" merupakan lagu cinta dengan lirik yang sarkastik, eksplisit, dan dibalut dengan irama musik yang keras.

Sesuai dengan nama album .5 The Gray Chapter, "Skeptic" pada track keenam adalah sebuah lagu yang didedikasikan untuk sang almarhum Paul Gray. "The world will never see another crazy motherfucker like you, The world will never know another man as amazing as you." merupakan penggalan kalimat dari lirik lagu tersebut sebagai representasi dari sebuah persembahan dan 'pemujaan' untuk mendiang sang basis. Dengan aransemen musik yang cadas dan jauh dari kesedihan, "Skeptic" merupakan lagu tribut dengan lirik yang tidak melankolis, namun berhasil menggores emosi para pendengar lewat lirik yang disampaikan. Tanpa jeda untuk 'pulih' dari keganasan aransemen "Skeptic", "Lech" kembali membakar adrenalin para pendengar melalui aransemen musik yang tak kalah cadas dan dengan poin plus yang didapatkan dari odd time signature yang terdapat di beberapa bagian dalam lagu ini, namun tidak mengurangi kadar enjoyable-nya karena disusupi juga beberapa riff gitar yang dibalut dengan beat dan ritem yang groovy sehingga para pendengar mampu headbanging di sela-sela bagian lagu ini.

Seakan mengerti bahwa para pendengarnya 'ngos-ngosan' setelah diterjang oleh dua lagu pembakar adrenalin, "Skeptic" dan "Lech", Slipknot kembali memberi waktu untuk bernafas pada lagu "Goodbye" yang merupakan lagu tribut lainnya untuk Paul Gray. Lagu ballad yang sesungguhnya ini baru muncul pada track kedelapan dalam .5: The Gray Chapter. "Maybe we can all recognize a moment of sadness." menjadi indikasi bahwa lirik lagu ini bercerita tentang kesedihan yang mendalam atas kepergian Gray meninggalkan Slipknot untuk selama-lamanya. Dengan progresi chord gitar dan melodi yang melankolis, membuat para pendengar mampu menjiwai makna lagu ini sekaligus menikmatinya dengan sepenuh hati. Namun Slipknot menyadari bahwa tidaklah baik untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Maka selepas menggoreskan emosi pada pendegar lewat "Goodbye", Slipknot kembali meliarkan para pendengar dengan "Nomadic", sebuah lagu dengan komposisi antara unsur heavy dan melodic yang pas. Slipknot berhasil membuat para pendengar headbanging atau ber-scream along pada bagian verse dan ber-sing along pada bagian chorus yang sangat melodius layaknya pada lagu "AOV".

Pada track kesembilan, sayangnya Slipknot gagal untuk menarik minat para pendengar untuk menikmati "The One That Kills The Least" karena aransemen musiknya yang 'tanggung'; terlalu 'lemot' untuk dibilang cadas, dan terlalu banal untuk dibilang melodius. Lepas dari itu, dari segi lirik, "The One That Kills The Least" tergolong menarik dengan menggunakan analogi yang unik seperti pada kalimat "I mirror what I love with what I hate, empty ways can cloud your eyes.". Namun pada "Custer" di track kesepuluh, bisa dibilang merupakan lagu tercadas, terkeras, paling menggeber, dan paling ngebut dalam album .5: The Gray Chapter serta dengan lirik yang paling eksplisit pula. Pembukaan dengan riff dan beat yang cepat, rapat, dan berbarengan benar-benar menghancurleburkan gendang telinga para pendengar yang saya jamin akan melotot sekaligus terkagum-kagum ketika mendengar lagu ini. Kalimat "Cut! Cut! Cut me up! And fuck! Fuck! Fuck me up!" yang diteriakkan Corey Taylor dan pasukan gang vocals memang membakar habis jiwa dan adrenalin para pendengar dan dipastikan lagu ini akan membumihanguskan moshpit dengan seketika ketika dimainkan secara live. Jika pada album debut Slipknot terdapat "Surfacing" yang dijuluki sebagai The New National Anthem atau 'lagu kebangsaan baru' karena liriknya yang persuasif dan kontroversial, maka rasanya "Custer" sangat pantas dijuluki sebagai The Brand New National Anthem atau 'lagu kebangsaan yang paling baru'.

