Replace NURSUNG13

Thursday, April 10, 2014

Road To UN 2014 : Persiapan dan Nostalgia

"April adalah bulan paling horror bagi pelajar kelas 12 SMA." -Nuris Sungkar, Calon Sarjana Ilmu Komunikasi Dengan IPK 4,00 dan Predikat Cum Laude- AAMIIN!

Itu merupakan quote yang sangat "damn true" bagi seluruh pelajar di Indonesia. Bagaimana tidak? Jerih payah belajar kita selama 3 tahun ditentukan dalam 3 hari. Tjakep. Dan kalo sampe gak lulus (AMIT-AMIT) efeknya akan sangat terasa pahit bagi kami para pelajar SMA. Bayangin kalo kalian gak lulus dan harus mengulang kelas 12 yang penuh dengan perjuangan, pengorbanan, dan ocehan guru serta orang tua, sementara temen-temen kalian udah ada yang kuliah, kerja, atau bahkan nikah. Pokoknya yang namanya gak lulus itu bener-bener AMIT-AMIT dan juga NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK!!!

Berbagai upaya dilakukan oleh para peserta UN dari mulai ikut bimbel, belajar dari pagi ketemu pagi, olahraga dan makanan dijaga agar tubuh selalu fit, hingga berpetualang mencari kunci jawaban liar. Kalo saya sendiri, saya benar-benar realistis dan menyadari ketidakmampuan saya. Untuk mata pelajaran eksakta, saya emang terkenal tolol dari zaman TK dulu. Tapi kalo urusan pelajaran bahasa dan sosial, Alhamdulillah.. Tolol juga. Hehehe nggak lah. Saya Alhamdulillah untuk pelajaran bahasa, terutama Bahasa Inggris, kemampuan saya tidak diragukan lagi. Bukan hanya teman-teman, namun juga guru-guru di sekolah saya mengakui itu. Kalo untuk urusan pelajaran sosial, saya lumayan lah. Dibilang pinter kagak, dibilang bego juga kagak. Maka dari itu, berjuang keras mempelajari materi-materi pelajaran mengasyikkan seperti Matematika, bagi saya merupakan sesuatu yang sia-sia. Karena untuk materi pelajaran mengasyikkan tersebut, saya sudah tertinggal sangat jauh sehingga saya harus mengulang dari materi Matematika SMP. Menurut saya itu hanya akan membuang-buang waktu karena lebih baik waktu tersebut saya gunakan untuk mempelajari materi pelajaran yang cukup saya kuasai seperti Sosiologi, Geografi, Ekonomi (kecuali bagian akuntansi), Bahasa Indonesia, dan tentunya Bahasa Inggris.

Menyadari bahwa UN akan dilaksanakan dalam hitungan hari, saya berpikir bahwa waktu benar-benar berjalan sangat cepat. Rasanya baru kemarin saya berpusing-pusing ria dalam persiapan menghadapi UN SMP. Namun kenyataannya itu sudah 3 tahun yang lalu! 2011! Rasanya juga baru kemarin saya ikut MOS SMAN 2 Gunung Putri. Dan itu juga sudah hampir 3 tahun! Cepat sekali bukan?

Kini, disela-sela saya sibuk memikirkan UN, saya sempat memejamkan mata untuk bernostalgia, mencoba mengulang memori-memori indah selama SMA. Saya ingat Bagus adalah orang pertama yang saya kenal di SMAN 2 Gunung Putri dan saya gak nyangka ternyata kami bergabung di band yang sama dan bisa sampai seakrab sekarang.

Saya ingat ketika baru saja sekitar sebulan masuk SMA, saya sudah berani menembak salah satu cewek yang paling "diincar" di SMAN 2 Gunung Putri dan.. Ehm.. Ditolak.

Saya ingat ketika Agatha mengajak saya untuk mendirikan sebuah band hardcore, dan dinamakan "Hatred" oleh Bagus yang kemudian gabung sebagai vokalis.

Saya ingat pengalaman pertama kali latihan bersama Hatred pada 20 April 2012. Saya ingat pengalaman pertama kali manggung bersama Hatred di Studio Mazaya, Pondok Gede pada 9 Juni 2012.

Saya ingat ketika Ibu saya mengajak saya makan siang di sebuah restoran di Cibubur setelah mengambil raport kenaikan kelas 11.

Saya ingat ketika Jerry mengajak saya untuk bergabung sebagai drummer untuk band deathcore-nya yang bernama Blessed Of Curse pada Oktober 2012.

Saya ingat pertama kali latihan bersama Blessed Of Curse di PnF Studio pada Oktober 2012.

Saya ingat pertama kali photoshoot bersama Blessed Of Curse pada November 2012.

Saya ingat pertama kali manggung bersama Blessed Of Curse di Studio Mazaya pada 5 Desember 2012.

Saya ingat pertama kali rekaman lagu "Device Traitor" bersama Blessed Of Curse pada 21 Desember 2012.

Saya ingat ketika Batgun mengajak saya bergabung dengan Dead Ceremony pada 8 Januari 2013.

