Saturday, August 2, 2014
SLIPKNOT - The Negative One (Song Review)
Slipknot kembali membombardir dunia dengan merilis single terbaru berjudul "The Negative One". Monster asal Iowa, AS tersebut kembali menginjeksi racutn metalnya setelah 6 tahun absen di dapur rekaman. Meninggalnya sang basis Paul Gray pada 2010 dan hengkangnya sang drummer Joey Jordison pada akhir 2013 rupanya tidak memadamkan sumbu eksistensi band metal yang didirikan pada 1995 itu.
Dirilisnya empat buah video teaser secara berkala yang masing-masing durasinya tidak lebih dari satu menit, menjadi indikasi kebangkitan Slipknot. Pada 1 Agustus 2014, sebuah lagu single berjudul "The Negative One" tersebut dirilis oleh Slipknot melalui situs resminya di slipknot1.com yang juga menginformasikan bahwa video klip dari "The Negative One" akan dirilis pada 5 Agustus mendatang dan sekaligus akan menjadi kemunculan Slipknot perdana dengan topeng dan dua personil baru.
Uniknya, dari keempat video teaser yang dirilis sebelumnya, masing-masing terdapat kalimat di caption-nya yang ternyata merupakan potongan-potongan lirik dari "The Negative One".
Dari segi aransemen musik, lagu tersebut memang terdengar seperti crossover antara album Iowa dan Vol. 3 : The Subliminal Verse, terlebih pada riff gitar dan beat drum yang mengingatkan kita pada lagu "Disasterpiece". Namun riff gitar pada lagu ini terdengar unik sehingga dapat menjadi nilai plus. Walaupun terdengar serupa dengan album Iowa, namun karakter vokal Corey Taylor yang berbeda dan banyaknya penggunaan sampling dan scratching pada lagu ini membuat Slipknot jauh lebih 'segar' dari sebelumnya.
Dari segi lirik, saya belum dapat menilai karena belum dirilisnya lirik lagu ini. Namun sepintas saya dapat mendengar potongan lirik lagu ini yang sepertinya bercerita tentang mengenang almarhum Paul Gray sang basis.
Secara keseluruhan, lagu "The Negative One" tergolong groovy, penuh dengan sampling dan scratching yang unik, dan pastinya brutal!
Identitas drummer dan basis pada album ini belum diketahui karena belum ada pernyataan resmi dari pihak Slipknot. Namun ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa drummer baru Slipknot adalah Jay Weinberg, seorang drummer muda yang juga merupakan mantan drummer dari band hardcore asal New York, Madball. Untuk Paul Gray, kemungkinan besar digantikan oleh Donnie Steele yang merupakan mantan gitaris Slipknot.
Siapapun personilnya, Slipknot akan selalu menjadi besar, brutal, dan Slipknot akan selalu menjadi Slipknot! Mari kita tunggu album barunya yang dipastikan rilis sebelum bulan Oktober mendatang!
Stay (sic)!
Monday, July 21, 2014
TARING - NAZAR PALAGAN Song Review (lyrics included)
Hengkangnya Hardy Rosady dari Outright rupanya tidak membuat vokalis tersebut kehilangan eksistensinya. Ia justru kembali eksis di scene hardcore Bandung dengan membentuk sebuah band bernama Taring bersama Gebeg dari Power Punk, Angga dari Asia Minor/Billfold, dan Ferry dari Turbidity. Keempat musisi kawakan tersebut baru saja merilis single perdana mereka yang berjudul Nazar Palagan via Grimloc Records.
Lagu tersebut dimulai dengan riff gitar Angga yang sederhana, namun heavy dan berpotensi membakar sumbu adrenalin para pendengar. Disambut oleh ritem groovy Gebeg dan Ferry yang sangat cocok dinikmati dengan cara melompat-lompat, terlebih lagi apabila dipandu oleh sang vokalis "Jump! Jump! Jump! Jump!". Selepas itu Gebeg melanjutkan dengan beat hardcore punk dan disambut oleh riff gitar Angga yang unik, tidak seperti riff hardcore punk pada umumnya. Lalu ketika giliran Hardy sang vokalis bernyanyi, karakter vokalnya terdengar agak mirip seperti Arian 13 vokalis Seringai. Vokal Hardy pada lagu ini sangat cadas dan mengagumkan, namun memang sangat berbeda dengan vokalnya ketika di lagu Judgement milik Outright, atau ketika berkolaborasi dengan Fraud pada lagu Faith. Pada bagian breakdown pun unik, tidak seperti band-band hardcore Indonesia pada umumnya yang pada bagian breakdown-nya terdengar seperti post-hardcore. Lalu pada bagian sing along pun saya acungkan dua jempol karena pada lirik "menolak kafir!" diteriakkan dengan lantang dan dengan sedikit sentuhan efek echo yang benar-benar 'nampol'. Pada bagian akhir, kembali ke riff hardcore punk lagi, namun pada bar kelima, Angga melepaskan palm-mute yang membuat riff-nya terdengar agak stoner yang menurut saya sangat brilian. Lagu tersebut berakhir dengan Hardy yang kembali meneriakkan lirik "menolak kafir!". Untuk masalah aransemen musik, secara keseluruhan, menurut saya sangat epic dan mengagumkan. Influence kental dari Madball, H20, dan Biohazard pun dapat kita rasakan atmosfernya pada lagu ini.
Dari segi lirik, saya bisa simpulkan bahwa lagu ini bercerita tentang seseorang yang setia kepada temannya, namun pada akhirnya orang tersebut dikhianati/dizalimi yang terbukti pada bagian lirik "loyalitas disodomi!". Untuk bagian lirik "menolak kafir!" yang kerap diulang-ulang itu pun saya belum bisa menangkap makna tersiratnya. Ketika diwawancara oleh Ebenz Burgerkill pada program Extreme Moshpit di OZ Radio Bandung, Hardy sang vokalis sekaligus pencipta lirik lagu ini, mengatakan bahwa arti dari Nazar Palagan adalah "janji berperang" atau "janji bertempur". Mungkin maksudnya adalah janji memerangi teman-teman yang kerap mengkhianati loyalitas seseorang. Untuk lebih lengkapnya, ini dia lirik Nazar Palagan :
Nazar Palagan
Bagai phobia ruang sempit
Kenyataan adalah pil pahit
Repeat sesal tanpa akhir
Kutantang hidup..
Menolak kafir!
Menolak kafir!
Keyakinan bergulir
Persetan teman
Bertopeng ambisi
Loyalitas disodomi
Bakar setiap hembus harapan
Kuterjebak dalam dua pilihan
Satu mati dua berdiri
Beri belati kupilih caraku
Harakiri!
Menolak Kafir!
Semua telah final
Kuhembus nafas tersenggal
Kalam harus berakhir
Melangkah bebas terasa lepas
Jalani arus takdir
Kafir!
Menolak kafir!
Pada wawancara tersebut pula, mereka mengatakan bahwa album perdana Taring telah selesai dikerjakan dan siap dirilis pada Agustus mendatang. Kita doakan semoga lancar, tidak ada halangan, dan sukses selalu.
Bagi kalian yang penasaran ingin mendengarkan lagu Nazar Palagan, silahkan unduh secara gratis dan legal di sini.
