Replace NURSUNG13

Friday, February 10, 2017

Segerombol Konformis yang Latah dan Imitatif

Sudah memasuki bulan kedua di 2017 dan atmosfer tahun baru sudah mulai menipis. Di awal tahun hampir semua orang berlomba-lomba mengekspresikan antusiasme mereka terhadap tahun baru. Pesta pora, hura-hura, bakar ini-itu, konsumsi, konsumsi, dan konsumsi.

Jujur hal tersebut membuat saya bertanya-tanya. Memang bukanlah suatu kewajiban untuk ikut serta merayakan atau setidaknya merasa antusias terhadap tahun baru. Namun mengapa kebanyakan orang seperti itu? Sekedar bersenang-senang? Bukankah bersenang-senang dapat dilakukan kapan saja? Sebagai momentum pembaharuan diri agar menjadi lebih baik? Bukankah memperbaiki diri dapat dilakukan kapan saja, atau lebih baik lagi setiap saat?

Konformitas semacam itu sebagai perilaku sosial yang membuat saya heran dan tertawa melihat segerombol individu melakukan hal yang sama, meniru dan bersikap latah dari waktu ke waktu. Memang betul adanya perayaan tahun baru merupakan hal yang wajar dan lumrah, mungkin karena setiap saat kita dibombardir oleh pesan dan konten perayaan tahun baru melalui segala bentuk media, dari mulai film, literatur, media sosial, iklan, musik, dan lain sebagainya.

Jika diperhatikan masyarakat global memiliki kecenderungan untuk memaklumi dan meniru segala hal secara kolektif, ketika hal tersebut disuguhi secara simultan melalui media. Bahkan jika hal tersebut tidak etis, tidak estetis, atau bahkan tidak manusiawi. Contoh kecilnya adalah ketika masyarakat global bersikap latah dan meniru segenap gaya hidup keluarga Jenner dan Kardashian. Jujur, saya cukup muak melihat banyak sekali wanita yang mengenakan choker dan memonyong-monyongkan bibir, berusaha keras mengimitasi Kylie Jenner.

Atau dalam skala lokal, fenomena popularitas YouTubers yang menyebabkan banyak pria rela mengorbankan kejantanannya dengan mewarnai rambut dan mengenakan kaos yang terlihat seperti daster. Mungkin kini dengan berdandan seperti itu dapat diidentifikasi sebagai seorang pria yang jantan. Hal itu  jelas menunjukkan bahwa definisi jantan dan maskulinitas telah bergeser secara signifikan.

Begitupula dengan gaya hidup. Lagi-lagi saya muak melihat konten Instagram dan YouTube yang seragam; di mall, di klub malam, di restoran, atau di tempat penginapan mewah di sekitar Bali. Mengapa harus seperti itu? Agar mendapat predikat 'gaul'? Agar menjadi populer di media sosial seperti Awkarin? Mungkin mereka akan mencoba mematahkan asumsi saya dengan menyuarakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi dan mereka bebas berbuat apapun selama tidak melanggar hukum. Begitupula dengan saya, bukan? Saya pun memiliki hak untuk menolak konformitas sosial dan beropini selama tidak melanggar hukum.

Pertanyaan terbesarnya adalah mengapa harus menjadi latah dan meniru? Mengapa harus menjadi konformis dan imitator, sementara kita bisa menciptakan dan menjalankan gaya hidup kita sendiri yang sesuai dengan standar etika dan estetika masing-masing?

Dan berapa lama mereka akan menggandrungi suatu tren? Kita dapat amati betapa mudahnya bagi mereka untuk merubah konsep diri dan menyesuaikannya dengan tren yang sedang populer. Sungguh memprihatinkan betapa mudahnya mereka dikendalikan oleh korporat kapitalis yang membentuk dan menentukan tren, sekaligus mengambil keuntungan komersil dari hal itu. Mereka benar-benar terkesan seperti sekelompok individu yang mengalami krisis identitas yang tak henti-henti. Atau lebih tepatnya bagaikan segerombolan domba yang mengikuti ke arah manapun si peternak menggiringnya untuk dieksploitasi.

