Replace NURSUNG13
Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Thursday, April 10, 2014

Ketika si Nuris bikin KTP

Ketika genap berusia 17 tahun pada Februari lalu, Ayah saya langsung buru-buru nyuruh saya ngurus KTP. Awalnya saya gak mau, tapi belakangan akhirnya saya ketahui bahwa KTP itu bukan Kartu Titit Pengkor, melainkan Kartu Tanda Penduduk.

Setiap Ayah saya bilang, "Nanti kalo ada waktu luang jangan lupa ngurus KTP ya.", saya selalu menjawab, "Iya, nanti." Sampai berjuta-juta abad kemudian, baru lah saya sadari bahwa KTP harus segera diurus. Kalo nggak katanya bisa menyebabkan impotensi. (?) Karena saya selalu menunda-nunda untuk segera berkunjung ke rumah Pak RT (Bukan. Bukan mau ngapelin Pak RT), maka akhirnya Ayah saya yang turun tangan seorang diri untuk ngapelin minta surat pengantar ke Pak RT. Dan ternyata jawabannya mengecewakan. Menurut Pak RT, KTP itu harus sesuai dengan alamat yang ada di Kartu Keluarga. Sedangkan alamat yang tertera di Kartu Keluarga saya itu di rumah nenek saya di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Itu artinya saya harus kembali berpetualang menunggangi kuda tercinta yang merupakan jenis kawin silang antara bus APTB dengan kambing milik Pak RT. Tjakep.

Seminggu sebelum UN, kami anak-anak kelas 12 benar-benar sedang mengalami masa-masa dimana kami terlalu bingung untuk melakukan sesuatu. Pengen nyantai-nyantai untuk me-refresh otak, malah dibilang "Mau UN bukannya belajar, malah nyantai-nyantai." Giliran mau belajar serius, malah dibilang "UN jangan terlalu dipikirin, dibawa santai aja." Hal itulah yang membuat kami para pendekar penakluk soal UN merasa galau. Mau ini salah, mau itu salah. Daripada puyeng mendingan ngurus KTP ye kan? Akhirnya saya memutuskan untuk melahirkan KTP saya pada hari Selasa, 8 April 2014. Sebenernya, hari itu gak libur. Tapi daripada jadi gelandangan di sekolah, jadi mending meliburkan diri. Toh bolos dengan niat mengurus KTP demi masa depan yang cerah dan gemilang, gak jadi masalah ye kan? Selain bercengkrama dengan Pak RT dan Pak Lurah, pada hari itu juga saya berniat untuk mendaftarkan diri ke Universitas Bung Karno. Secara, calon mahasiswa Komunikasi dengan masa depan yang cerah dan gemilang gitu loh.

Seperti biasa, petualangan saya selalu diawali dengan bunyi alarm. Kali ini saya bangun jam 4 pagi karena saya ingin KTP dan pendaftaran Universitas Bung Karno harus beres hari itu juga. Pukul 05:00, saya berangkat meninggalkan rumah tercinta dengan bekal uang, hape, iPod, fotokopi akte kelahiran dan KK, baju dan celana untuk nginep di rumah nenek, rantang, tiker, kasur, tenda, kayu bakar, piring, gelas, cobek, dispenser, dan keperjakaan. Lalu dengan celana jins buluk, kaos Noxa, sepatu Converse jamuran, dan tas gemblok, saya melangkahkan kaki dengan kegagahan maksimal.

Setelah hampir gila karena menikmati macetnya Ibukota di hari kerja, saya sampai di rumah nenek jam 08:00. Ya. Tiga jam perjalanan. Ralat : Tiga jam perjalanan sambil berdiri di bus APTB karena harus ngalah sama mbak2 kantoran yang makeup-nya setebel lemak babi itu. Lalu saya langsung di antar oleh tante saya menuju rumah Pak RT setempat untuk meminta surat pengantar. Sesampainya disana, saya terkejut sekaligus prihatin melihat kondisi rumah Pak RT yang bernama Dullah itu. Rumah kecilnya terletak di pinggir rel kereta dan bersebelahan dengan kandang kambing. Suasana kumuh dengan bau kambing yang menyengat benar-benar menggetarkan hati saya. Dan ironisnya, rumah Pak Dullah terletak hanya beberapa meter dengan sekumpulan apartment mewah beserta mal-mal nya yang juga menawarkan kemewahan kepada kaum borjuis konsumtif yang hanya mementingkan hasrat bermewah-mewahnya. Jakarta sungguhlah kontras.. Dan tragis.. Pak Dullah, semoga Allah SWT melancarkan rezekimu :)

Oke, bek tu de faking topik. Kata Pak Dullah, saya telat ngurus KTP nya. Seharusnya, ngurus KTP yang bener itu sebelum ulang tahun ke-17 jadi ketika genap berusia 17 tahun, udah bisa megang KTP-nya. Sedangkan saya yang ganteng ini, ngurus KTP ketika hampir 2 bulan setelah berulang tahun ke-17. Tapi syukurnya kata Pak Dullah, masih bisa diusahakan. "Ini masukin dulu data KK sama Akte-nya nanti sore atau malem, kesini lagi aja." Kata Pak Dullah dan saya hanya bisa berterima kasih dan kembali ke rumah nenek untuk ngaso. Sekitar 3,5 jam saya tidur-tiduran, pada pukul 12:30 setelah makan siang, saya kembali melanjutkan petualangan saya ke Universitas Bung Karno. Rute perjalanan saya dari rumah nenek ke Universitas Bung Karno sama persis seperti rute perjalanan ayah saya dulu ketika berkuliah Universitas Pancasila karena kedua universitas tersebut sama-sama terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dua hari lalu, ayah saya memberi tahu angkutan umum apa saja yang harus saya bajak naiki. Pertama angkot menuju Karet, sesampai disana, saya menunggu bus 213 jurusan Grogol - Kampung Melayu seperti yang diinformasikan oleh ayah saya. Namun ketika menunggu di halte Karet, yang paling banyak lewat itu metromini 640 yang melintas hampir setiap semenit sekali. Saya sudah hampir muntah-berak karena bosen ngeliat metromini 640, namun setelah kurang lebih 30 menit membusuk di halte Karet, akhirnya dari kejauhan nampak sebuah bus berwarna putih, bernomor 213, dan bertuliskan "Grogol - Kampung Melayu". Dengan kebahagiaan tiada tara, saya menaikki bus tersebut dan sambil nyengir. Saya harus berdiri karena seluruh tempat duduk penuh. Maka saya pun berdiri sambil menjaga keamanan hape dan dompet tercinta dari tangan-tangan liar Ibukota. Lalu lintas di Jalan Jendral Sudirman menuju Jalan MH. Thamrin tidak begitu padat sehingga bus tersebut dapat sampai di Bundaran HI hanya dalam waktu beberapa menit dan bisa langsung belok menuju Jalan Pangeran Diponegoro. Karena keesokan harinya Pemilu Legislatif, ketika bus tersebut melintasi gedung KPU, sempat 'bersilaturahmi' dengan kemacetan karena banyaknya mobil pers yang parkir di penjuru jalan. 10 menit kemudian, saya turun di depan bioskop Metropole dan berjalan kaki menuju rektorat Universitas Bung Karno yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur No. 17. Saya masuk ke dalam ruangan Pendaftaran Mahasiswa Baru dan bertemu dengan seorang pria berumur sekitar 60 tahunan dan seorang mbak-mbak berjilbab berumur sekitar 25 tahunan yang cukup membuat saya 'gelisah'.

"Assalamu'alaikum. Pak, saya mau beli formulir untuk pendaftaran mahasiswa baru." Tanya saya kepada pria-60-tahunan tersebut.
"Oh iya silahkan. Ini boleh diliat dulu perincian biaya untuk kelas karyawan."
"Saya mau ambil kelas reguler, Pak."
"Oh masih sekolah toh? Saya kira udah kerja. Tampang karyawan soalnya."
"........"

