Replace NURSUNG13
Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts

Monday, May 11, 2015

'A Youth Not Wasted' Is Coming! Another Interview with Dochi Sadega

Sebagai salah satu the most anticipated album lokal tahun ini, 'A Youth Not Wasted', album studio keempat milik pop-punkers Ibukota Pee Wee Gaskins benar-benar mengedepankan kualitas produksinya. Buktinya, Scott Sellers dari band pop punk Rufio asal Amerika Serikat akan turun tangan dalam proses produksi album ini. Beberapa lagu dalam album tersebut sudah dapat disaksikan versi live di Youtube seperti 'Teriak Serentak', 'My Sassy Girl', dan 'Serotonin'.

Berikut wawancara saya seputar 'A Youth Not Wasted' dengan sang lokomotif band tersebut, Dochi Sadega.

1. Bagaimana progress 'A Youth Not Wasted' so far? Sudah siap rilis kah?

Tinggal 1 lagu yang belum selesai recording dan menunggu hasil mixing-mastering dari Scott Sellers

2. Tanggal rilis?

Dijadwalkan setelah lebaran, mungkin Agustus

3. Seberapa banyak dan dalam hal apa saja keterlibatan Scott Sellers dalam A Youth Not Wasted?

Pemaksimalan pilihan sound, grammar correction, mixing dan mastering

4. Bagaimana menurut dia tentang album itu?

Tidak ada lagu yang dia tidak suka, katanya semua lagu di dalamnya catchy dan well-written

5. Apakah tracklist dari A Youth Not Wasted sudah bisa saya ketahui? :D

Belum, masih rahasia hehe

6. Benarkah 'Just Friends' akan dimasukkan dalam A Youth Not Wasted?

Yup

7. Sejauh ini 'Just Friends' sudah dirilis dalam 3 versi berbeda yang terdapat di The Transit EP dan PWG EP. Tolong ceritakan latar belakang terciptanya lagu tersebut dan mengapa begitu "spesial" sehingga terus-menerus dirilis dalam berbagai macam versi?

Gak ada alasan khusus, suka aja sama lagunya dan gak ada alasan. Why not? Hehehe

8. Apa yg membedakan 'Just Friends' dalam A Youth Not Wasted dengan 3 versi sebelumnya?

Beda versi, tunggu aja. Ini termasuk lagu favorit Scott di album ini

9. Bagaimana cerita Gania Alianda dari Billfold bisa featuring dengan PWG dalam lagu 'Serotonin'?

Gak direncanakan sebenernya, spontan aja. Seru kan?

10. Seru! Boleh cerita makna lirikal dibalik lagu 'Serotonin'?

Tentang kebahagiaan, serotonin kan hormon yang diproduksi tubuh ketika sedang bahagia. Lagu ini menceritakan saat tubuh kekurangan serotonin.

11. Setelah mendengar 'Teriak Serentak' saya bisa simpulkan dalam A Youth Not Wasted, PWG lebih bereksplorasi ke arah hardcore-punk. Apa benar?

Setelah denger Serotonin gak seperti explore ke pop punk ala TSSF / Such Gold / Neck Deep? Intinya memang album ini explore ke semua varian pop punk yang memang sangat luas, dan pembuktian bahwa PWG gak stuck di 1 gaya aja. Kayak sex, kan enaknya ganti-ganti gaya biar puas.

12. Apa karena kali ini sudah lepas dari major label sehingga lebih bebas dalam bereksplorasi?

Gak kok, label gak pernah membatasi kreatifitas, karena peran label adalah untuk distribusi. Yup; distribusi. Dan supaya punya legal rights yang kuat, plus bantu urusan pajak dan paperworks untuk international release.

Monday, December 8, 2014

Band-band Ini Siap 'Membunuh' Anda di Hellshow 2014

Unit metal legendaris kebanggaan tanah air, Burgerkill, kembali menggelar “Hellshow” yang akan diadakan di Lapangan Disjas Baros, Cimahi pada 13 Desember mendatang. Tahun ini merupakan kali ketiga Burgerkill menggelar Hellshow dimana pertama kalinya dilaksanakan pada 2005 lalu ketika almarhum sang vokalis Ivan Scumbag masih memperkuat formasi Burgerkill dan yang kedua digelar pada tahun lalu yang diramaikan oleh band-band cadas seperti Beside, Godless Symptoms, Parau, dsb.

Pada tahun ini, Hellshow menghadirkan beberapa band baru yang sepertinya akan mengguncang Cimahi. Nama-nama seperti Taring, Revenge The Fate, dan Nectura dipastikan akan ‘membakar’ Hellshow 2014 yang juga akan diramaikan oleh ‘dedengkot’ metal asal Ujungberung, Disinfected dan beberapa band-band memukau lainnya seperti Rosemary, Paper Gangster, Kaluman, dan Bersimbah Darah. Selain itu Burgerkill juga memberikan kesempatan kepada band-band yang ingin tampil di Hellshow 2014 dengan mengadakan semacam audisi dengan mengirimkan CD berisi karya-karya potensial yang menjadi pertimbangan. Dan yang terpilih adalah band metalcore asal Bandung yang bernama Inwise yang menjuluki dirinya sebagai breakdown metal.

Berikut ulasan singkat mengenai band-band di atas yang siap 'membunuh' Anda di Hellshow 2014 nanti.

Inwise

Band breakdown metal bentukan enam tahun silam ini merupakan band metalcore asal Bandung yang terdiri dari Fahmi (vokal), Icky (gitar), Zulfi (gitar), Izal (bass) dan Gema (drum). Single perdananya “Sense Fails” yang dirilis pada 2009 merupakan sebuah gebrakan awal yang maksimal dengan riff gitar dan beat drum ala metalcore serta dengan vokal yang nyaris terdengar seperti Jesse Leach. Unsur metalcore yang kental diinjeksikan ke dalam beberapa lagu-lagu mereka lainnya seperti “Replika Manusia Tuhan”, “Between The Lies”, dan “Minority” yang merupakan pergabungan elemen-elemen influential dari Killswitch Engage, Trivium, dan All That Remains. Lagu-lagu tersebut rupanya berhasil memikat para personil Burgerkill yang memilih Inwise sebagai rekan pendampingnya untuk mengguncang Hellshow 2014.

Sejauh ini Inwise telah merilis empat buah single dan debut albumnya akan segera dirilis via Heretic Records pada 2015 mendatang dan beberapa lagu-lagunya akan dapat Anda nikmati secara live di Hellshow 2014.


Bersimbah Darah

Band death-grindcore asal Gianyar, Bali ini dibentuk pada 27 Juni 2007 oleh sang gitaris Rico dan mantan drummernya Artha. Pada tahun yang sama, Bersimbah Darah merilis EP “Demography Berdarah” secara independen dan debut albumnya “Land of Terror” dirilis pada 2011 via No Label Records dan didistribusikan secara resmi oleh label asal Amerika Serikat, Sevared Records. Lagu-lagu beringasnya seperti “Kau Tak Layak Hidup”, “Biawax”, dan “Dead Shall Rise” merupakan terjangan bertempo cepat dari berbagai elemen mematikan seperti blast dan grind beat pada drum dengan riff gitar dan dentuman bass yang ngebut pula dan ditambah dengan pekikan vokal high-pitched screaming yang dominan, membuat kita seolah bernostalgia dengan para dewa grindcore seperti Terrorizer, Napalm Death, dan Misery Index.