Saya tertawa sendiri ketika memikirkan hal ini; seandainya The Jenners, The Kardashians, Justin Bieber, Young Lex, Awkarin, Rich Chigga, Reza Oktovian, dan para role model masa kini lainnya secara bersamaan mengonsumsi kotoran mereka sendiri dan dipublikasi oleh media massa dan akun media sosial mereka, apakah kalian akan turut mengimitasi hal tersebut?

Monday, October 24, 2016

Mimpi Buruk Leibniz dan Hegel



Leibniz dan Hegel mungkin akan bunuh diri jika mereka dibangkitkan dari kubur untuk menyaksikan fenomena sosial secara global saat ini. Mungkin mereka akan menembak kepala mereka sendiri ketika melihat konten dari pengguna Instagram. Atau mungkin juga mereka akan terbuai oleh kenikmatan materi dan fisik lalu mengkhianati apa yang telah mereka teguhkan selama berabad-abad.

Idealisme. Sebuah filosofi yang mereka teguhkan. Sebuah filosofi yang mengagungkan keperkasaan mental dan spiritual sebagai aspek esensial dari kehidupan, dengan asumsi bahwa materi dan fisik bersifat fana dan sekunder. Penilaian idealistis terhadap suatu hal ditentukan melalui ide-ide yang dimiliki oleh hal tersebut, bukan berdasarkan rupa. Sesuatu yang kasat mata yang dimiliki oleh seseorang, apa yang terdapat di dalam kepala dan hati seseorang, merupakan hal-hal yang menjadi parameter apakah orang tersebut layak disebut sebagai seorang manusia, atau hanyalah sebuah makhluk biologis yang makan, minum, tidur, buang air, dan masturbasi.

Orang-orang idealis berusaha mencapai kondisi mental yang ideal dimana mereka berupaya memiliki keunggulan intelektual, stabilitas emosional, dan kepekaan sosial. Mereka memiliki bahan bakar intelektual berupa rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal yang mencerminkan intelektualitas, bukan hal-hal menjijikan seperti kehidupan pribadi para selebriti atau tren fashion yang sedang marak. Secara emosional pun mereka stabil. Logika dan emosi bersinergi dengan baik sehingga tidak menghasilkan perilaku impulsif dengan memborong barang secara eksesif pada saat midnight sale. Secara sosial, mereka memiliki kepekaan yang tinggi dengan upaya-upaya merenungkan dan berkontribusi atas peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Bukan justru bersosialisasi di sebuah cafe mewah dengan harga kopi yang tidak logis, memperbincangkan aib dan keburukan orang lain, foto-foto, dan upload ke Instagram dan Path demi mendapatkan predikat "sosialita".

Mereka tidak berusaha berperilaku dan berpenampilan seperti apa yang ditampilkan oleh media massa. Mereka tidak membuncitkan perut korporat secara tidak sadar, naïf, dan ignoran. Mereka berolahraga dengan tujuan kesehatan yang pada akhirnya berdampak positif secara mental, bukan berolahraga dengan tujuan agar mendapatkan perut six packs dan bentuk tubuh seperti selebriti yang disembah melalui layar kaca dan layar smartphone. Mereka tidak terobsesi dengan produk dari merk-merk seperti Starbucks, Apple, dan Louis Vuitton. Dan mereka tidak berorientasi dan dibutakan oleh gengsi, prestise, dan status sosial yang dikejar dengan cara melakukan konsumsi, konsumsi, dan konsumsi.

Namun saat ini, idealisme hanya menjadi sebuah artefak filosofis untuk dipelajari di bangku kuliah. Para idealis pun pada akhirnya dipandang sebagai kaum marginal yang aneh, norak, kuno, old-fashioned, dan lain sebagainya. Instagram adalah salah satu bukti bahwa idealisme telah menjadi usang. Dewa-dewi yang dikultuskan dalam Instagram adalah orang-orang yang melacurkan dirinya secara fisik dengan meng-upload foto-foto kemolekan tubuh dan keindahan rupa, serta orang-orang yang mengekspos materi dengan nilai esensial yang nihil. Konten tidak didasari oleh manfaat, kualitas dan bobot pesan visual yang terkandung, melainkan oleh seberapa jauh konten tersebut mampu menstimuli libido, seberapa mahal harga barang dan jasa yang digunakan, serta seberapa mewah tempat pengambilan foto.

