Replace 2013

Friday, December 13, 2013

Joey Jordison Mengundurkan Diri dari Slipknot

Joey Jordison resmi mengundurkan diri dari Slipknot yang merupakan band yang digawanginya sejak 1995. Berita mengejutkan ini baru saja di-post beberapa menit yang lalu oleh loudwire.com yang menyatakan bahwa Joey Jordison hengkang dikarenakan dirinya ingin lebih fokus dengan Scar The Martyr yang merupakan side project nya bersama Jed Simon (Strapping Young Lad) dan Kris Norris (Darkest Hour). Berikut pernyataan resmi dari official website Slipknot :

"To our Maggots and fans around the world,

It is with great pain but quiet respect that, for personal reasons, Joey Jordison and Slipknot are parting ways. We all wish Joey the best in whatever his future holds.

We understand that many of you will want to know how and why this has come to be, and we will do our best to respond to these questions in the near future.

It is our love for all of you, as well as for the music we create, that spurs us to continue on and move forward with our plans for releasing new material in the next year. We hope that all of you will come to understand this, and we appreciate your continued support while we plan the next phase of the future of Slipknot.

Thank you, The ‘Knot"

Hal ini bertentangan dengan hasil wawancara loudwire.com dengan Joey Jordison pada Juni 2012 lalu yang menyatakan bahwa Joey Jordison telah menulis 40 lagu untuk album Slipknot selanjutnya.

Kemungkinan adanya faktor internal bisa menjadi penyebab hengkangnya drummer kelahiran 26 April 1975 tersebut.

Selama 18 tahun terakhir, Slipknot bersama Joey Jordison telah menelurkan 4 buah album dan meraih berbagai macam penghargaan.

Wednesday, December 11, 2013

Ketika si Nuris Ikutan Stand Up Comedy


Stand up comedy? Definisinya adalah ngelawak sambil berdiri. Ya. Maksudnya adalah kita berdiri sendirian di sebuah panggung, dan melawak sambil ditonton orang-orang.

Saya sendiri baru tau stand up comedy pada akhir 2011 dari seorang teman. Sebelumnya, yang saya tahu stand up comedy itu ada di adegan film-film Hollywood, biasanya latar tempatnya di café. Stand up comedian (biasa disebut comic) yang pertama kali saya saksikan adalah Raditya Dika. Seseorang yang saya koleksi buku-buku edan-nya itu saya temukan video aksi stand up comedy-nya di YouTube ketika ia sedang perform di Rolling Stone Café. “Gokil” adalah kata pertama yang muncul di hati saya ketika melihat aksinya yang mengocok perut itu.

Stand up comedy menjadi semakin nge-tren ketika Metro TV meluncurkan sebuah program yang mengizinkan para comic untuk beraksi dan ditayangkan di layar kaca. Setelah Raditya Dika, semakin banyak nama-nama comic yang bermunculan pasca peluncuran program stand up comedy di Metro TV tersebut, diantaranya Soleh Solihun, Jui, Mongol, Mudi Taylor, Pandji Pragiwaksono, dll yang juga tidak kalah gokil dengan Raditya Dika. Beberapa bulan kemudian, Kompas TV juga tidak mau kalah dalam memberikan kesempatan kepada comic untuk eksis, yaitu dengan meluncurkan sebuah kontes stand up comedy yang lebih dikenal dengan nama SUCI, dan berhasil menghasilkan nama-nama seperti Ge Pamungkas, Kemal Palevi, Ernest Prakasa, Ryan, Fico, Babe, dsb.

Melihat hal itu, saya merasa tertantang untuk tidak lagi menjadi seorang penikmat stand up comedy belaka, namun saya berminat untuk terjun ke dalam dunia tersebut. Sebelum berpikiran seperti itu, sudah banyak sekali teman-teman yang menyarankan saya untuk ber- stand up comedy­, termasuk Ayah saya pun memberikan saran yang sama. Pada awalnya, saya masih belum yakin, namun seiring berjalannya waktu dan materi-materi yang terkumpul dengan sendirinya, saya memberanikan diri untuk mencobanya.

Open mic! Ya! Itu adalah satu-satunya jalan untuk pemula yang ingin mencoba aksi stand up comedy perdananya. FYI, open mic adalah sebuah kegiatan yang mengizinkan siapa pun untuk ber- stand up comedy yang diadakan oleh hampir setiap komunitas regional stand up comedy di Indonesia. Hanya ada 2 komunitas regional yang bisa dijangkau oleh saya, yaitu komunitas stand up comedy Bekasi, dan komunitas stand up comedy Cibubur. Maka dari itu, saya mulai mem-follow kedua akun tersebut di Twitter.

Proses pengumpulan materi hanya memakan waktu kurang dari seminggu, dan saya sering berlatih di depan cermin secara berkali-berkali, maka saya merasa sangat siap untuk berkicau di atas panggung. Pada hari Kamis, 5 Desember 2013, saya berangkat ke Yummy Café Duren Sawit untuk ber-open mic ria yang diadakan oleh sebuah komunitas stand up comedy regional Bekasi, yang (sebut saja) Stand Up Comedy Bekesong.