Saya ingat pertama kali manggung dengan Dead Ceremony di Nabila Cafe, Ciracas pada 12 Januari 2013.

Saya ingat pertama kali photoshoot dengan Hatred pada 20 Januari 2013.

Saya ingat ketika Om Diaz menelepon saya untuk mengajak saya bergabung sebagai drummer untuk band death metal-nya yang bernama Kraken.

Saya ingat ketika pertama kali latihan dengan Kraken di Rosperks Studio, Fatmawati pada 22 Maret 2013.

Saya ingat pertama kali manggung dengan Kraken di Basement Cafe, Kemang pada 6 April 2013.

Saya ingat ketika manggung di sebuah festival metal terbesar se-Asia Tenggara yang bernama Hammersonic Metal Festival bersama Kraken di Eco Park, Ancol pada 27 April 2013.

Saya ingat ketika jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Shania pada 7 Mei 2013.

Saya ingat ketika mengundurkan diri dari Blessed Of Curse dan Dead Ceremony pada 22 Juni 2013.

Saya ingat ketika saya membuat sebuah gambar ucapan selamat ulang tahun untuk Shania pada 27 Juni 2013.

Saya ingat ketika berpetualang bersama Bagus ke Lawless Kemang, Taman Puring, KoKas, dan pertama kali mengunjungi JKT48 Theater pada 1 Juli 2013.

Saya ingat pertama kali rekaman lagu "Hardcore My Fucking Self" bersama Hatred di EC3 Studio pada 4 Juli 2013.

Saya ingat pertama kali sendirian ke JKT48 Theater untuk membeli kaos pada 6 Juli 2013.

Saya ingat ketika pertama kali gagal nonton JKT48 secara langsung di DahSyat RCTI pada 20 Juli 2013.

Saya ingat pertama kali menyaksikan setlist "Renai Kinshi Jourei" di JKT48 Theater pada 14 Agustus 2013.

Saya ingat ketika pertama kali mengikuti event handshake JKT48 dan memberikan sebuah naskah kepada Shania pada 14 September 2013.

Saya ingat ketika Hatred pertama kali manggung bersama Eman di Erlando Cafe pada 14 Desember 2013.

Saya ingat ketika pertama kali menyaksikan setlist Boku No Taiyou di JKT48 Theater pada 2 Februari 2014.

Saya ingat ketika saya berpetualang dengan Bagus ke Studio RCTI untuk menyaksikan JKT48 di event ulang tahun DahSyat pada 24 Maret 2014.

Saya ingat pertama kali mengurus KTP pada 8 April 2014.

Saya ingat pertama kali ikut pemilu pada pemilihan legislatif 9 April 2014.

Dan saya ingat, saya bentar lagi UN.



Ketika si Nuris Perdana Nyoblos

Nyoblos? Nggak. Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan pelajaran biologi bab reproduksi. Sama sekali gak ada.

Maksudnya nyoblos untuk memilih dan ikut serta dalam menentukan calon legislatif untuk periode tahun 2014 - 2019. Saya emang belom ada KTP (Cerita tentang kegagalan saya dalam mengurus KTP bisa dicek di postingan sebelumnya), tapi karena sudah didaftarkan oleh tante saya, maka untuk pertama kalinya dalam sejarah ketampanan Nuris Sungkar, saya ikutan nyoblos. Ingat, ini gak ada hubungannya dengan pelajaran biologi bab reproduksi. Karena saya bukan anak IPA.

Sebenernya ini masih kelanjutan dari petualangan saya menjajah rumah nenek dalam rangka mengurus KTP. Singkatnya, setelah saya berpetualang ke Universitas Bung Karno dan ke rumah Pak Dullah yang merupakan Ketua RT setempat, keesokan harinya, 9 April 2014, saya ikut menentukan apakah nasib bangsa kembali jatuh ke tangan wakil rakyat keparat, atau jatuh ke tangan wakil rakyat jujur (yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi keparat).