Mungkin kini Leibniz dan Hegel sedang bersulang di dalam neraka, namun apabila mereka kembali hidup dan menyaksikan fenomena-fenomena menjijikan tersebut, mungkin hal itu akan menjadi mimpi terburuk mereka.

Tuesday, September 27, 2016

Pragmatisme, Tren, dan EDM

Dalam ilmu filsafat terdapat berbagai mazhab. Pragmatisme adalah salah satunya. Secara definitif, pragmatisme dapat diartikan sebagai sebuah ide yang menerima segala sesuatu asalkan hal tersebut bermanfaat secara praktis.

Para pragmatis ini menyingkirkan paramater-parameter logika, etika, maupun estetika. Selama suatu hal dapat dimanfaatkan, maka mereka akan mengusung hal tersebut walaupun kadangkala tidak logis, tidak etis, dan tidak estetis.

Sedangkan tren adalah suatu fenomena kultural yang digeluti oleh masyarakat secara masif dan simultan.

Saat ini, Indonesia dan dunia sedang dipenuhi oleh para pragmatis yang berkeliaran di berbagai medium; media sosial, media massa, masyarakat secara umum, industri, hingga politik. Jika diperhatikan mereka adalah orang yang dinamis. Mereka berubah-ubah dan selalu siap menerima perubahan. Walaupun perubahan tersebut bersifat regresif jika ditinjau dari perspektif estetika.

Contoh yang berada dalam lingkungan saya adalah orang-orang yang pragmatis terhadap tren. Mereka diperbudak oleh elit media global dan nasional yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan suatu tren. Ketika suatu media memberikan publisitas terhadap tren EDM, maka mereka akan menelan mentah-mentah, tak perduli jika misalnya EDM tidak sesuai dengan standar estetika yang mereka miliki sebelumnya.

Di era dimana musik metal (yang bagi saya lebih estetis dari EDM dalam segi apapun) mendapat publisitas tinggi dari media mainstream, mereka melabeli diri sebagai seorang metalhead sejati. Namun ketika publisitas tersebut dioper kepada EDM, mereka akan mengubah label dirinya menjadi seorang 'anak dugem sejati'. Tak heran saat ini banyak sekali metalheads yang banting setir menjadi DJ. Sebuah perubahan yang progresif? Menurut saya tidak.

Selama tren tersebut dapat memberikan manfaat praktis berupa penerimaan sosial, keuntungan finansial, dan lain sebagainya, maka mereka akan meresapi tren itu hingga pada akhirnya akan digantinkan dengan tren lainnya. Fuckin posers.

Ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh fenomena yang sedang terjadi pada masyarakat saat ini. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai pembuktian terhadap teori jarum hipodermik yang berasumsi bahwa media massa sebagai suatu pihak yang memiliki kuasa terhadap khalayaknya. Teori ini menganalogikan bahwa khalayak yang bersifat pasif akan pasrah dan rela 'disuntik' oleh media massa yang bersifat perkasa. Dalam hal ini, kandungan yang dimuat oleh suntikan tersebut adalah tren EDM, dan para pragmatis tersebut adalah pihak yang dipecundangi oleh media massa. Relevan bukan?

Selera musik adalah suatu preferensi yang bersifat personal. Walaupun bagi saya EDM adalah musik yang banal dan tidak estetis, mungkin bagi orang lain sebaliknya. Namun pertanyaannya adalah, apakah EDM memerlukan kemampuan musikal yang tinggi? Pop adalah musik yang tidak terlalu membutuhkan kemampuan musikal yang tinggi. Namun setidaknya mereka mampu memainkan instrumen musik secara harfiah. Bukan instrumen digital yang hanya klik ini-itu dan menyebut dirinya seorang DJ.

Pada umumnya, lirik dalam EDM didominasi oleh nilai-nilai hedonisme, konsumerisme, dan materialisme. Mereka hanya bicara soal having fun, foya-foya, clubbing, bermewah-mewahan, seks, uang, uang, dan uang. Dan semua itu dikemas secara banal dan tidak puitis dengan pemilihan kata dan diksi yang sederhana.

Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa EDM dapat menjadi suatu distraksi bagi masyarakat terhadap fenomena-fenomena sosial dan politik yang penting untuk diketahui dan dikritisi oleh masyarakat. Dengan kata lain, EDM dapat meningkatkan apatisme masyarakat.

Saya tidak sedang mencuci otak anda, saya hanya mengamati dan mengutarakan persepsi saya terhadap kondisi masyarakat saat ini, terutama masyarakat urban yang tanpa disadari setiap harinya dibombardir oleh propaganda media yang memberitahukan mereka untuk terus membeli dan menikmati tanpa perduli sedikit pun akan apa yang sebenernya sedang terjadi.

Namun apa daya? Pada akhirnya orang-orang seperti saya hanya akan mereka cap sebagai a sick fuckin weirdo; orang aneh, eksentrik, non-konformis, ketinggalan zaman dan tidak pernah perduli terhadap apa yang orang lain katakan.

Sunday, September 11, 2016

Hijrah dari Jakarta?

Jakarta. Saya lahir dan besar di ibukota yang berdiri pada 1527 ini. Born and bred. Sebuah kota yang diagungkan oleh seperempat milyar jiwa penduduk Indonesia, sebuah kota dengan segala prospek-prospek impiannya. Dari mulut ke mulut, dari media ke masyarakat nasional, segalanya mencakup gambaran tentang mimpi-mimpi gemerlap yang dijanjikan oleh kota ini.

Ide tersebut diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat di luar Jakarta. Para orang tua dan guru menanamkan gagasan bahwa kesuksesan adalah dimana pada suatu hari anak-anak mereka akan merantau ke Jakarta, mendapatkan pekerjaan, syukur-syukur menjadi selebriti, menikmati dinamika kehidupan ibukota, dan menjadi masyarakat urban seutuhnya.

Selebriti menjadi subjek utama dalam setiap pemberitaan oleh media pada umumnya. Dengan modal keunggulan fisik yang artifisial, selera humor sampah, dan inteligensi yang nyaris nihil, selebriti menjadi idola, role model sekaligus tokoh masyarakat bagi ratusan juta penduduk Indonesia. Di tambah lagi dengan apa yang mereka lihat di TV, internet, radio, koran, majalah, dan berbagai media lain yang 'Jakarta sentris', dengan segala exposure yang berfokus pada topik-topik yang memuat nilai-nilai hedonisme, konsumerisme, dan materialisme.

Jakarta menjadi magnet sosial. Uang, seks, dan kenikmatan duniawi menjadi konsep dan tujuan utama yang tertanam dalam benak dan pikiran masyarakat. Semua orang ingin pergi ke Jakarta, tinggal di Jakarta, atau menetap di Jakarta hingga akhir hayat.  Dan pada akhirnya semua orang berjejal di ibukota, bersama dengan berbagai pusat perbelanjaan dan gedung-gedung perkantoran yang berjejal pula. Kecintaan dan loyalitas masyarakat Indonesia pada Jakarta ini sungguh luar biasa, hingga membuat pemerintah dan segelintir kalangan masyarakat kritis pusing memutar otak untuk menangani kota ini.

Namun dalam realitas, apakah Jakarta seindah itu? Bagaimana dengan kemacetan intens yang tidak pernah terhenti? Bagaimana dengan banjir yang tidak dapat dihindarkan? Bagaimana dengan segala macam polusi yang semakin memburuk? Bagaimana dengan 'polusi sosial'? Kriminal dan hipokrit yang berkeliaran di antara kita. Kriminal dan hipokrit yang menguasai dan mengendalikan kehidupan kita.

Bagi saya, Jakarta bukan lagi kota impian. Jakarta telah berubah menjadi sarana menuju kondisi mental dan fisik yang tidak sehat, dengan suatu norma sosial yang tidak tertulis yang mengajarkan kita bahwa definisi kesuksesan adalah dengan mengikuti pola kehidupan yang selalu sama: menjadi penduduk Jakarta, lulus kuliah dan menjadi budak kapitalis yang selalu bermacet-macetan, bekerja senin hingga jumat pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, mengunjungi mall di akhir pekan, menikah, berkeluarga, dan akhirnya mati bersama dengan passion dan mimpi-mimpi yang terbunuh oleh keperkasaan kapitalisme.

