Replace NURSUNG13

Tuesday, October 21, 2014

Taring - Nazar Palagan (Album Review)

Taring
Nazar Palagan
Grimloc Records 

Pengunduran diri Hardy 'Nyanknyank' Rosady dari Outright rupanya tidak membuat vokalis tersebut kehilangan eksistensinya. Ia justru kembali bangkit ke skena musik hardcore Bandung dengan membentuk amunisi barunya bersama Gebeg (Power Punk), Angga (Billfold/Asia Minor), dan Ferry (Turbidity) dengan nama Taring. Belum genap satu tahun sejak didirikan pada 13 Desember 2013, Taring berhasil merilis album perdananya yang bertajuk "Nazar Palagan" pada 10 Oktober lalu.

Album yang dirilis via Grimloc Records ini memang patut diwaspadai keganasannya. Ide brilian keempat musisi 'senior' asal Bandung tersebut dalam bereksplorasi menyerap unsur thrash, sludge, stoner, doom, psychedelic, progressive, dan bahkan rap, membuat Nazar Palagan menjadi sebuah album hardcore yang unik dan menarik untuk didengar.

Keganasan mereka terbukti dalam aransemen lagu-lagu dalam album ini yang benar-benar 'nendang'. Riff gitar yang cepat dan thrashy ala Slayer, dibalut dengan sound hardcore serta tone yang tebal dan tajam, berpotensi menyulut sumbu adrenalin para pendengarnya seperti pada lagu "Kata-Kata Belum Binasa" yang menggeber dengan beat drum punk-nya dan dipercantik dengan breakdown yang sangat apik dinikmati dengan headbanging, juga "Nazar Palagan" dengan geraman vokalnya yang menyeramkan dan lantang, serta "Bridge of Agony", sebuah instrumental dengan tempo lambat namun tetap menyeramkan dengan teriakan-teriakan dan riff gitar doom yang menyerempet psychedelic. Odd time signature pada lagu "Meredam Dendam Dengan Bara" dan "Menghujam Langit" serta unison rythm yang teknikal pada "Amarah, Agresifitas, dan Liar" menjadi pembuktian atas adanya unsur progresif pada album ini. Begitu pula dengan unsur sludge pada lagu "Resureksi Diri" dan unsur stoner yang terdengar dari teknik bending pada gitar di hampir setiap lagu.

Taring juga mengajak beberapa musisi untuk berkolaborasi dalam album ini seperti Sarkasz dari Bars of Death yang menyumbangkan lirik dan rap-nya dalam lagu "Gospel Nosferatu", Lord Butche (ex The Cruel) yang meneriakkan high-pitched scream-nya pada lagu "Amarah, Agresifitas, dan Liar", serta Barus dari Godless Symptoms yang berbagi mikrofon dengan Hardy pada lagu "Seperti Tanpa Nyawa". Selain itu, Eben dari Burgerkill ikut berkontribusi sebagai vocal director pada lagu "Nazar Palagan" dan "Meredam Dendam Dengan Bara".

Band-band yang mempengaruhi mereka seperti Lionheart, Madball, Terror, Hatebreed, dsb pun dapat dirasakan atmosfernya dalam album ini. Ketika mendengar hingar-bingar lagu "Kata-Kata Belum Binasa", "Nazar Palagan", dan "Lihatlah Kami" memang mengingatkan kita kepada lagu-lagu yang diciptakan oleh Lionheart dan Hatebreed, namun Taring berhasil mempertahankan identitasnya dengan lirik-lirik berbahasa Indonesia. Tema-tema kritis mengenai politik, sosial, dan moral, dibalut dengan diksi dan kata-kata yang puitis menjadikan Nazar Palagan bukan sekedar album dengan aransemen musik yang 'tajam', namun juga liriknya yang 'tajam' pula. Seperti yang tertulis pada buklet dalam album ini, lirik pada lagu "Meredam Dendam Dengan Bara" dan "Kata-Kata Belum Binasa" diciptakan sebagai dedikasi dan memorial kepada Widji Thukul, seorang penyair yang hilang menjelang runtuhnya rezim orde baru.

Dari segi sound, album yang di-mixing dan mastering oleh Zoteng dari Forgotten ini patut diacungkan dua jempol. Tone gitar dan bass, serta kick drum yang tebal dan tajam memang layak menjadi penyempurna album ini.