Setelah berkepo-kepo ria mengenai Universitas Bung Karno dengan pria-60-tahunan tersebut, saya menyerahkan uang sebesar Rp. 250.000 untuk membeli formulir. Seperti yang dikatakan oleh si pria-60-tahunan, syarat-syarat pendaftaran Universitas Bung Karno adalah : Fotokopi ijazah SMA yang telah dilegalisir, pas foto, fotokopi akte kelahiran, dan surat bebas narkoba. Sambil menunggu kwitansi pembayaran, kini giliran si mbak-25-tahunan yang nanya-nanya saya.

"Kamu sekolah dimana?"
"SMA Negeri 2 Gunung Putri, Mbak."
"Wah jauh juga ya. Kesini sendiri? Naik apa?"
"Naik perahu cinta kita berdua."

Dan si muka si mbak-25-tahunan pun memerah. Sambil melotot. Saya cuma nyengir kuda.

Setelah pembayaran formulir sudah beres, saya berkunjung ke kampus Universitas Bung Karno yang terletak di Jalan Kimia No. 20. Saya kembali berjalan kaki menuju calon kampus tercinta. Sebelum sampai di kampus, saya melintasi pusat lasik mata yang juga terletak di Jalan Kimia, dan yang membuat saya nyengir bahagia adalah buanyaknya penjual berbagai macam jenis makanan dan jajanan. Dan 'surga-dunia' tersebut terletak hanya beberapa langkah dari kampus. Tjakep. Lalu saya berjalan memasuki gerbang Universitas Bung Karno dan waktu menunjukkan pukul 14:00. Rupanya kelas pagi sudah selesai dan hanya terdapat beberapa mahasiswa yang sedang asyik mengobrol di berbagai penjuru kampus : Musholla, parkiran, tangga, dsb. Ketika saya ingin melihat-lihat kelas fikom yang terletak di lantai 2, saya menaikki tangga dan berpapasan dengan beberapa mahasiswa. Mereka terlihat berbisik-bisik ketika melihat seorang pria-ganteng-berwajah-timur-tengah-berkaos-noxa yang sedang menaikki tangga dengan tampang cool maksimal. Ya. Mungkin mereka pikir saya mahasiswa pindahan. Saya melihat-lihat hampir semua kelas fikom, dan ternyata kelas di kampus itu tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Kelas di kampus itu ternyata lebih menyerupai kelas di tempat les : tidak terlalu besar dan dingin. Setelah puas melihat-lihat, saya turun ke bawah dan kembali nyengir. Banyak terdapat wanita cantik berkaca mata yang cukup menggugah selera. Ketika melihat wanita-wanita tersebut, saya langsung teringat dengan Karla Sekar Arum, seorang crew DahSyat yang saya temui di Studio RCTI 2 minggu sebelumnya. Ya. Karla sempat membuat saya susah tidur selama beberapa hari.

Saya meninggalkan kampus tersebut pada pukul 14:30 dan berjalan kaki (lagi) melewati Kedutaan Besar Sri Lanka menuju halte Megaria untuk menunggu bus 213. Alhamdulillah, ketika saya baru saja duduk di halte, bus tersebut sudah menunjukkan batang hidungnya. Dengan hati yang bahagia, saya menyetop dan menaikki bus tersebut. Tapi sayangnya saya kembali harus berdiri. Perjalanan lancar hingga pada saat bus memasuki Jalan Jendral Sudirman, saya stres. Perpaduan antara teriknya panas matahari yang menyengat dengan kemacetan yang luar biasa, benar-benar membuat saya galau maksimal. Bus tersebut benar-benar berjalan seperti keong hingga akhirnya saya bisa turun di Karet. Ketika saya keluar bus, saya tambah galau karena teriknya panas matahari yang membuat saya pusing. Terlihat tukang es cendol di kejauhan dan saya langsung berlari menghampirinya. "Atu, bang!" Dan 30 detik kemudian saya sudah bisa menikmati segelas es cendol yang nikmatnya tiada tara ketika diminum di siang bolong. 20 menit kemudian, saya sudah kembali berada di rumah nenek saya. Pada malam harinya, saya kembali ke rumah Pak Dullah untuk menanyakan nasib KTP saya, dan jawabannya bikin saya galau. Ketika dicek di kelurahan, NIP (Nomor Induk Penduduk) saya yang seharusnya tertera di KK, ternyata tidak terdaftar. Ini berarti Ayah saya harus membuat KK baru dengan NIP. Maka dengan ini, rencana kelahiran KTP saya pada hari ini, telah resmi gagal.

Terimakasih.

Wednesday, June 19, 2013

Godzilla : 20th Years of Aggression




The Official Flyer
Perjalanan saya waktu itu dimulai dengan saya membeli sebotol jus jeruk di sebuah mini market di dekat rumah saya. Suatu pagi dengan cuaca yang cukup panas, saya awali dengan menaikki angkot jurusan Cileungsi. Waktu menunjukkan pukul 09.20 WIB saat saya berada di dalam angkot tersebut. Sebuah perjalanan yang cukup panjang dari Ciangsana, Bogor, menuju Bulungan, Jakarta Selatan akan saya hadapi dengan teriknya panas matahari dan playlist album “Perang Neraka Bumi” dari Dead Vertical melalui iPod yang saya simpan di kantong jins saya. Saya akan mendatangi sebuah acara bertajuk “Godzilla : 20th Years of Agression” yang merupakan acara perayaan ulang tahun ke-20 dari band death metal ibukota bernama Godzilla yang diadakan di Bulungan Outdoor. Mendatangi acara tersebut sudah saya rencanakan bersama teman-teman dari band hardcore saya Hatred dari satu bulan sebelumnya. Maka dari itu saya sudah menyusun rencana rute angkutan umum dari rumah saya di kawasan Ciangsana menuju Bulungan. Pilihan yang jatuh kepada sebuah bus jurusan Cileungsi – Blok M yang sebelumnya pernah melintas di depan saya ketika saya berangkat ke studio latihan.

Tepat pukul 10.00 WIB, saya menapakkan kaki di prapatan Cileungsi untuk menunggu kehadiran sang bus. 30 menit berlalu dan bus itu belum terlihat, lalu saya membeli sebotol jus jeruk lagi mengingat panasnya cuaca dan saya hanya ditemani oleh topi loreng milik ayah saya. Botol jus jeruk itu sudah habis 15 menit yang lalu, dan bus itu belum melintas juga. Saya bertanya ke sebuah pedagang asongan tentang eksistensi bus keparat tersebut, dan beliau menjawab bus tersebut melintas hanya 2 jam sekali, dan bus tersebut baru berangkat sekitar jam 10. Damn! Jadi ketika saya turun dari angkot, bus tersebut baru mengangkat jangkar. Saya melakukan brainstorming selama beberapa saat, dan setelah Departemen Pengambil Keputusan di otak saya sudah memberikan hasil rapat selama 5 menit, saya memutuskan untuk menaikki angkot 121 jurusan Cileungsi – Kampung Rambutan yang melintas setiap saat.

15 menit kemudian angkot tersebut memasuki pintu tol Cibubur dan hanya 15 menit dari pintu tol Cibubur, angkot tersebut sudah berhenti di sebuah tempat bertuliskan “Terminal Kampung Rambutan”. Saya membeli sebotol air mineral untuk membasahi kerongkongan dan menunggu bus jurusan Kampung Rambutan – Blok M. Alhamdulillah, tepat di saat botol air mineral tersebut kosong, bus yang saya tunggu-tunggu itu melintas dan berhenti di depan wajah saya. Tanpa ragu, bus kosong tersebut saya tumpangi dengan hati yang lega. Selama perjalanan, bus tersebut hanya ditumpangi oleh segelintir orang yang naik-turun sepanjang perjalanan. Memang perjalanan tersebut sangat panjang dan dihiasi dengan kemacetan ibukota sehingga perjalanan tersebut benar-benar terasa abadi. Kramat Jati, Cililitan, Kalibata, dan Mampang menjadi daerah-daerah yang saya lintasi di bangku panjang di bagian belakang bus tersebut. Setelah kurang lebih sekitar 2 jam duduk di bus tersebut, akhirnya saya menapakkan kaki di terminal Blok M dan berjalan kaki sepanjang sekitar 100 meter menuju Gelanggang Remaja Bulungan atau yang lebih dikenal dengan Bulungan Outdoor. Saat berjalan kaki santai tersebut, saya melintas tepat di depan SMAN 6 Bulungan dan terdapat banyak karangan bunga bertuliskan “Turut berduka cita atas meninggalnya Alawi” seorang siswa kelas X SMAN 6 Bulungan yang menjadi korban tawuran oleh siswa SMAN 70 Bulungan. Di dekat bundaran dengan patung tangan itu, terdapat sebuah spanduk putih yang berisi tulisan-tulisan tangan para siswa-siswi SMAN 6 dan 70 Bulungan yang menentang tawuran.  Ketika saya sampai di sebelah Gelanggang tersebut, saya mampir ke sebuah tempat soto ayam untuk mengisi perut. Semangkuk soto ayam, sepiring penuh nasi putih, dan segelas es teh manis tersebut berharga 12 ribu rupiah dan saya segera menuju ‘neraka jakarta’ itu.