Untuk menjaga kelestarian band-band yang kita sukai, belilah CD dan merchandise yang asli.
Revenge The Fate - Redemption (Album Review)
![]() |
| Revenge The Fate - Redemption (2014) |
Bandung kembali melahirkan aset yang membanggakan pada 10 Juli 2014 lalu. Aset tersebut berjudul "Redemption" yang merupakan karya album debut oleh pionir deathcore Indonesia, Revenge The Fate. Band yang berdiri pada Juli 2009 tersebut akhirnya merilis album perdananya setelah melalui proses pengerjaan yang memakan waktu hingga 3 tahun. Album rilisan Beholder Records ini dirilis ketika Revenge The Fate genap berusia 5 tahun, dan pesta pelucurannya akan diadakan pada 7 September mendatang di Lapangan Disjas Baros Cimahi yang turut dimeriahkan oleh Burgerkill, Jasad, Rosemary, Don Lego, Billfold, Taring, dll. Namun sayangnya, Richi, gitaris sekaligus pendiri band ini mengundurkan diri beberapa bulan sebelum tanggal rilis album karena tuntutan pekerjaan.
Respons baik diberikan oleh colony (sebutan untuk penggemar Revenge The Fate) yang terbukti dari 2000 pcs boxset album ini yang ludes terjual dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Jumlah colony pun tergolong cukup masif yang terhitung dari jumlah like di Facebook Revenge The Fate yang mencapai angka 262.143 (20 Juli 2014)
Beberapa lagu dalam album ini sudah pernah dirilis sebelumnya sebagai single seperti "Ambisi", "Poseidon", "Damascus", "Pembalasan", "Kashmir", dsb. Lagu-lagu tersebut kemudian diaransemen, mixing, dan mastering ulang untuk album ini.
Tracklisting :
1. Beholder
2. Poseidon
3. Kashmir
4. Pembalasan
5. Darah Serigala
6. Ambisi
7. Beyond The Hatred
8. Redemption
9. Damascus
10. Sad But True
11. Illusion
12. Departure
13. Simfoni Menuju Akhir
14. The End
Album yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya ini dibuka dengan sebuah intro berjudul "Beholder", lalu dilanjutkan dengan lagu "Poseidon" yang dipenuhi oleh breakdown, blast beat, dan riff gitar Cikhal Padmanegara yang cadas, sangat cocok untuk membangkitkan adrenalin para pendengar dan bagian vokal clean Sona Purnama sang basis berpotensi membuat para pendengar untuk melakukan sing along. Selanjutnya adalah "Kashmir", sebuah komposisi 'keras' tanpa vokal clean yang menonjolkan keganasan vokal Anggi Ariadi yang mengkombinasikan scream, growl, dan piq squeal, membuat para pendengar 'kesetrum' seketika saat menikmati lagu tersebut. Setelah itu, pendengar diberikan waktu untuk menghela nafas sejenak dengan "Pembalasan" yang diawali dengan breakdown bertempo agak lambat. Namun rupanya Revenge The Fate mencoba kembali 'membakar' para pendengar dengan "Darah Serigala", sebuah lagu ngebut yang menonjolkan kekejaman Zacky Firdauzia dalam menggebuk drum yang terbukti dari beberapa fill in mematikannya. Dilanjutkan dengan lagu "Ambisi" yang sempat booming pada tahun 2010 dan menjadi bahan bakar roket karir Revenge The Fate. Lagu tersebut diawali dengan riff dan ritem groovy yang sangat apik untuk dinikmati dengan cara headbanging atau bahkan beatdown. Pada bagian reff, saya jamin para pendengar akan merinding ketika mendengar vokal clean sang basis yang dibalut dengan simfoni orkestra dan choir. Juga pada bagian akhir lagu tersebut pun para pendengar kembali dibuat takjub dengan breakdown berbalutkan choir yang membuat kita serasa memasuki sebuah kuil. Lagu-lagu selanjutnya tidak kalah menarik, namun tergolong sejenis dengan lagu-lagu sebelumnya kecuali pada "Redemption" yang merupakan sebuah lagu instrumental berdurasi cukup pendek. Pada lagu "Departure" dan "The End", Revenge The Fate berkolaborasi dengan seorang vokalis wanita bernama Sasmy yang mengisi vokal clean pada kedua lagu tersebut. "Simfoni Menuju Akhir" dan "The End" merupakan dua buah lagu yang cadas dan emosional, sangat cocok sebagai penutup album ini, baik dari segi aransemen musik maupun lirik.
Revenge The Fate menjuluki diri mereka sebagai "Symphonic Deathcore Machine" dan hal tersebut terbukti dari album ini yang pada setiap lagunya dipenuhi oleh simfoni orkestra, string, dan choir. Dari segi musik, sangat kejam dan epic namun saya rasa kekurangannya terletak pada komposisinya yang agak 'jomplang' karena terlalu banyak breakdown. Dari album ini, kita bisa mengetahui bahwa Revenge The Fate sangat ter-influence oleh Chelsea Grin, namun menurut saya terlalu 'meniru' karena Chelsea Grin yang juga memiliki karakter deathcore simfonis dan komposisi breakdown yang dominan. Dari segi lirik, saya lebih tertarik dengan lagu-lagu berlirik Bahasa Indonesia karena sangat artistik dan puitis seperti "Darah Serigala" ketimbang lagu-lagu berlirik bahasa Inggris yang menurut saya agak kurang baik di grammar. Hampir seluruh lirik lagu di album ini bersifat personal, menceritakan sesuatu berdasarkan pengalaman pribadi, dan pada lagu lainnya bertemakan kisah mitos dewa Yunani seperti pada lagu "Poseidon", lalu ada juga yang bercerita tentang kisah legenda sebuah tempat seperti pada lagu "Kashmir" dan "Damascus" dan uniknya mereka mencoba mengkaitkan kisah-kisah tersebut dengan masalah personal di kehidupan sehari-hari yang menurut saya merupakan sesuatu yang sangat menarik. Dari segi sound, sangat tebal, balance, dan menakjubkan. Saya berikan dua jempol kepada Jefri Irsyad yang me-mixing dan mastering album ini. Satu hal yang (menurut saya pribadi) menjadi kekurangan yang mendasar pada album ini adalah drumnya yang MIDI, dibuat dengan software di komputer, bukan asli dimainkan secara langsung dan direkam. Hal tersebut benar-benar sangat mengecewakan. Dari segi desain grafis, artwork-nya menurut saya pasaran dan tidak unik karena gambar praying hands yang sangat sering digunakan sebagai artwork oleh banyak band, salah satunya Lamb Of God. Pada desain layout dan fotografi, sangat baik.
Demikianlah review yang bisa saya berikan untuk album Redemption oleh Revenge The Fate. Dari skala 1-10, saya berikan angka 8,5 untuk album berisi 14 lagu ini. Secara keseluruhan, album ini sangat memuaskan, terutama bagi para colony yang sudah cukup lama menahan rasa 'haus' yang akhirnya terlampiaskan dengan hadirnya album Redemption ini. Mari kita doakan, semoga Revenge The Fate semakin sukses, langgeng, tekun, serta konsisten dalam mempertahankan bahtera karir Revenge The Fate.