Ketika itu saya sedang UAS, maka saya dapat pulang lebih cepat dari biasanya. Jam 5 sudah sampai di rumah. Dengan ditemani oleh Bagus (teori “Dimana ada Bagus, disitu ada Nuris, dan sebaliknya” ternyata benar), kami berangkat menerjang hujan dengan mengendarai seekor sepeda motor milik Bagus, menuju Yummy Café.

Seperti yang di-informasikan melalui akun (sebut saja) @StandUp_Bekesong, open mic akan dimulai pukul 7 malam, dan saya menapakkan kaki di Yummy Café, tepat pukul 7 malam. Namun sayangnya, masih sepi. Kami pun duduk berhadapan di sebuah meja yang terdapat di dalam Yummy Café yang masih sepi itu, layaknya sepasang kekasih gay metal berkaos DeadSquad dan Seringai. (AMIT-AMIT YA ALLAH..) Minuman kami pun tidak kalah unyu. Mungkin bagi sebagian orang yang melihat kami yang berpenampilan seperti itu masuk ke dalam café, mereka akan menyangka kami akan memesan bir sebagai minuman lelaki perkasa. Namun yang kami pesan adalah 2 gelas Ice Milo Dinosaurs. Ya. Semakin terlihat seperti sepasang kekasih gay metal. (NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK!!!). Menit demi menit berlalu. Jam demi jam berlalu, dan open mic belum juga dimulai. Stok topik obrolan antara saya dan Bagus pun sudah hampir habis. Kami mengobrol dari mulai soal JKT48 (mostly), band metal, band harcore, UAS, UN, hingga bokep. Saya sudah hampir 12X bolak-balik kamar mandi (tanyakan kepada rumput yang bergoyang) dan ternyata para anggota komunitas @StandUpIndo_Bekesong masih bercakap-cakap di area parkiran, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Besok masih UAS. Fak.

Syukurnya, ketika saya keluar dari kamar mandi untuk yang ke-13 kalinya, para comic tersebut sudah berada di dalam café dan sang MC memulai acara open mic. “Selamat datang di open mic Stand Up Comedy Bekesong! Bagi yang mau ikutan open mic, silahkan daftar ke mas-mas yang kumisan di sebelah sana.” Kata si MC sambil menunjuk mas-mas kumisan itu. Saya pun menghampirinya.

“Bang, mau ikutan open mic.”
“Oh silahkan. Ini tinggal diisi nama sama username Twitter-nya, mas.” Kata dia sambil memberikan saya secarik kertas.

Saat saya sedang menuliskan nama saya di kertas tersebut, si MC yang belakangan saya ketahui bernama Abi, menghampiri saya.

“Dari mana bro? Baru pertama kesini ya?”
“Dari Cibubur bang. Iya saya baru pertama kesini.”
“Oh kalo open mic di Cibubur udah sering dong ya?”
“Belom bang. Ini perdana saya open mic.”
“Ooooh.. nanti kalo di panggung kalo nge-blank wajar kok. Santai aja.”

Abi sang MC kembali naik ke atas panggung dan kembali berkicau.

“Yak kita mulai saja open mic pada malam hari ini. Comic pertama malam ini jauh-jauh datang dari Cibubur dan malam ini pecah keperawanannya sebagai comic. Beri tepuk tangan untuk Nuris Sungkar!!!”

Saya naik ke atas panggung dan mengambil microphone. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sudah berkali-kali berlatih di rumah, maka Alhamdulillah tidak ada rasa nervous sama sekali. Para anggota komunitas duduk berjejer tepat di depan panggung layaknya juri Indonesian Idol, dan para penonton biasa duduk agak jauh dari panggung.

