Replace NURSUNG13
Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Monday, December 8, 2014

Band-band Ini Siap 'Membunuh' Anda di Hellshow 2014

Unit metal legendaris kebanggaan tanah air, Burgerkill, kembali menggelar “Hellshow” yang akan diadakan di Lapangan Disjas Baros, Cimahi pada 13 Desember mendatang. Tahun ini merupakan kali ketiga Burgerkill menggelar Hellshow dimana pertama kalinya dilaksanakan pada 2005 lalu ketika almarhum sang vokalis Ivan Scumbag masih memperkuat formasi Burgerkill dan yang kedua digelar pada tahun lalu yang diramaikan oleh band-band cadas seperti Beside, Godless Symptoms, Parau, dsb.

Pada tahun ini, Hellshow menghadirkan beberapa band baru yang sepertinya akan mengguncang Cimahi. Nama-nama seperti Taring, Revenge The Fate, dan Nectura dipastikan akan ‘membakar’ Hellshow 2014 yang juga akan diramaikan oleh ‘dedengkot’ metal asal Ujungberung, Disinfected dan beberapa band-band memukau lainnya seperti Rosemary, Paper Gangster, Kaluman, dan Bersimbah Darah. Selain itu Burgerkill juga memberikan kesempatan kepada band-band yang ingin tampil di Hellshow 2014 dengan mengadakan semacam audisi dengan mengirimkan CD berisi karya-karya potensial yang menjadi pertimbangan. Dan yang terpilih adalah band metalcore asal Bandung yang bernama Inwise yang menjuluki dirinya sebagai breakdown metal.

Berikut ulasan singkat mengenai band-band di atas yang siap 'membunuh' Anda di Hellshow 2014 nanti.

Inwise

Band breakdown metal bentukan enam tahun silam ini merupakan band metalcore asal Bandung yang terdiri dari Fahmi (vokal), Icky (gitar), Zulfi (gitar), Izal (bass) dan Gema (drum). Single perdananya “Sense Fails” yang dirilis pada 2009 merupakan sebuah gebrakan awal yang maksimal dengan riff gitar dan beat drum ala metalcore serta dengan vokal yang nyaris terdengar seperti Jesse Leach. Unsur metalcore yang kental diinjeksikan ke dalam beberapa lagu-lagu mereka lainnya seperti “Replika Manusia Tuhan”, “Between The Lies”, dan “Minority” yang merupakan pergabungan elemen-elemen influential dari Killswitch Engage, Trivium, dan All That Remains. Lagu-lagu tersebut rupanya berhasil memikat para personil Burgerkill yang memilih Inwise sebagai rekan pendampingnya untuk mengguncang Hellshow 2014.

Sejauh ini Inwise telah merilis empat buah single dan debut albumnya akan segera dirilis via Heretic Records pada 2015 mendatang dan beberapa lagu-lagunya akan dapat Anda nikmati secara live di Hellshow 2014.


Bersimbah Darah

Band death-grindcore asal Gianyar, Bali ini dibentuk pada 27 Juni 2007 oleh sang gitaris Rico dan mantan drummernya Artha. Pada tahun yang sama, Bersimbah Darah merilis EP “Demography Berdarah” secara independen dan debut albumnya “Land of Terror” dirilis pada 2011 via No Label Records dan didistribusikan secara resmi oleh label asal Amerika Serikat, Sevared Records. Lagu-lagu beringasnya seperti “Kau Tak Layak Hidup”, “Biawax”, dan “Dead Shall Rise” merupakan terjangan bertempo cepat dari berbagai elemen mematikan seperti blast dan grind beat pada drum dengan riff gitar dan dentuman bass yang ngebut pula dan ditambah dengan pekikan vokal high-pitched screaming yang dominan, membuat kita seolah bernostalgia dengan para dewa grindcore seperti Terrorizer, Napalm Death, dan Misery Index.

Bersimbah Darah merupakan sajian yang tepat bagi Anda yang ingin menggerinda telinga dan dipastikan pula para dewa grindcore asal Bali tersebut akan menampilkan single terbarunya yang berjudul “Right To Die” di Hellshow 2014.


Kaluman

Bukan hanya menggerinda telinga bersama Bersimbah Darah, di Hellshow 2014 Anda juga bisa ber-slamming ria dengan pasukan brutal death metal asal Bandung, Kaluman. Band bentukan 2012 ini telah merilis debut albumnya yang merupakan self-titled “Kaluman” pada tahun ini via Sevared Records asal Amerika Serikat. “Altar Prostitusi” dan “Membusuk Menjadi Sampah” merupakan salah dua lagu mereka yang menghujam dengan blast beat dan riff-riff brutal serta perpaduan gaya vokal growling yang akan membangkitkan adrenalin sekaligus ‘menghantui’ Anda dengan lirik-lirik gelapnya.


Rosemary

Bagi Anda yang mengaku skatepunker alangkah baiknya dianjurkan untuk datang ke Hellshow 2014 membawa skateboard dan memainkannya sembari menikmati penampilan Rosemary, legenda skate punk asal kota kembang. Lagunya yang paling popular “Punk Rock Show” merupakan sebuah alunan ska dengan fondasi punk rock yang sangat apik dan sekilas mengingatkan kita kepada legenda-legenda punk rock seperti Rancid dan NOFX yang banyak menyumbangkan pengaruh terhadap karya-karya Rosemary. Budaya skateboarding yang kental dibawa oleh sang vokalis sekaligus gitaris Indra Gatot yang merupakan salah satu skater terbaik di Indonesia. Band bentukan 1997 itu sudah tak terhitung jumlah partisipasinya dalam berbagai macam kompilasi dan telah merilis sebuah album studio pada 2006 dengan judul self-titled “Rosemary”.
 

Paper Gangster

Jika Bandung punya legenda skate punk, maka Depok pun punya legenda hardcore bernama Paper Gangster. Eksis sejak 18 tahun silam, Paper Gangster konsisten dengan konsep musik hardcore-nya yang banyak mengusung influence dari Earth Crisis, Hatebreed, dan Sick Of It All seperti pada lagu-lagu kerasnya “Through Blood and Pain”, “Never Back Down”, “Paint in Black”, dsb. Album debutnya yang bertajuk “Season of Destruct” dirilis via Vein Records pada 2004 dan kini Paper Gangster berada di bawah naungan Crooz Records yang merupakan salah satu labe bergengsi di kalangan kawula muda tanah air.