Jika kalian ingin menikmati Redemption, kalian dapat membelinya di Xtreme Merch, Beholder Records, Hellprint, dll dengan harga Rp. 40.000 untuk CD dan Rp. 175.000 untuk boxset berisi CD, kaos, gelang, sertifikat, bandana, poster, stiker, dan patch. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan follow @REVENGETHEFATE di Twitter dan juga @XtremeMerch @Hellprint dan @BHLDRcloth.
Lestarikan band-band yang kalian suka dengan membeli CD dan merchandise yang asli.
Saturday, May 17, 2014
Mainstream dan Underground Sama-Sama Bobrok
Ada banyak hal yang tak bisa dipisahkan dari
kehidupan manusia. Salah satunya adalah musik. Tanpa musik, hidup ini terasa
mati. Manusia bisa menjadi gila tanpa wadah untuk berkreasi dan berekspresi.
Bahkan, musik seakan menjadi kebutuhan primer bagi sebagian banyak orang. Maka
dari itu, industri musik merupakan salah satu bisnis yang paling menguntungkan
di dunia. Terdapat jutaan label rekaman yang berdiri di muka bumi ini mulai
dari yang kecil-kecilan, hingga yang raksasa. Begitu pula di Indonesia, dengan
pesatnya kemajuan teknologi informatika, terdapat banyak sekali label rekaman
dengan kelas-kelas tertentu pula.
Secara movement
dan eksistensi, musik terbagi menjadi dua jalur, yaitu jalur mainstream dan jalur underground. Musisi yang eksis di jalur mainstream umumnya mengusung musik
pasaran yang dapat kita saksikan hampir setiap hari di televisi dan
popularitasnya pun merakyat. Sedangkan musisi underground umumnya mengusung genre yang tidak biasa dan tidak
pasaran seperti metal, rock, punk, jazz, blues, dsb. Tidak seperti musisi mainstream, musisi underground memiliki popularitas yang segmented karena penikmatnya berasal dari kalangan tersendiri yang
didominasi oleh remaja. Musisi juga tak bisa lepas dari label. Label adalah
perusahaan yang bertugas untuk memproduksi, mendistribusi, dan mempromosi karya
dari musisi dengan imbalan pembagian keuntungan dari hasil penjualan karya
maupun pendapatan manggung. Label terbagi menjadi dua jenis, yaitu label major dan label indie. Perbedaan spesifik dari major
dan indie terdapat pada modal
produksi dan jangkauan distribusi/promosi. Label major memiliki jangkauan distribusi dan promosi yang luas serta
modal yang besar sehingga dapat mempromosikan musisi ke media raksasa seperti
televisi. Namun hanya musisi tertentu yang dapat memasuki lingkaran label major, yaitu musisi yang memiliki nilai
jual tinggi yang berpotensi dapat mengembalikan modal besar yang telah
dikeluarkan oleh label yang memiliki wewenang untuk menentukan konsep musik
dari musisi yang dijualnya, sehingga sangat sulit bagi musisi untuk mendapatkan
kebebasan dalam berkreasi. Lain halnya dengan label indie. Indie berasal dari
kata independent yang berarti
‘berdiri sendiri’. Dalam hal ini, ‘berdiri sendiri’ berarti menciptakan,
memproduksi, mendistribusi, dan mempromosikan karya tersebut secara mandiri
tanpa campur tangan produser karena kebebasan sangat diutamakan dalam dunia
musik indie, dimana pihak label tidak
punya wewenang untuk menentukan dan merubah konsep apapun dari musisi. Namun umumnya
label indie memiliki modal seadanya
yang membuat produksi, distribusi, dan promosi pun dilakukan dengan seadanya
pula, sehingga jumlah konsumennya pun tidak semasif jumlah konsumen musik major dan hanya berasal dari kalangan
tertentu.
Kini industri musik tanah air seakan dimonopoli oleh
segelintir label major yang menguasai
jalur mainstream dan hanya
mengizinkan musisi-musisi tertentu untuk bisa berada di bawah naungan mereka. Dengan
modal yang besar serta promosi yang gencar, dengan mudah mereka dapat
mengorbitkan musisi yang dijualnya. Namun, bagi mereka hanya lah musisi pop
yang memiliki potensi ‘laku’ yang dapat berkesempatan untuk bekerja sama dengan
mereka. Bahkan, beberapa musisi yang awalnya beraliran rock/jazz terpaksa harus
berubah haluan demi memperoleh eksistensi yang dijamin oleh sang label. Salah
satu contohnya adalah Killing Me Inside yang merupakan band screamo post-hardcore yang rela menjual idealismenya dalam bermusik demi
mendapatkan gandengan dari Royal Prima Musikindo sebagai distributor yang
memiliki jangkauan distribusi dan promosi yang luas. Hasil dari ‘perkawinan’
tersebut adalah lagu “Biarlah” yang melenceng jauh dari konsep musik awal
Killing Me Inside. Jika dibandingkan dengan dulu, popularitas Killing Me Inside
kini jauh lebih merakyat. Sebelumnya, Killing Me Inside merupakan sebuah band indie yang bergerak di jalur underground yang hanya populer di
kalangan tertentu. Tak dapat dipungkiri bahwa yang mendongkrak popularitas
Killing Me Inside adalah lagu “Biarlah” yang sering muncul di televisi berkat
Royal Prima Musikindo yang juga membantu mereka untuk dapat eksis di jalur mainstream. Yang lebih menyedihkan
adalah sikap label yang tidak memperdulikan kualitas musisi yang akan
diorbitkan. Bagi mereka, yang penting hanyalah nilai jual. Tak perduli seberapa
bobroknya kualitas musisi itu, asalkan mereka memiliki lagu yang berpotensi
untuk disukai masyarakat, maka musisi tersebut dapat deal kontrak dengan label. Dan sayangnya, masyarakat Indonesia
masih didominasi oleh para penikmat musik pop. Maka definisi musik ‘laku’ bagi
label adalah musik pop. Maka wajar saja musisi seperti Killing Me Inside rela
memainkan lagu pop ‘menyek-menyek’ dan wajar pula para label major tak punya nyali untuk mengorbitkan
musisi non-pop (walaupun sebenarnya berpotensi menjual) dan cenderung ‘cari
aman’ dengan hanya mengorbitkan musisi pop. Mereka takut modal besar yang
mereka keluarkan untuk memproduksi, mendistribusi, dan mempromosikan sang
musisi tidak kembali karena musik yang dijual tidak laku di pasaran.