Bersimbah Darah merupakan sajian yang tepat bagi Anda yang ingin menggerinda telinga dan dipastikan pula para dewa grindcore asal Bali tersebut akan menampilkan single terbarunya yang berjudul “Right To Die” di Hellshow 2014.


Kaluman

Bukan hanya menggerinda telinga bersama Bersimbah Darah, di Hellshow 2014 Anda juga bisa ber-slamming ria dengan pasukan brutal death metal asal Bandung, Kaluman. Band bentukan 2012 ini telah merilis debut albumnya yang merupakan self-titled “Kaluman” pada tahun ini via Sevared Records asal Amerika Serikat. “Altar Prostitusi” dan “Membusuk Menjadi Sampah” merupakan salah dua lagu mereka yang menghujam dengan blast beat dan riff-riff brutal serta perpaduan gaya vokal growling yang akan membangkitkan adrenalin sekaligus ‘menghantui’ Anda dengan lirik-lirik gelapnya.


Rosemary

Bagi Anda yang mengaku skatepunker alangkah baiknya dianjurkan untuk datang ke Hellshow 2014 membawa skateboard dan memainkannya sembari menikmati penampilan Rosemary, legenda skate punk asal kota kembang. Lagunya yang paling popular “Punk Rock Show” merupakan sebuah alunan ska dengan fondasi punk rock yang sangat apik dan sekilas mengingatkan kita kepada legenda-legenda punk rock seperti Rancid dan NOFX yang banyak menyumbangkan pengaruh terhadap karya-karya Rosemary. Budaya skateboarding yang kental dibawa oleh sang vokalis sekaligus gitaris Indra Gatot yang merupakan salah satu skater terbaik di Indonesia. Band bentukan 1997 itu sudah tak terhitung jumlah partisipasinya dalam berbagai macam kompilasi dan telah merilis sebuah album studio pada 2006 dengan judul self-titled “Rosemary”.
 

Paper Gangster

Jika Bandung punya legenda skate punk, maka Depok pun punya legenda hardcore bernama Paper Gangster. Eksis sejak 18 tahun silam, Paper Gangster konsisten dengan konsep musik hardcore-nya yang banyak mengusung influence dari Earth Crisis, Hatebreed, dan Sick Of It All seperti pada lagu-lagu kerasnya “Through Blood and Pain”, “Never Back Down”, “Paint in Black”, dsb. Album debutnya yang bertajuk “Season of Destruct” dirilis via Vein Records pada 2004 dan kini Paper Gangster berada di bawah naungan Crooz Records yang merupakan salah satu labe bergengsi di kalangan kawula muda tanah air.

Jika Anda ingin menguras keringat bersama para pasukan beatdown sambil menikmati serangan-serangan beat dan riff yang ‘nampol’ dari Paper Gangster, maka merupakan sebuah kewajiban bagi Anda untuk menghadiri Hellshow 2014.


Disinfected

Band berusia 17 tahun ini adalah band death metal legendaris asal Ujungberung yang kini digawangi oleh Amenk, Adyth Nugraha, Sigit, Diaz, dan Adang. Abah Andris dari Burgerkill pernah tergabung sebagai drummer Disinfected dari awal terbentuknya dan mengundurkan diri pada 2006. Begitu pula dengan Toteng dari Forgotten dan almarhum Rio sang pendiri label underground paling ‘sakral’ di Jakarta, “Rottrevore Records” pun pernah tergabung sebagai gitaris dari band yang akan merilis album terbarunya pada tahun ini tersebut. Album perdana Disinfected, “Melted” dirilis pada 2001 via Extreme Souls Production yang juga terdapat sebuah cover “South of Heaven” dari monster thrash asal negeri paman sam, Slayer. “Anjing-Anjing Hutan Nusantara” dan “Aku Akan Bunuh Kamu” merupakan dua lagu mereka yang terbukti berbahaya dan berpotensi merasuki jiwa-jiwa kelam para metalhead. Perpaduan gaya vokal growling ala George ‘Corpsegrinder’ Fisher dan Chris Barnes yang diteriakkan oleh Amenk terdengar menyeramkan dan ditambah dengan aransemen musik mereka yang brutal dan lirik-lirik mereka yang sadistic memang membuat kita teringat kepada Cannibal Corpse.

Di Hellshow 2014 nanti, Disinfected akan tampil menebarkan spirit death metal kuno yang sekaligus menjadi pengetahuan bagi para kawula muda yang nampaknya banyak belum mengetahui ‘nenek moyang’ dari musik metal yang mereka gemari sekarang.


Nectura

“Modern, melodic, and scary as shit.” Merupakan kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan Nectura. Monster melodic death metal kelahiran Bandung yang berusia tiga tahun ini baru saja merilis debut album “Awake To Decide” yang patut diacungkan dua jempol dengan kesuksesan mereka menghasilkan mahakarya mengerikan yang sekaligus melodius. Karya-karya menyeramkan mereka seperti “Crossing Coward”, “Threat Minority”, “Awake To Decide”, “The Uprising Echoes”, dsb patut menghuni playlist di iPod Anda. Album rilisan Off The Records itu melibatkan musisi-musisi ternama asal kota kembang seperti Vicky Mono (Burgerkill), Addy Gembel (Forgotten), dan Risa Saraswati (Sarasvati).

Komposisi brilian mereka yang banyak dipengaruhi oleh iblis-iblis Scandinavian metal seperti In Flames, At The Gates, dan Amon Amarth itu sangat sempurna jika dinikmati bukan hanya melalui earphone, namun secara live di Hellshow 2014.


Revenge The Fate

“Symphonic Deathcore Machine” merupakan istilah yang digunakan oleh Revenge The Fate yang merupakan representasi dari komposisi musik mereka yang muda dan berbahaya. Debut album mereka “Redemption” dirilis secara independen via Beholder Records, bertepatan dengan dirgahayu kelima mereka pada Juli lalu. Sejak 2009, Revenge The Fate telah menjadi idola sekaligus role model bagi para kawula muda tanah air melalui lagu-lagunya yang penuh dengan breakdown yang enerjik seperti “Poseidon”, “Kashmir”, “Darah Serigala”, dan “Ambisi” yang menjadi hits di hampir seluruh kalangan anak muda penikmat musik keras Indonesia. High-pitched screaming yang dahsyat dan berpotensi menyayat gendang telinga memang salah satu karakteristik Revenge The Fate yang membuat kita terkenang akan almarhum Mitch Lucker dari Suicide Silence.

Para pemuda-pemudi berjiwa deathcore, Anda wajib menghadiri Hellshow 2014 dan menyaksikan Revenge The Fate yang dijamin lebih menyeramkan dari band-band deathcore mancanegara seperti Suicide Silence, As Blood Runs Black, maupun Chelsea Grin.