“Assalamu’alaikum WR WB.” Kata saya dan penonton menjawab serentak.
“Selamat malam.” Kata saya dan lagi-lagi penonton menjawab serentak.
“Nama gua Nuris Sungkar. Hmm.. Jam berapa sih nih? Gua ngantuk ya.. Padahal nanti malem gua ada janji sunah rosul sama Shania JKT48.” Buka saya dan para penonton awam tertawa ala kadarnya, sedangkan para anggota komunitas diam tanpa kata. Karena jumlah anggota komunitas yang mayoritas, bit perdana saya itu terasa sunyi. Saya melanjutkan.
“Disini ada yang pernah boker di celana gak? Ayo yang pernah angkat tangan.” Dan yang angkat tangan Cuma para penonton awam. Para anggota mafia komunitas hanya terdiam sambil memasang tampang yang sangat bete.
“Jadi gua ini dari TK udah terkenal suka boker di celana. Dan naasnya, di hari pertama gua masuk SD, gua udah boker di celana. Jadi waktu itu, guru gua lagi baca tabloid sambil nungguin murid-murid ngerjain LKS. Karena gua udah terbiasa boker di celana dari TK, gua gak nyadar kalo ternyata gua lagi boker. Guru gua gak sengaja liat.
“Nuris, kamu ee’ di celana ya?”
Hah? Oh iya, Bu. Hehehe.” Kata gua setelah nyadar kalo tokai gua udah nyampe paha.
Cebok dong sana! Ntar pada kebauan tuh temen-temennya.”
Saya belom bisa cebok sendiri, Bu.”
“Haduuh.. yaudah sini ikut ibu ke kamar mandi.”
Ini bukan bokep ya. Gua tau nih muka-muka lo tuh muka-muka RedTube semua. Gua tau lo nyangkanya gua dibawa ke kamar mandi, diiket di bangku, udah gitu guru gua pake baju Catwoman sambil bawa-bawa pecut gitu kan? Nggak. Itu fetish banget. Guru tuh pantes banget disebut pahlawan tanpa tanda jasa karena walaupun dia bukan ibu gua, dia bersedia nyebokin gua. Gua dicebokin men. Tapi lo tau gua dicebokin pake apa? PAKI KAKI MEN!” Saya begitu yakin ketika saya meneriakkan punchline “PAKE KAKI MEN!”, para penonton akan tertawa terbahak-bahak. Namun Tuhan berkata lain. Yang ketawa terbahak-bahak malah jangkrik. Fak. Bit kedua gagal juga. Dan para anggota komunitas tersebut hanya tersenyum sinis dan Abi sang MC menyilangkan kedua tangannya dengan eskpresi meremehkan saya. Emang sih Cuma becanda. Tapi gesturnya tuh seakan berkata, “LO TUH GAK PANTES DISINI! PULANG AJA, NYET!”. Setelah melihat ekspresi para pemilik acara tersebut, lagu Creep-nya Radiohead pun mengudara di dalam hati saya.

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here”

Ya sedih memang. Tetapi saya tetap harus melanjutkan penampilan saya dengan bit-bit selanjutnya. Namun karena belum pulih dari reaksi para anggota itu, saya nge-blank.

“Hmm.. Oke gua nge-blank. Sori.” Kata saya dan para anggota tersebut malah memberikan saya tepuk tangan yang amat sangat meriah. Saya cuma bisa melotot heran sambil geleng-geleng palkon kepala. Akhirnya, bit-bit selanjutnya saya tampilkan dengan seadanya dan hasilnya tetap sama. 3 menit kemudian saya turun panggung.

“Ya itulah tadi penampilan dari Nuris Sungkar.” Bagus yang sedari tadi merekam saya dengan kamera digital cuma bisa memasang tampang prihatin sambil menjabat tangan saya. Saya langsung melihat video hasil rekaman Bagus tersebut dan saya seketika berekspresi seperti ini :

Kebayang kan betapa menyedihkannya penampilan stand up comedy saya? Ya. Saya cuma bisa menahan duka dengan pergi ke toilet dan menangis dibawah guyuran keran wastafel. Saya tak kuasa menahan rasa kecewa dan pamit pulang kepada para anggota yang udah pada jago ngelawak dan tidak pernah meremehkan orang lain itu.

Ketika di perjalanan pulang saya hanya bisa menyadari bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai dengan keinginan dan pada saat yang sama, saya nge-tweet :

“#np Radiohead – Creep” 

Bagi yang penasaran mau liat betapa garingnya aksi stand up comedy saya, ini videonya :

Friday, November 29, 2013

I'm Gonna Make Him An Offer He Can't Refuse




Ngomongin soal mafia emang seru banget. Saya dibesarkan di sebuah keluarga mafia freak, atau keluarga yang tergila-gila dengan hal-hal yang berkaitan dengan mafia, terutama Ayah saya. Beliau memiliki bertumpuk-tumpuk film mafia, dari mulai The Godfather, Goodfellas, Scarface, Casino, The Untouchables, sampe Mafia Pelangi. Oke kalo yang terakhir itu saya bercanda. Tapi bisakah Anda bayangkan ada sebuah film berjudul Mafia Pelangi? Jadi ceritanya ada segerombol mafia asal Belitong yang memiliki sebuah markas yang tak layak. Atapnya jebol, lantainya gak pake keramik, meja dan kursinya reot, pokoknya persis kandang kambinglah. Dan anggota mereka salah satunya ada yang kalo mau berangkat meeting ke markas harus lewatin buaya darat dulu, ada yang pake sepatu cewek, dan ada juga yang meeting nyékér. Menyedihkan ya?