Jika Anda ingin menguras keringat bersama para pasukan beatdown sambil menikmati serangan-serangan beat dan riff yang ‘nampol’ dari Paper Gangster, maka merupakan sebuah kewajiban bagi Anda untuk menghadiri Hellshow 2014.


Disinfected

Band berusia 17 tahun ini adalah band death metal legendaris asal Ujungberung yang kini digawangi oleh Amenk, Adyth Nugraha, Sigit, Diaz, dan Adang. Abah Andris dari Burgerkill pernah tergabung sebagai drummer Disinfected dari awal terbentuknya dan mengundurkan diri pada 2006. Begitu pula dengan Toteng dari Forgotten dan almarhum Rio sang pendiri label underground paling ‘sakral’ di Jakarta, “Rottrevore Records” pun pernah tergabung sebagai gitaris dari band yang akan merilis album terbarunya pada tahun ini tersebut. Album perdana Disinfected, “Melted” dirilis pada 2001 via Extreme Souls Production yang juga terdapat sebuah cover “South of Heaven” dari monster thrash asal negeri paman sam, Slayer. “Anjing-Anjing Hutan Nusantara” dan “Aku Akan Bunuh Kamu” merupakan dua lagu mereka yang terbukti berbahaya dan berpotensi merasuki jiwa-jiwa kelam para metalhead. Perpaduan gaya vokal growling ala George ‘Corpsegrinder’ Fisher dan Chris Barnes yang diteriakkan oleh Amenk terdengar menyeramkan dan ditambah dengan aransemen musik mereka yang brutal dan lirik-lirik mereka yang sadistic memang membuat kita teringat kepada Cannibal Corpse.

Di Hellshow 2014 nanti, Disinfected akan tampil menebarkan spirit death metal kuno yang sekaligus menjadi pengetahuan bagi para kawula muda yang nampaknya banyak belum mengetahui ‘nenek moyang’ dari musik metal yang mereka gemari sekarang.


Nectura

“Modern, melodic, and scary as shit.” Merupakan kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan Nectura. Monster melodic death metal kelahiran Bandung yang berusia tiga tahun ini baru saja merilis debut album “Awake To Decide” yang patut diacungkan dua jempol dengan kesuksesan mereka menghasilkan mahakarya mengerikan yang sekaligus melodius. Karya-karya menyeramkan mereka seperti “Crossing Coward”, “Threat Minority”, “Awake To Decide”, “The Uprising Echoes”, dsb patut menghuni playlist di iPod Anda. Album rilisan Off The Records itu melibatkan musisi-musisi ternama asal kota kembang seperti Vicky Mono (Burgerkill), Addy Gembel (Forgotten), dan Risa Saraswati (Sarasvati).

Komposisi brilian mereka yang banyak dipengaruhi oleh iblis-iblis Scandinavian metal seperti In Flames, At The Gates, dan Amon Amarth itu sangat sempurna jika dinikmati bukan hanya melalui earphone, namun secara live di Hellshow 2014.


Revenge The Fate

“Symphonic Deathcore Machine” merupakan istilah yang digunakan oleh Revenge The Fate yang merupakan representasi dari komposisi musik mereka yang muda dan berbahaya. Debut album mereka “Redemption” dirilis secara independen via Beholder Records, bertepatan dengan dirgahayu kelima mereka pada Juli lalu. Sejak 2009, Revenge The Fate telah menjadi idola sekaligus role model bagi para kawula muda tanah air melalui lagu-lagunya yang penuh dengan breakdown yang enerjik seperti “Poseidon”, “Kashmir”, “Darah Serigala”, dan “Ambisi” yang menjadi hits di hampir seluruh kalangan anak muda penikmat musik keras Indonesia. High-pitched screaming yang dahsyat dan berpotensi menyayat gendang telinga memang salah satu karakteristik Revenge The Fate yang membuat kita terkenang akan almarhum Mitch Lucker dari Suicide Silence.

Para pemuda-pemudi berjiwa deathcore, Anda wajib menghadiri Hellshow 2014 dan menyaksikan Revenge The Fate yang dijamin lebih menyeramkan dari band-band deathcore mancanegara seperti Suicide Silence, As Blood Runs Black, maupun Chelsea Grin.


Taring

Terlalu groovy untuk disebut metal, terlalu gelap untuk disebut hardcore. Memang terkadang tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan komposisi-komposisi mahakarya yang terdapat di album “Nazar Palagan” milik band hardcore kota kembang bernama Taring ini. Ketika Hardy (vokal/ex Outright), Gebeg (drum/Power Punk), Angga (gitar/Asia Minor), dan Ferry (bass/Turbidity) bergabung atas nama Taring dan bereksperimen dengan menyatukan kemampuan musikal dan retorika mereka, maka hasilnya adalah iblis-iblis yang mereka lahirkan seperti “Kata-Kata Belum Binasa”, “Nazar Palagan”, “Resureksi Diri”, “Menghujam Langit”, dsb. Dengan menyerap energi dari berbagai macam influence dari mulai Madball, Pantera, Slayer, hingga Lamb Of God, para penghuni skena hardcore tanah air wajib memberikan respek besar kepada Taring atas inovasinya yang bernama “Nazar Palagan” rilisan Grimloc Records itu. “Nazar Palagan” bukan hanya mendapatkan respons positif dari kritikus musik, namun juga patut diacungi dua jempol oleh para kritikus politik dan sosial atas lirik-lirik ciptaan Taring yang kritis nan puitis.

Band yang kebetulan akan merayakan ulang tahun pertamanya bertepatan dengan penampilannya di Hellshow 2014 pada 13 Desember mendatang ini dijamin dan dipastikan akan membumihanguskan adrenalin Anda.