Namun sangat disayangkan, pengemasan album ini terkesan minim modal karena sampul dan label CD-nya dicetak hitam putih, serta lirik dan kata-kata yang berdempetan dicetak dalam buklet yang hanya terdiri dari tiga lembar.




Tuesday, September 23, 2014

Jelang Perilisan Album Perdana, Taring Tunjukkan "Kata-Kata Belum Binasa"


Setelah merilis single pertamanya yang berjudul "Nazar Palagan" pada Juli lalu, Taring kembali menunjukkan taringnya dengan merilis single kedua yang berjudul "Kata-Kata Belum Binasa". Unit hardcore asal Bandung tersebut mempersembahkan lagu itu kepada Wiji Thukul yang semangat pembangkangannya tak pernah mati walaupun ia 'dihilangkan' secara paksa pada rezim orde baru.

Band yang terdiri dari Hardy (ex Outright) pada vokal, Angga (Billfold, Asia Minor) pada gitar, Gebeg (Power Punk, Tolak Tunduk) pada drum, dan Ferry (Turbidity) pada bass itu akan merilis album perdana yang berjudul sama dengan single pertamanya, "Nazar Palagan" pada akhir bulan ini. Album yang akan dirilis via Grimloc Records ini akan menggeber hardcore klasik ala Indecesion, Lionheart dan Throwdown.

Untuk mengunduh "Kata-Kata Belum Binasa" secara legal, klik disini

Kontribusi Joey Jordison Untuk Slipknot (1995 - 2013)


Seperti yang diberitakan secara resmi oleh Slipknot, pada Desember 2013 lalu, Joey Jordison sang drummer hengkang dari band yang dirintisnya sejak 1995 tersebut. Namun Joey menegaskan bahwa dia tidak pernah mengundurkan diri, melainkan dipecat. Hingga saat ini pihak Slipknot enggan membuka mulut soal penyebab dipecatnya drummer yang juga merupakan gitaris dari Murderdolls itu.

Jordison merupakan sosok penting yang tidak dapat diabaikan dari sejarah perintisan Slipknot. Namun, pria berusia 39 tahun itu pun pada akhirnya dipecat setelah memberikan banyak kontribusi penting untuk band yang dirintisnya itu. Berikut adalah kontribusi-kontribusi esensial yang diberikan oleh seorang Joey Jordison untuk band yang dibangunnya, Slipknot.

1. Memberikan nama "Slipknot"
Pada awal terbentuknya, band asal Des Moines, Iowa ini bernama The Pale Ones, dan menggunakan nama Meld pada saat pertama kali manggung. Namun, Joey mengusulkan nama "Slipknot" yang diambil dari salah satu judul lagu mereka, yang kemudian diaransemen ulang dan diganti judulnya menjadi "(sic)" untuk debut album Slipknot.

2. Mendesain logo Slipknot

Selain mengusulkan nama "Slipknot", Jordison juga mendesain logo Slipknot yang hingga saat ini masih digunakan. Pada sebuah wawancara, ayah satu anak tersebut mengaku bahwa ia terinspirasi dari logo Korn yang merupakan band favoritnya.

3. Menciptakan istilah "maggot" 
Seperti yang kita ketahui, para penggemar Slipknot sering dijuluki sebagai "maggot". Istilah tersebut pertama kali dicetuskan oleh Joey yang menganalogikan fans Slipknot dengan belatung karena jumlahnya yang masif, dan karakteristiknya yang solid, selalu bergerombol, dan militan.

4. 'Penyelamat' Slipknot
Konflik merupakan hal yang klise di dalam sebuah band. Biasanya, hilangnya passion bermusik dimulai dengan konflik. Sama seperti Slipknot, dari sekian banyak konflik yang pernah mereka alami, Jordison adalah salah seorang tokoh kunci penyelesaian konflik-konflik tersebut. Rupanya dibalik aksi brutalnya di atas panggung, Joey merupakan seorang berkepala dingin yang mampu menengahi konflik-konflik yang terjadi di dalam Slipknot. Salah satunya adalah ketika hampir semua personil Slipknot terpuruk dalam adiksi narkotika pada tahun 2000, yang membuat mereka kehilangan passion bermusik, sedangkan mereka masih terikat kontrak album dengan Roadrunner Records. Dua orang yang mengambil langkah penyelesaian adalah Joey Jordison dan Paul Gray yang mengambil alih sebagian proses pembuatan lagu sehingga komitmen dengan Roadrunner Records dapat diselamatkan dengan lahirnya album Iowa pada tahun 2001. Namun ironisnya, dua orang tersebut kini sudah tidak bersama Slipknot. Paul Gray meninggal dunia pada tahun 2010, dan Joey Jordison sendiri dipecat oleh Slipknot pada akhir 2013.