Mafia selalu identik dengan film The Godfather, sebuah film yang dirilis tahun 1972 dan merupakan sebuah film tersukses sepanjang masa. Film The Godfather ini emang bagus banget. Kalo disuruh sebutin satu judul film yang paling saya suka, ya saya pasti akan sebut The Godfather. Soalnya hampir dari semua segi, film ini emang perfect. Dari segi pemeran, film ini dibintangi oleh 3 aktor canggih, yaitu Al Pacino (yang mirip saya itu), Marlon Brando (saking terkenalnya, nama doi dimasukin ke penggalan lirik lagunya Slipknot yang judulnya Eyeless), dan Robert Duvall. Dari segi tema, waktu itu emang lagi booming-boomingnya film tentang mafia dan The Godfather lah yang waktu itu jadi nomer 1. Dari segi musik juga perfect, soundtrack film ini terkenal banget sampe-sampe kalo di berita-berita yang lagi ngebahas soal mafia hukum, pasti musik latarnya soundtracknya The Godfather. Dan dari segi-segi lainnya, film ini perfect.

Mau The Godfather atau apa pun itu, selama film tersebut masih menceritakan tentang mafia, pasti identik dengan kekerasan. Dari mulai kekerasan fisik (contohnya di The Godfather ada adegan si Lucabrasi tangannya ditusuk piso dapur dan lehernya dicekik pake sejenis tali rapia sampe si Lucabrasi melet-melet sambil merem-melek gitu), sampe kekerasan verbal. Di film The Godfather itu ada semacam quote yang terkenal banget, yaitu : “I’m gonna make him an offer he can’t refuse.”

Quote itu muncul ketika si Michael Corleone yang notabene anak dari seorang kepala mafia, cerita ke ceweknya tentang betapa kejamnya keluarganya ketika berurusan dengan orang. Si Michael cerita bahwa bokapnya itu punya seorang anak angkat yang namanya Johnny Fontane yang merupakan seorang vokalis dari sebuah big band. Pada suatu saat, si Johnny resign dari big band tersebut karena dia ingin solo karir, tapi ditahan sama ketua big band tersebut. Pokoknya si ketua big band ini keukeuh kalo si Johnny harus tetap menjadi vokalis big bandnya dia untuk selama-lamanya. Mungkin karena si Johnny kesel, ngadu-lah dia ke bokap angkatnya yang merupakan seorang kepala mafia yang sangat disegani di kota New York. Akhirnya si kepala mafia yang bernama Vito Corleone itu mengutus beberapa orang anak buahnya untuk beresin kasus anak angkatnya. Dan si Vito ini ngomong “I’m gonna make him an offer he can’t refuse.” atau bahasa gaulnya “Gua akan ngasih doi sebuah tawaran yang gak bisa doi tolak.” Tawaran tersebut adalah si ketua big band suruh milih. Jadi si Vito cs ini bawa surat pengunduran dirinya si Johnny, si ketua big band disuruh milih : mau tanda tangannya yang ada di atas surat tersebut, atau otaknya. Dan Vito cs ngomong gitu ke si ketua big band sambil nodongin beceng yang terkokang rapih dan siap jedor kapan pun ke kepala si ketua big band. Akhirnya si ketua big band memilih untuk menandatangani surat tersebut sebagai pernyataan bahwa dia mengizinkan si Johnny untuk resign dari big band tersebut.

Di The Godfather, itu emang cuma diceritain aja, dan gak dikasih liat adegan tawar-menawar tersebut. Tapi yang kayak gini kalo ditonton sama anak dibawah umur bisa merusak anak tersebut secara psikologis. Nah pada suatu Minggu pagi yang cerah, di sebuah perjalanan menuju Metropolitan Mall Bekasi, saya seangkot sama sebiji om-om dan 2 ekor anak kembarnya. Dua sejoli tersebut lagi berebutan mainan.

“Ah kamu! Ini kan mainanku!”
“Bukan! Ini mainanku!”
“Denger ya, ini ada surat hak milik atas mainan kera ingusan ini yang menyatakan bahwa mainan ini sepenuhnya milikku. Dan kamu harus menandatangani surat ini sebagai persetujuan.”
“Iyuh! Ogah! Aku gak mau!”
“Kamu tinggal pilih. Mau tanda tangan kamu yang ada di atas surat ini, atau otakmu?!”

Mendengar kalimat maut tersebut, saya seketika melotot sambil geleng-geleng kepala dan istighfar. Saya pun bertanya kepada si om-om yang merupakan Ayah dari 2 mafia cilik berwajah identik tersebut.

“Om, ini kok anaknya ngomongnya gitu ya? Sering dikasih tonton The Godfather ya?”
“Iya. Kenapa kamu? Gak suka?!”
“Bukannya gitu, om. Itu gak baik buat anak om sendiri. Ini bisa-bisa kebawa sampe gede loh. Coba om bayangin ketika dia udah gede, dia nembak cewek :

“Kamu mau gak jadi pacar aku?”
“Hmm.. maaf ya aku lagi nunggu seseorang.”
“Denger ya, aku punya surat pengakuan bahwa mulai hari ini kamu jadi pacar aku, dan sebagai persetujuan, kamu harus menandatangani ini.”
“Gak mao!”
“Kamu tinggal pilih. Mau tanda tangan kamu yang ada di atas surat ini, atau otakmu?!”