Pada pagi yang cerah, saya, Ayah saya, dan sepupu saya berangkat menuju TPU TPS dengan menggunakan kendaraan favorit kami : sendal swallow. TPS yang terletak hanya dua rumah di sebelah rumah nenek saya, ketika itu sudah diisi oleh para panitia dan masih sedikit 'pencoblos' yang datang. Maklum, kami dateng jam 8 pagi. Tepat di depan TPS, terdapat papan bertempelkan kertas yang berisi berbagai macam logo partai beserta caleg-calegnya. Ayah saya menginstruksikan siapa saja caleg yang harus saya pilih, dan setelah saya melihat kertas tersebut, saya mengangguk yakin. Lalu kami masuk ke dalam lapangan futsal yang disulap menjadi TPS itu dan menyerahkan kartu peserta Pemilihan Legislatif 2014. Sang panitia menerima kartu kami dan mempersilahkan kami untuk duduk. TPS tersebut berisi 3 kotak suara, 3 bilik pencoblosan (?), sebuah meja untuk mencelupkan jari kita ke dalam botol tinta, dan sebuah meja panjang untuk para panitia dan para saksi. Kami duduk bersama dengan para 'pencoblos' lainnya yang dipanggil oleh panitia secara bergantian. 10 menit kemudian, panitia menyebutkan nama "Rosyad Ahmad Sungkar", dan Ayah saya bergegas menyiapkan kacamata dan maju. 5 detik kemudian, "Muhammad Nur Islam Rosyad Sungkar" dan dengan kegagahan maksimal, saya maju ke arah panitia untuk mengambil kertas suara, dan berjalan menuju 'bilik pencoblosan'. Yang pertama saya buka adalah kertas suara berwarna merah. Saya mencoba mengingat-ingat nama yang diberitahukan Ayah saya untuk dicoblos. Caleg-caleg yang diusulkan oleh Ayah saya merupakan yang terbaik dari yang terburuk. Namun semanis dan semenarik apa pun janji-janji para caleg tersebut, sebaik dan sebersih apa pun citra para caleg tersebut, saya pikir kemungkinan untuk "berubah haluan" bagi para caleg tersebut setelah terpilih, masih terbuka lebar. Maka dengan hati yang sangat yakin, saya merobek ketiga kertas suara tersebut. Sempat terpikir oleh saya untuk tidak nyoblos, namun demi menghindari kemungkinan penyalahgunaan kertas suara yang tidak terpakai, terpaksa saya tidak golput dan saya pastikan ketiga kertas suara yang saya rusak di 'bilik pencoblosan', tidak sah. Setelah melipat rapi ketiga kertas suara rusak tersebut, saya berjalan menuju kotak suara untuk memasukkan ketiga kertas suara 'rusak' kedalamnya sesuai dengan warna yang tertera. Lalu saya mencelupkan jari manis saya ke dalam tinta. Ya. Karena jari kelingking terlalu mainstream.

Ketika ditanya Ayah saya setelah sampai di rumah, saya menjawab bahwa saya telah memilih caleg-caleg sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Ayah saya. Berbohong demi idealisme gak masalah kan? Dan satu hal yang bikin saya galau pada hari itu adalah saya tidak bisa memfoto jari manis bertinta saya sebagai dokumentasi hidup karena SD Card hape saya telah wafat 4 hari lalu.

Oh iya soal KTP saya? Pada malam harinya saya kembali menemui Pak Dullah dan menurutnya, KTP saya bisa dicetak di kelurahan pada hari Jumat. Hore!!! Tapi Ayah saya harus merogoh kocek sebesar Rp. 135.000 untuk biaya pembuatan KK baru. Hmmm..

Ketika si Nuris bikin KTP

Ketika genap berusia 17 tahun pada Februari lalu, Ayah saya langsung buru-buru nyuruh saya ngurus KTP. Awalnya saya gak mau, tapi belakangan akhirnya saya ketahui bahwa KTP itu bukan Kartu Titit Pengkor, melainkan Kartu Tanda Penduduk.

Setiap Ayah saya bilang, "Nanti kalo ada waktu luang jangan lupa ngurus KTP ya.", saya selalu menjawab, "Iya, nanti." Sampai berjuta-juta abad kemudian, baru lah saya sadari bahwa KTP harus segera diurus. Kalo nggak katanya bisa menyebabkan impotensi. (?) Karena saya selalu menunda-nunda untuk segera berkunjung ke rumah Pak RT (Bukan. Bukan mau ngapelin Pak RT), maka akhirnya Ayah saya yang turun tangan seorang diri untuk ngapelin minta surat pengantar ke Pak RT. Dan ternyata jawabannya mengecewakan. Menurut Pak RT, KTP itu harus sesuai dengan alamat yang ada di Kartu Keluarga. Sedangkan alamat yang tertera di Kartu Keluarga saya itu di rumah nenek saya di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Itu artinya saya harus kembali berpetualang menunggangi kuda tercinta yang merupakan jenis kawin silang antara bus APTB dengan kambing milik Pak RT. Tjakep.

Seminggu sebelum UN, kami anak-anak kelas 12 benar-benar sedang mengalami masa-masa dimana kami terlalu bingung untuk melakukan sesuatu. Pengen nyantai-nyantai untuk me-refresh otak, malah dibilang "Mau UN bukannya belajar, malah nyantai-nyantai." Giliran mau belajar serius, malah dibilang "UN jangan terlalu dipikirin, dibawa santai aja." Hal itulah yang membuat kami para pendekar penakluk soal UN merasa galau. Mau ini salah, mau itu salah. Daripada puyeng mendingan ngurus KTP ye kan? Akhirnya saya memutuskan untuk melahirkan KTP saya pada hari Selasa, 8 April 2014. Sebenernya, hari itu gak libur. Tapi daripada jadi gelandangan di sekolah, jadi mending meliburkan diri. Toh bolos dengan niat mengurus KTP demi masa depan yang cerah dan gemilang, gak jadi masalah ye kan? Selain bercengkrama dengan Pak RT dan Pak Lurah, pada hari itu juga saya berniat untuk mendaftarkan diri ke Universitas Bung Karno. Secara, calon mahasiswa Komunikasi dengan masa depan yang cerah dan gemilang gitu loh.