Kini Slipknot sudah bersama dua orang personil barunya; Jay Weinberg pada posisi drum, dan Alessandro Venturella pada posisi bass. Semoga dengan hadirnya dua personil baru tersebut, Slipknot mampu menghadirkan sesuatu yang baru, segar, namun tanpa menghilangkan karakter orisinalnya yang masih melekat kuat pada sosok Joey Jordison dan Paul Gray.
 

Wednesday, September 17, 2014

Siapakah Dua Personil Baru Slipknot?


Scene metal dunia berhasil diguncang oleh Slipknot yang merilis video klip dari single barunya, The Devil In I. Pasalnya, video klip berdurasi 5 menit 55 detik tersebut menampilkan sosok dua personil baru Slipknot untuk pertama kalinya.

Identitas dua personil baru tersebut belum diumumkan secara resmi oleh band bentukan tahun 1995 itu, namun diduga kuat mereka adalah Jay Weinberg dan Alessandro Venturella.

Jay Weinberg adalah seorang drummer kelahiran 8 September 1990 dan merupakan putra dari Max Weinberg, drummer dari E Street Band yang dimotori oleh Bruce Springsteen. Drummer berusia 24 tahun tersebut pernah tergabung di Madball, legenda hardcore asal New York. Sebelumnya dia juga pernah menggebuk drum untuk The Reveling, Against Me!, E Street Band, dsb. Jay merupakan seorang penggemar berat Slipknot dan pertama kali menonton konser Slipknot ketika masih berusia 9 tahun di Ozzfest 1999 ditemani ayahnya.

Sedangkan Alessandro Venturella adalah seorang musisi asal Inggris yang merupakan seorang teknisi gitar untuk beberapa band seperti Architects, Mastodon, Fightstar, dsb. Sebelumnya, dia pernah bergabung sebagai gitaris di Krokodil dan Cry For Silence. Ini merupakan kali pertamanya bermain bass untuk sebuah band metal kaliber besar seperti Slipknot.

Ketika diwawancara beberapa waktu lalu, Corey Taylor sang vokalis menyatakan bahwa akan ada sembilan personil yang tampil di atas panggung, dan dua di antaranya adalah personil baru yang mengenakan topeng yang sama.

Band yang pada tahun ini menginjak usia 19 tahun itu akan menggelar konser perdananya bersama dua personil baru di Knotfest pada 25 Oktober mendatang dan juga akan menggelar tur bertajuk "Prepare For Hell" bersama Korn dan King 810 yang akan diselenggarakan di 24 kota besar di Amerika Serikat mulai Oktober hingga Desember. Konser dan tur tersebut diadakan dalam rangka promosi untuk album barunya yang akan dirilis pada 21 Oktober, yang berjudul "5: The Gray Chapter".




Saturday, September 13, 2014

Ini Topeng & Formasi Baru Slipknot!

Slipknot 2014

Semenjak dirilisnya The Negative One pada 1 Agustus lalu, banyak timbul pertanyaan mengenai siapa dua personil baru Slipknot yang dipercaya menggantikan mendiang Paul Gray sang basis yang meninggal dunia pada 2010 dan Joey Jordison sang drummer yang hengkang pada akhir 2013.

 Kemarin (12/9), band asal Des Moines, Iowa tersebut memberikan jawabannya dengan merilis video klip dari single baru mereka, The Devil In I.


Dalam video klip itu, dua personil baru tersebut terlihat menggunakan topeng yang sama. Sesuai dengan yang dikatakan Corey Taylor (vokal) pada sebuah wawancara, bahwa dua personil baru mereka akan menggunakan topeng yang sama ketika berada di atas panggung.