Setelah "Custer" menguras habis 'energi' para pendengar, lagi-lagi Slipknot memanjakan mereka dengan memberinya kesempatan untuk bernafas dalam sebuah lagu pendek yang berisi sampling dan lirik yang mistis dan psychotic (tipikal Slipknot) yang berjudul "Be Prepared for Hell". Namun tak sampai dua menit, Slipknot kembali menggerus mental para pendengar dengan "The Negative One" yang merupakan lagu pertama yang dirilis Slipknot selama enam tahun tidak merilis karya apapun. Riff gitar yang membuka lagu ini dan dilanjutkan dengan beat drum Jay Weinberg, sepintas terdengar mirip dengan "Disasterpiece" pada album Iowa (2001), namun ketika Corey Taylor memulai aksinya dengan meneriakkan kalimat "Fire and caffeine, a lot of nicotine, I'm gonna burn so I better tell you everything." membuat lagu ini memiliki karakteristiknya sendiri yang menarik, selain karena aransemen musiknya yang keras, tapi juga karena liriknya yang puitis. Banyaknya sampling dan scratching yang digunakan pada lagu ini memberi kesempatan bagi Craig Jones dan Sid Wilson untuk mendominasi. Blast beat Jay Weinberg yang disertai picking gitar Mick Thomson dan Jim Root pada pertengahan lagu, meningkatkan kadar keganasan mereka dan membuat lagu ini sempat menjadi Worldwide Trending Topic di Twitter ketika belum sampai dua jam dirilis pada 1 Agustus lalu.

"If Rain Is What You Want" merupakan judul dari lagu penutup pada album ini yang judulnya menarik, namun rasanya kurang cocok. Tempo yang lambat dan aransemen yang kurang 'nampol' dari lagu ini menjadikan album .5: The Gray Chapter menjadi anti-klimaks.

Untuk edisi spesial, Slipknot membonuskan dua lagu tambahan yaitu "Override" dan "The Burden" yang keduanya bertempo lambat, namun "The Burden" lebih menarik untuk didengar karena aransemennya yang 'berani' dan menyerempet psychedelic.

Overall, .5: The Gray Chapter merupakan sebuah album epik yang gelap, menyeramkan, cadas, emosional, dan melodius. Namun, sangat disayangkan penyusunan lagu-lagu untuk tracklist di album ini agak keliru yang membuat 'kurva klimaks' dalam album ini berantakan. Alangkah baiknya jika "The Negative One" bertukar posisi dengan "Sarcastrophe" pada track kedua, dan "Custer" menggantikan "If Rain Is What You Want" sebagai lagu penutup.

Jika kita bandingkan dengan keempat album Slipknot sebelumnya, walaupun tidak kuno, aransemen musik pada .5: The Gray Chapter terdengar lebih dewasa namun cenderung 'menua'. Tetap cadas, namun tidak begitu 'liar' dan 'berani' seperti pada album-album terdahulu, Iowa (2001) dan Vol. 3: The Subliminal Verses (2004) yang dirilis ketika masa-masa keganasan Slipknot yang sesungguhnya.

Namun, .5: The Gray Chapter menjadi bukti konkret bahwa Slipknot, sebagai band metal yang sebentar lagi menginjak usia dua dekade dengan rata-rata usia para personilnya yang di atas 40 tahun, merupakan band metal yang mampu mempertahankan eksistensinya dengan baik, dan masih tergolong 'berbahaya' baik dari segi musik, lirik, penampilan secara live, maupun konsep desain grafis dan visualnya.








Tuesday, October 21, 2014

Taring - Nazar Palagan (Album Review)

Taring
Nazar Palagan
Grimloc Records 

Pengunduran diri Hardy 'Nyanknyank' Rosady dari Outright rupanya tidak membuat vokalis tersebut kehilangan eksistensinya. Ia justru kembali bangkit ke skena musik hardcore Bandung dengan membentuk amunisi barunya bersama Gebeg (Power Punk), Angga (Billfold/Asia Minor), dan Ferry (Turbidity) dengan nama Taring. Belum genap satu tahun sejak didirikan pada 13 Desember 2013, Taring berhasil merilis album perdananya yang bertajuk "Nazar Palagan" pada 10 Oktober lalu.