Taring

Terlalu groovy untuk disebut metal, terlalu gelap untuk disebut hardcore. Memang terkadang tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan komposisi-komposisi mahakarya yang terdapat di album “Nazar Palagan” milik band hardcore kota kembang bernama Taring ini. Ketika Hardy (vokal/ex Outright), Gebeg (drum/Power Punk), Angga (gitar/Asia Minor), dan Ferry (bass/Turbidity) bergabung atas nama Taring dan bereksperimen dengan menyatukan kemampuan musikal dan retorika mereka, maka hasilnya adalah iblis-iblis yang mereka lahirkan seperti “Kata-Kata Belum Binasa”, “Nazar Palagan”, “Resureksi Diri”, “Menghujam Langit”, dsb. Dengan menyerap energi dari berbagai macam influence dari mulai Madball, Pantera, Slayer, hingga Lamb Of God, para penghuni skena hardcore tanah air wajib memberikan respek besar kepada Taring atas inovasinya yang bernama “Nazar Palagan” rilisan Grimloc Records itu. “Nazar Palagan” bukan hanya mendapatkan respons positif dari kritikus musik, namun juga patut diacungi dua jempol oleh para kritikus politik dan sosial atas lirik-lirik ciptaan Taring yang kritis nan puitis.

Band yang kebetulan akan merayakan ulang tahun pertamanya bertepatan dengan penampilannya di Hellshow 2014 pada 13 Desember mendatang ini dijamin dan dipastikan akan membumihanguskan adrenalin Anda.


Burgerkill

‘Dedengkot’ kebanggaan kita semua inilah yang merupakan konseptor sekaligus organisator dari Hellshow. Band yang hampir menginjak usia dua dekade ini sudah ‘kenyang’ mendapatkan pujian atas mahakarya dahsyat mereka dari media local maupun internasional seperti Metal Hammer Magazine asal Inggris yang mengundang Burgerkill ke London, Inggris untuk dinobatkan sebagai ‘Metal as Fuck’ pada 2013 lalu. Nama-nama seperti Nergal (Behemoth), Pussy Riot, dan Jason Newsted (ex Metallica) menjadi saingan mereka dan Burgerkill pun mengalahkan mereka semua dengan membawa pulang award ‘Metal as Fuck’ dari London ke Ujungberung. Monster yang pada 2015 mendatang akan merilis album kelimanya ini lahir sebagai band hardcore dan bermutasi menjadi band metal dengan aransemen musik dengan cita rasa internasional, namun tetap sukses mempertahankan identitas hardcore-nya.

Para begundal yang memiliki hobi ugal-ugalan wajib menyaksikan monster kelahiran 1995 ini karena mereka menjanjikan penampilan yang sangat spesial di Hellshow 2014 nanti.


Untuk informasi lebih lanjut mengenai Hellshow 2014, silahkan ikuti akun Twitter resmi @ThisIsHellshow.


Tuesday, November 11, 2014

Lewat Knurd Records, Pee Wee Gaskins Akan Merilis "A Youth Not Wasted"


A Youth Not Wasted, album terbaru dari kuintet pop-punk ibukota Pee Wee Gaskins akan dirilis tahun ini (walaupun belum ada konfirmasi mengenai tanggal resminya) melalui Knurd Records, label rekaman yang didirikan oleh mereka sendiri. Band yang terdiri dari Dochi (bass), Sansan (vokal/gitar), Ayi (gitar), Aldi (drum), dan Omo (kibor) itu sebelumnya juga pernah merilis album via Knurd Records, yaitu album debut mereka "Stories From Our Highschool Years" yang dirilis pada 2008 lalu.

Album kedua mereka "Ad Astra Per Aspera", dirilis oleh Alfa Records, sebuah label major yang juga merilis album dari band-band seperti Netral, Lyla, dan lain-lain. Namun ketika masa kontraknya habis, mereka memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. Ketika ditanya apakah disebabkan oleh label major seperti Alfa Records yang menghambat kreasi mereka, Dochi pun angkat bicara ketika saya wawancarai beberapa waktu lalu.
"Ya pada dasarnya label major punya target revenue, jadi segalanya mesti dipikirin business-wise. Dan bukan hal buruk juga, karena selama kami bernaung di Alfa Records, kami belajar banyak tentang bisnis musik. Dari segi finansial, strategi, sampai manajerial."
Nama-nama seperti New Found Glory, No Use For A Name, Blink 182, Hellogoodbye, The Get Up Kids, Phoenix, hingga Incubus dan bahkan Metallica pun menjadi daftar band-band yang meng-influence album A Youth Not Wasted mendatang. Saya yakin dorks (julukan untuk penggemar Pee Wee Gaskins) tak akan sabar menunggunya.


Baca juga
Pee Wee Gaskins dan Scott 'Rufio' Tunda Kerjasama untuk "A Youth Not Wasted"
Pee Wee Gaskins 'Lebih Dewasa' di "A Youth Not Wasted"
Dochi Sadega Tebar Kedamaian Lewat "Zero Hate"

Pee Wee Gaskins dan Scott 'Rufio' Tunda Kerjasama untuk "A Youth Not Wasted"


Scott Sellers, vokalis sekaligus gitaris dari Rufio sempat dikabarkan akan memproduseri album terbaru yang sedang digarap oleh unit pop-punk asal Jakarta, Pee Wee Gaskins. Ketika saya wawancarai, Dochi Sadega basis dari Pee Wee Gaskins berkata bahwa kerjasama di antara mereka tertunda karena persiapan yang belum matang.
"Sepertinya untuk rencana ini mesti kami postpone, karena persiapan masih kurang matang. Beberapa bulan kebelakang fokus kami masih terpecah, belum bisa 100% di band."
Album bertajuk "A Youth Not Wasted" yang akan segera dirilis itu pun akhirnya tidak memuat nama Scott Sellers sebagai produsernya. Namun kemungkinan Dochi cs akan mengajak Scott di lain waktu.
"Next album? Masih belum final untuk album ini. Mungkin mixing dan mastering akan dikerjakan oleh Scott. Itupun kalo Ayi, Sansan, Aldy, dan Omo satu suara sama gue. hehe." Ujar Dochi yang memfavoritkan album "Perhaps", "I Suppose" dan "MCMLXXXV" dari Rufio itu.
Relasi antara Pee Wee Gaskins dengan band punk rock legendaris asal California, Amerika Serikat tersebut dimulai ketika Dochi didaulat sebagai 'official party boy' ketika Rufio manggung di Bali. Sejak itu mereka tidak putus korespondensi dan hingga kini hubungannya pun baik. Kemudian ketika Dochi memperdengarkan salah satu lagunya yang berjudul "My Sassy Girl" untuk album A Youth Not Wasted, Scott pun seketika tertarik.

Walaupun belum ada konfirmasi mengenai tanggal resminya, Pee Wee Gaskins akan mengusahakan A Youth Not Wasted agar dapat dirilis tahun ini.