Dan dia ngomong gitu ke cewek tersebut sambil ngasah piso dapur. Amit-amit kan om? Apalagi kalo misalnya dia suatu hari dipecat sama bosnya.

“KAMU SAYA PECAT!!!”
“Denger ya, Nyet! Disini gua punya surat pernyataan bahwa gua bisa kerja di perusahaan lo sampe gua bosen! Dan sebagai persetujuan, lo harus menandatangani surat ini, monkey!!!”
“NO FUCKING WAY!!!”
“Lo tinggal pilih. Mau tanda tangan lo yang ada di atas surat ini, atau otak lo?!”

Dan dia ngomong gitu sambil nodongin AK47 ke kepala bosnya. Amit-amit kan om? Makanya jangan sembarangan ngizinin anak nonton film The Godfather.”

“Denger ya dek, saya barusan bikin surat pernyataan bahwa kamu harus segera turun dari angkot ini sekarang juga. Dan sebagai persetujuan, kamu harus menandatangani  surat ini.”
 “Hah? Maksudnya?”
 “Kamu tinggal pilih. Mau tanda tangan kamu yang ada di atas surat ini, atau BIJI KAMU?!” Kata si om-om berwajah Kapten Haddock tersebut sambil ngasah celurit.
 “BANG, KIRI BANG!!!”

He really made me an offer I couldn’t refuse.

Tuesday, November 26, 2013

#DoaAnakTeladan dan #PrayForNuris

Hari ini saya tidak masuk sekolah dikarenakan hujan deras yang tak kunjung reda, dan kebetulan saya merupakan orang yang oportunis. Saya selalu memanfaatkan kesempatan dan kondisi yang ada, contohnya ya bolos sekolah dengan alasan hujan deras. Alasan yang masuk akal bukan? Guru pun pasti akan memaklumi jika memang hujan deras tersebut benar-benar tak kunjung reda. Saya merasa gelisah disaat hujan mulai reda, namun saya berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan agar hujan tersebut diawetkan. Sambil menikmati hujan, saya sempat membuat tweet-tweet dengan hashtag #DoaAnakTeladan dan #PrayForNuris yang cukup kontroversial. Cekidot!



#AnakTeladan :')

5 MENIT KEMUDIAN


Ya kurang lebih begitulah tweet-tweet kontroversial yang saya buat tapi sayangnya harus berakhir dengan #BoolPanas. Jika kalian menyimak gambar-gambar screenshot di atas, terdapat SDN 02, 04, dan 05 Nagrak. Mungkin sebagian dari kalian ada yang belum tau bahwa itu adalah SD-SD malang yang ditumpangi oleh para siswa/i SMAN 2 Gunung Putri yang notabene kriminal tulen. Ya. SMAN 2 Gunung Putri belum mempunyai gedung dan masih menumpang di 3 SD yang berbeda. Kelas 10 di SDN 02 Nagrak, Kelas 11 di SDN 02 Nagrak, dan Kelas 12 di SDN 05 Nagrak. Kata "menumpang" memang sangat identik dengan sekolah kami. Dulu, disaat saya masih kelas 10, SMAN 2 Gunung Putri menumpang di SMPN 3 Gunung Putri yang merupakan sebuah SMP yang memiliki tanah dan bangunan yang cukup luas sehingga dapat menampung semua murid SMAN 2 Gunung  Putri, atau yang lebih dikenal dengan Smapang (SMA Numpang). Namun kami para murid rupanya tidak bersyukur bahwa walaupun numpang, kami numpang di sebuah sekolah yang layak ditumpangi. Hingga 1,5 tahun kemudian, seluruh murid dan guru SMAN 2 Gunung Putri dideportase oleh SMPN 3 Gunung Putri dengan alasan kami para murid tidak dapat merawat fasilitas yang disewakan oleh mereka. Lalu kami angkatan II ditumpangkan di SDN 04 Nagrak yang terletak di dalam hutan belantara, yang jauh dari pemukiman warga, serta persis dengan setting di film-film perang vietnam. Ya. Saya juga seketika ingat dengan film Laskar Pelangi. Untuk mencapai SDN 04 Nagrak pun benar-benar tidak mudah. Saya pejalan kaki dan para teman-teman yang mengendarai motor pun harus melewati rintangan-rintangan berupa jalanan tanah merah lengkap dengan lubang-lubang maut dan akan berubah menjadi empang ketika hujan turun. Kami menumpang di SD Laskar Pelangi tersebut selama 6 bulan. (Ralat : 6 bulan penuh penderitaan).

Syukurnya, pada tahun ajaran baru 2012/2014, angkatan II ditumpangkan di SDN 05 Nagrak yang lebih layak untuk ditumpangi dan aksesnya pun sangat mudah karena terletak di pinggir jalan raya. Tidak seperti SDN 04 yang terletak di tengah semak belukar tempat jin buang anak. Namun yang kini harus menderita adalah angkatan IV yang harus menumpang di SDN 04 Nagrak. Namun itu pun masih banyak keluhan-keluhan yang muncul dari pihak SD karena sifat apatis kami dalam merawat fasilitas SD. Banyak dari kami yang ngeles dengan alasan bahwa kerusakan-kerusakan, kelas yang kotor, serta properti-properti yang hilang merupakan ulah murid SD sendiri. Pada awalnya para guru percaya, namun semuanya berubah ketika banyaknya pembalut wanita yang ditemukan mengambang di WC. Ulah murid SD kah? Hmm..