Album yang dirilis via Grimloc Records ini memang patut diwaspadai keganasannya. Ide brilian keempat musisi 'senior' asal Bandung tersebut dalam bereksplorasi menyerap unsur thrash, sludge, stoner, doom, psychedelic, progressive, dan bahkan rap, membuat Nazar Palagan menjadi sebuah album hardcore yang unik dan menarik untuk didengar.

Keganasan mereka terbukti dalam aransemen lagu-lagu dalam album ini yang benar-benar 'nendang'. Riff gitar yang cepat dan thrashy ala Slayer, dibalut dengan sound hardcore serta tone yang tebal dan tajam, berpotensi menyulut sumbu adrenalin para pendengarnya seperti pada lagu "Kata-Kata Belum Binasa" yang menggeber dengan beat drum punk-nya dan dipercantik dengan breakdown yang sangat apik dinikmati dengan headbanging, juga "Nazar Palagan" dengan geraman vokalnya yang menyeramkan dan lantang, serta "Bridge of Agony", sebuah instrumental dengan tempo lambat namun tetap menyeramkan dengan teriakan-teriakan dan riff gitar doom yang menyerempet psychedelic. Odd time signature pada lagu "Meredam Dendam Dengan Bara" dan "Menghujam Langit" serta unison rythm yang teknikal pada "Amarah, Agresifitas, dan Liar" menjadi pembuktian atas adanya unsur progresif pada album ini. Begitu pula dengan unsur sludge pada lagu "Resureksi Diri" dan unsur stoner yang terdengar dari teknik bending pada gitar di hampir setiap lagu.

Taring juga mengajak beberapa musisi untuk berkolaborasi dalam album ini seperti Sarkasz dari Bars of Death yang menyumbangkan lirik dan rap-nya dalam lagu "Gospel Nosferatu", Lord Butche (ex The Cruel) yang meneriakkan high-pitched scream-nya pada lagu "Amarah, Agresifitas, dan Liar", serta Barus dari Godless Symptoms yang berbagi mikrofon dengan Hardy pada lagu "Seperti Tanpa Nyawa". Selain itu, Eben dari Burgerkill ikut berkontribusi sebagai vocal director pada lagu "Nazar Palagan" dan "Meredam Dendam Dengan Bara".

Band-band yang mempengaruhi mereka seperti Lionheart, Madball, Terror, Hatebreed, dsb pun dapat dirasakan atmosfernya dalam album ini. Ketika mendengar hingar-bingar lagu "Kata-Kata Belum Binasa", "Nazar Palagan", dan "Lihatlah Kami" memang mengingatkan kita kepada lagu-lagu yang diciptakan oleh Lionheart dan Hatebreed, namun Taring berhasil mempertahankan identitasnya dengan lirik-lirik berbahasa Indonesia. Tema-tema kritis mengenai politik, sosial, dan moral, dibalut dengan diksi dan kata-kata yang puitis menjadikan Nazar Palagan bukan sekedar album dengan aransemen musik yang 'tajam', namun juga liriknya yang 'tajam' pula. Seperti yang tertulis pada buklet dalam album ini, lirik pada lagu "Meredam Dendam Dengan Bara" dan "Kata-Kata Belum Binasa" diciptakan sebagai dedikasi dan memorial kepada Widji Thukul, seorang penyair yang hilang menjelang runtuhnya rezim orde baru.

Dari segi sound, album yang di-mixing dan mastering oleh Zoteng dari Forgotten ini patut diacungkan dua jempol. Tone gitar dan bass, serta kick drum yang tebal dan tajam memang layak menjadi penyempurna album ini.

Namun sangat disayangkan, pengemasan album ini terkesan minim modal karena sampul dan label CD-nya dicetak hitam putih, serta lirik dan kata-kata yang berdempetan dicetak dalam buklet yang hanya terdiri dari tiga lembar.