Baca juga
Pee Wee Gaskins 'Lebih Dewasa' di "A Youth Not Wasted"
Dochi Sadega Tebar Kedamaian Lewat "Zero Hate"

Pee Wee Gaskins 'Lebih Dewasa' di "A Youth Not Wasted"


"A Youth Not Wasted" adalah judul dari album terbaru Pee Wee Gaskins yang akan segera dirilis pada tahun ini. Memang belum ada konfirmasi mengenai tanggal pastinya dari pihak kuintet pop-punk asal Ibukota itu. Namun yang jelas, band bentukan tahun 2007 yang digawangi oleh Dochi (bass), Sansan (vokal/gitar), Ayi (gitar), Aldy (drum), dan Omo (kibor) tersebut akan mencoba 'lebih dewasa' pada album A Youth Not Wasted mendatang.
" A Youth Not Wasted bercerita tentang bagaimana kami melewati dan menikmati masa muda ini. Dengan segala kebebasan, tapi tidak luput dari tanggung jawab." Kata Dochi ketika saya wawancarai beberapa waktu lalu.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi band yang sering disingkat dengan PWG itu untuk bisa mencapai kesuksesan dan mempertahankan eksistensi. Maka hampir setiap hari mereka bersama-sama melewati hari-hari penuh perjuangan, duka cita, dan kegilaan-kegilaan khas anak muda yang mereka lakukan selama menjalankan Pee Wee Gaskins. Namun seperti yang dikatakan oleh Dochi, walau begitu, mereka tetap bertanggung jawab.
"Tanggung jawab seperti apa? ya seperti Sansan yang sekarang udah jadi bapak, Ayi yang sudah menikah dan sebentar lagi nyusul punya anak, dan gue yang bentar lagi juga melepas masa lajang. Tapi bisa dibilang, kami tidak kehilangan semua kegilaan [walaupun] bertumbuh dewasa." Ujar pemilik akun Twitter @katadochi itu yang telah bertunangan dengan sang kekasih pada September lalu dan akan segera menikah bulan ini.
Dari segi musik, menurut Dochi, A Youth Not Wasted akan sedikit berbeda dengan album-album sebelumnya. Namun dari segi lirik, masih berkutat soal cinta.
"[Aransemen musiknya] Lebih variatif sih. Ada yang ngebut, ada yang akustik. Perluasan dari yang udah pernah kami kerjakan. [Liriknya] Sepertinya masih banyak melampiaskan menulis tentang cinta. Baik cinta yang berakhir baik, maupun yang tidak."
Konsep artwork untuk A Youth Not Wasted sampai saat ini belum direncanakan, namun sepertinya merupakan kelanjutan dari EP self-titled yang telah dirilis pada 9 Agustus lalu. Artwork Pee Wee Gaskins selalu identik dengan gambar-gambar kartun, kecuali pada EP "The Transit" yang merupakan foto pesawat berlatar belakang airport.

Dochi pun menyebutkan beberapa seniman yang berada di balik artwork-artwork Pee Wee Gaskins dan Sunday Sunday Co., perusahaan clothing line miliknya.
"[Album] Stories From Our Highschool Years dan Ad Astra Per Aspera yang ngerjain Rico Julian. Dia designer untuk Sunday Sunday Co. juga. Untuk EP 2014 [self-titled] yang bikin Mufti Priyanka, dia juga sempat kolaborasi untuk Sunday Sunday Co."

Baca Juga
Dochi Sadega Tebar Kedamaian Lewat "Zero Hate"

Sunday, November 9, 2014

Tips Jurnalistik dari Danie Satrio, Editor In Chief Hai Magazine


Bagi Anda yang tertarik dengan dunia jurnalistik, ada kabar bagus. Pasalnya ada tips dari Editor In Chief majalah Hai, Danie Satrio.
"Gue selalu bilang sama anak-anak [tim editorial Hai], kalo lo jadi wartawan, lo harus norak. Dalam artian, lo harus selalu bertanya 'kenapa sih begini? kenapa sih begitu?'. Kalo orang norak kan nanya mulu, atau kepo lah istilahnya."
Beliau pun menambahkan bahwa jika kita 'kepo' pun tetap tidak boleh asal bertanya.
"Lo harus punya preferensi karena yang namanya wartawan kan harus tau banyak. Nanti dari situ lo akan bisa dapet 'note for news'. Jadi sebelum peristiwa terjadi, lo udah tau bahwa itu akan jadi berita."
 Dari segi finansial, beliau juga menjelaskan bagaimana prospeknya.
"Lo jangan melihat jurnalis itu sebagai pekerjaan yang menjanjikan, tapi menghidupkan. Hidup. Nyatanya gue hidup kan? Tapi gimana orang menjalankan hidup itu kan beda-beda ya. Ada yang memang pengen jadi orang kaya. Yang jelas gue gak akan bilang bahwa jurnalis itu bisa jadi kaya. Nggak. Nggak bisa dihitung pake duit. Tapi secara pengalaman hidup, lo punya chance yang lebih besar untuk bisa jadi lebih 'kaya' daripada orang lain karena lo bisa ketemu banyak orang dan berada di dalam berbagai macam situasi. Lo bisa belajar apapun. Seperti kata founder-nya Kompas, Jakob Oetama 'Menjadi jurnalis adalah panggilan'. Kalo lo nggak terpanggil untuk jadi seorang wartawan ya akan susah 'keep up' dengan kehidupan sebagai jurnalis."
Beliau sendiri bergabung dengan Hai sebagai reporter musik pada tahun 1999 dan sejak 2008 dipercaya untuk menjabat sebagai Editor In Chief.

Baca juga
Bagaimana Danie Satrio Bergabung Dengan Hai Hingga Menjabat Editor In Chief? Ini Kisahnya
Konsep Regenerasi di Hai Day 2014 Menurut Danie Satrio

Konsep Regenerasi di Hai Day 2014 Menurut Danie Satrio


Sebagai majalah remaja yang sukses bertahan selama 37 tahun terakhir, rasanya tak 'afdol' jika majalah Hai tidak menggelar suatu perhelatan akbar. Sebagai pembuktian atas sumbu eksistensinya yang belum padam, sejak 2012 lalu, Hai menggelar "Hai Day" sebuah event tahunan yang diselenggarakan selama dua hari yang merupakan sebuah ajang 'pesta' remaja yang berisi berbagai macam hiburan dari mulai konser musik, kesenian, teater, olahraga, entrepreneur, hingga kompetisi antar sekolah.