Apakah itu yang disebut dengan kesuksesan? Apakah itu yang disebut dengan kehidupan normal? Di mata saya, kehidupan seperti itu adalah sesuatu yang konyol. A big fuckin joke. Bagi saya hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan hanya untuk berusaha menjadi orang yang diinginkan masyarakat. Terlebih jika masyarakat itu sendiri dibentuk dan dikendalikan oleh elit politik yang senantiasa haus akan uang dan kekuasaan.

Panggil saya seorang anarkis, panggil saya seorang non-konformis, eksentrik, aneh, atau apapun itu. Namun yang jelas saya akan lebih bahagia dengan menjadi seorang pemilik kedai kopi kecil di sebuah kota terpencil, daripada menjadi seorang eksekutif urban dengan kehidupan dan jiwa yang dikendalikan.

Wednesday, August 10, 2016

'Stranger Things' : Serial TV Paling Adiktif di 2016


Pada 6 November 1983 di Hawkins, Indiana, Will Byers (Noah Schnapp), seorang anak laki-laki berusia 12 tahun menghilang secara misterius di perjalanan pulang setelah bermain Dungeons & Dragons di rumah temannya. Kemunculan gadis misterius berkepala pelontos Eleven (Millie Bobby Brown) yang memiliki kekuatan super, petualangan mencari Will yang dilakukan teman-temannya, dan pemecahan misteri yang melibatkan proyek rahasia pemerintah oleh kepala kepolisian Hawkins, Jim Hopper (David Harbour) dan ibunda Will, Joyce Byers (Winona Ryder) membuat 'Stranger Things' menjadi serial TV wajib tonton di tahun 2016.

Kurang lebih seperti itu sinopsis singkat dari Stranger Things. Bermula dari sekitar sebulan lalu, berbagai pos mengenai serial TV rilisan Netflix itu bermunculan di 9GAG. Begitu pula di berbagai media online yang sudah memperbincangkannya sejak akhir 2015.

Pada 15 Juli 2016, seluruh 8 episode dari Stranger Things resmi dirilis secara global oleh Netflix. Internet citizens semakin gencar dalam membicarakan karya dari saudara kembar Matt dan Ross Duffer tersebut. Berbagai resensi bermunculan dan hampir seluruhnya bernada positif. It went viral!

Saya menjadi semakin aware terhadap Stranger Things. Namun ketika itu saya masih berkutat dengan Mr. Robot, sebuah serial TV rilisan USA Network yang saya gemari sejak tahun lalu. Hingga pada suatu malam di awal Agustus ini, seorang teman merekomendasikan dua judul serial TV melalui grup Line. Dua judul tersebut adalah Wayward Pines dan Stranger Things.

Saya browsing plot dari kedua serial tersebut untuk membandingkannya dan Wayward Pines menjadi pilihan pertama untuk saya tonton. Sungguh sama sekali tidak mengecewakan. Wayward Pines berhasil membuat saya overwhelmed dengan segala aspek mindfuck dari plot yang mengingatkan saya pada Twilight Zone.

Season pertama dari Wayward Pines saya habiskan dalam waktu dua malam dan ketika lanjut ke season 2, saya kehilangan minat. Entah mengapa bagi saya season 1 dari Wayward Pines jauh lebih menarik. Terlintas sebuah kesan bahwa para produser terlalu memaksakan untuk melanjutkan serial tersebut karena menurut saya akan lebih epic apabila Wayward Pines berhenti pada season 1.

And the madness began. Saya beralih pada Stranger Things, tepatnya pada malam hari di tanggal 3 Agustus 2016. Episode pilot "The Vanishing of Will Byers" saya putar tanpa ekspektasi bahwa serial ini akan membuat saya terjaga di depan laptop selama 8 jam kedepan. Jujur, pada saat itu pikiran saya masih terpaku pada mindfuck plot dari Wayward Pines dan thought-provoking lines dari Mr. Robot.