Tuesday, September 23, 2014

Jelang Perilisan Album Perdana, Taring Tunjukkan "Kata-Kata Belum Binasa"


Setelah merilis single pertamanya yang berjudul "Nazar Palagan" pada Juli lalu, Taring kembali menunjukkan taringnya dengan merilis single kedua yang berjudul "Kata-Kata Belum Binasa". Unit hardcore asal Bandung tersebut mempersembahkan lagu itu kepada Wiji Thukul yang semangat pembangkangannya tak pernah mati walaupun ia 'dihilangkan' secara paksa pada rezim orde baru.

Band yang terdiri dari Hardy (ex Outright) pada vokal, Angga (Billfold, Asia Minor) pada gitar, Gebeg (Power Punk, Tolak Tunduk) pada drum, dan Ferry (Turbidity) pada bass itu akan merilis album perdana yang berjudul sama dengan single pertamanya, "Nazar Palagan" pada akhir bulan ini. Album yang akan dirilis via Grimloc Records ini akan menggeber hardcore klasik ala Indecesion, Lionheart dan Throwdown.

Untuk mengunduh "Kata-Kata Belum Binasa" secara legal, klik disini

Kontribusi Joey Jordison Untuk Slipknot (1995 - 2013)


Seperti yang diberitakan secara resmi oleh Slipknot, pada Desember 2013 lalu, Joey Jordison sang drummer hengkang dari band yang dirintisnya sejak 1995 tersebut. Namun Joey menegaskan bahwa dia tidak pernah mengundurkan diri, melainkan dipecat. Hingga saat ini pihak Slipknot enggan membuka mulut soal penyebab dipecatnya drummer yang juga merupakan gitaris dari Murderdolls itu.

Jordison merupakan sosok penting yang tidak dapat diabaikan dari sejarah perintisan Slipknot. Namun, pria berusia 39 tahun itu pun pada akhirnya dipecat setelah memberikan banyak kontribusi penting untuk band yang dirintisnya itu. Berikut adalah kontribusi-kontribusi esensial yang diberikan oleh seorang Joey Jordison untuk band yang dibangunnya, Slipknot.

1. Memberikan nama "Slipknot"
Pada awal terbentuknya, band asal Des Moines, Iowa ini bernama The Pale Ones, dan menggunakan nama Meld pada saat pertama kali manggung. Namun, Joey mengusulkan nama "Slipknot" yang diambil dari salah satu judul lagu mereka, yang kemudian diaransemen ulang dan diganti judulnya menjadi "(sic)" untuk debut album Slipknot.

2. Mendesain logo Slipknot

Selain mengusulkan nama "Slipknot", Jordison juga mendesain logo Slipknot yang hingga saat ini masih digunakan. Pada sebuah wawancara, ayah satu anak tersebut mengaku bahwa ia terinspirasi dari logo Korn yang merupakan band favoritnya.

3. Menciptakan istilah "maggot" 
Seperti yang kita ketahui, para penggemar Slipknot sering dijuluki sebagai "maggot". Istilah tersebut pertama kali dicetuskan oleh Joey yang menganalogikan fans Slipknot dengan belatung karena jumlahnya yang masif, dan karakteristiknya yang solid, selalu bergerombol, dan militan.

4. 'Penyelamat' Slipknot
Konflik merupakan hal yang klise di dalam sebuah band. Biasanya, hilangnya passion bermusik dimulai dengan konflik. Sama seperti Slipknot, dari sekian banyak konflik yang pernah mereka alami, Jordison adalah salah seorang tokoh kunci penyelesaian konflik-konflik tersebut. Rupanya dibalik aksi brutalnya di atas panggung, Joey merupakan seorang berkepala dingin yang mampu menengahi konflik-konflik yang terjadi di dalam Slipknot. Salah satunya adalah ketika hampir semua personil Slipknot terpuruk dalam adiksi narkotika pada tahun 2000, yang membuat mereka kehilangan passion bermusik, sedangkan mereka masih terikat kontrak album dengan Roadrunner Records. Dua orang yang mengambil langkah penyelesaian adalah Joey Jordison dan Paul Gray yang mengambil alih sebagian proses pembuatan lagu sehingga komitmen dengan Roadrunner Records dapat diselamatkan dengan lahirnya album Iowa pada tahun 2001. Namun ironisnya, dua orang tersebut kini sudah tidak bersama Slipknot. Paul Gray meninggal dunia pada tahun 2010, dan Joey Jordison sendiri dipecat oleh Slipknot pada akhir 2013.