Burgerkill

‘Dedengkot’ kebanggaan kita semua inilah yang merupakan konseptor sekaligus organisator dari Hellshow. Band yang hampir menginjak usia dua dekade ini sudah ‘kenyang’ mendapatkan pujian atas mahakarya dahsyat mereka dari media local maupun internasional seperti Metal Hammer Magazine asal Inggris yang mengundang Burgerkill ke London, Inggris untuk dinobatkan sebagai ‘Metal as Fuck’ pada 2013 lalu. Nama-nama seperti Nergal (Behemoth), Pussy Riot, dan Jason Newsted (ex Metallica) menjadi saingan mereka dan Burgerkill pun mengalahkan mereka semua dengan membawa pulang award ‘Metal as Fuck’ dari London ke Ujungberung. Monster yang pada 2015 mendatang akan merilis album kelimanya ini lahir sebagai band hardcore dan bermutasi menjadi band metal dengan aransemen musik dengan cita rasa internasional, namun tetap sukses mempertahankan identitas hardcore-nya.

Para begundal yang memiliki hobi ugal-ugalan wajib menyaksikan monster kelahiran 1995 ini karena mereka menjanjikan penampilan yang sangat spesial di Hellshow 2014 nanti.


Untuk informasi lebih lanjut mengenai Hellshow 2014, silahkan ikuti akun Twitter resmi @ThisIsHellshow.


Tuesday, November 11, 2014

Pee Wee Gaskins 'Lebih Dewasa' di "A Youth Not Wasted"


"A Youth Not Wasted" adalah judul dari album terbaru Pee Wee Gaskins yang akan segera dirilis pada tahun ini. Memang belum ada konfirmasi mengenai tanggal pastinya dari pihak kuintet pop-punk asal Ibukota itu. Namun yang jelas, band bentukan tahun 2007 yang digawangi oleh Dochi (bass), Sansan (vokal/gitar), Ayi (gitar), Aldy (drum), dan Omo (kibor) tersebut akan mencoba 'lebih dewasa' pada album A Youth Not Wasted mendatang.
" A Youth Not Wasted bercerita tentang bagaimana kami melewati dan menikmati masa muda ini. Dengan segala kebebasan, tapi tidak luput dari tanggung jawab." Kata Dochi ketika saya wawancarai beberapa waktu lalu.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi band yang sering disingkat dengan PWG itu untuk bisa mencapai kesuksesan dan mempertahankan eksistensi. Maka hampir setiap hari mereka bersama-sama melewati hari-hari penuh perjuangan, duka cita, dan kegilaan-kegilaan khas anak muda yang mereka lakukan selama menjalankan Pee Wee Gaskins. Namun seperti yang dikatakan oleh Dochi, walau begitu, mereka tetap bertanggung jawab.
"Tanggung jawab seperti apa? ya seperti Sansan yang sekarang udah jadi bapak, Ayi yang sudah menikah dan sebentar lagi nyusul punya anak, dan gue yang bentar lagi juga melepas masa lajang. Tapi bisa dibilang, kami tidak kehilangan semua kegilaan [walaupun] bertumbuh dewasa." Ujar pemilik akun Twitter @katadochi itu yang telah bertunangan dengan sang kekasih pada September lalu dan akan segera menikah bulan ini.
Dari segi musik, menurut Dochi, A Youth Not Wasted akan sedikit berbeda dengan album-album sebelumnya. Namun dari segi lirik, masih berkutat soal cinta.
"[Aransemen musiknya] Lebih variatif sih. Ada yang ngebut, ada yang akustik. Perluasan dari yang udah pernah kami kerjakan. [Liriknya] Sepertinya masih banyak melampiaskan menulis tentang cinta. Baik cinta yang berakhir baik, maupun yang tidak."
Konsep artwork untuk A Youth Not Wasted sampai saat ini belum direncanakan, namun sepertinya merupakan kelanjutan dari EP self-titled yang telah dirilis pada 9 Agustus lalu. Artwork Pee Wee Gaskins selalu identik dengan gambar-gambar kartun, kecuali pada EP "The Transit" yang merupakan foto pesawat berlatar belakang airport.

Dochi pun menyebutkan beberapa seniman yang berada di balik artwork-artwork Pee Wee Gaskins dan Sunday Sunday Co., perusahaan clothing line miliknya.
"[Album] Stories From Our Highschool Years dan Ad Astra Per Aspera yang ngerjain Rico Julian. Dia designer untuk Sunday Sunday Co. juga. Untuk EP 2014 [self-titled] yang bikin Mufti Priyanka, dia juga sempat kolaborasi untuk Sunday Sunday Co."

Baca Juga
Dochi Sadega Tebar Kedamaian Lewat "Zero Hate"

Monday, November 3, 2014

BMTH Semakin Pop dengan "Drown"?


Terbentuk sebagai band beraliran deathcore pada 2004, Bring Me The Horizon atau yang sering disingkat dengan BMTH, nampaknya semakin melenceng dari genre awalnya tersebut. Pasalnya, band asal Inggris itu semakin mengurangi kadar 'keganasannya' dimulai dari album There Is a Hell, Believe Me I've Seen It. There Is a Heaven, Let's Keep It a Secret (2010) dimana BMTH mulai memasukkan unsur musik pop pada lagu-lagunya dengan memperbanyak penggunaan teknik vokal clean, tempo yang lebih lambat, riff dan chord yang lebih melodius, dan mulai menulis lirik tentang cinta. Juga pada album Sempiternal (2013) yang terdengar jauh lebih pop, ditambah dengan bergabungnya Jordan Fish pada kibor yang memberikan suasana electronica dan membuat BMTH semakin jauh dari deathcore.

Namun pada dua album tersebut, BMTH kelihatannya masih ragu-ragu untuk melepaskan diri sepenuhnya dari deathcore karena pada beberapa lagu masih terdapat breakdown dan vokal scream walaupun frekuensinya berkurang drastis, tidak seperti dua album pertama mereka, Count Your Blessings (2006) dan Suicide Season (2008) yang kental dengan nuansa deathcore-nya mulai dari tempo 'ngebut', blast beat pada drum, growl dan high-pitched screaming pada vokal, dan lain sebagainya. Unsur-unsur tersebut mulai dihilangkan sejak rilisnya album There Is a Hell, Believe Me I've Seen It. There Is a Heaven, Let's Keep It a Secret, terutama blast beast pada drum yang tidak pernah terdengar lagi.