Sudah mulai terdengar dentuman drum dan distorsi gitar yang menggelegar. Saya memasuki gerbang dan disitu terdapat banyak sekali metalhead ber-atribut hitam-hitam yang sedang menunggu gate dibuka, dan didepan gate banyak pula terdapat penjual kaos-kaos metal bertuliskan akar, emblem, stiker, dan poster metal. Saya menghampiri petugas di booth yang terletak di sebelah gate dan ingin membeli tiket. Dia berkata bahwa gate belum dibuka dan akan dibuka sekitar 30 menit lagi. Lalu, meningat 2 botol jus jeruk, 1 botol air mineral, dan 1 gelas es teh manis yang saya minum selama perjalanan, saya meminta izin untuk membuang air kecil, dan sang petugas berkaos Siksa Kubur tersebut mengizinkan saya masuk ke area stage dan menunjuk ke arah toilet. Setelah lega membuang air kencing, saya memutuskan untuk menghampiri stage dan duduk di sebelah kiri stage, tepatnya di sebelah ring tinju khas Bulungan Outdoor. Saya menyaksikan Paper Gangster yang sedang soundcheck sambil ber-Twitter ria. Setelah Paper Gangster selesai soundcheck, terdapat beberapa panitia yang naik ke atas panggung dan berkata “Yang bukan panitia, tolong keluar area stage. Terimakasih.” Mendengar perkataan itu, saya keluar area stage dengan penuh kesadaran diri. Waktu untuk menunggu gate dibuka saya gunakan untuk mencuci mata dengan kaos-kaos, stiker, emblem, dan poster yang mengunggah selera. Sayangnya, dompet saya ketika itu hanya berisi 60 ribu rupiah : 30 ribu untuk membeli tiket, dan yang 30 ribu lagi untuk persiapan pulang dengan selamat. Dengan sedikit rasa kecewa, tepat pukul 14.00 WIB, gate tersebut dibuka dan saya segera mengantri untuk membeli tiket seharga 30 ribu rupiah dengan bonus 2 stiker itu. 

Setelah saya masuk ke area Bulungan Outdoor, saya langsung duduk di sebelah kanan depan panggung bersama para metalhead berbaju hitam-hitam. Tak lama berselang, muncul seorang pria dengan celana loreng pendek dan kaos Noxa. Dia berkicau di atas panggung saat para penonton yang sedang duduk santai tersebar di seluruh area Bulungan Outdoor.  Dia adalah Allay Error sang MC. Dan disitulah pertama kali saya mendatangi sebuah acara yang dipandu olehnya. Setelah membaca dan menyebutkan sponsor yang mendukung acara tersebut, Lalu memanggil nama “Abgotter!” band pertama di acara tersebut. Sebuah band death metal asal Jawa Tengah yang sangat memprihatinkan. Bukan musik atau permainannya, namun hanya ada 4 metalhead yang moshing ketika mereka menggempur stage. Lalu band-band selanjutnya adalah band-band death metal serupa, namun mata saya tertuju pada Burn. Sebuah band hardcore Ibukota yang memiliki lagu-lagu yang apik untuk di-beatdown. Tak lama setelah Burn turun dari panggung, teman saya Shandy yang merupakan bassis dari band saya yang bernama Hatred, mengatakan lewat SMS bahwa dia dan temannya sudah ada di dalam area Bulungan Outdoor. “Oke” jawab saya lewat SMS pula. Lalu saya segera mencari Shandy ke bagian belakang sebagaimana yang dia beritahu kepada saya lewat SMS.


Dan munculah Shandy dengan kaos Outright dan seorang temannya yang bernama Andi. Setelah berjabat tangan, kami duduk di pinggir kiri di dekat tembok. Lalu saat mengobrol, teman saya yang bernama Bagus yang merupakan vokalis Hatred muncul di hadapan saya dengan kepala botak dan kaos Noxa. Ya, jika dilihat dari belakang memang sangat mirip dengan Tony sang vokalis Noxa, namun dengan tubuh yang lebih tinggi. Bagus datang bersama Eman, Kojel, dan Bang Ading yang merupakan saudara-saudaranya. Dan kami pindah ke bagian belakang dekat tembok untuk mengobrol. Ditengah asyiknya pembicaraan, terlihat seseorang bertubuh tambun yang tidak asing bagi saya dan teman-tema. Dia adalah Dipa yang baru keluar dari toilet, sang bassis dari band grindcore Ibukota, Noxa. Noxa menjadi salah satu headliner dalam acara tersebut. Sekitar pukul 16.30, Allay Error meneriakan nama “Aaarghhh!” sebuah band dengan nama yang cukup aneh untuk diucapkan. Mereka adalah band death metal yang lagunya cukup asyik untuk di-headbang. Penampilan mereka sangat eksentrik. Terbukti saat sang vokalis melilitkan ular cobra kesayangannya saat bernyanyi dengan tanpa kaos, dan saat jeda di antara satu lagu dan lagu selanjutnya, ia berkata “Woi yang duduk bangun dong, pokoknya yang gak berdiri berarti kalian gak punya k*ntol!”. Tanpa ragu-ragu saya berdiri demi membuktikan kejantanan saya. Setelah Aaarghhh! tampil, sang MC Allay Error memanggil nama “Invictus!”. Mendadak hampir semua metalhead yang duduk berdiri dan merapat ke depan panggung. Saya bertanya-tanya “Apa spesialnya band ini?” lalu saya pun ikut merapat ke depan panggung. Dari lagu-lagu yang mereka bawakan, saya bisa meng-identifikasi bahwa mereka adalah band ber-genre progressive death metal dengan sedikit nuansa oldschool death metal­ yang terdengar seperti Death atau Atheist. Personilnya terlihat sudah berumur dan kebanyakan dari mereka berwajah timur tengah.