Hal ini menciptakan musik yang homogen di jalur mainstream. Masyarakat tertentu berhasil
dibuat muak dengan kebanyakan stasiun televisi dan radio yang hanya berani
menampilkan musisi-musisi seperti yang saya sebutkan di atas yang cenderung
sejenis. Bagi pihak televisi, musisi non-pop berpotensi menurunkan rating program mereka karena penonton
televisi di Indonesia yang didominasi oleh masyarakat berselera musik pop. Maka
terjadi lah keseragaman jenis musik di jalur mainstream. Yang membedakan hanya lah formatnya. Ada penyanyi solo,
duo, trio, band, boy band, girl band, idol group, namun kontennya tetap pop. Ironisnya, bukan hanya
musik, namun juga lirik. Jika kita teliti memperhatikan lirik dari lagu-lagu yang
sering muncul di televisi itu, dapat disimpulkan bahwa hanya ada dua jenis tema
yang mereka usung dalam penulisan lirik, yaitu tema percintaan dan tema
motivasi (yang sedang booming
akhir-akhir ini seperti lagu “Jangan Menyerah” dari D’ Masiv, “Tendangan Dari
Langit” dari Kotak, dsb). Lirik-lirik seperti itu juga terkesan memiliki nilai
estetika yang buruk dan tidak puitis. Kita ambil contoh, Wali. Band beraliran
pop melayu itu terkesan asal dalam penulisan lirik dan pemilihan kata-katanya.
Lagu “Cari Jodoh” yang sempat booming
pada 2008, yang liriknya secara keseluruhan sangat sederhana dan ‘ngasal’ : “Ibu-ibu, Bapak-bapak, siapa yang punya anak
bilang aku, aku yang tengah malu pada teman-temanku karena cuma diriku yang tak
laku-laku.” Dan masih banyak band-band pop seperti Wali dengan lirik yang
banal. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa musik mainstream di Indonesia sedang mengalami krisis kualitas dan
variasi.
Pertanyaannya adalah “Mengapa band-band pop dengan
kualitas musik yang seadanya, serta tema lirik yang homogen dan banal dapat
disukai oleh banyak orang?” Hal ini merujuk kepada media yang memiliki pengaruh
paling kuat yang digunakan oleh label, yaitu televisi. Bisa dibilang 80% yang
menentukan keberhasilan label dalam promosi adalah televisi. Label dan televisi
sama-sama sangat memperhatikan selera masyarakat untuk menentukan mana yang
harus ditayangkan dan diorbitkan, dan mana yang harus dihindari demi
mempertahankan rating dan keuntungan.
Sebagaimana yang kita ketahui, kebanyakan penonton televisi di Indonesia adalah
anak-anak, remaja, dan ibu rumah tangga yang kebanyakan memiliki selera musik easy-listening alias pop. Dan umumnya
mereka memiliki intelektualitas yang (masih) rendah, sehingga musik-musik
cerdas akan sulit diterima oleh mereka. Kalangan pendominasi jumlah penonton
televisi di Indonesia itu pun akan sulit menerima lagu-lagu dengan lirik
bertema politik, kritik sosial, kritik pemerintah, dan tema-tema selain
percintaan dan motivasi lainnya. Karena lirik bertema politik, kritik sosial,
kritik pemerintah, identik dengan istilah-istilah yang mungkin terdengar asing
bagi mereka. Beda halnya dengan lirik percintaan dan motivasi yang kebanyakan
menggunakan diksi, kata, dan istilah yang sederhana sehingga mudah diterima.
Sebenarnya sah-sah saja mereka menikmati lagu dengan
lirik yang sederhana karena salah satu misi para musisi adalah menyampaikan
pesan mereka lewat lirik. Agar pesan tersebut dapat mudah diterima oleh
masyarakat, maka mereka membuat lirik yang sederhana. Namun yang memperburuk
adalah penulisan lirik dengan angle
yang sejenis. Seperti yang dikatakan oleh Cholil Mahmud yang merupakan pentolan
dari band indie asal Jakarta, Efek
Rumah Kaca. “Boleh aja bikin lirik
tentang cinta, tapi kalo bisa angle-nya harus beda”. Efek Rumah Kaca adalah
band indie beraliran pop dengan
kualitas pop yang dapat disejajarkan dengan Nidji, Peterpan, dan Sheila On 7,
namun lirik lagunya banyak terinspirasi dari lirik lagu-lagu Iwan Fals yang kerap
mengangkat tema kritik sosial, politik, dan pemerintahan. Mereka juga kerap
menulis lirik tentang lingkungan seperti pada lagu “Efek Rumah Kaca”,
“Desember”, dan “Hujan Jangan Marah”. Efek Rumah Kaca anti menulis lirik
tentang cinta. Sesekalinya mereka menulis lirik tentang cinta adalah lagu
“Bukan Lawan Jenis” namun disajikan dengan angle
yang berbeda, yaitu tentang percintaan homoseksual. Selain itu, Efek Rumah Kaca
juga terkenal dengan idealismenya yang sangat kuat. Bagaimana tidak? Mereka
pernah menolak tawaran Sony BMG, salah satu label major terbesar di Indonesia, yang berminat merilis album mereka. “Selama kualitas sinetron di Indonesia masih
seperti sekarang, kami gak akan pernah mau menerima tawaran label major karena
mereka memiliki wewenang untuk menjadikan lagu-lagu kami sebagai soundtrack
sinetron. Selain itu mereka juga berhak merubah musik dan lirik kami sesuai
dengan keinginan mereka.” Ujar Cholil, vokalis sekaligus gitaris dari Efek
Rumah Kaca.
Sangat disayangkan pula bahwa musik underground di Indonesia kini mulai
terserang ‘penyakit’. Meski memiliki musik dan lirik yang variatif, namun scene musik underground di Indonesia akhir-akhir ini terkesan latah. Ketika
tren musik metal sedang populer,
serentak semua orang membentuk band metal.
Begitu pula dengan musik pop punk,
hardcore, dsb yang juga memiliki masa popularitasnya masing-masing. Para
musisi underground (terutama yang
baru) cenderung membuntut kepada tren yang sedang populer (di jalur underground). Berbeda dengan jalur mainstream yang konsisten dengan musik
popnya. Hal lain yang membuat kondisi musik underground
di Indonesia semakin mengkhawatirkan adalah sistem registrasi band yang
diberlakukan oleh hampir seluruh event
organizer di Indonesia yang bergerak di jalur underground. Saat ini, membentuk sebuah band underground benar-benar semudah membalikkan telapak tangan. Yang
diperlukan hanya lah personil dan uang. Skill
menjadi nomor kesekian bagi band-band tersebut. Pasalnya, mereka dapat manggung
dimana saja dan kapan saja dengan membayar biaya registrasi. Inilah yang
disebut dengan sistem registrasi. Siapa pun itu, tak perduli dapat bermain
musik atau tidak, asal punya uang, dapat tampil di acara-acara yang memberlakukan
sistem registrasi. Selain itu, kini band juga dapat menentukan posisi logo mereka
di flyer acara. Semakin atas, semakin
besar uang yang harus dikeluarkan. Band underground
berkualitas maksimal, dengan modal minim dapat sukses, namun dengan
perjuangan dan ketekunan terlebih dahulu, seperti Burgerkill, Siksa Kubur, dan
band-band underground senior lainnya
yang eksis dan berhasil bertahan hampir 20 tahun lamanya. Sedangkan band underground berkualitas minim, dengan modal maksimal, dapat sukses
dengan instan. Yang bicara adalah uang. Uang diutamakan, kualitas
dikesampingkan. Lama-kelamaan menjadi mirip seperti jalur mainstream. Sama-sama mengutamakan uang, sama-sama mengesampingkan
kualitas. Yang membedakan hanya soal kebebasan berkreasi. Di jalur underground sangat mengizinkan hal
tersebut, tidak seperti di jalur mainstream
yang terkesan mewajibkan pengusungan genre pop.