"Pada album berikutnya apakah BMTH akan menjadi band pop yang sesungguhnya?" adalah sebuah pertanyaan yang kerap muncul seiring dirilisnya album-album BMTH yang semakin dini semakin bersahabat dengan pop. Seolah ingin menjawab pertanyaan tersebut, BMTH merilis video klip dari single terbarunya yang berjudul "Drown" pada 21 Oktober lalu. Band yang dimotori oleh Oliver Sykes itu akan merilis lagu tersebut secara penuh pada 9 Desember mendatang. 

Di dalam video klipnya, lagu tersebut sedikit terpotong karena tuntutan skenario, namun kita dapat mendengar Drown secara jelas dan dari situ muncul hipotesis bahwa BMTH telah 'bermutasi' menjadi band pop sesungguhnya. Drown sama sekali tidak mengandung unsur deathcore, melainkan hanya sebuah lagu pop-rock dengan sentuhan post-hardcore yang samar-samar terdengar dari beat drum pada awal lagu dan distorsi gitar. Oliver Sykes sang vokalis pun sama sekali tidak menggunakan teknik vokal scream-nya, melainkan sepanjang lagu hanya bernyanyi layaknya vokalis band pop-rock pada umumnya.

Hal tersebut mengecewakan bagi para penggemar BMTH yang 'ortodoks' karena dilihat dari komentar-komentar mereka di sosial media, mereka berharap bahwa BMTH akan kembali menjadi band cadas seperti pada saat lima tahun pertama mereka terbentuk. Namun yang mereka terima adalah Drown yang sangat jauh dari ekspektasi mereka, namun ternyata juga mendapatkan banyak respons positif karena easy listening, melodius, dan pada lagu ini terdengar vokal clean Oliver Sykes yang semakin merdu.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada konfirmasi bahwa BMTH akan merilis album baru. Namun nampaknya Drown merupakan sosialisasi atas sebagian 'wajah' baru BMTH yang mungkin saja akan disibak sepenuhnya di album baru mereka. Atau mungkin juga Drown hanyalah sebuah lagu ballad dari album BMTH selanjutnya yang kembali kepada akar deathcore-nya yang cadas? We'll see..

Slipknot Serba Baru di Knotfest 2014!


24 - 26 Oktober 2014 merupakan tiga hari bersejarah bagi para penggemar Slipknot atau yang biasa disebut dengan maggot. Pasalnya, setelah merilis album kelima berjudul .5: The Gray Chapter pada 21 Oktober lalu, Slipknot kembali tampil di depan para maggot di Knotfest 2014, sebuah festival yang diselenggarakan oleh Slipknot sendiri, yang juga diramaikan oleh 46 band metal kaliber besar seperti Anthrax, Danzig, Five Finger Death Punch, Hatebreed, Black Label Society, Carcass, dsb. Sesuai dengan temanya, "A Happening That Will Awaken Your Darkest Senses", Knotfest 2014 bukan hanya menampilkan band-band cadas, namun juga disana terdapat Slipknot Museum (yang berisi kumpulan topeng, kostum, dan alat musik yang pernah digunakan oleh Slipknot selama 19 tahun terakhir), Camping Area, atraksi-atraksi maut, wahana-wahana ekstrim, dsb. Knotfest 2014 disiarkan secara livestreaming ke seluruh dunia melalui situs web resmi slipknot1.com.

Pasca kematian Paul Gray, Slipknot sempat beberapa kali tampil di berbagai festival dengan hanya delapan orang personil di atas panggung dan posisi Gray digantikan sementara oleh mantan gitaris mereka, Donnie Steele, yang harus tampil dibelakang panggung untuk menghormati mendiang sang basis. Namun di Knotfest 2014, untuk pertama kalinya unit metal asal Des Moines, Iowa tersebut tampil dengan formasi barunya sekaligus pertama kali pula tampil tanpa Joey Jordison yang dipecat dari Slipknot pada akhir 2013 lalu. Dua orang personil pengganti Gray dan Jordison adalah Alessandro Venturella (bass) dan Jay Weinberg (drum) menunjukkan kemampuan bermusiknya secara langsung dihadapan publik sebagai personil Slipknot yang selama ini hanya muncul sepintas di video klip lagu The Devil In I. Bukan hanya formasi baru, namun juga topeng dan kostum baru milik band bentukan tahun 1995 itu pun ditampilkan di Knotfest 2014 dengan beberapa lagu baru dari album .5: The Gray Chapter.

515 yang merupakan track pertama pada album Iowa, menjadi intro pembuka untuk penampilan Slipknot di Knotfest pada hari pertama (25 Oktober), lalu para penonton diterjang dengan lagu People = Shit dengan teriakan menyeramkan dari pasukan gang vocals yaitu Clown (Shawn Crahan), Chris Fehn, dan dipimpin oleh Corey Taylor sang vokalis. Dengan blast beat Jay Weinberg pada drum yang meyulut adrenalin dan riff gitar Mick Thomson yang dibumbui dengan headbang Jim Root membuat People = Shit menjadi lagu yang sangat cocok sebagai aksi kemunculan Slipknot kembali dengan topeng, kostum, dan formasi baru. Topeng-topeng baru mereka tetap menyeramkan,namun tidak mengalami banyak perubahan kecuali milik Corey Taylor dan Sid Wilson yang perubahannya signifikan. Namun sangat disayangkan kostum baru mereka sangat formal, yaitu kostum serba hitam yang terdiri dari kemeja lengan panjang yang dimasukkan ke dalam celana kargo panjang dan rompi yang memberikan kesan kegagahan militeristik, jauh dari image liar dan psychotic yang dimiliki Slipknot sejak awal terbentuknya.  Dilanjutkan dengan Eeyore dan Disasterpiece yang membuat para penonton bernostalgia dengan era Slipknot pada album Iowa yang setlist manggungnya serupa dengan tiga lagu awal pada Knotfest 2014.