Adzan berkumandang, acara tersebut break, dan saya segera melaksanakan sholat Maghrib. Saat saya kembali ke area panggung, ternyata giliran Umbra Mortis yang sedang menghibur para penonton yang sedang beristirahat dengan lagu-lagu power metal nya. Terdengar nuansa Dragon Force dalam musik yang mereka bawakan. Setelah Umbra Mortis selesai membuat penonton terpukau dengan suara melengking sang vokalis, Allay Error memanggil nama “Dead Vertical!” dan saya segera merapat ke tengah dan berada di paling depan barikade. Band grindcore Ibukota tersebut memulai aksinya dengan lagu “Selamat Datang di Pantai Neraka” dan mendadak para metalhead di Bulungan Outdoor menggila, begitupun saya yang mulai ber-headbang. Lagu-lagu seperti “Washing The Red”, “Belantara Berdarah”, dan “Inti Petaka” menjadi setlist Dead Vertical pada malam itu. Penampilan mereka ditutup dengan lagu “Benteng Terakhir” yang berhasil menggerinda telinga para penonton. Setelah Dead Vertical, Allay Error kembali naik ke atas panggung, membacakan sponsor, dan memanggil nama “Paper Gangster!”. Sebuah band hardcore asal depok yang memiliki musik yang bernuansa negative hardcore dengan banyak di isi oleh ritem drum grinding.metalhead menggila. Siksa Kubur merupakan salah satu tujuan saya menempuh jarak kurang lebih 40 kilometer. Saat mereka menyiapkan alat tempurnya, saya memperhatikan Adit sang drummer, dan saat ia melihat wajah saya berada di depan barikade, ia menyapa saya dengan salam 2 jari metalnya. Sebelumnya saya pernah bertemu dengan beliau di kantor ayah saya saat saya menjadi pengisi acara Drums Day 2012 di Chic’s Musik. Penampilan Siksa Kubur dibuka dengan suara rekaman puisi yang dibacakan oleh Man sang vokalis Jasad, yaitu lagu “Burung Bangkai” yang berhasil menyihir saya dan ratusan metalhead lainnya dengan lagu berdurasi 10 menit itu. Lagu kedua adalah “Merah Hitam Hijau” sebuah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Rio Rottrevore sang pemilik record label untuk para band death metal tanah air, Rottrevore Records.
The fucking crowd in the fucking pit!
Saya tidak tahu lagu-lagu mereka, namun ternyata mereka berhasil membuat kepala saya mengangguk-angguk.
Dead Vertical on the fucking stage!
Setelah Paper Gangster, kini giliran Siksa Kubur untuk membuat para
Siksa Kubur on the fucking stage!
Beberapa lagu kemudian, terdengar lagu dari album “Tentara Merah Darah” yang berjudul “Memoar Sang Pengobar”. Dan penampilan mereka ditutup dengan lagu lawasnya yang terdapat pada album “Eye Cry” yang dirilis pada tahun 2003, yaitu “Renounce Me”. Dengan berakhirnya penampilan Siksa Kubur yang berhasil menghipnotis para penonton, maka saya pun harus pulang meninggalkan acara tersebut. Sangat disayangkan saya tidak dapat menyaksikan Noxa, Panic Disorder, dan band yang mempunyai hajat tersebut Godzilla karena saya khawatir sudah terlalu larut untuk naik bus di daerah Blok M. Setelah berpamitan kepada Shandy, Andi, Bagus, Eman, Kojel, dan Bang Ading, saya pun berjalan kaki menuju terminal Blok M dan menaiki bus Patas AC jurusan Blok M – Bekasi. Waktu menunjukkan pukul 21.10, lagu-lagu Dead Vertical dan Siksa Kubur masih terngiang di otak saya hingga bus sampai di kawasan Semanggi dan memori-memori indah tersebut mulai hancur termakan rasa kantuk, lalu saya tertidur pulas.

Sunday, April 7, 2013

Back Fest 2013 : Bekasi Festival Indie Moment 2013

Flyer resmi "Back Fest 2013 : Bekasi Festival Indie Moment"

Guyuran hujan yang cukup deras menemani perjalanan saya waktu itu. Perjalanan menuju sebuah gedung bernama KNPI di daerah Cibinong. Saat itu saya bersama band deathcore bernama Blessed Of Curse, salah satu dari 3 band yang saya jalani waktu itu. Saat itu tujuan kami adalah menggetarkan Gedung KNPI dengan 2 lagu yang akan kami bawakan. Sedangkan tujuan saya adalah : menggetarkan Gedung KNPI dengan 2 lagu yang akan saya mainkan, makan, cepat-cepat pulang ke rumah, dan berangkat ke Bekasi Square untuk menyaksikan Burgerkill, Seringai, Rajasinga, The S.I.G.I.T, dan sekumpulan band-band cadas lainnya. Ya, acara bertajuk “Back Fest 2013” tersebut jatuh pada tanggal 17 Maret 2013 dan bertepatan dengan hari dimana saya harus manggung dengan Blessed Of Curse di Cibinong. Namun syukur Alhamdulillah, Tuhan berbaik hati kepada saya. Blessed Of Curse mendapat giliran main jam 15.30 yang tertera pada rundown acara tersebut.

Tepat pukul 15.00 saya dan teman-teman menapakkan kaki kami di parkiran Gedung KNPI. Dengan kaos basah yang mulai mongering, kami masuk ke dalam gedung tersebut dan ternyata sedang ada pemadaman listrik. Acara belum dimulai. Saya sempat putus asa karena kemungkinan Blessed Of Curse akan main lebih akhir, namun Tuhan lagi-lagi berbaik hati kepada saya. Tepat pukul 15.45 nama “Blessed Of Curse!” diteriakkan oleh sang MC. Tanpa basa-basi saya segera memasang double pedal dan menggoyah panggung dengan lagu pertama, kami meng-cover sebuah lagu dari Revenge The Fate berjudul Ambisi. Dilanjutkan dengan lagu ciptaan Blessed Of Curse berjudul Resah Jiwa. “Jeeeet..” kurang lebih seperti itu lagu Resah Jiwa berakhir dan saya pun bergegas turun dari panggung. Setelah membereskan double pedal, saya dan Anggi sang basis pamit kepada teman-teman yang lain dan panitia acara tersebut. Mengingat bunyi perut kami yang keroncongan, kami memutuskan untuk memakan sepiring ketoprak di parkiran Gedung KNPI sebelum berangkat. Setelah kenyang, Anggi mengeluarkan motor dari barisan parkir dan membonceng saya. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, tapi kami lewati dengan berbagai topik pembicaraan.

Jam menunjukkan pukul 17.35 saat saya menapakkan kaki dirumah. Saya hanya menaruh tas double pedal dan dalam 5 menit saya kembali menerjang aspal dengan angkot. Perjalanan dari rumah saya ke Bekasi Square memakan waktu satu jam dengan satu kali pergantian angkot. Istilahnya saya mempertaruhkan nyawa demi menyaksikan konser ini. Karena kesempatan menonton konser dengan pengisi acara seperti band-band cadas tersebut di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah merupakan sebuah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan. Sebelumnya saya sudah 2 kali menyaksikan Burgerkill. Yang pertama pada saat pensi SMAN 54 Jakarta di Hall Basket Gelora Bung Karno dan yang kedua pada saat acara Hai Day di Parkir Timur Senayan. Kedua tempat tersebut sama-sama berada di Senayan yang merupakan daerah yang tergolong jauh dari rumah saya.

Ketika angkot saya melewati pom bensin yang terletak disebelah Bekasi Square, terlihat sorotan lampu dari atap mall tersebut. Sebuah acara yang menggunakan lampu sorot merupakan acara yang tergolong meriah. Maka saya beruntung dapat sampai di Bekasi Square tepat pada waktunya. Saat itu pukul 18.55 ketika saya memasuki pintu timur Bekasi Square. Saya sedikit bergegas karena saya tidak mau ketinggalan aksi dari Rajasinga. Karena mereka mengatakan akan main sehabis maghrib melalui akun Twitter nya @grindcoresinga. Rajasinga adalah salah satu alasan mengapa saya pergi ke acara tersebut. Maka saya setidaknya ingin menyaksikan mereka walaupun hanya satu lagu terakhir. Ketika saya hendak menaiki eskalator, saya berpapasan dengan dua orang teman saya yang merupakan vokalis dan gitaris dari band hardcore saya yang bernama Hatred. Memang sebuah kebetulan yang menyenangkan. Acara Back Fest diadakan di rooftop atau atap dari mall Bekasi Square. Maka kami menaiki eskalator beberapa kali hingga kami sampai di lantai teratas dari mall tersebut. Kami tidak tahu tepatnya jalan menuju kea tap tersebut, namun syukur ada beberapa metalhead berbaju logo-logo berakar dari band-band death metal lokal. Jadi kami mengikuti mereka ke arah parkiran dan disebelah kanan parkiran ada sebuah tanjakkan menuju atap tersebut.  Semakin kami menanjak mengikuti jalan tersebut, semakin ramai orang-orang dengan penampilan underground. Keramaian dan samar-samar suara band yang sedang di atas panggung benar-benar membakar semangat kami waktu itu. Akhir dari tanjakkan tersebut adalah sebuah tenda bertuliskan “Ticket Box”. Saya merogoh kantong dan mengeluarkan 35 ribu rupiah untuk membeli tiket acara bertajuk “Bekasi Festival Indie Moment 2013” tersebut.