Yang lebih menyedihkan adalah sikap event organizer terhadap band-band baru
yang tidak hanya diharuskan membayar biaya registrasi, namun juga diwajibkan
jualan tiket. Ini disebut dengan sistem share
tiket. Biasanya dalam sebuah acara underground,
selain diwajibkan membayar biaya registrasi, band diwajibkan menjual 10-30
tiket. Bahkan, band saya pernah diwajibkan menjual 50 tiket. Pada 2013 lalu,
sebuah acara hardcore besar-besaran
diadakan di Bekasi. Ketika itu saya mencoba untuk melobi pihak event organizer agar band saya dapat
menjadi salah satu pengisi acara, tanpa mengharapkan bayaran sepeser pun. Pihak
event organizer sama sekali tidak
meminta kami untuk mengirimkan lagu demo ataupun tampil dihadapan mereka untuk
menguji kelayakan dan kualitas kami, melainkan menyuruh kami menjual 50 tiket
dengan harga Rp. 25.000 per tiketnya dan kami diwajibkan untuk membayar
(nombok) jika ada tiket yang tersisa. Itu artinya jika kami sama sekali tidak
berhasil menjual tiket, kami harus membayar uang sebesar Rp. 1.000.000 kepada
pihak event organizer. Uang sebesar
itu sangat besar bagi pelajar seperti kami. Namun Alhamdulilah, dengan usaha
keras, semua tiket laku terjual dan kami berhasil tampil di acara bergengsi
tersebut. Pengalaman pahit lainnya juga pernah saya rasakan ketika hendak
tampil di sebuah acara lain yang sama-sama memberlakukan sistem registrasi +
share tiket. Ketika itu kami tidak berhasil menjual semua tiket, sehingga
terdapat beberapa tiket yang tersisa. Kami pun dibentak-bentak oleh panitia
dengan cara yang tidak senonoh. Kami diwajibkan untuk membeli tiket-tiket yang
tersisa dengan ancaman nama kami akan dihapus dari rundown dan biaya registrasi yang telah kami bayar akan
dihanguskan. Akhirnya, setelah meminjam uang sana-sini, kami dapat membeli
tiket-tiket tersebut dan izinkan untuk tampil.
Hal-hal diatas jelas menjadi pertanda bahwa industri
musik tanah air sedang berada di zona sekarat. Belum lagi masalah undang-undang
hak cipta dan pembajakan yang hanya merupakan teori belaka. Siapa saja yang
melanggar undang-undang tersebut tidak pernah ditindak tegas sesuai dengan
sanksi yang berlaku, sehingga di Indonesia, pembajakan terkesan merupakan
sesuatu yang legal dan halal. Kini seluruh musisi di Indonesia lebih
mengutamakan penghasilan yang didapatkan dari manggung ketimbang dari penjualan
album. Sekarang semua orang di Indonesia dengan mudah dapat mengunduh album
yang diinginkan secara gratis dan ilegal, dan dapat memperbanyak serta menjual
kembali album tersebut secara ilegal pula tanpa terjerat sanksi dari
undang-undang yang berlaku. Maka di Indonesia saat ini, musisi bukan lah
profesi yang menjanjikan. Hanya orang-orang dengan kemampuan berbisnis, kecerdasan
musikal, dan beruntung seperti Ahmad Dhani yang mampu sukses secara finansial
sebagai musisi.
Jalur mainstream
dan underground di Indonesia
sudah sama-sama bobrok kualitas dan sistemnya. Musik mainstream yang homogen hanya dapat diperbaiki dengan cara merubah
selera musik masyarakat menjadi lebih variatif. Satu-satunya yang dapat
melakukan itu adalah media, terutama televisi. Memang diperlukan nyali yang
besar bagi media mainstream untuk menghadirkan
musisi non-pop. Namun sepertinya mereka masih dihantui oleh rating. Melihat program seperti Radio
Show di TV One yang berani menghadirkan musisi-musisi ‘terpojok’ dan sangat
disayangkan usia program tersebut tidak mencapai dua tahun. Logika
sederhananya, sebuah program televisi yang usianya pendek, berarti yang menonton
pun sedikit dan jumlah penonton sangat berpengaruh terhadap rating. Modal untuk memproduksi sebuah
program di televisi didapatkan dari pengiklan yang tentunya hanya mau beriklan
pada program-program ber-rating
tinggi. Jumlah penonton sedikit → rating rendah → tidak ada iklan → tidak ada modal produksi → program dihapus. Dengan sedikitnya jumlah
penonton Radio Show, secara tidak langsung menggambarkan selera musik
masyarakat di Indonesia. Program musik lainnya yang konsisten menghadirkan
musisi pop, seperti Dahsyat dan Inbox terbukti bertahan selama bertahun-tahun
hingga sekarang dan saya percaya rating-nya
pun tinggi. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat di Indonesia masih didominasi
oleh penikmat musik pop. Kunci untuk menjadikan musik mainstream di Indonesia agar lebih variatif adalah masyarakat itu
sendiri. Mainstream bicara soal
mayoritas. Jika mayoritas selera musik masyarakatnya beragam, maka musisi,
label, dan media pun akan mengikutinya. Namun
tak dapat dipungkiri lagi bahwa bukan merupakan hal yang mudah untuk merubah
selera musik masyarakat.
Untuk permasalahan di jalur underground,
sebenarnya lebih sederhana dibandingkan permasalahan di jalur mainstream. Kelatahan para musisi underground yang selalu bergantung pada
tren, bukan lah sebuah masalah yang serius karena musik underground yang beragam, menciptakan pasarnya masing-masing. Suatu
jenis musik yang sedang populer di jalur underground
tidak menjadi masalah bagi jenis musik underground
lainnya yang sedang tidak populer, karena adanya pasar yang mereka ciptakan
masing-masing. Yang menjadi ‘penyakit’ adalah sistem yang diberlakukan. Seperti
yang saya sebutkan di atas, sistem registrasi dan share tiket melenyapkan jaminan kualitas di jalur underground. Dan yang membuat para event organizer memberlakukan sistem
tersebut adalah modal yang terbatas, yang disebabkan oleh jumlah konsumen musik
underground yang tidak sebanyak
konsumen musik mainstream. Maka modal
yang dikeluarkan pun tidak sebanyak modal yang dikeluarkan di jalur mainstream. Memang sangat sulit untuk
menemukan solusinya. Kebebasan yang dinomorsatukan di jalur underground menjadi pemicu terjadinya
‘penyimpangan’ ini karena menimbulkan persaingan yang ketat dan membuat uang
‘bicara’ pada akhirnya.
Kita sebagai penikmat musik tanah air hanya bisa geleng-geleng
kepala atas fenomena-fenomena memprihatinkan tersebut. Keresahan kita sebagai
penikmat musik yang kritis, diharapkan dapat menjadi pemicu terjadinya perubahan
ke arah yang lebih baik (di bidang musik, tentunya).