Seperti biasa, petualangan saya selalu diawali dengan bunyi alarm. Kali ini saya bangun jam 4 pagi karena saya ingin KTP dan pendaftaran Universitas Bung Karno harus beres hari itu juga. Pukul 05:00, saya berangkat meninggalkan rumah tercinta dengan bekal uang, hape, iPod, fotokopi akte kelahiran dan KK, baju dan celana untuk nginep di rumah nenek, rantang, tiker, kasur, tenda, kayu bakar, piring, gelas, cobek, dispenser, dan keperjakaan. Lalu dengan celana jins buluk, kaos Noxa, sepatu Converse jamuran, dan tas gemblok, saya melangkahkan kaki dengan kegagahan maksimal.

Setelah hampir gila karena menikmati macetnya Ibukota di hari kerja, saya sampai di rumah nenek jam 08:00. Ya. Tiga jam perjalanan. Ralat : Tiga jam perjalanan sambil berdiri di bus APTB karena harus ngalah sama mbak2 kantoran yang makeup-nya setebel lemak babi itu. Lalu saya langsung di antar oleh tante saya menuju rumah Pak RT setempat untuk meminta surat pengantar. Sesampainya disana, saya terkejut sekaligus prihatin melihat kondisi rumah Pak RT yang bernama Dullah itu. Rumah kecilnya terletak di pinggir rel kereta dan bersebelahan dengan kandang kambing. Suasana kumuh dengan bau kambing yang menyengat benar-benar menggetarkan hati saya. Dan ironisnya, rumah Pak Dullah terletak hanya beberapa meter dengan sekumpulan apartment mewah beserta mal-mal nya yang juga menawarkan kemewahan kepada kaum borjuis konsumtif yang hanya mementingkan hasrat bermewah-mewahnya. Jakarta sungguhlah kontras.. Dan tragis.. Pak Dullah, semoga Allah SWT melancarkan rezekimu :)

Oke, bek tu de faking topik. Kata Pak Dullah, saya telat ngurus KTP nya. Seharusnya, ngurus KTP yang bener itu sebelum ulang tahun ke-17 jadi ketika genap berusia 17 tahun, udah bisa megang KTP-nya. Sedangkan saya yang ganteng ini, ngurus KTP ketika hampir 2 bulan setelah berulang tahun ke-17. Tapi syukurnya kata Pak Dullah, masih bisa diusahakan. "Ini masukin dulu data KK sama Akte-nya nanti sore atau malem, kesini lagi aja." Kata Pak Dullah dan saya hanya bisa berterima kasih dan kembali ke rumah nenek untuk ngaso. Sekitar 3,5 jam saya tidur-tiduran, pada pukul 12:30 setelah makan siang, saya kembali melanjutkan petualangan saya ke Universitas Bung Karno. Rute perjalanan saya dari rumah nenek ke Universitas Bung Karno sama persis seperti rute perjalanan ayah saya dulu ketika berkuliah Universitas Pancasila karena kedua universitas tersebut sama-sama terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dua hari lalu, ayah saya memberi tahu angkutan umum apa saja yang harus saya bajak naiki. Pertama angkot menuju Karet, sesampai disana, saya menunggu bus 213 jurusan Grogol - Kampung Melayu seperti yang diinformasikan oleh ayah saya. Namun ketika menunggu di halte Karet, yang paling banyak lewat itu metromini 640 yang melintas hampir setiap semenit sekali. Saya sudah hampir muntah-berak karena bosen ngeliat metromini 640, namun setelah kurang lebih 30 menit membusuk di halte Karet, akhirnya dari kejauhan nampak sebuah bus berwarna putih, bernomor 213, dan bertuliskan "Grogol - Kampung Melayu". Dengan kebahagiaan tiada tara, saya menaikki bus tersebut dan sambil nyengir. Saya harus berdiri karena seluruh tempat duduk penuh. Maka saya pun berdiri sambil menjaga keamanan hape dan dompet tercinta dari tangan-tangan liar Ibukota. Lalu lintas di Jalan Jendral Sudirman menuju Jalan MH. Thamrin tidak begitu padat sehingga bus tersebut dapat sampai di Bundaran HI hanya dalam waktu beberapa menit dan bisa langsung belok menuju Jalan Pangeran Diponegoro. Karena keesokan harinya Pemilu Legislatif, ketika bus tersebut melintasi gedung KPU, sempat 'bersilaturahmi' dengan kemacetan karena banyaknya mobil pers yang parkir di penjuru jalan. 10 menit kemudian, saya turun di depan bioskop Metropole dan berjalan kaki menuju rektorat Universitas Bung Karno yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur No. 17. Saya masuk ke dalam ruangan Pendaftaran Mahasiswa Baru dan bertemu dengan seorang pria berumur sekitar 60 tahunan dan seorang mbak-mbak berjilbab berumur sekitar 25 tahunan yang cukup membuat saya 'gelisah'.

"Assalamu'alaikum. Pak, saya mau beli formulir untuk pendaftaran mahasiswa baru." Tanya saya kepada pria-60-tahunan tersebut.
"Oh iya silahkan. Ini boleh diliat dulu perincian biaya untuk kelas karyawan."
"Saya mau ambil kelas reguler, Pak."
"Oh masih sekolah toh? Saya kira udah kerja. Tampang karyawan soalnya."
"........"