Sesampai kami di gate, tiket kami disobek oleh penjaga gate tersebut. Rupanya band yang sedang tampil adalah Besok Bubar. Sebuah band yang terdengar asing bagi saya, namun ternyata mereka memiliki massa yang cukup ramai. Tanpa ragu kami langsung melewati pit dan menuju ke barisan paling depan yang berada di belakang barikade. Lagu-lagu seperti “Besok Mati” dan “Pahlawan Bertopeng” menjadi songlist mereka saat itu. Besok Bubar mengakhiri penampilan mereka dan seorang laki-laki yang tidak asing bagi saya naik keatas panggung dengan microphone di tangan kanannya. Ya, dia adalah MC sejuta umat yang bernama Allay Error didampingi oleh Olla dari Funteenlicious. Saya cukup kecewa karena saya tidak sempat menyaksikan Rajasinga. Rasa kecewa itu hilang ketika Allay dan Olla sang MC berteriak “Rajasinga!” dengan lantang. 

Tuhan berbaik hati kepada saya karena ternyata Rajasinga main setelah Besok Bubar. Lagu Rajagnaruk yang di-remix diputar oleh sang operator mixer dari belakang panggung. Trio grindrock tersebut naik ke panggung secara bergantian. Ketika personil sudah lengkap dan lagu remix Rajagnaruk berakhir, lagu “99% THC 1% Skill” menjadi lagu pembuka untuk penampilan Rajasinga pada malam itu. Kebahagiaan yang saya rasakan saya salurkan dengan sedikit aksi headbang. Dilanjutkan oleh lagu “Kokang Batang” dan yang ketiga “Dilarang Berbisa” yang benar-benar memicu adrenalin saya pada malam itu. Lagu-lagu selanjutnya adalah “Good Shit 4 Good Friend”, “Rajagnaruk”, “Anak Haram Ibukota”, dan “Angkasa Murka”. Dengan perasaan puas, berakhirlah penampilan dari Rajasinga.

Allay dan Olla kembali naik ke atas panggung untuk berkicau sementara Seringai sedang mempersiapkan alat-alat ‘perang’ mereka. Setelah beres, “Seringai!” teriak Allay dan Olla. Satu persatu personil band beraliran High Octane Rock tersebut naik ke atas panggung.  Arian 13 sang vokalis berjalan ke bagian paling depan panggung dan berkata “Dilarang Di Bandung!” sebuah lagu pembuka penampilan mereka malam itu. Kebetulan saya tidak terlalu hafal lagu-lagu Seringai, jadi saya hanya menikmati penampilan mereka dengan menangguk-anggukkan kepala. Akal bulus saya muncul ketika saya ingat bahwa saya menyimpan beberapa lirik lagu-lagu Seringai di ponsel saya. Syukurlah akhirnya saya bisa ber-sing along ria bersama Arian 13, Ricky Siahaan, Sammy Bramantyo, dan Edy Khemod. Lagu-lagu seperti “Citra Natural”, “Fett Sang Pemburu”, “Tragedi”, “Program Party Seringai”, dan “Serigala Militia” menjadi lanjutan lagu pembuka “Dilarang Di Bandung”. Dan pada lagu terakhir Arian 13 men-direct crowd dengan 2 kata yang diulang-ulang “Individu, Individu Merdeka”. Seakan seluruh orang yang berada di rooftop Bekasi Square menyanyikan kalimat tersebut , termasuk saya. Ya, lagu “Mengadili Persepsi” menjadi lagu penutup untuk penampilan Seringai di Back Fest 2013.

Band selanjutnya adalah The S.I.G.I.T. Namun seperti biasa, sebelumnya di awali dengan kicauan-kicauan maut dari sang MC Allay dan Olla. Setelah semuanya siap mereka kembali meneriakkan nama band yang akan tampil “The S.I.G.I.T.!”. Ini adalah kali kedua saya menyaksikan quartet hard rock asal kota Bandung tersebut. Yang pertama pada saat acara Hai Day. Namun saat itu saya masih benar-benar tidak pernah mendengar satu lagu pun dari The S.I.G.I.T. Syukurnya, pada saat Back Fest saya sudah mulai mendengarkan lagu-lagu mereka walaupun hanya “Black Amplifier” dan “Only Love Can Break Your Heart”. Ya setidaknya pada saat kedua lagu tersebut dimainkan saya bisa sing along sedikit-sedikit lah. Seperti pada saat saya menyaksikan mereka di Hai Day, mereka mengakhiri penampilannya dengan sebuah lagu dimana coda (coda adalah akhiran dari sebuah lagu) dari lagu tersebut diulang-ulang hingga beberapa kali. Merupakan sebuah penampilan yang sangat baik dari The S.I.G.I.T.

Lagi-lagi duo MC tersebut kembali berkicau seraya The S.I.G.I.T. membereskan alat mereka dan Burgerkill bersiap untuk menyiapkan alat ‘tempur’ mereka. “Burgerkill mainnya masih agak lama. Yang mau beli minum atau rokok silahkan mumpung Burgerkill masih menyiapkan alat-alatnya.” Kata sang MC Allay Error. Mendengar ucapannya, Saya tidak mau headbang dan sing along bersama Burgerkill dengan kaki dan kondisi fisik yang lelah karena menyaksikan band-band sebelumnya. Maka dari itu saya memanfaatkan waktu senggang tesebut untuk duduk di bawah barikade dan meluruskan kaki bersama para metalhead di samping kanan dan kiri saya.

Lampu-lampu di sekitar panggung mendadak berubah menjadi warna merah semua. Saya membangunkan tubuh dan berdiri karena saya tahu bahwa tidak lama lagi band bentukan tahun 1995 tersebut akan memecahkan gendang telinga saya dan para penonton lainnya. Tepat di samping kanan panggung, ada seorang lelaki yang penampilannya tidak asing bagi saya. Ya, dia adalah Eben sang gitaris Burgerkill sedang asyik menghisap batang rokoknya. Sebuah kebetulan, ketika saya memperhatikan dia, dia pun melihat saya dan memberikan saya sebuah salam ‘2 jari metal’. Tanpa sungkan saya membalas salam metalnya lengkap dengan senyuman. Mungkin dia mengenali wajah saya ketika 2 konser Burgerkill yang saya tonton, saya selalu berada di paling depan. Ditambah lagi, ketika Eben manggung di PRJ bersama Ring Of Fire, saya sempat menghampirinya dan meminta foto bersama. Ring Of Fire adalah band sampingan Eben bersama Fadly sang vokalis grup band Padi. Perlahan, terdengar suara intro awal sebuah lagu  yang tidak terlalu asing di telinga saya. Saya sepertinya pernah mendengar intro tersebut, namun Burgerkill tidak pernah memutar intro tersebut di 2 konser yang saya tonton sebelumnya. Seraya intro tersebut berkumandang, satu persatu personil naik ke atas panggung dimulai dengan Abah Andris sang penabuh drum. Dan disusul dengan Eben, Agung, dan Ramdan. Setelah menyapa crowd, tanpa basa-basi mereka langsung memainkan lagu pertama mereka.” Heal The Pain!” kalimat itulah yang saya teriakkan ketika Burgerkill memainkan lagu pembuka mereka. Alangkah bahagianya hati saya pertama kali melihat Burgerkill membawakan “Heal The Pain” secara live! Memang Tuhan berniat membahagiakan saya pada tanggal 17 Maret 2013 itu. Lalu Vicky sang vokalis naik ke atas panggung dan  langsung menyambar microphone “These hard days got me thinking to pass this never ending pain! Heal the pain! Take the pain away!”  kurang lebih seperti itulah penggalan lirik awal dari lagu “Heal The Pain” yang dinyanyikan Vicky, saya, dan ribuan penonton lainnya. Dengan berakhirnya lagu tersebut, saya pun menundukkan kepala dan menghela nafas dengan senyuman. Lagu kedua adalah “Laknat”. Lagu yang memang tidak terlalu familiar di telinga saya. Maka saya hanya menikmati musiknya tanpa sing along sambil mengistirahatkan tubuh. Selanjutnya adalah “Under The Scars” dan saya pun kembali dibuat menggila oleh 5 personil band asal Bandung tersebut. Dengan selesainya lagu “Under The Scars”, saya berniat untuk kembali menghela nafas. Tapi apa daya? Burgerkill kembali membawakan lagu favorit saya untuk yang pertama kalinya saya saksikan : “We Will Bleed!” Ya! Lagu yang menjadi judul film dokumenter band tersebut dikumandangkan dengan kemasan sound yang apik. “We are! We are from slum! Breed in blasphemy! We will bleed!” seperti itulah penggalan lirik “We Will Bleed” yang saya nyanyikan bersama Vicky sang vokalis dan ribuan metalhead Bekasi. Lagu-lagu selanjutnya saya nikmati dengan sing along dan sedikit headbang seperti “Shadow Of Sorrow”, “For Victory”, dan “House Of Greed”. Sebelum lagu terakhir dari Burgerkill, terdapat beberapa anak remaja berkaos merah naik ke atas panggung bersama kedua MC. Lalu, diputar sebuah video tentang tawuran antar sekolah yang memakan banyak korban. Saat video itu berakhir, sekumpulan anak-anak remaja tersebut saling bersalaman dan berpelukan. Lalu kedua MC tersebut mengucapkan terimakasih kepada kami para penonton, pamit undur diri, dan berteriak “Burgerkill!”. Ritem gitar “Atur Aku” dimainkan oleh Agung. Ya, “Atur Aku” menjadi lagu penutup penampilan Burgerkill dan acara Back Fest 2013. Saya pun kembali dibuat berteriak-teriak oleh mereka. Dan di akhir lagu, panitia acara Back Fest 2013 menyalakan kembang api yang berwarna-warni. Benar-benar acara yang sangat meriah dan bermodal besar. Setelah saya dibuat kagum oleh mereka, Burgerkill menyudahi penampilannya dan saya bersama teman-teman pergi meninggalkan pit acara tersebut. Masih terdengar suara kembang api dan lagu “Only The Strong” yang diputar oleh sang operator di belakang panggung.