Revolusi tidak selalu bicara soal pergerakan yang besar dan
cepat. Revolusi bisa dimulai dari hal-hal kecil, yang lama-kelamaan, dengan
kegigihan, ketekunan, dan konsistensi, akan berkobar menjadi sebuah perubahan
yang besar. Seperti yang dikatakan oleh John Lennon, “I start a revolution from my bed.”
Sunday, May 11, 2014
Review Album : Whitechapel - Our Endless War (2014)
Tracklist :
1. Rise
2. Our Endless War
3. The Saw Is The Law
4. Mono
5. Let Me Burn
6. Worship The Digital Age
7. How Times Have Changed
8. Psycopathy
9. Blacked Out
10. Diggs Road
11. A Process So Familiar (Bonus Track)
12. Fall of The Hypocrites
11. A Process So Familiar (Bonus Track)
12. Fall of The Hypocrites
"Our Endless War" yang merupakan album kelima dari pionir deathcore asal Amerika Serikat, Whitechapel, sedang menjadi perbincangan hangat bagi para metalheads dunia. Pasalnya, album yang dirilis pada 29 April lalu ini berhasil menempati posisi 10 di chart Billboard 200 dan berhasil mengalahkan album Shakira yang berada di nomor 12. Di minggu pertama penjualannya, album rilisan Metal Blade Records itu berhasil menjual lebih dari 16.000 kopi. Memang merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi band underground sekelas Whitechapel.
Berbeda dari album-album sebelumnya, pada "Our Endless War", Whitechapel berhasil slow down dari segi tempo seperti pada lagu "The Saw Is The Law", namun masih terdapat beberapa lagu 'ngebut' yang berhasil mereka hadirkan dengan komposisi yang lebih fresh seperti pada lagu "Blacked Out", "Fall of The Hypocrites", dll. Jika pada album-album sebelumnya Whitechapel kental dengan unsur technical-nya, "Our Endless War" hadir dengan elemen hardcore yang lebih dominan dan breakdown yang lebih variatif dan groovy seperti pada lagu yang berjudul "Our Endless War" pula. Phil Bozeman cs mampu mengembangkan musik mereka dengan menyuntikan sesuatu yang baru, namun mereka juga berhasil mempertahankan identitas asli mereka. Breakdown dan vokal Phil Bozeman yang rendah dan menyeramkan bagaikan monster itu masih menjadi ciri khas band asal Tennesse tersebut. Selain itu, riff gitar pada album ini juga lebih unik dan sadis seperti pada "Psycopathy". Salah satu yang menarik dari album ini adalah Ben Harclerode sang drummer yang mampu menghadirkan banyak teknik gospel chops yang membuat album semakin menarik dan segar untuk dinikmati. Jika pada album "Whitechapel" (self-titled) yang dirilis pada 2012 lalu mereka banyak mengusung unsur progressive, yaitu odd time signature, "Our Endless War" jauh lebih sederhana dan lebih groovy. Dari segi lirik, album ini banyak banyak bercerita tentang kritik pemerintahan dan kritik sosial.
Album ini sangat cocok untuk kalian yang menyukai genre metal-hardcore seperti Hatebreed dan Earth Crisis, cocok untuk para pecinta deathcore karena banyak terdapat breakdown-breakdown groovy yang headbang-able, dan juga cocok untuk para pendengar musik death metal karena Whitechapel masih mampu merpertahankan unsur technical-nya.
Tuesday, April 22, 2014
Pengangguran Pasca UN (Part 2)
Dalam cerita 'pengangguran' kali ino saya akan bercerita tentang..
1. Tes di Univ. Moestopo
Pada hari Jumat, 19 April lalu saya nginep di rumah nenek saya karena besoknya harus sampai di Univ. Moestopo pada pukul 9 pagi. Di perjalanan menuju rumah nenek saya, ketika sedang ingin menunggu bus APTB, saya bertemu dengan dua orang wota. Ya. Dua orang wota radikal bernama Andre dan Anwar. Mereka ingin 'beribadah' (baca : teateran) di kuil bernama fx itu. Setelah capek ngebacotin mereka untuk tobat selama di bus, saya pun sampai di rumah nenek tercinta pada pukul 3 sore.
Keesokan paginya, saya berangkat menuju Univ. Moestopo dengan bekal mental dan perut kembung karena mabok aqua. Karena selain tes tertulis, ada pula tes kesehatan dan tes urin. Denger-denger kalo mau tes urin itu harus mabok air mineral dulu. Seharusnya jam 8.30 saya sudah bisa duduk manis di ruang tes. Namun, karena iseng nyoba motong jalan lewat belakang parkiran Ratu Plaza, maka saya pun nyasar. Maksud hati ingin nembus ke STC, malah nembus ke Plaza Senayan. Maka saya pun nyampe Univ. Moestopo pada pukul 08.56 dengan kondisi mandi keringet. Untungnya, di ruang tes isinya AC semua. Jadi, dalam hitungan detik, keringet saya mengering seketika.
"Yak silahkan mengerjakan soal tes tertulis yang ada di meja kalian. Jangan lupa isi nama lengkap dan nomor peserta." Kata om-om yang ngawas ujian.
"Siap om." Jawab saya dalam hati.
Tes tertulis 1 : Bahasa Inggris (30 Soal)
PIECE A CAKE..
Tes tertulis 2 : Bahasa Indonesia (30 Soal)
PIECE A CAKE..
Tes tertulis 3 : Pengetahuan Umum (40 Soal)
10 soal pertama : PIECE A CAKE..
10 soal kedua : PIECE A CAKE..
10 soal ketiga : PIECE A CAKE..
10 soal terakhir : PIECE A SHIT..
Ya. Ada beberapa soal pengetahuan umum yang bikin saya merem-melek. Seperti "Hari Koperasi diperingatkan setiap tanggal.." Atau "Idul Fitri 17982 H jatuh pada tanggal.."
Kelar tes tertulis, setiap calon mahasiswa dikasih sekotak berlogo "Holland Bakery" berisi 2 buah roti dan dipersilahkan turun untuk melakukan tes kesehatan.
"Muhammad Nur Islam Rosyad Sungkar" Panggil seorang om-om. Saya berdiri dan masuk ke dalam lab. Pertama, cek tekanan darah. Kedua, cek detak jantung. Ketiga, saa dikasih seekor gelas tabung kecil. "Kencing sana." Kata suster. Saya pun berjalan mengikuti calon mahasiswa perempuan yang juga disuruh kencing.
"Eits, kalo laki-laki kencingnya di atas." Kata suster.
"Yaudah temenin." Pinta saya.
"PLOK!" Saya digampar suster.
Setelah digampar, saya pun naik ke toilet di lantai 2 untuk pipis. Di depan pintu toilet ada seorang om-om yang ngejagain.
"Pak, mau tes urin." Kata saya.
"Oh iya silahkan." Jawab si om-om.
"Oke." Kata saya.
Saat mau mengunci pintu toilet, si om-om berbisik "Gak usah ditutup, buka aja pintunya."
JENG-JENG!!!
Mendadak saya merinding disko sambil teringat kasus pencabulan di JIS.
"Loh.. Emang ke-kenapa pak?"
"Nggak. Untuk menghindari kecurangan aja."
"Oalah.. Saya kira saya mau disodomi."
"APA?!"