Setelah berkepo-kepo ria mengenai Universitas Bung Karno dengan pria-60-tahunan tersebut, saya menyerahkan uang sebesar Rp. 250.000 untuk membeli formulir. Seperti yang dikatakan oleh si pria-60-tahunan, syarat-syarat pendaftaran Universitas Bung Karno adalah : Fotokopi ijazah SMA yang telah dilegalisir, pas foto, fotokopi akte kelahiran, dan surat bebas narkoba. Sambil menunggu kwitansi pembayaran, kini giliran si mbak-25-tahunan yang nanya-nanya saya.

"Kamu sekolah dimana?"
"SMA Negeri 2 Gunung Putri, Mbak."
"Wah jauh juga ya. Kesini sendiri? Naik apa?"
"Naik perahu cinta kita berdua."

Dan si muka si mbak-25-tahunan pun memerah. Sambil melotot. Saya cuma nyengir kuda.

Setelah pembayaran formulir sudah beres, saya berkunjung ke kampus Universitas Bung Karno yang terletak di Jalan Kimia No. 20. Saya kembali berjalan kaki menuju calon kampus tercinta. Sebelum sampai di kampus, saya melintasi pusat lasik mata yang juga terletak di Jalan Kimia, dan yang membuat saya nyengir bahagia adalah buanyaknya penjual berbagai macam jenis makanan dan jajanan. Dan 'surga-dunia' tersebut terletak hanya beberapa langkah dari kampus. Tjakep. Lalu saya berjalan memasuki gerbang Universitas Bung Karno dan waktu menunjukkan pukul 14:00. Rupanya kelas pagi sudah selesai dan hanya terdapat beberapa mahasiswa yang sedang asyik mengobrol di berbagai penjuru kampus : Musholla, parkiran, tangga, dsb. Ketika saya ingin melihat-lihat kelas fikom yang terletak di lantai 2, saya menaikki tangga dan berpapasan dengan beberapa mahasiswa. Mereka terlihat berbisik-bisik ketika melihat seorang pria-ganteng-berwajah-timur-tengah-berkaos-noxa yang sedang menaikki tangga dengan tampang cool maksimal. Ya. Mungkin mereka pikir saya mahasiswa pindahan. Saya melihat-lihat hampir semua kelas fikom, dan ternyata kelas di kampus itu tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Kelas di kampus itu ternyata lebih menyerupai kelas di tempat les : tidak terlalu besar dan dingin. Setelah puas melihat-lihat, saya turun ke bawah dan kembali nyengir. Banyak terdapat wanita cantik berkaca mata yang cukup menggugah selera. Ketika melihat wanita-wanita tersebut, saya langsung teringat dengan Karla Sekar Arum, seorang crew DahSyat yang saya temui di Studio RCTI 2 minggu sebelumnya. Ya. Karla sempat membuat saya susah tidur selama beberapa hari.

Saya meninggalkan kampus tersebut pada pukul 14:30 dan berjalan kaki (lagi) melewati Kedutaan Besar Sri Lanka menuju halte Megaria untuk menunggu bus 213. Alhamdulillah, ketika saya baru saja duduk di halte, bus tersebut sudah menunjukkan batang hidungnya. Dengan hati yang bahagia, saya menyetop dan menaikki bus tersebut. Tapi sayangnya saya kembali harus berdiri. Perjalanan lancar hingga pada saat bus memasuki Jalan Jendral Sudirman, saya stres. Perpaduan antara teriknya panas matahari yang menyengat dengan kemacetan yang luar biasa, benar-benar membuat saya galau maksimal. Bus tersebut benar-benar berjalan seperti keong hingga akhirnya saya bisa turun di Karet. Ketika saya keluar bus, saya tambah galau karena teriknya panas matahari yang membuat saya pusing. Terlihat tukang es cendol di kejauhan dan saya langsung berlari menghampirinya. "Atu, bang!" Dan 30 detik kemudian saya sudah bisa menikmati segelas es cendol yang nikmatnya tiada tara ketika diminum di siang bolong. 20 menit kemudian, saya sudah kembali berada di rumah nenek saya. Pada malam harinya, saya kembali ke rumah Pak Dullah untuk menanyakan nasib KTP saya, dan jawabannya bikin saya galau. Ketika dicek di kelurahan, NIP (Nomor Induk Penduduk) saya yang seharusnya tertera di KK, ternyata tidak terdaftar. Ini berarti Ayah saya harus membuat KK baru dengan NIP. Maka dengan ini, rencana kelahiran KTP saya pada hari ini, telah resmi gagal.

Terimakasih.

Wednesday, January 15, 2014

28 Lagu Slipknot Terbaik Yang Wajib Anda Dengarkan



Jujur, memang sangat sulit menemukan kebosanan dalam menulis tentang musik, apalagi Slipknot yang merupakan band yang lagunya paling sering saya dengarkan sepanjang masa (setelah Dream Theater). Maka dari itu, saya ingin berbagi opini mengenai beberapa lagu Slipknot terbaik (beserta judul albumnya) yang wajib Anda dengarkan. Here we go..