Seakan memahami keinginan para penonton yang tidak sabar ingin melihat mereka membawakan lagu barunya secara langsung dan perdana, mereka melanjutkannya dengan The Negative One yang disambut para penonton dengan antusias dan histeris. Lagu yang dirilis pada Agustus lalu, dibawakan dengan enerjik oleh mereka, terutama sang drummer Jay Weinberg yang terlihat sangat total dan menjiwai ketika memainkan The Negative One yang merupakan lagu pertama Slipknot yang dirilis tanpa kontribusi Gray dan Jordison. Pada lagu itu Weinberg dapat mengekspresikan karakter permainan drumnya sendiri tanpa harus terbawa image seorang Joey Jordison yang telah mengabdi pada Slipknot selama 18 tahun. Walaupun secara teknis Jordison lebih unggul, namun secara gestur Weinberg lebih terlihat luwes ketika memukul drum, tidak seperti Jordison yang tekesan kaku meskipun disertai headbang-nya yang 'gila-gilaan'. Weinberg terlihat jauh lebih menarik secara visual ketika tampil, dibandingkan Alessandro Venturella sang basis baru yang pasif dan jarang di-shoot oleh kamera.

Sulfur, Eyeless, Wait and Bleed, Dead Memories, dan Before I Forget dimainkan dengan tajam dan memukau oleh mereka setelah The Negative One, dan dilanjutkan dengan Three Nil yang kembali dimainkan secara langsung sejak 2008 lalu. Suasana emosional terlihat saat kalimat "Today I Say Goodbye!" yang diteriakan Corey Taylor bersama para penonton pada reffrain Three Nil yang seakan menjadi ucapan selamat tinggal yang ditujukan untuk almarhum Paul Gray. Selanjutnya, Frail Limb Nursery dan Purity dimainkan untuk meredam emosi para penonton yang telah 'babak belur' menikmati terjangan Slipknot dari moshpit. Setelah itu, Slipknot kembali menyulut adrenalin para penonton dengan menggeber lagu Custer dari album barunya dan nampaknya berhasil membuat para penonton tersebut menggila seketika. Lagu yang sangat agresif dengan tempo 'ngebut' itu terdengar sangat intens dan menjadi suatu pembuktian atas eksistensi Slipknot sebagai sebuah band metal kelas dunia yang berumur hampir dua dekade, dengan para personilnya yang rata-rata berusia empat puluh tahunan, namun tetap menciptakan dan memainkan musik yang berbahaya layaknya pada awal karir Slipknot ketika mereka masih berusia dua puluh tahunan.

Tiga lagu terakhir pada malam itu adalah Duality, Spit It Out, dan seperti biasanya ditutup oleh "The National Fucking Anthem", Surfacing. Setelah menggempur dunia dengan total 17 buah lagu, Corey Taylor berterimakasih kepada para penonton dan maggots di seluruh dunia yang menyaksikan secara livestreaming dan menutup malam itu dengan mengucapkan "See you tomorrow fucking night!" karena Slipknot akan kembali 'berpesta' pada malam berikutnya.

Malam kedua penampilan Slipknot di Knotfest 2014 dimulai dengan intro lagu XIX dan disambut dengan hingar-bingar lagu Sarcastrophe yang keduanya merupakan dua track awal dari album .5: The Gray Chapter. Lewat lagu Sarcastrophe, Slipknot berhasil membangkitkan gairah para penonton, terutama ketika kalimat "We. Are. Kill. Gods" diteriakkan Corey Taylor bersama dengan pasukan gang vocals pada bagian reffrain. Setelah itu Slipknot mengajak para penonton untuk kembali ke era album Iowa dengan memainkan lagu The Heretic Anthem dan My Plague yang dimainkan kembali sejak terakhir kalinya pada 2002. Lalu setelah melakukan chit-chat dengan para penonton, Corey Taylor berkata "Step inside, my friends. And see The Devil In I" lalu disambut dengan antusiasme para penonton ketika The Devil In I, single dari album baru mereka, dimainkan secara live untuk pertama kalinya dan berhasil membuat para penonton meliar sekaligus terbius untuk melakukan sing along pada bagian reffrain-nya yang melodius.

Psychosocial, Liberate, Opium of The People, Left Behind dan Vermillion menjadi rentetan lagu-lagu yang dimainkan setelah The Devil In I. Lagu-lagu tersebut membuat para penonton bernostalgia sekaligus mengenang era Slipknot ketika masih ada Paul Gray dan Joey Jordison. Lalu para penonton diajak move on sejenak dengan dimainkannya kembali salah satu lagu dari .5: The Gray Chapter yang berjudul Custer, sebuah lagu yang sangat efektif untuk membumihanguskan moshpit dengan seketika karena aransemen musiknya yang cadas, bertempo 'ngebut', dan liriknya yang eksplisit. Ketika kalimat "Cut! Cut! Cut me up! And fuck! Fuck! Fuck me up!" pada reffrain lagu tersebut diteriakkan oleh Corey Taylor bersama pasukan gang vocals-nya, crowd pun semakin menggila.

Pada hari itu, seolah tak mengenal ampun, Slipknot 'membakar habis' para penonton dengan memainkan rentetan lagu-lagu penyulut adrenalin dari The Blister Exists, Before I Forget, Duality, (sic), hingga diakhiri oleh Surfacing sebagai penghabisan. Seraya diputarnya 'Til We Die sebagai farewell song, Corey Taylor berterimakasih kepada para penonton dengan cara menggenggam kedua tangannya sambil menundukkan tubuhnya seperti kebiasaan orang Jepang.

Knotfest 2014 merupakan bukti kebangkitan Slipknot yang sesungguhnya dengan menampilkan kepada dunia segala sesuatunya yang serba baru dari mulai personil, lagu, topeng, hingga kostum. Melalui Knotfest 2014, atmosfer baru Slipknot yang masih berbahaya seperti dulu berhasil diterima oleh para maggot di seluruh dunia dengan respons positif yang terbukti dari komentar-komentar mereka di sosial media. Dan melalui Knotfest 2014 pula yang menjadi bukti atas fenomena Slipknot yang pengaruhnya berskala global, seperti yang dikatakan oleh Clown (Shawn Crahan) perkusionis sekaligus salah satu pendiri band yang sebentar lagi menginjak usia dua dekade itu, "Slipknot bukan lagi merupakan sebuah band. Slipknot adalah sebuah budaya."