Saya pamit kepada Bagus dan Agatha, mereka menjauh dan saya menaiki angkot bernomor 02. Saya melihat layar ponsel dan disitu tertera “23.33 PM”. Penggalan-penggalan lirik Burgerkill dan Rajasinga masih terngiang-ngiang di pikiran saya saat itu. Memang sebuah malam yang tak bisa saya lupakan. Namun semua perlahan berakhir termakan suara sepinya jalanan dan menjauhnya angkot dari Bekasi menuju Ciangsana.

Hai Day 2012

Flyer resmi "Hai Day Celebrating Youth 27-28 Oktober 2012"




Rupanya beberapa jam yang lalu Senayan diguyur hujan. Terbukti saat saya mengantri untuk membeli tiket masuk, tanah yang saya injak terasa lembab dan udaranya cukup sejuk. Ticket box tersebut berhadapan dengan kurang lebih 200 orang yang didominasi oleh pelajar dan saya berada di paling belakang diantara mereka. Jam casio g shock saya mengatakan bahwa saat itu pukul 17.30. Saya mengantri untuk tiket seharga 15 ribu sambil di iringi oleh penampilan dari Pee Wee Gaskins yang bercampur dengan lagu reggae yang diputar di dalam ticket box. Dengan perlahan-lahan saya dan "pasukan pengantri tiket" yang berada di belakang saya maju senti per senti hingga kami berhenti total saat sudah 5 meter di depan ticket box. Keringat dan oksigen yang menipis karena berjubel, mengalahkan udara sejuk yang saya nikmati saat baru sampai. Di kanan dan kiri saya terlihat remaja seumuran saya yang sedang asyik menikmati sebatang rokok. Dan setelah saya lihat ke belakang dan sekitarnya, hanya saya yang tidak merokok dan para wanita yang sedang di nodai paru-paru mereka oleh asap rokok sang pacar. Tidak jarang juga wanita seumuran saya yang menghisap rokok bersama para perokok wanita di sampingnya. Kesabaran para "pasukan pengantri tiket" mulai terbakar perlahan dan beberapa di antara mereka mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
'Ticket box nya tutup ya bang?' tanya seorang berkemeja merah.
'Gak tau deh, bisa jadi.' jawab saya sambil mendongakkan kepala untuk melihat ticket box. 
Dan ternyata benar, ticket box keparat itu tutup. Perjuangan saya selama 30 menit berdiri terasa sia-sia. 
'Iya bener bang tutup tuh. Kenapa ya?' tanya saya sambil menengguk sebotol air mineral.
'Kayaknya sih di dalem udah penuh. Takut rusuh kali kalo pada kedalem semua.'  jawab dia dengan sok tahu.
 Beberapa menit kemudian, ada seseorang berjaket biru datang dari arah gate menuju antrian,menemui temannya dan berkata 'Gua barusan tanya panitia, katanya ticket box gak akan dibuka karena di dalem udah penuh banget.'
Damn! ternyata perkataan si kemeja merah benar! 
Mendengar perkataan si panitia yang disampaikan, "pasukan pengantri tiket" mulai berteriakan.
'woy buka, anjing!' 'itu yang di dalem lagi boker ya?' kira-kira kata-kata sejenis itulah yang dilontarkan oleh para "pasukan pengantri tiket". Saya hanya bisa diam, berharap kebijakan dari panitia untuk membuka ticket box, dan menghabiskan sebotol air mineral yang saya beli seharga 5 ribu (ya, untuk event-event kaliber besar seperti Hai Day para pedagang asongan menaikkan harga minuman, rokok, permen hingga hampir 100%). Tinggal sedikit lagi kesabaran kami terbakar, namun akhirnya panitia membuka ticket box tersebut. Saat itulah saya benar-benar berjuang mempertahankan antrian saya. Karena orang-orang yang mengantri dibelakang saya berusaha untuk menyelak antrian dengan sikap kampungan mereka. Oh, tidak semudah itu, saya rela membodi mereka agar saya tetap berada pada antrian. 
10 menit kemudian saya berhadapan dengan sang penjual tiket dan saya memberikan 15 ribu rupiah kepadanya. Mereka pun memberikan saya sebuah majalah Hai sebagai tiket masuk. Untuk keluar dari "antrian neraka" tersebut pun memerlukan banyak keringat untuk dikuras. Dengan susah payah, akhirnya saya berhasil menghirup udara segar sejenak sambil memanjakan mata dengan melihat kaos-kaos metal yang dijual di luar gate.

Tepat jam 18.20, saya berhasil masuk ke dalam area Parkir Timur dengan tenang. Saya langsung tertarik untuk memotret 3 dinding grafiti yang di depannya terdapat 3 buah mobil Honda Brio baru yang dipamerkan (Honda Brio adalah sponsor utama acara Hai Day 2012).
Sudah puas mendapatkan beberapa foto di area grafiti, saya melancong ke arah Mini Jakcloth dengan membawa seekor kamera di tangan kiri saya. Ketika sedang melihat isi beberapa booth, seseorang memanggil nama saya. 'Nuris, sini deh.' Seorang pria bernama Eric yang merupakan teman SMP yang barusan memanggil saya. Ketika saya tersenyum dan hendak menjabat tangannya, dia pun menjabat tangan saya sambil menarik saya kearah taman tempat para pengunjung beristirahat. 'Lo bisa main metal kan?' tanya Eric dalam perjalanan menuju taman yang berada di belakang Mini Jakcloth. 'Uh, bi-bisa.' jawab saya dengan setengah bingung. Lalu sesampainya di taman tersebut, saya melihat 2 orang cewek dan 4 orang cowok termasuk saya dan Eric. Eric memperkenalkan saya dengan Filo, salah satu teman Eric yang sedang mencari seorang drummer untuk band metalcore-nya. Filo berkata bahwa dia sudah meng-add akun Facebook saya, tetapi saya sedikit lupa. Lalu, sambil mengobrol dengan Filo saya melihat Eric sedang menyalakan sebatang rokok dan saat saya melihat sekeliling, disitu juga terdapat satu teman SMP saya bernama Tangguh yang juga sedang merokok. Yes, they used to be non smokers when they were in Junior High School, tetapi saya tidak heran mengapa mereka sekarang menjadi perokok. Banyak teman SMA saya yang berkata bahwa mereka bukan perokok saat masih SMP, namun saat masuk SMA, mereka tergoda oleh pergaulan bebas yang ditawarkan pada masa-masa SMA. Dan saya sangat bersyukur bahwa (entah mengapa) ketika saya ingin mencoba merokok ataupun minum minuman beralkohol, saya seperti memiliki protektor di dalam hati saya yang selalu membisikkan saya untuk menghindarinya (gaya lu ris :p). Ok, back to the topic.
Tidak beberapa lama, terdengar suara MC di main stage yang memanggil nama Killing Me Inside, dan Eric segera pamit kepada saya, Filo,dan Tangguh untuk menyaksikan penampilan Killing Me Inside. Lalu saya melanjutkan perbincangan dengan Filo dan Tangguh selama beberapa saat hingga saya harus pamit kepada mereka untuk melaksanakan solat maghrib dan berniat untuk kembali ke taman tersebut. 
Saya bertanya-tanya kepada sejumlah security untuk mengetahui lokasi musholla, dan mereka mengatakan bahwa musholla terletak jauh di bagian belakang parkir timur. Tak apalah, sekalian memanjakan mata dengan sejumlah fasilitas yang disediakan oleh Hai Day termasuk area Crooz Ride With Pride, yaitu sebuah skatepark mini yang digunakan untuk kompetisi skateboard yang dilaksanakan pada siang harinya. Saat itu terlihat beberapa skater yang meluncur lihai dengan trik-trik mereka yang membuat saya terkagum sejenak. Tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 18.45, itu berati saya harus buru-buru menuju musholla agar tidak kehabisan waktu solat maghrib saya. Saat saya sampai di musholla, saya merasa prihatin melihat kondisi musholla yang kotor dan sepi, seakan-akan hanya dikunjungi oleh segelintir dari ribuan remaja yang datang ke acara itu. Tapi saya hanya bisa menggelengkan kepala, mengambil wudhu, dan solat.  