1.      (Sic) - Slipknot (1999)
2.      Eyeless - Slipknot (1999)
3.      Disasterpieces - Iowa (2001)
4.      People = Shit - Iowa (2001)
5.      Surfacing - Slipknot (1999)
6.      The Blister Exists - Vol. 3 : The Subliminal Verse (2004)
7.      Three Nil - Vol. 3 : The Subliminal Verse (2004)
8.      Liberate - Slipknot (1999)
9.      Sulfur - All Hope Is Gone (2008)
10.  Everything Ends - Iowa (2001)
11.  All Hope Is Gone - All Hope Is Gone (2008)
12.  Vendetta - All Hope Is Gone (2008)
13.  Psychosocial - All Hope Is Gone (2008)
14.  Duality - Vol. 3 : The Subliminal Verse (2004)
15.  Wait and Bleed - Slipknot (1999)
16.  Gematria (The Killing Name) - All Hope Is Gone (2008)
17.  Get This - Slipknot (1999)
18.  Spit It Out - Slipknot (1999)
19.  The Heretic Anthem - Iowa (2001)
20.  My Plague - Iowa (2001)
21.  Eeyore - Slipknot (1999)
22.  Before I Forget - Vol. 3 : The Subliminal Verse (2004)
23.  Purity - Slipknot (1999)
24.  Butcher’s Hook - All Hope Is Gone (2008)
25.  This Cold Black - All Hope Is Gone (2008)
26.  Wherein Lies Continue - All Hope Is Gone (2008)
27.  Opium of The People - Vol. 3 : The Subliminal Verse (2004)
28.  Pulse of The Maggots - Vol. 3 : The Subliminal Verse (2004)


Lumayan banyak ya lagu Slipknot favorit saya? Selamat mendengarkan dan jangan download illegal ya. Silahkan download resmi (iTunes) atau beli CD original-nya.

Saturday, January 11, 2014

Evolusi Musik Slipknot



Sebagai salah satu band metal dunia berkaliber besar, Slipknot kerap menjadi sorotan media-media bergengsi seperti Metal Hammer, Revolver, Rolling Stone, dll. Keunikan dari band bentukan tahun 1995 tersebut memang menjadi nilai plus besar yang membuat media-media di atas seakan tak ada habis-habisnya dalam memberitakan perkembangan Slipknot sehingga popularitas band asal Des Moines, Iowa, Amerika Serikat tersebut terus meroket dan menjadi salah satu band yang fenomenal. Hal-hal unik dan menarik dari mulai penomoran personil, kostum, topeng, instrumen, lirik, hingga musiknya sendiri memang menjadi daya tarik bagi para ‘konsumen’ metal se-dunia.

Kali ini saya akan membahas tentang evolusi musik Slipknot dari mulai debut album mereka yang diluncurkan pada tahun 1999, hingga sekarang.


Slipknot (1999)
Album yang menjadi best-selling Roadrunner Records ini merupakan artefak perdana Slipknot di ranah musik dunia sekaligus menjadi semacam sebuah ‘ledakan’ yang mengagetkan karena merupakan album yang membawa sebuah warna baru dalam dunia musik metal. Percampuran yang sangat baik antara unsur nu metal, hardcore, dan techno membuat Slipknot seakan menjadi nabi yang membawa ajaran baru kepada metalheads dunia sekaligus menjadi band pendatang baru yang fenomenal pada saat itu. Lagu-lagu seperti “(Sic)”, “Eyeless”, “Wait and Bleed”, “Surfacing”, “Liberate”, “Spit It Out”, dan “Get This” seolah menjadi soundtrack harian bagi para metalhead ketika itu. Musik yang perkusif dan groovy, perpaduan vokal scream dan rap, serta lirik yang eksplisit tetapi menarik membuat album ini pantas menjadi sebuah masterpiece bagi Slipknot. Tak heran mengapa album self-titled ini seakan menjadi ‘akar’ bagi Slipknot untuk album-album selanjutnya.

Iowa (2001)
Ketika metalheads dunia belum sempat detoksifikasi dari album self-titled, pada tahun 2001, Slipknot kembali menginjeksi mereka dengan ‘racun’ bernama “Iowa” yang lebih mematikan dari sebelumnya. Album ini masih berada dibawah naungan Roadrunner Records dan tentunya kembali menyandang gelar best-selling. Menurut saya pribadi, sejauh ini belum ada album yang bisa menandingi ‘kegelapan’ Iowa baik dari segi musik, lirik, maupun sound. Jika pada album self-titled saya mendeskripsikannya sebagai album yang ‘liar’, pada album Iowa saya bisa menyebutnya sebagai Slipknot versi ‘buas’ karena karakter vokal growl dan scream Corey Taylor yang sangat menyeramkan pada album ini membuat banyak pihak yang menyebut-nyebut Iowa sebagai album terbaik yang pernah dibuat oleh Slipknot. Unsur groovy pada album ini juga masih sangat terasa sehingga membuat Iowa menjadi lengkap. “Disasterpieces”, “People = Shit”, “Everything Ends”, “My Plague”, dan “The Heretic Anthem” merupakan lagu-lagu yang saya favoritkan pada album ini.