"Soto mie. Saya abis dari sini mau makan soto mie."
Setelah urin saya tertampung di dalam gelas tabung tersebut, saya turun ke bawah. Kata salah satu panitia, saya disuruh kembali kesana pada hari Kamis untuk mengambil hasil tes. Maka dengan perasaan plong tiada tara karena gak jadi disodomi, saya pun meninggalkan Univ. Moestopo dan sebelum pulang mampir ke benhil dulu untuk mencabuli sepiring mie ayam yang super wuenak itu.
2. Being A Vegan
Terhitung sejak Selasa, 22 April 2014, saya resmi nyoba jadi vegetarian walaupun saya sudah memprediksikan bahwa akan gagal dalam waktu kurang dari 24 jam. Doakan saja supaya lancar. Aamiin.
1. Tes di Univ. Moestopo
Pada hari Jumat, 19 April lalu saya nginep di rumah nenek saya karena besoknya harus sampai di Univ. Moestopo pada pukul 9 pagi. Di perjalanan menuju rumah nenek saya, ketika sedang ingin menunggu bus APTB, saya bertemu dengan dua orang wota. Ya. Dua orang wota radikal bernama Andre dan Anwar. Mereka ingin 'beribadah' (baca : teateran) di kuil bernama fx itu. Setelah capek ngebacotin mereka untuk tobat selama di bus, saya pun sampai di rumah nenek tercinta pada pukul 3 sore.
Keesokan paginya, saya berangkat menuju Univ. Moestopo dengan bekal mental dan perut kembung karena mabok aqua. Karena selain tes tertulis, ada pula tes kesehatan dan tes urin. Denger-denger kalo mau tes urin itu harus mabok air mineral dulu. Seharusnya jam 8.30 saya sudah bisa duduk manis di ruang tes. Namun, karena iseng nyoba motong jalan lewat belakang parkiran Ratu Plaza, maka saya pun nyasar. Maksud hati ingin nembus ke STC, malah nembus ke Plaza Senayan. Maka saya pun nyampe Univ. Moestopo pada pukul 08.56 dengan kondisi mandi keringet. Untungnya, di ruang tes isinya AC semua. Jadi, dalam hitungan detik, keringet saya mengering seketika.
"Yak silahkan mengerjakan soal tes tertulis yang ada di meja kalian. Jangan lupa isi nama lengkap dan nomor peserta." Kata om-om yang ngawas ujian.
"Siap om." Jawab saya dalam hati.
Tes tertulis 1 : Bahasa Inggris (30 Soal)
PIECE A CAKE..
Tes tertulis 2 : Bahasa Indonesia (30 Soal)
PIECE A CAKE..
Tes tertulis 3 : Pengetahuan Umum (40 Soal)
10 soal pertama : PIECE A CAKE..
10 soal kedua : PIECE A CAKE..
10 soal ketiga : PIECE A CAKE..
10 soal terakhir : PIECE A SHIT..
Ya. Ada beberapa soal pengetahuan umum yang bikin saya merem-melek. Seperti "Hari Koperasi diperingatkan setiap tanggal.." Atau "Idul Fitri 17982 H jatuh pada tanggal.."
Kelar tes tertulis, setiap calon mahasiswa dikasih sekotak berlogo "Holland Bakery" berisi 2 buah roti dan dipersilahkan turun untuk melakukan tes kesehatan.
"Muhammad Nur Islam Rosyad Sungkar" Panggil seorang om-om. Saya berdiri dan masuk ke dalam lab. Pertama, cek tekanan darah. Kedua, cek detak jantung. Ketiga, saa dikasih seekor gelas tabung kecil. "Kencing sana." Kata suster. Saya pun berjalan mengikuti calon mahasiswa perempuan yang juga disuruh kencing.
"Eits, kalo laki-laki kencingnya di atas." Kata suster.
"Yaudah temenin." Pinta saya.
"PLOK!" Saya digampar suster.
Setelah digampar, saya pun naik ke toilet di lantai 2 untuk pipis. Di depan pintu toilet ada seorang om-om yang ngejagain.
"Pak, mau tes urin." Kata saya.
"Oh iya silahkan." Jawab si om-om.
"Oke." Kata saya.
Saat mau mengunci pintu toilet, si om-om berbisik "Gak usah ditutup, buka aja pintunya."
JENG-JENG!!!
Mendadak saya merinding disko sambil teringat kasus pencabulan di JIS.
"Loh.. Emang ke-kenapa pak?"
"Nggak. Untuk menghindari kecurangan aja."
"Oalah.. Saya kira saya mau disodomi."
"APA?!"
"Soto mie. Saya abis dari sini mau makan soto mie."
Setelah urin saya tertampung di dalam gelas tabung tersebut, saya turun ke bawah. Kata salah satu panitia, saya disuruh kembali kesana pada hari Kamis untuk mengambil hasil tes. Maka dengan perasaan plong tiada tara karena gak jadi disodomi, saya pun meninggalkan Univ. Moestopo dan sebelum pulang mampir ke benhil dulu untuk mencabuli sepiring mie ayam yang super wuenak itu.
2. Being A Vegan
Terhitung sejak Selasa, 22 April 2014, saya resmi nyoba jadi vegetarian walaupun saya sudah memprediksikan bahwa akan gagal dalam waktu kurang dari 24 jam. Doakan saja supaya lancar. Aamiin.
Friday, April 18, 2014
Pengangguran Pasca UN
Kemarin, H+1 UN 2014, merupakan hari perdana saya menjadi pengangguran setelah 'berdarah' menghadapi UN pada 14-16 April lalu. Dan pada pagi itu saya dibangunkan oleh suara Ayah saya yang sedang menelepon.
"Halo. Selamat pagi. Dengan Universitas Moestopo? Saya mau mendaftarkan anak saya ke FIKOM."
Kira-kira seperti itu lah Ayah saya berbicara di telepon. "Universitas Prof. Dr. Moestopo? Gak salah tuh?" Pikir saya. Lalu setelah Ayah saya menutup telepon, saya menanyakan hal tersebut ke beliau.
"Abah mau daftarin uis ke Moestopo?"
"Iya. Nanti lo ke sana ya beli formulir. Hari Minggu tes."
"Loh? Universitas Bung Karno gimana nasibnya?"
"Lupakan Universitas Bung Karno. Gua ragu soal kualitasnya."
Mendengar perkataan Ayah saya itu, saya langsung berpikir perjuangan saya ke Universitas Bung Karno untuk membeli formulir di siang bolong minggu lalu itu ternyata sia-sia. Tapi gak papa. Setelah saya browsing memang Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Bahkan salah satu jurnalis idola saya Wendi Putranto merupakan alumni universitas tersebut. Dari segi harga juga cukup jauh dibandingkan dengan Universitas Bung Karno yang uang masuknya hanya sekitar Rp. 2,5 juta dan SPP perbulan Rp. 350 ribu. Di Universitas Moestopo uang masuknya hampir menyentuh angka Rp. 16 juta dan Rp. 4 jutaan per semester. Harga tersebut memang cukup terasa berat bagi keluarga saya. Namun, Alhamdulillah Ayah saya ngomong "Gua akan fight demi masa depan lo." Makasih bah :')
Tepat pukul 11.00, saya berangkat menuju Universitas Moestopo yang terletak di kawasan Senayan. Setelah hampir 2 jam di perjalanan, saya sampai di sana dan langsung masuk ke ruang administrasi PMB Universitas Moestopo. Proses pengisian formulir hanya memakan waktu sekitar 5 menit dan setelah menyerahkan uang sebesar Rp. 300 ribu untuk formulir, saya bisa langsung pulang membawa kartu tes yang harus saya bawa kembali pada saat tes hari Minggu.