Slipknot - .5: The Gray Chapter (Album Review)


Slipknot
.5: The Gray Chapter
Roadrunner Records
2014


Setelah 'puasa' tidak merilis album selama enam tahun, akhirnya Slipknot 'berbuka puasa' pada tahun ini. Album berjudul ".5: The Gray Chapter" ini merupakan album pertama Slipknot tanpa mendiang sang basis Paul Gray dan sang drummer Joey Jordison yang dipecat pada akhir 2013 lalu. Band asal Des Moines, Iowa tersebut kembali menggandeng Roadrunner Records yang telah menjadi label rekaman untuk Slipknot sejak debut albumnya pada 1999. Dirilisnya album ini juga menjadi titik permulaan era baru Slipknot dimana bergabungnya dua personil baru (Alessandro Venturella pada bass dan Jay Weinberg pada drum) menimbulkan atmosfer yang baru pula bagi Slipknot. Jim Root sang gitaris merangkap sebagai basis dalam sebagian besar lagu di album ini. Venturella hanya mengisi bass pada sebagian sisanya, dengan alasan yang kurang jelas.

Enam belas buah lagu dalam album ini dipersembahkan kepada maggot yang telah 'kehausan' selama enam tahun dan Slipknot benar-benar berhasil melenyapkan dahaga mereka. Pada keempat album sebelumnya Slipknot mencampurkan beberapa sampling yang terdengar psychotic untuk track pembuka, kali ini Slipknot memberikan "XIX" yang merupakan sebuah mars yang menyeramkan, gelap, dan dengan lirik serta progresi chord yang menyulut semangat "So walk with me, walk with me, don't let this fucking world tear you apart." benar-benar berhasil membangkitkan gairah pendengar dengan klimaks. Namun sayangnya pada track kedua, justru membuat pembukaan album ini tidak 'nampol' karena permulaan lagu ini yang merupakan alunan petikan gitar, menurunkan gairah pendengar yang sudah berhasil dibangkitkan oleh klimaksnya "XIX". Akan lebih baik jika track kedua diisi dengan lagu yang menerjang seketika seperti "(sic)" yang sungguh memicu adrenalin yang merupakan track kedua dari album perdana mereka yang dirilis pada 1999. Namun lepas dari itu, "Sarcastrophe" mendatangkan sesuatu yang unik dan baru bagi Slipknot yaitu Jay Weinberg sang drummer baru yang menggunakan octoban yang dipukul secara mistis untuk melengkapi alunan gitar menyeramkan yang dipetik oleh Jim Root pada permulaan album ini. Pukulan blast beat serta picking gitar dengan nada yang epic serta kalimat "Burn up in your atmosphere!" yang diteriakkan oleh Corey Taylor berhasil memicu adrenalin pendengar yang sempat surut pada permulaan lagu ini. Pada bagian refrain, pasukan gang vocals Slipknot yang terdiri dari Corey Taylor, Clown, dan Chris Fehn beraksi dengan ber-sing along meneriakkan kalimat ekspresif nan puitis "We are killed gods!" yang berarti "Kami adalah dewa-dewa yang terbunuh!".

Pada lagu-lagu yang diciptakan Slipknot sebelumnya, kebanyakan berorientasi pada nu metal, groove metal, thrash, atau hardcore. Namun pada "AOV" Slipknot mencoba memberanikan diri untuk berekspolasi dengan menuangkan elemen metalcore yang terdengar dari riff gitar dan beat drum yang memulai lagu ini dengan terjangan langsung. Chorus pada lagu ini sungguh melodic, memperdengarkan alunan vokal clean Corey Taylor yang merdu dan dibalut dengan choir dan progresi chord yang melodius pula. Namun hal tersebut sama sekali tidak mengurangi kegarangan Corey Taylor yang kembali rap-screaming dengan pengucapan kata-kata yang sangat cepat namun dengan geraman yang menyeramkan. Hal tersebut menjadi ciri khasnya sejak album perdana Slipknot, seperti pada lagu "Spit It Out". Pada bagian akhir lagu ini, kembali terdengar ciri khas Slipknot yaitu pukulan-pukulan pada tong besi yang dilakukan oleh para perkusionis yaitu Clown dan Chris Fehn, menghasilkan beat yang perkusif.  "AOV" adalah kepanjangan dari approaching original violence, yang merupakan lagu dengan lirik sarkastik yang bercerita tentang seseorang yang telah kehilangan passion dan komitmennya terhadap sebuah kelompok. Kalimat-kalimat seperti "We bury what we fear the most, approaching original violence is the silence, where you hide it? cause I don't recognize you anymore" dan "We carry what we can't control, approaching original violence, in the silence, there's a nihilist who doesn't care and never did" membentuk asumsi yang merujuk kepada Joey Jordison sebagai objek dari lirik tersebut. Seperti yang kita ketahui, Joey Jordison dipecat pada akhir 2013 dan Slipknot hingga kini belum memberikan pernyatan tentang penyebab dipecatnya sang drummer yang telah bergabung di Slipknot selama 18 tahun itu. Mungkin "AOV" menjadi sebuah medium untuk menceritakan konflik tersebut secara simbolik.

"The Devil In I" adalah judul lagu pada track keempat yang merupakan single kedua yang dirilis Slipknot untuk album .5: The Gray Chapter sekaligus merupakan lagu pertama dalam album tersebut yang video klipnya telah dirilis. Riff gitar groovy diiringi beat drum dan perkusi yang Slipknotical, mengawali lagu tersebut. Lalu dilanjutkan dengan vokal clean Corey Taylor yang merdu dan disambung dengan scream pada reffrain, membuat lagu ini menjadi sebuah lagu yang cadas dan melodius pada saat yang bersamaan. Tidak heran jika lagu ini sangat berpotensi untuk membuat para pendengar tertarik untuk menghafalkan liriknya yang non-ekplisit untuk ber-sing along. Lalu para pendengar diberi kesempatan bernafas pada "Killpop", sebuah lagu semi-ballad yang dimulai dengan ritem dan beat yang kalem, namun secara bertahap 'naik' dan berakhir dengan permainan drum yang 'ngebut' dan teknikal dan disertai vokal scream Corey Taylor yang meneriakkan "Die and fucking love me!" secara berulang-ulang. Dari segi lirik, "Killpop" merupakan lagu cinta dengan lirik yang sarkastik, eksplisit, dan dibalut dengan irama musik yang keras.