Vol. 3 : The Subliminal Verse (2004)
Roadrunner Records kembali merilis album dari ‘anak emas’nya pada tahun 2004. Sedikit berbeda dari dua album sebelumnya karena unsur nu metal yang sedikit lebih kental, “Vol. 3 : The Subliminal Verse” tetap menjadi album yang berbahaya bagi metalheads dunia. Konten eksplisit dalam lirik yang berkurang dari sebelumnya, membuat album ini seolah menjadi album Slipknot yang lebih dewasa. ­Riff-riff groovy khas Slipknot seperti pada lagu “Three Nil” memang membuat orang menari rusuh ketika mendengarkannya, atau ritem yang energetic pada lagu “The Blister Exists” yang berpotensi membuat para pendengarnya seketika headbang. Pada pertengahan lagu “The Blister Exists” juga terdapat bagian solo drum dan perkusi ala marching band yang memukau dan membuat maggots semakin jatuh cinta dengan Slipknot. Lagu-lagu seperti “Duality” dan “Vermilion” juga menjadi lagu favorit karena karakter vokal clean Corey Taylor yang lebih ditonjolkan yang membuat kedua lagu ini menjadi sebuah ‘patokan’ atas unsur nu metal yang dimiliki Slipknot.

All Hope Is Gone (2008)
Empat tahun setelah dirilisnya “Vol. 3 : The Subliminal Verse”, band dengan sembilan orang personil tersebut kembali dipinang oleh Roadrunner Records untuk yang keempat kalinya. Slipknot kembali menerjang maggots dengan “All Hope Is Gone” yang menurut saya agak ‘berbelok’ dari tiga album sebelumnya. Self-titled, Iowa, dan Vol. 3 : The Subliminal Verse itu istilahnya masih ’11-12-13’, tetapi pada All Hope Is Gone ini Slipknot mencoba untuk lepas dari ‘akar’nya yaitu album debutnya sendiri, walaupun tidak sepenuhnya berhasil. Dari segi sound, saya bisa katakan bahwa ini adalah album Slipknot dengan kemasan sound terbaik karena jika dibandingkan dengan ketiga album sebelumnya, sound pada album ini terdengar lebih tebal dan garang. Saya juga bisa mendeskripsikan album ini sebagai album ‘terberat’ yang pernah dibuat oleh Slipknot karena “Gematria (The Killing Name)”, “Sulfur”, “Psychosocial”, “Vendetta”, “Butcher’s Hook”, “This Cold Black”, “Wherein Lies Continue”, dan “All Hope Is Gone” menjadi lagu-lagu yang membuat Slipknot menjadi monster yang jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya. “Psychosocial” adalah lagu yang mendapat pujian bertubi-tubi karena komposisinya yang berat, namun tetap easy-listening karena dibalut dengan vokal clean Corey Taylor yang melodious pada bagian reff sehingga lagu tersebut menjadi lagu yang mendongkrak popularitas Slipknot ke level selanjutnya. Pada album ini Slipknot juga mencoba untuk lebih bereksplorasi dengan menyuntikkan elemen musik djent dan progressive metal seperti pada lagu “Butcher’s Hook”. Tidak beda jauh dengan “Vol. 3 : The Subliminal Verse”, konten eksplisit dalam lirik pada album ini juga tidak ‘separah’ album self-titled atau yang lebih kejam, Iowa. Sayangnya album ini menjadi album terakhir bagi Paul Gray sang basis yang meninggal dunia pada tahun 2010.


Kurang lebih seperti itulah evolusi musik Slipknot menurut perspektif saya sebagai salah satu dari jutaan maggots di seluruh dunia. Jika dilihat dari segi live performance, ada sedikit kekecewaan atau mungkin keanehan yang saya rasakan setiap menyaksikan rekaman penampilan live Slipknot dari waktu ke waktu. Pertama, semenjak kematian Paul Gray, Slipknot terlihat seperti mengurangi ‘dosis ugal-ugalan’ ketika sedang manggung. Berkurangnya aksi-aksi chaotic yang biasa ditampilkan oleh Slipknot seperti headbanging, lompat-lompat, hingga stage diving, hingga bakar-bakaran seperti pada era album self-titled memang membuat saya kecewa. Bahkan Joey Jordison yang terkenal jago headbanging sambil main drum itu sudah tidak pernah melakukan itu lagi ketika manggung pasca kematian sang basis. Kedua, lagu-lagu ‘berbisa’ dari album All Hope Is Gone seperti “Gematria (The Killing Name), “Vendetta”, “Wherein Lies Continue”, dan “This Cold Black” tidak pernah dibawakan secara live, entah mengapa. Ketiga, 3-4 tahun terakhir, vokal growl dan scream Corey Taylor ketika tampil secara live menurut saya sangat-sangat buruk dan terdengar seperti orang yang tidak bisa melakukan hal itu, terutama saat membawakan lagu-lagu dari tiga album pertama Slipknot. Hal tersebut membuat saya sangat kecewa karena Corey Taylor terkenal dengan ‘kesadisan’ vokal growl dan scream-nya seperti pada album Iowa yang benar-benar mengagumkan itu. Intinya, menurut saya saat ini hal-hal yang bisa menjadi nilai plus pada saat Slipknot tampil secara live hanyalah panggung besar dengan tata lampu dan suara yang megah, hidraulik pada drum Joey Jordison dan perkusi Shawn Crahan, dan festival-festival musik berkaliber besar dan bergengsi yang selalu di-headlining oleh Slipknot.