Jay Weinberg

Walaupun Slipknot belum mengumumkan secara resmi siapa dua orang yang berada dibalik topeng tersebut, namun diduga kuat bahwa Jay Weiberg (ex Madball) merupakan pria yang dipercaya menggantikan Joey Jordison di posisi drum dan Alessandro Venturella (teknisi gitar Mastodon) sebagai pengganti almarhum Paul Gray sang basis.
Alessandro Venturella

Banyak rumor yang mengatakan bahwa Chris Adler dari Lamb Of God lah yang menjadi drummer baru Slipknot. Namun hal tersebut dibantah langsung oleh Adler.

Dalam video klip yang dipenuhi unsur kekerasan tersebut, Slipknot mencoba memusnahkan image lama mereka dan muncul dengan topeng-topeng baru.

Penasaran dengan video klipnya? Cek disini


The Negative One dan The Devil In I merupakan awal yang baik dari kebangkitan Slipknot yang akan merilis album kelimanya yang berjudul "5 : The Gray Chapter" pada 21 Oktober mendatang.

5 : The Gray Chapter








Saturday, August 2, 2014

SLIPKNOT - The Negative One (Song Review)


Slipknot kembali membombardir dunia dengan merilis single terbaru berjudul "The Negative One". Monster asal Iowa, AS tersebut kembali menginjeksi racutn metalnya setelah 6 tahun absen di dapur rekaman. Meninggalnya sang basis Paul Gray pada 2010 dan hengkangnya sang drummer Joey Jordison pada akhir 2013 rupanya tidak memadamkan sumbu eksistensi band metal yang didirikan pada 1995 itu.

Dirilisnya empat buah video teaser secara berkala yang masing-masing durasinya tidak lebih dari satu menit, menjadi indikasi kebangkitan Slipknot. Pada 1 Agustus 2014, sebuah lagu single berjudul "The Negative One" tersebut dirilis oleh Slipknot melalui situs resminya di slipknot1.com yang juga menginformasikan bahwa video klip dari "The Negative One" akan dirilis pada 5 Agustus mendatang dan sekaligus akan menjadi kemunculan Slipknot perdana dengan topeng dan dua personil baru.

Uniknya, dari keempat video teaser yang dirilis sebelumnya, masing-masing terdapat kalimat di caption-nya yang ternyata merupakan potongan-potongan lirik dari "The Negative One".

Dari segi aransemen musik, lagu tersebut memang terdengar seperti crossover antara album Iowa dan Vol. 3 : The Subliminal Verse, terlebih pada riff gitar dan beat drum yang mengingatkan kita pada lagu "Disasterpiece". Namun riff gitar pada lagu ini terdengar unik sehingga dapat menjadi nilai plus. Walaupun terdengar serupa dengan album Iowa, namun karakter vokal Corey Taylor yang berbeda dan banyaknya penggunaan sampling dan scratching pada lagu ini membuat Slipknot jauh lebih 'segar' dari sebelumnya.

Dari segi lirik, saya belum dapat menilai karena belum dirilisnya lirik lagu ini. Namun sepintas saya dapat mendengar potongan lirik lagu ini yang sepertinya bercerita tentang mengenang almarhum Paul Gray sang basis.

Secara keseluruhan, lagu "The Negative One" tergolong groovy, penuh dengan sampling dan scratching yang unik, dan pastinya brutal!

Identitas drummer dan basis pada album ini belum diketahui karena belum ada pernyataan resmi dari pihak Slipknot. Namun ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa drummer baru Slipknot adalah Jay Weinberg, seorang drummer muda yang juga merupakan mantan drummer dari band hardcore asal New York, Madball. Untuk Paul Gray, kemungkinan besar digantikan oleh Donnie Steele yang merupakan mantan gitaris Slipknot.

Siapapun personilnya, Slipknot akan selalu menjadi besar, brutal, dan Slipknot akan selalu menjadi Slipknot! Mari kita tunggu album barunya yang dipastikan rilis sebelum bulan Oktober mendatang!

Stay (sic)!