Sesuai dengan nama album .5 The Gray Chapter, "Skeptic" pada track keenam adalah sebuah lagu yang didedikasikan untuk sang almarhum Paul Gray. "The world will never see another crazy motherfucker like you, The world will never know another man as amazing as you." merupakan penggalan kalimat dari lirik lagu tersebut sebagai representasi dari sebuah persembahan dan 'pemujaan' untuk mendiang sang basis. Dengan aransemen musik yang cadas dan jauh dari kesedihan, "Skeptic" merupakan lagu tribut dengan lirik yang tidak melankolis, namun berhasil menggores emosi para pendengar lewat lirik yang disampaikan. Tanpa jeda untuk 'pulih' dari keganasan aransemen "Skeptic", "Lech" kembali membakar adrenalin para pendengar melalui aransemen musik yang tak kalah cadas dan dengan poin plus yang didapatkan dari odd time signature yang terdapat di beberapa bagian dalam lagu ini, namun tidak mengurangi kadar enjoyable-nya karena disusupi juga beberapa riff gitar yang dibalut dengan beat dan ritem yang groovy sehingga para pendengar mampu headbanging di sela-sela bagian lagu ini.

Seakan mengerti bahwa para pendengarnya 'ngos-ngosan' setelah diterjang oleh dua lagu pembakar adrenalin, "Skeptic" dan "Lech", Slipknot kembali memberi waktu untuk bernafas pada lagu "Goodbye" yang merupakan lagu tribut lainnya untuk Paul Gray. Lagu ballad yang sesungguhnya ini baru muncul pada track kedelapan dalam .5: The Gray Chapter. "Maybe we can all recognize a moment of sadness." menjadi indikasi bahwa lirik lagu ini bercerita tentang kesedihan yang mendalam atas kepergian Gray meninggalkan Slipknot untuk selama-lamanya. Dengan progresi chord gitar dan melodi yang melankolis, membuat para pendengar mampu menjiwai makna lagu ini sekaligus menikmatinya dengan sepenuh hati. Namun Slipknot menyadari bahwa tidaklah baik untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Maka selepas menggoreskan emosi pada pendegar lewat "Goodbye", Slipknot kembali meliarkan para pendengar dengan "Nomadic", sebuah lagu dengan komposisi antara unsur heavy dan melodic yang pas. Slipknot berhasil membuat para pendengar headbanging atau ber-scream along pada bagian verse dan ber-sing along pada bagian chorus yang sangat melodius layaknya pada lagu "AOV".

Pada track kesembilan, sayangnya Slipknot gagal untuk menarik minat para pendengar untuk menikmati "The One That Kills The Least" karena aransemen musiknya yang 'tanggung'; terlalu 'lemot' untuk dibilang cadas, dan terlalu banal untuk dibilang melodius. Lepas dari itu, dari segi lirik, "The One That Kills The Least" tergolong menarik dengan menggunakan analogi yang unik seperti pada kalimat "I mirror what I love with what I hate, empty ways can cloud your eyes.". Namun pada "Custer" di track kesepuluh, bisa dibilang merupakan lagu tercadas, terkeras, paling menggeber, dan paling ngebut dalam album .5: The Gray Chapter serta dengan lirik yang paling eksplisit pula. Pembukaan dengan riff dan beat yang cepat, rapat, dan berbarengan benar-benar menghancurleburkan gendang telinga para pendengar yang saya jamin akan melotot sekaligus terkagum-kagum ketika mendengar lagu ini. Kalimat "Cut! Cut! Cut me up! And fuck! Fuck! Fuck me up!" yang diteriakkan Corey Taylor dan pasukan gang vocals memang membakar habis jiwa dan adrenalin para pendengar dan dipastikan lagu ini akan membumihanguskan moshpit dengan seketika ketika dimainkan secara live. Jika pada album debut Slipknot terdapat "Surfacing" yang dijuluki sebagai The New National Anthem atau 'lagu kebangsaan baru' karena liriknya yang persuasif dan kontroversial, maka rasanya "Custer" sangat pantas dijuluki sebagai The Brand New National Anthem atau 'lagu kebangsaan yang paling baru'.

Setelah "Custer" menguras habis 'energi' para pendengar, lagi-lagi Slipknot memanjakan mereka dengan memberinya kesempatan untuk bernafas dalam sebuah lagu pendek yang berisi sampling dan lirik yang mistis dan psychotic (tipikal Slipknot) yang berjudul "Be Prepared for Hell". Namun tak sampai dua menit, Slipknot kembali menggerus mental para pendengar dengan "The Negative One" yang merupakan lagu pertama yang dirilis Slipknot selama enam tahun tidak merilis karya apapun. Riff gitar yang membuka lagu ini dan dilanjutkan dengan beat drum Jay Weinberg, sepintas terdengar mirip dengan "Disasterpiece" pada album Iowa (2001), namun ketika Corey Taylor memulai aksinya dengan meneriakkan kalimat "Fire and caffeine, a lot of nicotine, I'm gonna burn so I better tell you everything." membuat lagu ini memiliki karakteristiknya sendiri yang menarik, selain karena aransemen musiknya yang keras, tapi juga karena liriknya yang puitis. Banyaknya sampling dan scratching yang digunakan pada lagu ini memberi kesempatan bagi Craig Jones dan Sid Wilson untuk mendominasi. Blast beat Jay Weinberg yang disertai picking gitar Mick Thomson dan Jim Root pada pertengahan lagu, meningkatkan kadar keganasan mereka dan membuat lagu ini sempat menjadi Worldwide Trending Topic di Twitter ketika belum sampai dua jam dirilis pada 1 Agustus lalu.

"If Rain Is What You Want" merupakan judul dari lagu penutup pada album ini yang judulnya menarik, namun rasanya kurang cocok. Tempo yang lambat dan aransemen yang kurang 'nampol' dari lagu ini menjadikan album .5: The Gray Chapter menjadi anti-klimaks.