Wednesday, June 19, 2013

Godzilla : 20th Years of Aggression




The Official Flyer
Perjalanan saya waktu itu dimulai dengan saya membeli sebotol jus jeruk di sebuah mini market di dekat rumah saya. Suatu pagi dengan cuaca yang cukup panas, saya awali dengan menaikki angkot jurusan Cileungsi. Waktu menunjukkan pukul 09.20 WIB saat saya berada di dalam angkot tersebut. Sebuah perjalanan yang cukup panjang dari Ciangsana, Bogor, menuju Bulungan, Jakarta Selatan akan saya hadapi dengan teriknya panas matahari dan playlist album “Perang Neraka Bumi” dari Dead Vertical melalui iPod yang saya simpan di kantong jins saya. Saya akan mendatangi sebuah acara bertajuk “Godzilla : 20th Years of Agression” yang merupakan acara perayaan ulang tahun ke-20 dari band death metal ibukota bernama Godzilla yang diadakan di Bulungan Outdoor. Mendatangi acara tersebut sudah saya rencanakan bersama teman-teman dari band hardcore saya Hatred dari satu bulan sebelumnya. Maka dari itu saya sudah menyusun rencana rute angkutan umum dari rumah saya di kawasan Ciangsana menuju Bulungan. Pilihan yang jatuh kepada sebuah bus jurusan Cileungsi – Blok M yang sebelumnya pernah melintas di depan saya ketika saya berangkat ke studio latihan.

Tepat pukul 10.00 WIB, saya menapakkan kaki di prapatan Cileungsi untuk menunggu kehadiran sang bus. 30 menit berlalu dan bus itu belum terlihat, lalu saya membeli sebotol jus jeruk lagi mengingat panasnya cuaca dan saya hanya ditemani oleh topi loreng milik ayah saya. Botol jus jeruk itu sudah habis 15 menit yang lalu, dan bus itu belum melintas juga. Saya bertanya ke sebuah pedagang asongan tentang eksistensi bus keparat tersebut, dan beliau menjawab bus tersebut melintas hanya 2 jam sekali, dan bus tersebut baru berangkat sekitar jam 10. Damn! Jadi ketika saya turun dari angkot, bus tersebut baru mengangkat jangkar. Saya melakukan brainstorming selama beberapa saat, dan setelah Departemen Pengambil Keputusan di otak saya sudah memberikan hasil rapat selama 5 menit, saya memutuskan untuk menaikki angkot 121 jurusan Cileungsi – Kampung Rambutan yang melintas setiap saat.

15 menit kemudian angkot tersebut memasuki pintu tol Cibubur dan hanya 15 menit dari pintu tol Cibubur, angkot tersebut sudah berhenti di sebuah tempat bertuliskan “Terminal Kampung Rambutan”. Saya membeli sebotol air mineral untuk membasahi kerongkongan dan menunggu bus jurusan Kampung Rambutan – Blok M. Alhamdulillah, tepat di saat botol air mineral tersebut kosong, bus yang saya tunggu-tunggu itu melintas dan berhenti di depan wajah saya. Tanpa ragu, bus kosong tersebut saya tumpangi dengan hati yang lega. Selama perjalanan, bus tersebut hanya ditumpangi oleh segelintir orang yang naik-turun sepanjang perjalanan. Memang perjalanan tersebut sangat panjang dan dihiasi dengan kemacetan ibukota sehingga perjalanan tersebut benar-benar terasa abadi. Kramat Jati, Cililitan, Kalibata, dan Mampang menjadi daerah-daerah yang saya lintasi di bangku panjang di bagian belakang bus tersebut. Setelah kurang lebih sekitar 2 jam duduk di bus tersebut, akhirnya saya menapakkan kaki di terminal Blok M dan berjalan kaki sepanjang sekitar 100 meter menuju Gelanggang Remaja Bulungan atau yang lebih dikenal dengan Bulungan Outdoor. Saat berjalan kaki santai tersebut, saya melintas tepat di depan SMAN 6 Bulungan dan terdapat banyak karangan bunga bertuliskan “Turut berduka cita atas meninggalnya Alawi” seorang siswa kelas X SMAN 6 Bulungan yang menjadi korban tawuran oleh siswa SMAN 70 Bulungan. Di dekat bundaran dengan patung tangan itu, terdapat sebuah spanduk putih yang berisi tulisan-tulisan tangan para siswa-siswi SMAN 6 dan 70 Bulungan yang menentang tawuran.  Ketika saya sampai di sebelah Gelanggang tersebut, saya mampir ke sebuah tempat soto ayam untuk mengisi perut. Semangkuk soto ayam, sepiring penuh nasi putih, dan segelas es teh manis tersebut berharga 12 ribu rupiah dan saya segera menuju ‘neraka jakarta’ itu.

