Replace #DoaAnakTeladan dan #PrayForNuris

Tuesday, November 26, 2013

#DoaAnakTeladan dan #PrayForNuris

Hari ini saya tidak masuk sekolah dikarenakan hujan deras yang tak kunjung reda, dan kebetulan saya merupakan orang yang oportunis. Saya selalu memanfaatkan kesempatan dan kondisi yang ada, contohnya ya bolos sekolah dengan alasan hujan deras. Alasan yang masuk akal bukan? Guru pun pasti akan memaklumi jika memang hujan deras tersebut benar-benar tak kunjung reda. Saya merasa gelisah disaat hujan mulai reda, namun saya berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan agar hujan tersebut diawetkan. Sambil menikmati hujan, saya sempat membuat tweet-tweet dengan hashtag #DoaAnakTeladan dan #PrayForNuris yang cukup kontroversial. Cekidot!



#AnakTeladan :')

5 MENIT KEMUDIAN


Ya kurang lebih begitulah tweet-tweet kontroversial yang saya buat tapi sayangnya harus berakhir dengan #BoolPanas. Jika kalian menyimak gambar-gambar screenshot di atas, terdapat SDN 02, 04, dan 05 Nagrak. Mungkin sebagian dari kalian ada yang belum tau bahwa itu adalah SD-SD malang yang ditumpangi oleh para siswa/i SMAN 2 Gunung Putri yang notabene kriminal tulen. Ya. SMAN 2 Gunung Putri belum mempunyai gedung dan masih menumpang di 3 SD yang berbeda. Kelas 10 di SDN 02 Nagrak, Kelas 11 di SDN 02 Nagrak, dan Kelas 12 di SDN 05 Nagrak. Kata "menumpang" memang sangat identik dengan sekolah kami. Dulu, disaat saya masih kelas 10, SMAN 2 Gunung Putri menumpang di SMPN 3 Gunung Putri yang merupakan sebuah SMP yang memiliki tanah dan bangunan yang cukup luas sehingga dapat menampung semua murid SMAN 2 Gunung  Putri, atau yang lebih dikenal dengan Smapang (SMA Numpang). Namun kami para murid rupanya tidak bersyukur bahwa walaupun numpang, kami numpang di sebuah sekolah yang layak ditumpangi. Hingga 1,5 tahun kemudian, seluruh murid dan guru SMAN 2 Gunung Putri dideportase oleh SMPN 3 Gunung Putri dengan alasan kami para murid tidak dapat merawat fasilitas yang disewakan oleh mereka. Lalu kami angkatan II ditumpangkan di SDN 04 Nagrak yang terletak di dalam hutan belantara, yang jauh dari pemukiman warga, serta persis dengan setting di film-film perang vietnam. Ya. Saya juga seketika ingat dengan film Laskar Pelangi. Untuk mencapai SDN 04 Nagrak pun benar-benar tidak mudah. Saya pejalan kaki dan para teman-teman yang mengendarai motor pun harus melewati rintangan-rintangan berupa jalanan tanah merah lengkap dengan lubang-lubang maut dan akan berubah menjadi empang ketika hujan turun. Kami menumpang di SD Laskar Pelangi tersebut selama 6 bulan. (Ralat : 6 bulan penuh penderitaan).

Syukurnya, pada tahun ajaran baru 2012/2014, angkatan II ditumpangkan di SDN 05 Nagrak yang lebih layak untuk ditumpangi dan aksesnya pun sangat mudah karena terletak di pinggir jalan raya. Tidak seperti SDN 04 yang terletak di tengah semak belukar tempat jin buang anak. Namun yang kini harus menderita adalah angkatan IV yang harus menumpang di SDN 04 Nagrak. Namun itu pun masih banyak keluhan-keluhan yang muncul dari pihak SD karena sifat apatis kami dalam merawat fasilitas SD. Banyak dari kami yang ngeles dengan alasan bahwa kerusakan-kerusakan, kelas yang kotor, serta properti-properti yang hilang merupakan ulah murid SD sendiri. Pada awalnya para guru percaya, namun semuanya berubah ketika banyaknya pembalut wanita yang ditemukan mengambang di WC. Ulah murid SD kah? Hmm..

No comments:

Post a Comment