Setelah solat, saya berniat untuk kembali ke taman dan bertemu ketiga teman saya itu. Tapi, apa daya? Killing Me Inside lebih menarik perhatian saya, dan saya masuk ke area main stage dan berada di samping kanan di bagian tengah. Saya tidak familiar dengan lagu mereka, tetapi saya tetap merasa terhibur. Hingga mereka mencapai daftar lagu ke 6 yang berjudul "Biarlah". Tentu saja saya familiar dengan lagu ini, karena lagu Killing Me Inside yang video klip nya muncul di tv nasional hanya lagu ini. Dan yang saya pertanyakan adalah 'kenapa harus lagu "Biarlah" yang hanya "diledakkan" ke publik? apakah lagu "The Tormented" tidak cukup berkualitas untuk "diledakkan" ke publik?' Jawaban cukup sederhana, ini karena musik mainstream di dunia (bukan hanya di Indonesia) yang sedang hancur lebur dan mengalami krisis kualitas. Dan lagi-lagi saya melantur. hehehe Ok, back to the topic.
Pada lagu sebelumnya, hanya para fans Killing Me Inside dan segelintir orang awam yang melakukan sing along, tapi saat lagu "Biarlah" dimainkan, hampir semua orang yang di area Main Stage melakukan sing along. Bahkan saya pun terhipnotis oleh ritem groovy yang ditampilkan mereka dalam lagu "Biarlah". Jam saya berkata bahwa saat itu menunjukkan pukul 19.20 dan lagu "The Tormented" menjadi lagu penutup untuk penampilan Killing Me Inside di Hai Day 2012. Di akhir lagu "The Tormented", Onad mengucapkan terimakasih kepada penonton dan menyebutkan satu per satu anggota band-nya lalu mereka satu per satu melakukan solo instrumen. 

 "Jeeeet" berakhirlah penampilan Killing Me Inside. Beberapa fans Killing Me Inside keluar dari area Main Stage dan saya memanfaatkan momen ini untuk maju lebih ke depan. Setelah beberapa langkah, saya dikalahkan oleh para wanita fans Maliq & D'Essentials yang ingin berada depan barikade. Saya mengalah dengan senang hati, karena tujuan utama saya datang ke Hai Dai adalah untuk menyaksikan penampilan Burgerkill. Dan saya tau bahwa Burgerkill main setelah Sheila On 7. Kali ini crowd di dominasi oleh para remaja wanita yang sedang menanti kehadiran para personil Maliq & D'Essentials. Dan setelah beberapa iklan di putar di LED Screen yang juga berfungsi sebagai backdrop, Salah satu MC muncul dari belakang panggung. Dia memakai kacamata dengan frame tebal, topi, kaos, celana pendek, dan sepatu Vans. Ya, dia adalah Adit yang merupakan seorang mahasiswa jebolan universitas yang bernama "MTV Insomnia". Adit adalah seorang VJ yang selalu didampingi oleh sidekick-nya VJ Surya. Namun entah masalah apa, dia hanya muncul sendiri. Dan dia memanggil rekannya Ghofur, yang sedang berada di area drifting Honda Brio. Ghofur mencoba kelincahan Honda Brio, lalu Adit bertanya keunggulan Honda Brio kepada Ghofur. Ya, ini adalah bagian dari kewajiban MC untuk sang sponsor utama Honda Brio yang pasti men-support acara tersebut dengan dana maksimal. Lalu tak berapa lama, Ghofur naik ke atas stage dan mereka membacakan list sponsor dari acara tersebut, lengkap beserta list pengisi acara. Terlihat salah satu crew bolak-balik membawa perkusi dan timbalis ke atas panggung. Dan sambil menunggu persiapan alat-alat untuk Maliq & D'Essentials, MC pun berceloteh dengan bumbu komedi untuk menghibur penonton. Sekitar 30 menit kedua MC tersebut melawak, dan nama Maliq & D'Essentials pun dipersembahkan kepada penonton, lalu satu per satu personil muncul dari belakang panggung dan menyapa crowd. Saat 10 personil Maliq & D'Essentials (2 Lead Vokal, 2 Backing Vokal, 1 Perkusionis,1 Drummer, 1 Gitaris, 1 Bassis, 1 Saxophone, dan 1 Keyboardis) sudah berkumpul di atas panggung, suara teriakkan penonton wanita mendominasi area Main Stage. Ya, sambutan yang luar biasa untuk Maliq & D'Essentials. Lagu pertama yang berjudul “Penasaran” dimainkan dengan ritem funk dan sentuhan disko. Lalu mereka cukup familiar untuk telinga saya. Mungkin karena lagu-lagu dari Maliq & D'Essentials merupakan pelanggan tetap untuk daftar lagu yang diputar di radio-radio. Mereka memperkaya penampilan dengan koreografi pada bagian-bagian lagu tertentu yang membuat para penonton wanita menggila secara tiba-tiba. Setelah memainkan 2 lagu, sang vokalis memberi sambutan untuk penonton dan mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara acara. Lanjut lagu ketiga, lagu ini sangat familiar bagi saya. Karena sepertinya lagu inilah yang membuat Maliq & D'Essentials dikenal masyarakat. Ya, lagu ini berjudul “Dia”. Pada lagu keempat, lagu berirama disko dimainkan oleh mereka, lengkap dengan koreografinya. Dan lagi-lagi, para penonton wanita menggila dengan berjingkrak-jingkrak mengikuti ritem disko sang drummer. Saya pun tak kuasa menahan kepala saya untuk mengangguk-angguk mengikuti irama tersebut. Beberapa lagu yang saya gak tau judulnya dimainkan oleh Maliq & D'Essentials, hingga sampai pada suatu lagu yang mengingatkan saya kepada Ben Kasyafani yang sedang mengendarai motor dalam video klipnya. Lagu ini kalo tidak salah berjudul “Pilihanku”. Hampir semua yang berada di kawasan Main Stage melakukan sing along pada saat reff. Setelah “Pilihanku”, Maliq & D'Essentials pamit kepada penonton dan memainkan lagu terakhir mereka. Lagi-lagi saya gak tau judulnya. Dan Maliq & D'Essentials pun turun dari stage.