Untuk edisi spesial, Slipknot membonuskan dua lagu tambahan yaitu "Override" dan "The Burden" yang keduanya bertempo lambat, namun "The Burden" lebih menarik untuk didengar karena aransemennya yang 'berani' dan menyerempet psychedelic.

Overall, .5: The Gray Chapter merupakan sebuah album epik yang gelap, menyeramkan, cadas, emosional, dan melodius. Namun, sangat disayangkan penyusunan lagu-lagu untuk tracklist di album ini agak keliru yang membuat 'kurva klimaks' dalam album ini berantakan. Alangkah baiknya jika "The Negative One" bertukar posisi dengan "Sarcastrophe" pada track kedua, dan "Custer" menggantikan "If Rain Is What You Want" sebagai lagu penutup.

Jika kita bandingkan dengan keempat album Slipknot sebelumnya, walaupun tidak kuno, aransemen musik pada .5: The Gray Chapter terdengar lebih dewasa namun cenderung 'menua'. Tetap cadas, namun tidak begitu 'liar' dan 'berani' seperti pada album-album terdahulu, Iowa (2001) dan Vol. 3: The Subliminal Verses (2004) yang dirilis ketika masa-masa keganasan Slipknot yang sesungguhnya.

Namun, .5: The Gray Chapter menjadi bukti konkret bahwa Slipknot, sebagai band metal yang sebentar lagi menginjak usia dua dekade dengan rata-rata usia para personilnya yang di atas 40 tahun, merupakan band metal yang mampu mempertahankan eksistensinya dengan baik, dan masih tergolong 'berbahaya' baik dari segi musik, lirik, penampilan secara live, maupun konsep desain grafis dan visualnya.








Tuesday, October 21, 2014

Taring - Nazar Palagan (Album Review)

Taring
Nazar Palagan
Grimloc Records 

Pengunduran diri Hardy 'Nyanknyank' Rosady dari Outright rupanya tidak membuat vokalis tersebut kehilangan eksistensinya. Ia justru kembali bangkit ke skena musik hardcore Bandung dengan membentuk amunisi barunya bersama Gebeg (Power Punk), Angga (Billfold/Asia Minor), dan Ferry (Turbidity) dengan nama Taring. Belum genap satu tahun sejak didirikan pada 13 Desember 2013, Taring berhasil merilis album perdananya yang bertajuk "Nazar Palagan" pada 10 Oktober lalu.

Album yang dirilis via Grimloc Records ini memang patut diwaspadai keganasannya. Ide brilian keempat musisi 'senior' asal Bandung tersebut dalam bereksplorasi menyerap unsur thrash, sludge, stoner, doom, psychedelic, progressive, dan bahkan rap, membuat Nazar Palagan menjadi sebuah album hardcore yang unik dan menarik untuk didengar.

Keganasan mereka terbukti dalam aransemen lagu-lagu dalam album ini yang benar-benar 'nendang'. Riff gitar yang cepat dan thrashy ala Slayer, dibalut dengan sound hardcore serta tone yang tebal dan tajam, berpotensi menyulut sumbu adrenalin para pendengarnya seperti pada lagu "Kata-Kata Belum Binasa" yang menggeber dengan beat drum punk-nya dan dipercantik dengan breakdown yang sangat apik dinikmati dengan headbanging, juga "Nazar Palagan" dengan geraman vokalnya yang menyeramkan dan lantang, serta "Bridge of Agony", sebuah instrumental dengan tempo lambat namun tetap menyeramkan dengan teriakan-teriakan dan riff gitar doom yang menyerempet psychedelic. Odd time signature pada lagu "Meredam Dendam Dengan Bara" dan "Menghujam Langit" serta unison rythm yang teknikal pada "Amarah, Agresifitas, dan Liar" menjadi pembuktian atas adanya unsur progresif pada album ini. Begitu pula dengan unsur sludge pada lagu "Resureksi Diri" dan unsur stoner yang terdengar dari teknik bending pada gitar di hampir setiap lagu.

Taring juga mengajak beberapa musisi untuk berkolaborasi dalam album ini seperti Sarkasz dari Bars of Death yang menyumbangkan lirik dan rap-nya dalam lagu "Gospel Nosferatu", Lord Butche (ex The Cruel) yang meneriakkan high-pitched scream-nya pada lagu "Amarah, Agresifitas, dan Liar", serta Barus dari Godless Symptoms yang berbagi mikrofon dengan Hardy pada lagu "Seperti Tanpa Nyawa". Selain itu, Eben dari Burgerkill ikut berkontribusi sebagai vocal director pada lagu "Nazar Palagan" dan "Meredam Dendam Dengan Bara".

Band-band yang mempengaruhi mereka seperti Lionheart, Madball, Terror, Hatebreed, dsb pun dapat dirasakan atmosfernya dalam album ini. Ketika mendengar hingar-bingar lagu "Kata-Kata Belum Binasa", "Nazar Palagan", dan "Lihatlah Kami" memang mengingatkan kita kepada lagu-lagu yang diciptakan oleh Lionheart dan Hatebreed, namun Taring berhasil mempertahankan identitasnya dengan lirik-lirik berbahasa Indonesia. Tema-tema kritis mengenai politik, sosial, dan moral, dibalut dengan diksi dan kata-kata yang puitis menjadikan Nazar Palagan bukan sekedar album dengan aransemen musik yang 'tajam', namun juga liriknya yang 'tajam' pula. Seperti yang tertulis pada buklet dalam album ini, lirik pada lagu "Meredam Dendam Dengan Bara" dan "Kata-Kata Belum Binasa" diciptakan sebagai dedikasi dan memorial kepada Widji Thukul, seorang penyair yang hilang menjelang runtuhnya rezim orde baru.

Dari segi sound, album yang di-mixing dan mastering oleh Zoteng dari Forgotten ini patut diacungkan dua jempol. Tone gitar dan bass, serta kick drum yang tebal dan tajam memang layak menjadi penyempurna album ini.

Namun sangat disayangkan, pengemasan album ini terkesan minim modal karena sampul dan label CD-nya dicetak hitam putih, serta lirik dan kata-kata yang berdempetan dicetak dalam buklet yang hanya terdiri dari tiga lembar.