Kemarin (8/11) merupakan hari pertama dari Hai Day 2014 yang diadakan di Parkir Timur Senayan dan pada tahun ketiga ini, Hai mengusung konsep "Regeneration" yang berbeda dengan dua tahun sebelumnya. Ketika saya temui di hari pertama Hai Day 2014 kemarin, Danie Satrio selaku Editor In Chief majalah Hai sekaligus konseptor Hai Day dari tahun ke tahun, menjelaskan tentang konsep regenerasi tersebut.
"Gue melihat apa yang dibutuhkan oleh remaja, campaign apa yang bisa kita tawarkan ke audiens. Hai Day udah memasuki tahun ketiga dan ada beberapa lineup yang sampai tahun ketiga ini hadir terus. Makanya sekarang waktunya 'pass on' ke generasi berikutnya, walaupun mereka [line up] dihadirkan lagi, kita juga menghadirkan banyak yang baru-baru. Kayak hari ini nih [Sabtu], kan banyak yang baru-baru; Billfold, Kunto Aji, Neurotic, dan lain sebagainya. Kalo besok [Minggu] kan 'senior' semua tuh dari mulai Shaggy Dog, Endank Soekamti, Sheila On 7 kan emang udah lama. Itu salah satu caranya. Untuk hari ini kita coba menghadirkan lebih banyak yang baru-baru."
Selain itu, yang membedakan Hai Day Regeneration 2014 dengan Hai Day Celebrating Youth 2012 & 2013 adalah dengan tampilnya beberapa musisi dari Jepang seperti Dorothy Little Happy, Taro & Jiro, Amiaya, Cyntia, Eir Aoi, dan I Don't Like Monday.
"Di area Art ada kompetisi yang membedakan dengan aksi kreativitas tahun lalu. Kalau tahun lalu, kami menyediakan papan putih dan bisa menggambar grafitti di sana, tahun ini kami menyediakan secarik kain panjang dimana kalian bisa menggambar doodle art."  Ujar beliau ketika diwawancara dengan Kompas.com
Harga tiket untuk Hai Day tahun ini pun naik. Jika pada dua tahun sebelumnya seharga Rp. 15.000,-, untuk Hai Day Regeneration 2014 seharga Rp. 25.000,-. Namun harga yang ditawarkan benar-benar sebanding dengan keseruan yang didapatkan disana.

Baca juga
Bagaimana Danie Satrio Bergabung Dengan Hai Hingga Menjabat Editor In Chief? Ini Kisahnya

Bagaimana Danie Satrio Bergabung Dengan Hai Hingga Menjabat Editor In Chief? Ini Kisahnya


Saya yakin ketika kita membicarakan soal majalah-majalah remaja di Indonesia, nama yang pertama kali muncul di pikiran kita adalah "Hai". Majalah mingguan yang kerap membahas tuntas tentang musik dan lifestyle tersebut berhasil menjadi sebuah 'bacaan warisan' para remaja dari generasi ke generasi selama 37 tahun terakhir.

Ketika kita membeli majalah Hai dan membacanya, pada halaman awal kita akan menemui rubrik Letter From Editor, sebuah pengantar mengenai tema tertentu yang sedang dibahas, yang ditulis oleh sang Editor In Chief, Danie Satrio.
Beliaulah sang mastermind yang mengatur taktik dan strategi untuk majalah Hai sehingga dapat dicintai para remaja seperti saat ini. Beliau menjuluki dirinya sebagai The Caretaker of Hai Magazine yang mengurusi majalah Hai beserta semua produk turunannya. Ketika saya temui di Hai Day Regeneration pada Sabtu (8/11), beliau bercerita bagaimana ia bisa bergabung dengan Hai.
"Ketika gue masih kuliah, gue siaran di MS Tri FM dan nemenin temen gue nge-host buat talkshow sama pemimpin redaksi Hai waktu itu, Iwan Iskandar. Kemudian pada tahun 1999 saat Hai lagi butuh reporter musik, gue daftar dan Alhamdulillah keterima."
Passion-lah yang membuat alumni FISIP Universitas Indonesia itu bertahan di Hai sejak 15 tahun silam hingga menjabat sebagai Editor In Chief.
"Gue masuk Hai kan karena ditawarin jadi reporter musik, dan dari dulu emang gue suka banget musik. Gue suka baca tentang musik, dengerin musik, dan gue juga main musik." Ujar beliau yang pernah tergabung sebagai drummer di berbagai band, lalu melanjutkan; "Salah satu cita-cita gue waktu SMP dulu adalah jadi wartawan musik dan kalo bisa di Hai karena jaman dulu kan anak muda itu Hai banget."
Sebagai perwakilan generasi remaja silam, beliau pun menjelaskan bagaimana majalah yang pertama kali terbit pada tanggal 5 Januari 1977 tersebut bisa digemari remaja ketika itu.
"Ya abis jaman dulu gak ada majalah lain selain Hai yang konsisten ngomong soal 'A, B, C, D'-nya musik. Dan selain itu juga cuma Hai yang membahas pop culture. Apalagi ketika itu internet belum seperti sekarang."
Majalah yang tergabung dalam grup Kompas Gramedia itu sukses menjadi bacaan para remaja yang ketika itu masih remaja, hingga kini mereka memiliki anak remaja yang bacaannya majalah Hai pula.

Hai juga menjadi wadah penampung kreatifitas yang siap mengekspos siapapun yang memiliki karya yang dapat menginspirasi para remaja. Maka bukanlah hal yang mengherankan jika para remaja dari generasi ke generasi berlomba-lomba untuk berkarya hanya untuk dapat 'nongol' di majalah Hai dan mereka akan sangat bangga jika berhasil.

Sebagai salah satu remaja dari generasi kini, saya pun merasa bahwa Hai benar-benar berhasil 'memanjakan' kami dengan memahami betul apa saja hal-hal yang kami suka dan sukses menyajikannya dengan sangat menarik.

Saya yakin banyak di antara kita yang rela merogoh kocek Rp. 15.000,- setiap minggu untuk membeli majalah Hai karena dari situlah kita dapat menjadi 'keren' tanpa harus bergaul kesana-kemari. Hanya dengan menghabiskan waktu berjam-jam di kamar untuk membaca majalah Hai, kita mendapatkan banyak informasi mengenai apa saja hal-hal yang sedang happening dari seluruh dunia, meliputi seluruh bidang pop culture dari mulai musik, film, buku, fashion, olahraga, hingga otomotif.

Melalui Hai pula seseorang bisa eksis dan mendapat predikat from nothing to something. Hingga saat ini sudah tak terhitung jumlah para musisi, seniman, artis, dan bahkan pengusaha yang 'berutang budi' kepada Hai yang mendongkrak popularitas mereka melalui peliputan dan penyajiaannya yang menarik.

Semoga Hai akan selalu menjadi 'sahabat' yang setia menemani, mendidik, menginspirasi serta memajukan generasi remaja di Indonesia hingga kapan pun.

Wednesday, November 5, 2014

Slipknot Mem-'Bully' Drummer Barunya


Selain tidak mau membicarakan perihal dipecatnya Joey Jordison pada Desember 2013 lalu, hingga saat ini Slipknot juga enggan memberitahu identitas dua personil barunya. Namun sayangnya di video klip The Devil In I,  band bentukan September 1995 tersebut 'lalai' dengan tidak menutupi tato pada tangan sang basis sehingga dapat dikenali bahwa dia adalah Alessandro Venturella yang sebelumnya merupakan gitaris dari Krokodil sekaligus teknisi gitar untuk Mastodon.

Walau berhasil merahasiakan identitas sang drummer baru, namun tetap saja, - jauh sebelum album .5 The Gray Chapter dirilis - informasi mengenai siapa sosok yang menggantikan Joey Jordison 'bocor' ke publik. Dia adalah Jay Weinberg, seorang drummer berusia 24 tahun yang pernah tergabung di berbagai band cadas seperti Madball, Against Me!, The Reveling, dan lain sebagainya. Ayahnya, Max Weinberg, juga merupakan seorang drummer dari E Street Band yang dimotori oleh Bruce Springsteen.