Karena baru nyampe udah disuruh pulang lagi, saya memutuskan untuk mampir ke rumah nenek saya di Tanah Abang sekalian mampir makan siang di Pasar Benhil. Saya juga sekalian menanyakan soal nasib KTP saya. Katanya sih udah jadi, tapi Pak RT-nya lagi ke Bogor. Yo wes lah kapan-kapan aja..
Pukul 15.30, saya pamit pulang kepada nenek dan tante saya. Saya naik mikrolet ke Karet untuk naik TransJakarta. Di halte TransJakarta Karet itu lah saya benar-benar baru pertama kali merasakan kekacauan kota Jakarta di jam pulang kantor. Jalan Jendral Sudirman macet parah di kedua arah! TransJakarta yang lewat selalu penuh! Sementara orang yang mengantri di halte sudah membludak! Benar-benar chaotic! Setelah sejam lebih saya berdiri, akhirnya ada satu bus TransJakarta yang cukup lega. Namun pada saat masuk, puluhan orang yang mengantri di belakang saya juga ikut masuk dan saya pun berdiri sambil desak-desakan di dalam bus. Pada saat di dalam bus, sejauh mata memandang hanyalah orang-orang berkemeja kantoran yang jumlahnya buanyak banget. Kekacauan kedua terjadi kembali di Semanggi. Ya. Macet! Perjalanan Semanggi - Cawang yang biasanya hanya memakan waktu 10-15 menit, sore itu memakan waktu hingga 1,5 jam! Dan saya berdiri! Pada saat masuk tol saya kira penderitaan saya akan segera berakhir, namun kenyataannya tidak. Di tol juga macet. Setelah berdiri selama sejam selama macet di tol, bus tersebut keluar tol Cibubur. Saya kembali berpikir bahwa penderitaan saya akan segera berakhir. Namun, Tuhan berkehendak lain. Dari pintu tol Cibubur menuju Nagrak pun macet parah! Dan pada akhirnya saya menginjakkan kaki di rumah pada pukul 20.15 malam! Hampir 5 JAM PERJALANAN BERDIRI DI DALAM BUS! BAYANGKAN! Saya langsung buru-buru menjatuhkan diri ke kasur dan pada saat ngulet, terdengar suara "Kretek-kretek-kretek." Dan disusul suara "Brot!"
"Halo. Selamat pagi. Dengan Universitas Moestopo? Saya mau mendaftarkan anak saya ke FIKOM."
Kira-kira seperti itu lah Ayah saya berbicara di telepon. "Universitas Prof. Dr. Moestopo? Gak salah tuh?" Pikir saya. Lalu setelah Ayah saya menutup telepon, saya menanyakan hal tersebut ke beliau.
"Abah mau daftarin uis ke Moestopo?"
"Iya. Nanti lo ke sana ya beli formulir. Hari Minggu tes."
"Loh? Universitas Bung Karno gimana nasibnya?"
"Lupakan Universitas Bung Karno. Gua ragu soal kualitasnya."
Mendengar perkataan Ayah saya itu, saya langsung berpikir perjuangan saya ke Universitas Bung Karno untuk membeli formulir di siang bolong minggu lalu itu ternyata sia-sia. Tapi gak papa. Setelah saya browsing memang Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Bahkan salah satu jurnalis idola saya Wendi Putranto merupakan alumni universitas tersebut. Dari segi harga juga cukup jauh dibandingkan dengan Universitas Bung Karno yang uang masuknya hanya sekitar Rp. 2,5 juta dan SPP perbulan Rp. 350 ribu. Di Universitas Moestopo uang masuknya hampir menyentuh angka Rp. 16 juta dan Rp. 4 jutaan per semester. Harga tersebut memang cukup terasa berat bagi keluarga saya. Namun, Alhamdulillah Ayah saya ngomong "Gua akan fight demi masa depan lo." Makasih bah :')
Tepat pukul 11.00, saya berangkat menuju Universitas Moestopo yang terletak di kawasan Senayan. Setelah hampir 2 jam di perjalanan, saya sampai di sana dan langsung masuk ke ruang administrasi PMB Universitas Moestopo. Proses pengisian formulir hanya memakan waktu sekitar 5 menit dan setelah menyerahkan uang sebesar Rp. 300 ribu untuk formulir, saya bisa langsung pulang membawa kartu tes yang harus saya bawa kembali pada saat tes hari Minggu.
Karena baru nyampe udah disuruh pulang lagi, saya memutuskan untuk mampir ke rumah nenek saya di Tanah Abang sekalian mampir makan siang di Pasar Benhil. Saya juga sekalian menanyakan soal nasib KTP saya. Katanya sih udah jadi, tapi Pak RT-nya lagi ke Bogor. Yo wes lah kapan-kapan aja..
Pukul 15.30, saya pamit pulang kepada nenek dan tante saya. Saya naik mikrolet ke Karet untuk naik TransJakarta. Di halte TransJakarta Karet itu lah saya benar-benar baru pertama kali merasakan kekacauan kota Jakarta di jam pulang kantor. Jalan Jendral Sudirman macet parah di kedua arah! TransJakarta yang lewat selalu penuh! Sementara orang yang mengantri di halte sudah membludak! Benar-benar chaotic! Setelah sejam lebih saya berdiri, akhirnya ada satu bus TransJakarta yang cukup lega. Namun pada saat masuk, puluhan orang yang mengantri di belakang saya juga ikut masuk dan saya pun berdiri sambil desak-desakan di dalam bus. Pada saat di dalam bus, sejauh mata memandang hanyalah orang-orang berkemeja kantoran yang jumlahnya buanyak banget. Kekacauan kedua terjadi kembali di Semanggi. Ya. Macet! Perjalanan Semanggi - Cawang yang biasanya hanya memakan waktu 10-15 menit, sore itu memakan waktu hingga 1,5 jam! Dan saya berdiri! Pada saat masuk tol saya kira penderitaan saya akan segera berakhir, namun kenyataannya tidak. Di tol juga macet. Setelah berdiri selama sejam selama macet di tol, bus tersebut keluar tol Cibubur. Saya kembali berpikir bahwa penderitaan saya akan segera berakhir. Namun, Tuhan berkehendak lain. Dari pintu tol Cibubur menuju Nagrak pun macet parah! Dan pada akhirnya saya menginjakkan kaki di rumah pada pukul 20.15 malam! Hampir 5 JAM PERJALANAN BERDIRI DI DALAM BUS! BAYANGKAN! Saya langsung buru-buru menjatuhkan diri ke kasur dan pada saat ngulet, terdengar suara "Kretek-kretek-kretek." Dan disusul suara "Brot!"
Subscribe to:
Posts (Atom)