Seperti yang saya lansir pada postingan sebelumnya, Jim Root memberikan sebuah kode berupa foto tentang Slipknot yang sedang rekaman untuk album terbarunya yang rencananya akan dirilis pada tahun 2014. Hal ini tentu menimbulkan dua tanda tanya besar, “Akan terdengar seperti apa Slipknot pada album barunya? Apakah album tersebut bisa menandingi ‘kebuasan’ empat album sebelumnya?”



Well, we’ll see..

                                                                                                                             

Friday, January 10, 2014

Kode Jim Root Untuk Album Baru Slipknot


Seluruh fans Slipknot di dunia nampaknya saat sedang dibuat bingung sekaligus bahagia oleh beberapa hal yang dilakukan oleh band asal Iowa, Amerika Serikat tersebut.

Pasalnya, pada akhir Desember 2013 lalu, sebuah berita yang menggemparkan dunia, di-post oleh situs resmi Slipknot yang berisi tentang pengunduran diri Joey Jordison sang drummer. Tentunya hal ini membuat para fans kecew karena beberapa bulan sebelumnya, Corey Taylor sang vokalis berkata bahwa 2014 akan menjadi tahun rilis album terbaru Slipknot setelah terakhir merilis album pada tahun 2008 lalu. Dengan hengkangnya Joey Jordison, tak bisa dipungkiri lagi, banyak fans yang berasumsi bahwa Slipknot membatalkan perilisan album baru tersebut. Berita pengunduran diri Joey Jordison juga bertentangan dengan pernyataannya kepada Loudwire pada Juli 2012 bahwa sang drummer sudah menciptakan 40 buah lagu untuk album-album Slipknot berikutnya.

Bagaikan pelangi yang muncul setelah hujan badai, Joey Jordison mengumumkan statement melalui halaman Facebook resminya yang menegaskan bahwa dirinya tidak mengundurkan diri dari band yang mengisi hari-harinya selama 18 tahun terakhir. Hal ini tentu menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan kekecewaan para fans. Namun, banyak pihak yang berpendapat bahwa Joey Jordison sebenernya dipecat oleh Slipknot dengan alasan pengunduran diri, namun tak sedikit juga yang berpendapat bahwa hal ini sengaja dibuat oleh Slipknot untuk mendobrak sensasi album baru mereka.

Kemarin, Jim Root sang gitaris mengunggah sebuah foto dirinya sedang memegang gitar Fender-nya di dalam sebuah studio rekaman lewat akun Instagram-nya dengan hashtag singkat, padat, dan jelas : #Slipknot2014

#Slipknot2014


Sebuah kode yang sangat kuat bukan? Semoga album baru mereka dapat diselesaikan dan dirilis secepatnya kepada para maggots yang sudah 'kehausan' selama 6 tahun menunggu karya selanjutnya dari sang idola.

Friday, December 13, 2013

Joey Jordison Mengundurkan Diri dari Slipknot

Joey Jordison resmi mengundurkan diri dari Slipknot yang merupakan band yang digawanginya sejak 1995. Berita mengejutkan ini baru saja di-post beberapa menit yang lalu oleh loudwire.com yang menyatakan bahwa Joey Jordison hengkang dikarenakan dirinya ingin lebih fokus dengan Scar The Martyr yang merupakan side project nya bersama Jed Simon (Strapping Young Lad) dan Kris Norris (Darkest Hour). Berikut pernyataan resmi dari official website Slipknot :

"To our Maggots and fans around the world,

It is with great pain but quiet respect that, for personal reasons, Joey Jordison and Slipknot are parting ways. We all wish Joey the best in whatever his future holds.

We understand that many of you will want to know how and why this has come to be, and we will do our best to respond to these questions in the near future.

It is our love for all of you, as well as for the music we create, that spurs us to continue on and move forward with our plans for releasing new material in the next year. We hope that all of you will come to understand this, and we appreciate your continued support while we plan the next phase of the future of Slipknot.

Thank you, The ‘Knot"

Hal ini bertentangan dengan hasil wawancara loudwire.com dengan Joey Jordison pada Juni 2012 lalu yang menyatakan bahwa Joey Jordison telah menulis 40 lagu untuk album Slipknot selanjutnya.

Kemungkinan adanya faktor internal bisa menjadi penyebab hengkangnya drummer kelahiran 26 April 1975 tersebut.

Selama 18 tahun terakhir, Slipknot bersama Joey Jordison telah menelurkan 4 buah album dan meraih berbagai macam penghargaan.