Ketika Corey Taylor,  frontman dari Slipknot, diwawancara oleh Jamey Jasta (vokalis Hatebreed) dalam acaranya The Jasta Show, dia ditanyakan apakah Slipknot mem-'bully' drummer barunya.

   "Kami 'menendang pantatnya' dan dia menyukai itu. Ah, dude, dia begitu menjiwainya karena dia adalah penggemar [Slipknot], Anda tahu?! Ada bagian dari dirinya yang masih belum percaya bahwa ini benar-benar terjadi [bergabung dengan Slipknot], namun dia sangat bersemangat. Ini benar-benar keren."

'Menendang pantat' yang dimaksud Corey adalah bahwa Slipknot mem-'push' kemampuan drummer barunya. Walaupun hingga saat ini Slipknot belum secara resmi mengungkap identitas dua personil baru tersebut, namun dari jawabannya di atas, dapat disimpulkan bahwa Jay Weinberg adalah orang yang paling relevan untuk menggantikan Jordison pada drum. Mengingat, sejak berusia 9 tahun, bersama ayahnya, Weinberg sudah menyaksikan penampilan Slipknot secara langsung di Ozzfest 1999.

Sebelum perilisan video klip The Devil In I, terdapat beberapa orang yang berasumsi bahwa Chris Adler dari Lamb Of God lah yang menjadi drummer baru Slipknot. Namun hal tersebut dibantah langsung oleh Adler pada sebuah wawancara.




Baca juga

Slipknot Bungkam Atas Hengkangnya Joey Jordison, Ini Alasannya


Sudah hampir setahun Slipknot resmi berpisah dengan Joey Jordison dan masih, tidak banyak yang diketahui mengenai alasan perpisahan tersebut. Sesaat setelah Slipknot mengumumkan secara resmi atas perpisahannya dengan Jordison pada Desember 2013 lalu, Jordison dengan segera menegaskan melalui akun Facebook-nya bahwa ia tidak mengundurkan diri dari Slipknot. Hal tersebut menimbulkan asumsi bahwa Joey Jordison telah dipecat dari band yang didirikannya sejak 1995 itu.

Sejak awal, Corey Taylor sang vokalis mengatakan bahwa dia tidak ingin membahas perkara tersebut karena legalitas tertentu, dan tetap bungkam hingga kini.

Minggu lalu, ketika diwawancara oleh Jamey Jasta (vokalis Hatebreed) dalam acaranya The Jasta Show, Corey mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang mencegahnya untuk berbicara perihal dipecatnya Jordison.

     "Ada legalitas [yang terlibat yang mencegah saya berbicara tentang hal itu], tetapi pada saat yang sama - dan orang-orang perlu menyadari hal ini -. Saya menghormati Joey dan saya tidak akan membicarakan kehidupannya, karena itu bukan urusan saya, dan orang-orang perlu mengetahui bahwa Jika Joey ingin berbicara tentang situasi ini, dia bisa melakukannya. Terkadang ketika Anda melakukan sebuah perjalanan bersama seseorang, Anda akan mencapai suatu jalan berbentuk "T" dan ketika itu Anda tidak memiliki pilihan lain selain harus berpisah dengan orang yang berjalan bersama Anda. Sederhana. Kami hanya tidak mampu bekerjasama lagi. Dan itu saja."
Lalu Corey melanjutkan:
     "Saya tidak akan duduk di sini dan membicarakan [menjelek-jelekkan] orang yang telah bersama selama 15 tahun membangun sesuatu yang menakjubkan. Saya tidak akan melakukan itu dan para fans perlu memahami - saya yakin sebagian besar dari mereka memahami - bahwa selalu akan ada orang-orang yang ingin mengetahui perihal tersebut [dipecatnya Jordison] untuk dijadikan bahan pembicaraan omong kosong."
Jasta juga menanyakan apakah Slipknot 'merindukan' kehadiran Jordison selama proses penggarapan album baru .5: The Gray Chapter.
     "Itu pertanyaan yang bagus. Aku tidak pernah kepikiran tentang hal itu sampai Anda menanyakannya. Sebab pada saat itu, kami [Slipknot] hanya berusaha untuk menjalaninya. Anda pasti bertanya-tanya akan terdengar seperti apa album baru ini. Semua orang merespons dengan positif, sehingga Anda tidak akan mengabaikan dan selalu membahasnya. Memang ada masa-masa dimana kami merindukan kemampuannya [bermain drum]. Tapi saya, Clown [Shawn Crahan] dan Jim [Root] justru lebih merindukan Paul [almarhum basis Slipknot] beserta hal-hal yang telah diberikannya dan semuanya [personil Slipknot] merasakan hal itu dan kami harus berupaya kekosongan tersebut. 
     "Aku dan Jim lah yang pertama menyadari bahwa kami belajar banyak hal selama bekerja dengan Paul sehingga kami mampu menggunakan kebiasaan-kebiasaannya dalam melakukan sesuatu dan menerapkannya pada apa yang kami lakukan sekarang. Dan begitu pula dengan Joey yang telah menjadi seorang 'jenderal' di studio karena ia memiliki ide besar untuk itu dan memahami bagaimana melakukan hal-hal tertentu dengan tepat, dan hal-hal potensial lainnya seperti ear candy, intro, dan lain sebagainya. Jadi kami semacam harus mengisi kekosongan-kekosongan tersebut. "
Kini Slipknot sedang merayakan keberhasilannya atas .5: The Gray Chapter yang mencapai peringkat #1 di chart Billboard 200 minggu lalu. Selain itu mereka juga sedang melaksanakan tur bersama Korn dan King 810.

Tuesday, November 4, 2014

Hans Zimmer Ajak Junkie XL Bekerjasama Menggarap "Batman v Superman"


Sebagai komposer musik ilustrasi film yang karyanya tak dapat diragukan lagi, Hanz Zimmer kembali digandeng sutradara Zack Snyder untuk film yang sedang digarapnya, Batman v Superman: Dawn of Justice yang akan dirilis Mei 2016 mendatang.

Kali ini, pria berusia 57 tahun asal Jerman itu akan mengajak Junkie XL yang merupakan rekan sesama profesinya untuk bekerjasama dalam menggarap musik ilustrasi Batman v Superman tersebut. Pada sebuah wawancara dengan Comic Book Resources, Zimmer berkata bahwa kerjasama dengan Junkie XL dilakukan untuk menciptakan karakter tersendiri bagi Batman v Superman dan untuk membedakannya dengan film trilogi Batman garapan sutradara Christopher Nolan (Batman Begins, The Dark Knight, The Dark Night Rises) yang juga melibatkan Zimmer sebagai komposer musik ilustrasinya  
"Aku tidak ingin mengkhianati apa yang Chris [Nolan], James Newton Howard dan aku lakukan. Jadi aku bertanya Zack [Snyder] apakah memungkinkan jika aku mengajak Junkie XL untuk bekerjasama. Dia benar-benar teman yang baik. Dia baru saja selesai menyelesaikan Mad Max. Zack menyukai gagasan itu. Ini merupakan sebuah jalan keluar."
Sebelumnya, Hans Zimmer juga pernah digandeng Zack Snyder dalam film Man of Steel yang dirilis pada 2013 lalu. Selain itu, karya-karya Zimmer juga terdapat di berbagai film Hollywood seperti The Lion King (1994), The Last Samurai (2003), The Da Vinci Code (2006), Sherlock Holmes (2009), Inception (2011), dan lain sebagainya yang membuatnya memenangkan banyak penghargaan.