Sudah mulai terdengar dentuman drum dan distorsi gitar yang menggelegar. Saya memasuki gerbang dan disitu terdapat banyak sekali metalhead ber-atribut hitam-hitam yang sedang menunggu gate dibuka, dan didepan gate banyak pula terdapat penjual kaos-kaos metal bertuliskan akar, emblem, stiker, dan poster metal. Saya menghampiri petugas di booth yang terletak di sebelah gate dan ingin membeli tiket. Dia berkata bahwa gate belum dibuka dan akan dibuka sekitar 30 menit lagi. Lalu, meningat 2 botol jus jeruk, 1 botol air mineral, dan 1 gelas es teh manis yang saya minum selama perjalanan, saya meminta izin untuk membuang air kecil, dan sang petugas berkaos Siksa Kubur tersebut mengizinkan saya masuk ke area stage dan menunjuk ke arah toilet. Setelah lega membuang air kencing, saya memutuskan untuk menghampiri stage dan duduk di sebelah kiri stage, tepatnya di sebelah ring tinju khas Bulungan Outdoor. Saya menyaksikan Paper Gangster yang sedang soundcheck sambil ber-Twitter ria. Setelah Paper Gangster selesai soundcheck, terdapat beberapa panitia yang naik ke atas panggung dan berkata “Yang bukan panitia, tolong keluar area stage. Terimakasih.” Mendengar perkataan itu, saya keluar area stage dengan penuh kesadaran diri. Waktu untuk menunggu gate dibuka saya gunakan untuk mencuci mata dengan kaos-kaos, stiker, emblem, dan poster yang mengunggah selera. Sayangnya, dompet saya ketika itu hanya berisi 60 ribu rupiah : 30 ribu untuk membeli tiket, dan yang 30 ribu lagi untuk persiapan pulang dengan selamat. Dengan sedikit rasa kecewa, tepat pukul 14.00 WIB, gate tersebut dibuka dan saya segera mengantri untuk membeli tiket seharga 30 ribu rupiah dengan bonus 2 stiker itu. 

Setelah saya masuk ke area Bulungan Outdoor, saya langsung duduk di sebelah kanan depan panggung bersama para metalhead berbaju hitam-hitam. Tak lama berselang, muncul seorang pria dengan celana loreng pendek dan kaos Noxa. Dia berkicau di atas panggung saat para penonton yang sedang duduk santai tersebar di seluruh area Bulungan Outdoor.  Dia adalah Allay Error sang MC. Dan disitulah pertama kali saya mendatangi sebuah acara yang dipandu olehnya. Setelah membaca dan menyebutkan sponsor yang mendukung acara tersebut, Lalu memanggil nama “Abgotter!” band pertama di acara tersebut. Sebuah band death metal asal Jawa Tengah yang sangat memprihatinkan. Bukan musik atau permainannya, namun hanya ada 4 metalhead yang moshing ketika mereka menggempur stage. Lalu band-band selanjutnya adalah band-band death metal serupa, namun mata saya tertuju pada Burn. Sebuah band hardcore Ibukota yang memiliki lagu-lagu yang apik untuk di-beatdown. Tak lama setelah Burn turun dari panggung, teman saya Shandy yang merupakan bassis dari band saya yang bernama Hatred, mengatakan lewat SMS bahwa dia dan temannya sudah ada di dalam area Bulungan Outdoor. “Oke” jawab saya lewat SMS pula. Lalu saya segera mencari Shandy ke bagian belakang sebagaimana yang dia beritahu kepada saya lewat SMS.


Dan munculah Shandy dengan kaos Outright dan seorang temannya yang bernama Andi. Setelah berjabat tangan, kami duduk di pinggir kiri di dekat tembok. Lalu saat mengobrol, teman saya yang bernama Bagus yang merupakan vokalis Hatred muncul di hadapan saya dengan kepala botak dan kaos Noxa. Ya, jika dilihat dari belakang memang sangat mirip dengan Tony sang vokalis Noxa, namun dengan tubuh yang lebih tinggi. Bagus datang bersama Eman, Kojel, dan Bang Ading yang merupakan saudara-saudaranya. Dan kami pindah ke bagian belakang dekat tembok untuk mengobrol. Ditengah asyiknya pembicaraan, terlihat seseorang bertubuh tambun yang tidak asing bagi saya dan teman-tema. Dia adalah Dipa yang baru keluar dari toilet, sang bassis dari band grindcore Ibukota, Noxa. Noxa menjadi salah satu headliner dalam acara tersebut. Sekitar pukul 16.30, Allay Error meneriakan nama “Aaarghhh!” sebuah band dengan nama yang cukup aneh untuk diucapkan. Mereka adalah band death metal yang lagunya cukup asyik untuk di-headbang. Penampilan mereka sangat eksentrik. Terbukti saat sang vokalis melilitkan ular cobra kesayangannya saat bernyanyi dengan tanpa kaos, dan saat jeda di antara satu lagu dan lagu selanjutnya, ia berkata “Woi yang duduk bangun dong, pokoknya yang gak berdiri berarti kalian gak punya k*ntol!”. Tanpa ragu-ragu saya berdiri demi membuktikan kejantanan saya. Setelah Aaarghhh! tampil, sang MC Allay Error memanggil nama “Invictus!”. Mendadak hampir semua metalhead yang duduk berdiri dan merapat ke depan panggung. Saya bertanya-tanya “Apa spesialnya band ini?” lalu saya pun ikut merapat ke depan panggung. Dari lagu-lagu yang mereka bawakan, saya bisa meng-identifikasi bahwa mereka adalah band ber-genre progressive death metal dengan sedikit nuansa oldschool death metal­ yang terdengar seperti Death atau Atheist. Personilnya terlihat sudah berumur dan kebanyakan dari mereka berwajah timur tengah.