Adegan demi adegan, aksi demi aksi, perlahan-lahan segala hal yang disajikan dalam Stranger Things membuat saya bukan hanya melupakan Wayward Pines dan Mr. Robot, namun juga melupakan segala hal disekitar saya. Sangat adiktif! Saya sama sekali tidak mengecek jam, saya tidak sadar bahwa semua anggota keluarga telah tertidur lelap, saya benar-benar 'tersedot' ke Hawkins, Indiana.

"Gila. Ini bener-bener gila." Pikir saya yang sebelumnya belum pernah tergila-gila secara ekstrim dengan suatu karya seni audio-visual apapun. Serial ini benar-benar dikemas secara '1980-an' dari mulai setting, plot, hingga desain. Font-nya pun membuat kita nostalgia dengan judul-judul novel Stephen King yang terbit sepanjang dekade tersebut. Secara keseluruhan, ini seperti The Goonies bertemu E.T. dengan plot thrilling ala Stephen King. Referensi budaya pop 1970-1980an pun bermunculan. Dan yang membuat saya terharu adalah lagu "Should I Stay? Or Should I Go?" dari The Clash yang menjadi soundtrack utama yang tematik dari Stranger Things. Bagi saya dan jutaan penonton lain di luar sana yang belum dilahirkan pada dekade tersebut, Stranger Things menjadi 'museum' yang sempurna untuk dinikmati.

Daya tarik dari masing-masing karakter pun sangat luar biasa. Terutama Jim Hopper si kepala kepolisian Hawkins yang berani membongkar isi perut pemerintah terkait dengan proyek rahasia yang menyebabkan hilangnya Will, dan juga Eleven yang minim dialog namun justru mendapat exposure lebih berkat perpaduan antara kepolosan dan kekuatan supernya. Di satu sisi ia adalah seorang gadis lemah yang tertindas, namun di sisi lain ia adalah heroine yang berkali-kali menyelamatkan nyawa teman-temannya.

Bukan hanya unsur misteri dan detektif yang sangat menarik, namun juga berbagai drama yang dihasilkan dari dinamika kehidupan ketiga kalangan; dewasa (Jim Hopper, Joyce Byers, Lonnie), remaja (Jonathan Byers, Nancy Wheeler, Steve Harrington, Barbara Holland, dan kawan-kawan), dan anak-anak (Eleven, Mike Wheeler, Dustin Henderson, dan Sinclair) sungguh menarik untuk diresapi. Mereka berhasil menyentuh para penonton secara emosional, dari mulai puppy love antara Eleven dan Mike yang menjadi fan favorite, serangkaian komedi yang dilontarkan oleh Dustin, hingga cinta segitiga antara Steve, Nancy, dan Jonathan.

Season perdana ini pun berhasil ditutup dengan baik. Para penonton cukup dibuat puas dengan pemecahan masalah, namun secara sengaja sedikit dibuat kecewa untuk menstimuli rasa penasaran mereka terhadap season selanjutnya dengan meninggalkan berbagai pertanyaan.

Delapan jam bukanlah waktu yang sebentar untuk menyaksikan sebuah film/serial TV. Namun Stranger Things membuat delapan jam tersebut terasa sangat cepat berlalu. Pukul 8 malam hingga pukul 4 pagi saya habiskan tanpa jeda untuk produk brilian Netflix ini. Dan sama sekali tidak ada kata "bosan" yang terlintas dalam benak saya terkait dengan Stranger Things. Percayalah, ini adalah satu-satunya serial TV yang satu season penuh saya tonton hingga berulang-ulang. Totally worth it!

Namun seperti yang saya bicarakan di atas, kekecewaan tersebut seakan selalu menghantui saya. Sampai-sampai pada suatu malam saya bermimpi menonton season 2 dari Stranger Things dengan plot yang ngaco, sengaco-ngaconya. Saya yakin terdapat jutaan individu di luar sana yang tidak sabar dan berharap bahwa season 2 akan dirilis secepatnya. Saya pribadi merasa ingin hibernasi di dalam sebuah time capsule dan bangun tepat di tanggal perilisan season 2 dari Stranger Things.

Netflix and The Duffer Brothers, millions of people are counting on you!