Kini Slipknot sudah bersama dua orang personil barunya; Jay Weinberg pada posisi drum, dan Alessandro Venturella pada posisi bass. Semoga dengan hadirnya dua personil baru tersebut, Slipknot mampu menghadirkan sesuatu yang baru, segar, namun tanpa menghilangkan karakter orisinalnya yang masih melekat kuat pada sosok Joey Jordison dan Paul Gray.
 

Wednesday, September 17, 2014

Siapakah Dua Personil Baru Slipknot?


Scene metal dunia berhasil diguncang oleh Slipknot yang merilis video klip dari single barunya, The Devil In I. Pasalnya, video klip berdurasi 5 menit 55 detik tersebut menampilkan sosok dua personil baru Slipknot untuk pertama kalinya.

Identitas dua personil baru tersebut belum diumumkan secara resmi oleh band bentukan tahun 1995 itu, namun diduga kuat mereka adalah Jay Weinberg dan Alessandro Venturella.

Jay Weinberg adalah seorang drummer kelahiran 8 September 1990 dan merupakan putra dari Max Weinberg, drummer dari E Street Band yang dimotori oleh Bruce Springsteen. Drummer berusia 24 tahun tersebut pernah tergabung di Madball, legenda hardcore asal New York. Sebelumnya dia juga pernah menggebuk drum untuk The Reveling, Against Me!, E Street Band, dsb. Jay merupakan seorang penggemar berat Slipknot dan pertama kali menonton konser Slipknot ketika masih berusia 9 tahun di Ozzfest 1999 ditemani ayahnya.

Sedangkan Alessandro Venturella adalah seorang musisi asal Inggris yang merupakan seorang teknisi gitar untuk beberapa band seperti Architects, Mastodon, Fightstar, dsb. Sebelumnya, dia pernah bergabung sebagai gitaris di Krokodil dan Cry For Silence. Ini merupakan kali pertamanya bermain bass untuk sebuah band metal kaliber besar seperti Slipknot.

Ketika diwawancara beberapa waktu lalu, Corey Taylor sang vokalis menyatakan bahwa akan ada sembilan personil yang tampil di atas panggung, dan dua di antaranya adalah personil baru yang mengenakan topeng yang sama.

Band yang pada tahun ini menginjak usia 19 tahun itu akan menggelar konser perdananya bersama dua personil baru di Knotfest pada 25 Oktober mendatang dan juga akan menggelar tur bertajuk "Prepare For Hell" bersama Korn dan King 810 yang akan diselenggarakan di 24 kota besar di Amerika Serikat mulai Oktober hingga Desember. Konser dan tur tersebut diadakan dalam rangka promosi untuk album barunya yang akan dirilis pada 21 Oktober, yang berjudul "5: The Gray Chapter".




Saturday, September 13, 2014

Ini Topeng & Formasi Baru Slipknot!

Slipknot 2014

Semenjak dirilisnya The Negative One pada 1 Agustus lalu, banyak timbul pertanyaan mengenai siapa dua personil baru Slipknot yang dipercaya menggantikan mendiang Paul Gray sang basis yang meninggal dunia pada 2010 dan Joey Jordison sang drummer yang hengkang pada akhir 2013.

 Kemarin (12/9), band asal Des Moines, Iowa tersebut memberikan jawabannya dengan merilis video klip dari single baru mereka, The Devil In I.


Dalam video klip itu, dua personil baru tersebut terlihat menggunakan topeng yang sama. Sesuai dengan yang dikatakan Corey Taylor (vokal) pada sebuah wawancara, bahwa dua personil baru mereka akan menggunakan topeng yang sama ketika berada di atas panggung.