Adit dan Ghofur kembali mengambil alih perhatian penonton yang beberapa dari mereka mulai meninggalkan area Main Stage. Kesempatan ini kembali saya gunakan untuk maju lebih ke depan, agar pada saat Burgerkill ugal-ugalan di atas panggung, saya udah siap di barisan paling depan. Adit dan Ghofur kembali menyebutkan nama-nama sponsor yang mendukung Hai Day serta lineup band yang sudah dan akan tampil. Sambil menunggu Sheila On 7 mempersiapkan alat tempur mereka, sang duo MC menghibur penonton dengan lelucon-lelucon yang mengocok perut. Lalu beberapa saat kemudian, kuis yang dipersembahkan oleh Nescafe dimulai. Adit dan Ghofur mencari penonton yang memiliki handphone paling jadul. Lalu ditemukanlah seorang laki-laki pelajar yang menggunakan handphone Nokia 3310. Dan sebagai hadiahnya, Adit dan Ghofur memberikan sebuah tas karton bertuliskan Nescafe yang saya gak tau apa isinya. Lalu akhirnya para crew telah selesai mempersiapkan senjata untuk Sheila On 7. Adit dan Ghofur memanggil nama mereka dengan berbarengan “Sheila On 7!”. Satu per satu personil Sheila On 7 naik ke atas panggung, dan sama seperti band-band sebelumnya, mereka menyapa crowd. Lalu para penonton wanita kembali menggila saat Duta sang vokalis muncul dari belakang panggung, dan menyapa mereka. Huh, enak sekali jadi artis ya? Sudahlah, kembali ke topik. Tanpa basa-basi Eros memainkan ritem gitar lagu “Sahabat Sejati”. Sheila On 7 adalah salah satu band favorit saya saat berumur 3 tahun. Jadi gak heran kalo saya ikutan nyanyi, itung-itung mengenang masa kecil lah. Lagu pertama selesai dan hanya jeda beberapa detik, Eros langsung memainkan “Seberapa Pantas”. Lagi-lagi saya sing along. Apalagi pada saat reff yang ritemnya nge-beat. Pada saat lagu kedua selesai ditunaikan, Duta memberi sambutan seperti vokalis-vokalis dari band yang tampil sebelumnya. Lagu ketiga kalo gak salah berjudul “Hujan Turun”. Saya gak tau lagu ini karena kata Duta ini adalah lagu dari album mereka yang dirilis pada tahun 2011. 2011? Saya udah gak ngikutin Sheila On 7 lagi. Wajarlah kalo saya hanya diam,bengong, dan mencoba menikmati lagu tersebut. Damn! Lagi-lagi lagu keempat berasal dari album baru. Saya kembali diam dan bengong. Hingga sampai pada lagu terakhir, yang merupakan OST dari film “30 Hari Mencari Cinta”. Lagu ini sangat meledak pada jaman saya SD (sekitar tahun 2004), dan lagu ini berjudul “Melompat Lebih Tinggi”. Lagu ini berhasil memicu adrenalin saya dan penonton lainnya untuk berjingkrak dan sing along. Lalu pada saat bagian interlude gitar, Eros berlutut dan menaruh gitarnya di belakang kepalanya. Tidak mau kalah, Duta pun melakukan stage diving atau melompat ke arah penonton. Cara mereka untuk menyelesaikan penampilan terlihat cukup unik, yaitu meninggalkan panggung secara bergantian. Dimulai dari Duta,Eros,Adam, dan terakhir Brian melakukan solo drum sejenak, lalu meninggalkan stage.

Berakhirlah penampilan Sheila On 7 dengan tepuk tangan bertubi-tubi yang diberikan penonton. Saya merasa bahagia karena saya pikir setelah Sheila On 7, yang akan tampil adalah Burgerkill. Karena saat duo MC kembali berceloteh, terlihat para crew men-set up drum milik Andris sang drummer Burgerkill. Lalu apa daya? Setelah kurang lebih 30 menit Adit dan Ghofur melawak, nama yang dipanggil adalah “The S.I.G.I.T”. Kali ini saya berada di barisan kedua dari depan barikade. Tampilan mereka sangatlah Rock n’ Roll dengan rambut gondrong, celana ketat, dan jaket kulit. Jujur saya belom pernah sama sekali mendengar lagu The S.I.G.I.T, jadi saya pun tidak terlalu bersemangat untuk menonton mereka. Saya hanya diam dan mencoba menyisakan energi untuk Burgerkill. Namun, orang-orang disekeliling saya terlihat seperti kerasukan setan saat menikmati lagu The S.I.G.I.T. Ada pula remaja pria setengah mabuk yang mendongakkan kepalanya dengan mata setengah terbuka dan menyanyikan potongan-potongan lagu The S.I.G.I.T. Tetapi saya salut dengan The S.I.G.I.T, karena walaupun musik mereka yang cukup sederhana, namun dengan power dan karisma masing-masing personil, The S.I.G.I.T mampu menyihir penonton untuk menggila selama 8 lagu. “Jeeeet” berakhirlah penampilan dari The S.I.G.I.T.

Beberapa penggemar The S.I.G.I.T yang berada di depan barikade satu per satu meninggalkan area main stage, dan merupakan sebuah kesempatan saya untuk berada di paling depan. Lagi-lagi duo MC tersebut kembali naik ke atas panggung dan melawak. Dan saat itu secara tidak sengaka saya melihat ke belakang untuk mengecek seberapa banyak penonton yang akan moshing pada saat Burgerkill menghajar panggung. Saya terkejut dengan ribuan orang-orang berkaos hitam yang mengambil alih crowd. Sempat terpikir oleh saya untuk ikutan moshing, tetapi mengingat banyaknya orang dan tragedi AACC, niat tersebut saya urungkan. Lalu saya melihat kaos saya yang juga berwarna hitam dan bertuliskan “Dead Vertical”. Ya, saya adalah bagian dari segerombol pasukan berkaos hitam tersebut. Satu per satu crew Burgerkill menyiapkan alat-alat para personil. Saat semuanya sudah siap, Adit dan Ghofur menyebutkan daftar pengisi acara untuk besok , pamit kepada crowd , dan mereka berteriak “Burgerkill!”. Abah muncul dari backstage menuju drumnya sambil menyapa crowd dengan salam metal dua jarinya. Begitupun dengan Ramdan, Eben dan Agung. Tak berapa lama, Agung memainkan ritem lagu “Atur Aku” dan Vicky sang vokalis muncul dari backstage dan menyapa crowd. Crowd mendadak menggila saat Andris memainkan beat oldschool punk pada intro lagu “Atur Aku”. Saya pun memanfaatkan momen tersebut untuk ber-headbang ria. “Satu langkah, kedepan dan tetap lurus. Panggil aku keras kepala dan bodoh.” Seperti itulah saya berteriak untuk sing along bersama para metalhead di samping kanan dan kiri saya. Setelah “Atur Aku”, Vicky sang vokalis berteriak “Under The fuckin’ Scars!” dan Agung kembali membakar penonton dengan ritem gitar “Under The Scars”. Saya dan ribuan penonton lainnya pun menggila dan headbang mengikuti dentuman sang drummer dan tak lupa untuk sing along. Beberapa lagu selanjutnya saya nikmati dengan cara yang hampir sama, yaitu headbang, sing along, dan istirahat sejenak. Beberapa lagu tersebut adalah “Penjara Batin”, “Shadow of Sorrow”, “House of Greed”, dan sisanya saya sedikit lupa. Yang saya ingat adalah lagu terakhir berjudul “Only The Strong” dipersembahkan oleh Burgerkill untuk saya dan ribuan metalhead lainnya. Dengan berakhirnya lagu tersebut maka berakhir pula acara Hai Day pada hari itu, dan dilanjutkan esok harinya dengan pengisi acara Seringai, Deadsquad, dll.
Dengan leher yang sakit karena headbang saya keluar dari area main stage dengan berjalan santai dan jam menunjukkan pukul 23.43 WIB. Sesampai saya disebuah gerobak penjual minuman, saya membeli sebotol air mineral dengan pita suara yang sudah hampir habis karena sing along beberapa waktu yang lalu. Memang sebuah malam yang sangat menyenangkan. Sempat terpikir oleh saya untuk kembali datang esok hari untuk menyaksikan Seringai dan Deadsquad. Namun, dengan kondisi tubuh saya saat itu tidak mengizinkan saya untuk kembali menyakiti leher dan menyiksa pita suara saya.