Adzan berkumandang, acara tersebut break, dan saya segera melaksanakan sholat Maghrib. Saat saya kembali ke area panggung, ternyata giliran Umbra Mortis yang sedang menghibur para penonton yang sedang beristirahat dengan lagu-lagu power metal nya. Terdengar nuansa Dragon Force dalam musik yang mereka bawakan. Setelah Umbra Mortis selesai membuat penonton terpukau dengan suara melengking sang vokalis, Allay Error memanggil nama “Dead Vertical!” dan saya segera merapat ke tengah dan berada di paling depan barikade. Band grindcore Ibukota tersebut memulai aksinya dengan lagu “Selamat Datang di Pantai Neraka” dan mendadak para metalhead di Bulungan Outdoor menggila, begitupun saya yang mulai ber-headbang. Lagu-lagu seperti “Washing The Red”, “Belantara Berdarah”, dan “Inti Petaka” menjadi setlist Dead Vertical pada malam itu. Penampilan mereka ditutup dengan lagu “Benteng Terakhir” yang berhasil menggerinda telinga para penonton. Setelah Dead Vertical, Allay Error kembali naik ke atas panggung, membacakan sponsor, dan memanggil nama “Paper Gangster!”. Sebuah band hardcore asal depok yang memiliki musik yang bernuansa negative hardcore dengan banyak di isi oleh ritem drum grinding.metalhead menggila. Siksa Kubur merupakan salah satu tujuan saya menempuh jarak kurang lebih 40 kilometer. Saat mereka menyiapkan alat tempurnya, saya memperhatikan Adit sang drummer, dan saat ia melihat wajah saya berada di depan barikade, ia menyapa saya dengan salam 2 jari metalnya. Sebelumnya saya pernah bertemu dengan beliau di kantor ayah saya saat saya menjadi pengisi acara Drums Day 2012 di Chic’s Musik. Penampilan Siksa Kubur dibuka dengan suara rekaman puisi yang dibacakan oleh Man sang vokalis Jasad, yaitu lagu “Burung Bangkai” yang berhasil menyihir saya dan ratusan metalhead lainnya dengan lagu berdurasi 10 menit itu. Lagu kedua adalah “Merah Hitam Hijau” sebuah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Rio Rottrevore sang pemilik record label untuk para band death metal tanah air, Rottrevore Records.
The fucking crowd in the fucking pit!
Saya tidak tahu lagu-lagu mereka, namun ternyata mereka berhasil membuat kepala saya mengangguk-angguk.
Dead Vertical on the fucking stage!
Setelah Paper Gangster, kini giliran Siksa Kubur untuk membuat para
Siksa Kubur on the fucking stage!
Beberapa lagu kemudian, terdengar lagu dari album “Tentara Merah Darah” yang berjudul “Memoar Sang Pengobar”. Dan penampilan mereka ditutup dengan lagu lawasnya yang terdapat pada album “Eye Cry” yang dirilis pada tahun 2003, yaitu “Renounce Me”. Dengan berakhirnya penampilan Siksa Kubur yang berhasil menghipnotis para penonton, maka saya pun harus pulang meninggalkan acara tersebut. Sangat disayangkan saya tidak dapat menyaksikan Noxa, Panic Disorder, dan band yang mempunyai hajat tersebut Godzilla karena saya khawatir sudah terlalu larut untuk naik bus di daerah Blok M. Setelah berpamitan kepada Shandy, Andi, Bagus, Eman, Kojel, dan Bang Ading, saya pun berjalan kaki menuju terminal Blok M dan menaiki bus Patas AC jurusan Blok M – Bekasi. Waktu menunjukkan pukul 21.10, lagu-lagu Dead Vertical dan Siksa Kubur masih terngiang di otak saya hingga bus sampai di kawasan Semanggi dan memori-memori indah tersebut mulai hancur termakan rasa kantuk, lalu saya tertidur pulas.