Jay Weinberg

Walaupun Slipknot belum mengumumkan secara resmi siapa dua orang yang berada dibalik topeng tersebut, namun diduga kuat bahwa Jay Weiberg (ex Madball) merupakan pria yang dipercaya menggantikan Joey Jordison di posisi drum dan Alessandro Venturella (teknisi gitar Mastodon) sebagai pengganti almarhum Paul Gray sang basis.
Alessandro Venturella

Banyak rumor yang mengatakan bahwa Chris Adler dari Lamb Of God lah yang menjadi drummer baru Slipknot. Namun hal tersebut dibantah langsung oleh Adler.

Dalam video klip yang dipenuhi unsur kekerasan tersebut, Slipknot mencoba memusnahkan image lama mereka dan muncul dengan topeng-topeng baru.

Penasaran dengan video klipnya? Cek disini


The Negative One dan The Devil In I merupakan awal yang baik dari kebangkitan Slipknot yang akan merilis album kelimanya yang berjudul "5 : The Gray Chapter" pada 21 Oktober mendatang.

5 : The Gray Chapter








Saturday, August 2, 2014

SLIPKNOT - The Negative One (Song Review)


Slipknot kembali membombardir dunia dengan merilis single terbaru berjudul "The Negative One". Monster asal Iowa, AS tersebut kembali menginjeksi racutn metalnya setelah 6 tahun absen di dapur rekaman. Meninggalnya sang basis Paul Gray pada 2010 dan hengkangnya sang drummer Joey Jordison pada akhir 2013 rupanya tidak memadamkan sumbu eksistensi band metal yang didirikan pada 1995 itu.

Dirilisnya empat buah video teaser secara berkala yang masing-masing durasinya tidak lebih dari satu menit, menjadi indikasi kebangkitan Slipknot. Pada 1 Agustus 2014, sebuah lagu single berjudul "The Negative One" tersebut dirilis oleh Slipknot melalui situs resminya di slipknot1.com yang juga menginformasikan bahwa video klip dari "The Negative One" akan dirilis pada 5 Agustus mendatang dan sekaligus akan menjadi kemunculan Slipknot perdana dengan topeng dan dua personil baru.

Uniknya, dari keempat video teaser yang dirilis sebelumnya, masing-masing terdapat kalimat di caption-nya yang ternyata merupakan potongan-potongan lirik dari "The Negative One".

Dari segi aransemen musik, lagu tersebut memang terdengar seperti crossover antara album Iowa dan Vol. 3 : The Subliminal Verse, terlebih pada riff gitar dan beat drum yang mengingatkan kita pada lagu "Disasterpiece". Namun riff gitar pada lagu ini terdengar unik sehingga dapat menjadi nilai plus. Walaupun terdengar serupa dengan album Iowa, namun karakter vokal Corey Taylor yang berbeda dan banyaknya penggunaan sampling dan scratching pada lagu ini membuat Slipknot jauh lebih 'segar' dari sebelumnya.

Dari segi lirik, saya belum dapat menilai karena belum dirilisnya lirik lagu ini. Namun sepintas saya dapat mendengar potongan lirik lagu ini yang sepertinya bercerita tentang mengenang almarhum Paul Gray sang basis.

Secara keseluruhan, lagu "The Negative One" tergolong groovy, penuh dengan sampling dan scratching yang unik, dan pastinya brutal!

Identitas drummer dan basis pada album ini belum diketahui karena belum ada pernyataan resmi dari pihak Slipknot. Namun ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa drummer baru Slipknot adalah Jay Weinberg, seorang drummer muda yang juga merupakan mantan drummer dari band hardcore asal New York, Madball. Untuk Paul Gray, kemungkinan besar digantikan oleh Donnie Steele yang merupakan mantan gitaris Slipknot.

Siapapun personilnya, Slipknot akan selalu menjadi besar, brutal, dan Slipknot akan selalu menjadi Slipknot! Mari kita tunggu album barunya yang dipastikan rilis sebelum bulan Oktober mendatang!

Stay (sic)!