Monday, November 3, 2014

BMTH Semakin Pop dengan "Drown"?


Terbentuk sebagai band beraliran deathcore pada 2004, Bring Me The Horizon atau yang sering disingkat dengan BMTH, nampaknya semakin melenceng dari genre awalnya tersebut. Pasalnya, band asal Inggris itu semakin mengurangi kadar 'keganasannya' dimulai dari album There Is a Hell, Believe Me I've Seen It. There Is a Heaven, Let's Keep It a Secret (2010) dimana BMTH mulai memasukkan unsur musik pop pada lagu-lagunya dengan memperbanyak penggunaan teknik vokal clean, tempo yang lebih lambat, riff dan chord yang lebih melodius, dan mulai menulis lirik tentang cinta. Juga pada album Sempiternal (2013) yang terdengar jauh lebih pop, ditambah dengan bergabungnya Jordan Fish pada kibor yang memberikan suasana electronica dan membuat BMTH semakin jauh dari deathcore.

Namun pada dua album tersebut, BMTH kelihatannya masih ragu-ragu untuk melepaskan diri sepenuhnya dari deathcore karena pada beberapa lagu masih terdapat breakdown dan vokal scream walaupun frekuensinya berkurang drastis, tidak seperti dua album pertama mereka, Count Your Blessings (2006) dan Suicide Season (2008) yang kental dengan nuansa deathcore-nya mulai dari tempo 'ngebut', blast beat pada drum, growl dan high-pitched screaming pada vokal, dan lain sebagainya. Unsur-unsur tersebut mulai dihilangkan sejak rilisnya album There Is a Hell, Believe Me I've Seen It. There Is a Heaven, Let's Keep It a Secret, terutama blast beast pada drum yang tidak pernah terdengar lagi.

"Pada album berikutnya apakah BMTH akan menjadi band pop yang sesungguhnya?" adalah sebuah pertanyaan yang kerap muncul seiring dirilisnya album-album BMTH yang semakin dini semakin bersahabat dengan pop. Seolah ingin menjawab pertanyaan tersebut, BMTH merilis video klip dari single terbarunya yang berjudul "Drown" pada 21 Oktober lalu. Band yang dimotori oleh Oliver Sykes itu akan merilis lagu tersebut secara penuh pada 9 Desember mendatang. 

Di dalam video klipnya, lagu tersebut sedikit terpotong karena tuntutan skenario, namun kita dapat mendengar Drown secara jelas dan dari situ muncul hipotesis bahwa BMTH telah 'bermutasi' menjadi band pop sesungguhnya. Drown sama sekali tidak mengandung unsur deathcore, melainkan hanya sebuah lagu pop-rock dengan sentuhan post-hardcore yang samar-samar terdengar dari beat drum pada awal lagu dan distorsi gitar. Oliver Sykes sang vokalis pun sama sekali tidak menggunakan teknik vokal scream-nya, melainkan sepanjang lagu hanya bernyanyi layaknya vokalis band pop-rock pada umumnya.

Hal tersebut mengecewakan bagi para penggemar BMTH yang 'ortodoks' karena dilihat dari komentar-komentar mereka di sosial media, mereka berharap bahwa BMTH akan kembali menjadi band cadas seperti pada saat lima tahun pertama mereka terbentuk. Namun yang mereka terima adalah Drown yang sangat jauh dari ekspektasi mereka, namun ternyata juga mendapatkan banyak respons positif karena easy listening, melodius, dan pada lagu ini terdengar vokal clean Oliver Sykes yang semakin merdu.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada konfirmasi bahwa BMTH akan merilis album baru. Namun nampaknya Drown merupakan sosialisasi atas sebagian 'wajah' baru BMTH yang mungkin saja akan disibak sepenuhnya di album baru mereka. Atau mungkin juga Drown hanyalah sebuah lagu ballad dari album BMTH selanjutnya yang kembali kepada akar deathcore-nya yang cadas? We'll see..

Slipknot Serba Baru di Knotfest 2014!


24 - 26 Oktober 2014 merupakan tiga hari bersejarah bagi para penggemar Slipknot atau yang biasa disebut dengan maggot. Pasalnya, setelah merilis album kelima berjudul .5: The Gray Chapter pada 21 Oktober lalu, Slipknot kembali tampil di depan para maggot di Knotfest 2014, sebuah festival yang diselenggarakan oleh Slipknot sendiri, yang juga diramaikan oleh 46 band metal kaliber besar seperti Anthrax, Danzig, Five Finger Death Punch, Hatebreed, Black Label Society, Carcass, dsb. Sesuai dengan temanya, "A Happening That Will Awaken Your Darkest Senses", Knotfest 2014 bukan hanya menampilkan band-band cadas, namun juga disana terdapat Slipknot Museum (yang berisi kumpulan topeng, kostum, dan alat musik yang pernah digunakan oleh Slipknot selama 19 tahun terakhir), Camping Area, atraksi-atraksi maut, wahana-wahana ekstrim, dsb. Knotfest 2014 disiarkan secara livestreaming ke seluruh dunia melalui situs web resmi slipknot1.com.

Pasca kematian Paul Gray, Slipknot sempat beberapa kali tampil di berbagai festival dengan hanya delapan orang personil di atas panggung dan posisi Gray digantikan sementara oleh mantan gitaris mereka, Donnie Steele, yang harus tampil dibelakang panggung untuk menghormati mendiang sang basis. Namun di Knotfest 2014, untuk pertama kalinya unit metal asal Des Moines, Iowa tersebut tampil dengan formasi barunya sekaligus pertama kali pula tampil tanpa Joey Jordison yang dipecat dari Slipknot pada akhir 2013 lalu. Dua orang personil pengganti Gray dan Jordison adalah Alessandro Venturella (bass) dan Jay Weinberg (drum) menunjukkan kemampuan bermusiknya secara langsung dihadapan publik sebagai personil Slipknot yang selama ini hanya muncul sepintas di video klip lagu The Devil In I. Bukan hanya formasi baru, namun juga topeng dan kostum baru milik band bentukan tahun 1995 itu pun ditampilkan di Knotfest 2014 dengan beberapa lagu baru dari album .5: The Gray Chapter.