Monday, July 21, 2014

TARING - NAZAR PALAGAN Song Review (lyrics included)


Hengkangnya Hardy Rosady dari Outright rupanya tidak membuat vokalis tersebut kehilangan eksistensinya. Ia justru kembali eksis di scene hardcore Bandung dengan membentuk sebuah band bernama Taring bersama Gebeg dari Power Punk, Angga dari Asia Minor/Billfold, dan Ferry dari Turbidity. Keempat musisi kawakan tersebut baru saja merilis single perdana mereka yang berjudul Nazar Palagan via Grimloc Records.

Lagu tersebut dimulai dengan riff gitar Angga yang sederhana, namun heavy dan berpotensi membakar sumbu adrenalin para pendengar. Disambut oleh ritem groovy Gebeg dan Ferry yang sangat cocok dinikmati dengan cara melompat-lompat, terlebih lagi apabila dipandu oleh sang vokalis "Jump! Jump! Jump! Jump!". Selepas itu Gebeg melanjutkan dengan beat hardcore punk dan disambut oleh riff gitar Angga yang unik, tidak seperti riff  hardcore punk pada umumnya. Lalu ketika giliran Hardy sang vokalis bernyanyi, karakter vokalnya terdengar agak mirip seperti Arian 13 vokalis Seringai. Vokal Hardy pada lagu ini sangat cadas dan mengagumkan, namun memang sangat berbeda dengan vokalnya ketika di lagu Judgement milik Outright, atau ketika berkolaborasi dengan Fraud pada lagu Faith. Pada bagian breakdown pun unik, tidak seperti band-band hardcore Indonesia pada umumnya yang pada bagian breakdown-nya terdengar seperti post-hardcore. Lalu pada bagian sing along pun saya acungkan dua jempol karena pada lirik "menolak kafir!" diteriakkan dengan lantang dan dengan sedikit sentuhan efek echo yang benar-benar 'nampol'. Pada bagian akhir, kembali ke riff hardcore punk lagi, namun pada bar kelima, Angga melepaskan palm-mute yang membuat riff-nya terdengar agak stoner yang menurut saya sangat brilian. Lagu tersebut berakhir dengan Hardy yang kembali meneriakkan lirik "menolak kafir!". Untuk masalah aransemen musik, secara keseluruhan, menurut saya sangat epic dan mengagumkan. Influence kental dari Madball, H20, dan Biohazard pun dapat kita rasakan atmosfernya pada lagu ini.

Dari segi lirik, saya bisa simpulkan bahwa lagu ini bercerita tentang seseorang yang setia kepada temannya, namun pada akhirnya orang tersebut dikhianati/dizalimi yang terbukti pada bagian lirik "loyalitas disodomi!". Untuk bagian lirik "menolak kafir!" yang kerap diulang-ulang itu pun saya belum bisa menangkap makna tersiratnya. Ketika diwawancara oleh Ebenz Burgerkill pada program Extreme Moshpit di OZ Radio Bandung, Hardy sang vokalis sekaligus pencipta lirik lagu ini, mengatakan bahwa arti dari Nazar Palagan adalah "janji berperang" atau "janji bertempur". Mungkin maksudnya adalah janji memerangi teman-teman yang kerap mengkhianati loyalitas seseorang. Untuk lebih lengkapnya, ini dia lirik Nazar Palagan : 

Nazar Palagan

Bagai phobia ruang sempit
Kenyataan adalah pil pahit
Repeat sesal tanpa akhir
Kutantang hidup..

Menolak kafir!
Menolak kafir!

Keyakinan bergulir
Persetan teman
Bertopeng ambisi
Loyalitas disodomi

Bakar setiap hembus harapan
Kuterjebak dalam dua pilihan
Satu mati dua berdiri
Beri belati kupilih caraku
Harakiri!

Menolak Kafir!

Semua telah final
Kuhembus nafas tersenggal
Kalam harus berakhir
Melangkah bebas terasa lepas
Jalani arus takdir

Kafir!
Menolak kafir!

Pada wawancara tersebut pula, mereka mengatakan bahwa album perdana Taring telah selesai dikerjakan dan siap dirilis pada Agustus mendatang. Kita doakan semoga lancar, tidak ada halangan, dan sukses selalu.

Bagi kalian yang penasaran ingin mendengarkan lagu Nazar Palagan, silahkan unduh secara gratis dan legal di sini.

Untuk menjaga kelestarian band-band yang kita sukai, belilah CD dan merchandise yang asli.