515 yang merupakan track pertama pada album Iowa, menjadi intro pembuka untuk penampilan Slipknot di Knotfest pada hari pertama (25 Oktober), lalu para penonton diterjang dengan lagu People = Shit dengan teriakan menyeramkan dari pasukan gang vocals yaitu Clown (Shawn Crahan), Chris Fehn, dan dipimpin oleh Corey Taylor sang vokalis. Dengan blast beat Jay Weinberg pada drum yang meyulut adrenalin dan riff gitar Mick Thomson yang dibumbui dengan headbang Jim Root membuat People = Shit menjadi lagu yang sangat cocok sebagai aksi kemunculan Slipknot kembali dengan topeng, kostum, dan formasi baru. Topeng-topeng baru mereka tetap menyeramkan,namun tidak mengalami banyak perubahan kecuali milik Corey Taylor dan Sid Wilson yang perubahannya signifikan. Namun sangat disayangkan kostum baru mereka sangat formal, yaitu kostum serba hitam yang terdiri dari kemeja lengan panjang yang dimasukkan ke dalam celana kargo panjang dan rompi yang memberikan kesan kegagahan militeristik, jauh dari image liar dan psychotic yang dimiliki Slipknot sejak awal terbentuknya.  Dilanjutkan dengan Eeyore dan Disasterpiece yang membuat para penonton bernostalgia dengan era Slipknot pada album Iowa yang setlist manggungnya serupa dengan tiga lagu awal pada Knotfest 2014.

Seakan memahami keinginan para penonton yang tidak sabar ingin melihat mereka membawakan lagu barunya secara langsung dan perdana, mereka melanjutkannya dengan The Negative One yang disambut para penonton dengan antusias dan histeris. Lagu yang dirilis pada Agustus lalu, dibawakan dengan enerjik oleh mereka, terutama sang drummer Jay Weinberg yang terlihat sangat total dan menjiwai ketika memainkan The Negative One yang merupakan lagu pertama Slipknot yang dirilis tanpa kontribusi Gray dan Jordison. Pada lagu itu Weinberg dapat mengekspresikan karakter permainan drumnya sendiri tanpa harus terbawa image seorang Joey Jordison yang telah mengabdi pada Slipknot selama 18 tahun. Walaupun secara teknis Jordison lebih unggul, namun secara gestur Weinberg lebih terlihat luwes ketika memukul drum, tidak seperti Jordison yang tekesan kaku meskipun disertai headbang-nya yang 'gila-gilaan'. Weinberg terlihat jauh lebih menarik secara visual ketika tampil, dibandingkan Alessandro Venturella sang basis baru yang pasif dan jarang di-shoot oleh kamera.

Sulfur, Eyeless, Wait and Bleed, Dead Memories, dan Before I Forget dimainkan dengan tajam dan memukau oleh mereka setelah The Negative One, dan dilanjutkan dengan Three Nil yang kembali dimainkan secara langsung sejak 2008 lalu. Suasana emosional terlihat saat kalimat "Today I Say Goodbye!" yang diteriakan Corey Taylor bersama para penonton pada reffrain Three Nil yang seakan menjadi ucapan selamat tinggal yang ditujukan untuk almarhum Paul Gray. Selanjutnya, Frail Limb Nursery dan Purity dimainkan untuk meredam emosi para penonton yang telah 'babak belur' menikmati terjangan Slipknot dari moshpit. Setelah itu, Slipknot kembali menyulut adrenalin para penonton dengan menggeber lagu Custer dari album barunya dan nampaknya berhasil membuat para penonton tersebut menggila seketika. Lagu yang sangat agresif dengan tempo 'ngebut' itu terdengar sangat intens dan menjadi suatu pembuktian atas eksistensi Slipknot sebagai sebuah band metal kelas dunia yang berumur hampir dua dekade, dengan para personilnya yang rata-rata berusia empat puluh tahunan, namun tetap menciptakan dan memainkan musik yang berbahaya layaknya pada awal karir Slipknot ketika mereka masih berusia dua puluh tahunan.

Tiga lagu terakhir pada malam itu adalah Duality, Spit It Out, dan seperti biasanya ditutup oleh "The National Fucking Anthem", Surfacing. Setelah menggempur dunia dengan total 17 buah lagu, Corey Taylor berterimakasih kepada para penonton dan maggots di seluruh dunia yang menyaksikan secara livestreaming dan menutup malam itu dengan mengucapkan "See you tomorrow fucking night!" karena Slipknot akan kembali 'berpesta' pada malam berikutnya.

Malam kedua penampilan Slipknot di Knotfest 2014 dimulai dengan intro lagu XIX dan disambut dengan hingar-bingar lagu Sarcastrophe yang keduanya merupakan dua track awal dari album .5: The Gray Chapter. Lewat lagu Sarcastrophe, Slipknot berhasil membangkitkan gairah para penonton, terutama ketika kalimat "We. Are. Kill. Gods" diteriakkan Corey Taylor bersama dengan pasukan gang vocals pada bagian reffrain. Setelah itu Slipknot mengajak para penonton untuk kembali ke era album Iowa dengan memainkan lagu The Heretic Anthem dan My Plague yang dimainkan kembali sejak terakhir kalinya pada 2002. Lalu setelah melakukan chit-chat dengan para penonton, Corey Taylor berkata "Step inside, my friends. And see The Devil In I" lalu disambut dengan antusiasme para penonton ketika The Devil In I, single dari album baru mereka, dimainkan secara live untuk pertama kalinya dan berhasil membuat para penonton meliar sekaligus terbius untuk melakukan sing along pada bagian reffrain-nya yang melodius.

Psychosocial, Liberate, Opium of The People, Left Behind dan Vermillion menjadi rentetan lagu-lagu yang dimainkan setelah The Devil In I. Lagu-lagu tersebut membuat para penonton bernostalgia sekaligus mengenang era Slipknot ketika masih ada Paul Gray dan Joey Jordison. Lalu para penonton diajak move on sejenak dengan dimainkannya kembali salah satu lagu dari .5: The Gray Chapter yang berjudul Custer, sebuah lagu yang sangat efektif untuk membumihanguskan moshpit dengan seketika karena aransemen musiknya yang cadas, bertempo 'ngebut', dan liriknya yang eksplisit. Ketika kalimat "Cut! Cut! Cut me up! And fuck! Fuck! Fuck me up!" pada reffrain lagu tersebut diteriakkan oleh Corey Taylor bersama pasukan gang vocals-nya, crowd pun semakin menggila.

Pada hari itu, seolah tak mengenal ampun, Slipknot 'membakar habis' para penonton dengan memainkan rentetan lagu-lagu penyulut adrenalin dari The Blister Exists, Before I Forget, Duality, (sic), hingga diakhiri oleh Surfacing sebagai penghabisan. Seraya diputarnya 'Til We Die sebagai farewell song, Corey Taylor berterimakasih kepada para penonton dengan cara menggenggam kedua tangannya sambil menundukkan tubuhnya seperti kebiasaan orang Jepang.

Knotfest 2014 merupakan bukti kebangkitan Slipknot yang sesungguhnya dengan menampilkan kepada dunia segala sesuatunya yang serba baru dari mulai personil, lagu, topeng, hingga kostum. Melalui Knotfest 2014, atmosfer baru Slipknot yang masih berbahaya seperti dulu berhasil diterima oleh para maggot di seluruh dunia dengan respons positif yang terbukti dari komentar-komentar mereka di sosial media. Dan melalui Knotfest 2014 pula yang menjadi bukti atas fenomena Slipknot yang pengaruhnya berskala global, seperti yang dikatakan oleh Clown (Shawn Crahan) perkusionis sekaligus salah satu pendiri band yang sebentar lagi menginjak usia dua dekade itu, "Slipknot bukan lagi merupakan sebuah band. Slipknot adalah sebuah budaya."